
Sign up to save your podcasts
Or


Di bab ini Patricia Wulandari duduk bareng dengan Joko Pinurbo (Jokpin), seorang penyair yang mampu membuat objek sederhana menjadi jenaka dan penuh makna. Untaian puisinya tidak panjang dan pemilihan katanya tidak rumit, tapi setiap kata bisa berpadu dengan harmonis menghasilkan pelajaran tentang kehidupan.
Jokpin menceritakan betapa kuatnya puisi almarhum Sapardi Djoko Damono sampai mampu mengubah jalan hidupnya hingga ia berkeinginan untuk menjadi seorang penyair. Juga bagaimana ia pernah membakar sebagian besar karya-karya lamanya yang dianggap tidak layak agar bisa membuang masa lalu, mengosongkan kembali isi kepala, dan mulai belajar lagi dari nol. Bagi Jokpin, menjadi penulis, termasuk penyair, harus rajin melakukan riset. Ia menghabiskan waktu meneliti banyak penyair dan bereksperimen dengan banyak penulisan selama sekitar 15 tahun sebelum akhirnya berhasil menerbitkan buku puisi Celana yang diterima banyak orang.
Ada banyak sekali masukan tentang proses menulis di obrolan ini. Selamat mendengarkan.
Tidak semua orang mampu merdeka, karena kemerdekaan adalah sesuatu yang harus diperjuangkan jika kita ingin merasakannya, bukan sekadar menunggu diberikan oleh orang yang kita anggap lebih berkuasa dari diri kita. Mungkin itu yang ingin disampaikan dalam cerpen "Kemerdekaan" karya Putu Wijaya. Ada sebuah perenungan yang unik dalam cerita ini.
Cerpen ini dialihwahanakan di episode ketiga Sandiwara Sastra yang bisa didengarkan di Podcast Budayakita. Sandiwara Sastra adalah inisiatif alih wahana karya sastra ke bentuk audio yang merupakan hasil kolaborasi antara Kemendikbud, Yayasan Titimangsa, dan Kawankawan Media.
Cerpen "Kemerdekaan" bercerita tentang Juragan Tua, sang kolektor burung perkutut, yang dulu sangat berkuasa. Di hari tuanya, dia memutuskan untuk membebaskan salah satu burung perkututnya agar bisa merasakan kemerdekaan. Tidak disangka, Burung Perkutut tersebut malah mati-matian menolak untuk dibebaskan. Juragan Tua kemudian berdiskusi dengan Perkutut tentang makna kemerdekaan yang sesungguhnya.
Sandiwara Sastra Cerpen "Kemerdekaan" diperankan oleh tiga aktor, yaitu Adinia Wirasti (narator), Arswendy Bening Swara (Juragan), dan Iqbaal Ramadhan (Perkutut).
Di bab ini, @patricia.wulandari kembali mengajak @arnellism, pemilik Podcast Ceritanya Pendek, Artinya Panjang, untuk membahas isi dari cerita "Kemerdekaan". Tidak hanya itu, ada juga tanggapan singkat dari @idhaumamah, pemilik Podcast I Think I Wanna Date You, yang ternyata merupakan salah satu penggemar Iqbaal Ramadhan sedari kecil. Bagaimana kesan Idha mendengar Iqbaal sebagai Burung Perkutut di cerpen "Kemerdekaan"?
Dengarkan selengkapnya di bab ini.
Tidak semua orang mampu merdeka, karena kemerdekaan adalah sesuatu yang harus diperjuangkan jika kita ingin merasakannya, bukan sekadar menunggu diberikan oleh orang yang kita anggap lebih berkuasa dari diri kita. Mungkin itu yang ingin disampaikan dalam cerpen "Kemerdekaan" karya Putu Wijaya. Cerpen ini dialihwahanakan di episode ketiga Sandiwara Sastra yang bisa didengarkan di Podcast Budayakita. Sandiwara Sastra adalah inisiatif alih wahana karya sastra ke bentuk audio yang merupakan hasil kolaborasi antara Kemendikbud, Yayasan Titimangsa, dan Kawankawan Media.
Cerpen "Kemerdekaan" bercerita tentang seorang juragan tua kolektor burung perkutut, yang dulu sangat berkuasa. Di hari tuanya, dia memutuskan untuk membebaskan salah satu burung perkututnya agar bisa merasakan kemerdekaan. Tidak disangka, burung perkutut tersebut malah mati-matian menolak untuk dibebaskan. Apa alasannya?
Sandiwara Sastra Cerpen "Kemerdekaan" diperankan oleh tiga aktor, yaitu Adinia Wirasti (narator), Arswendy Bening Swara (Juragan), dan Iqbaal Ramadhan (Perkutut).
Di bab ini, @patricia.wulandari kembali mengajak @arnellism, pemilik Podcast Ceritanya Pendek, Artinya Panjang, untuk membahas isi dari cerita "Kemerdekaan". Tidak hanya itu, ada juga tanggapan singkat dari @idhaumamah, pemilik Podcast I Think I Wanna Date You, yang ternyata merupakan salah satu penggemar Iqbaal Ramadhan sedari kecil. Bagaimana kesan Idha mendengar Iqbaal sebagai Burung Perkutut di cerpen "Kemerdekaan"?
Dengarkan selengkapnya di bab ini.
Bab terbaru podcast buku dari Podcast Main Mata sudah rilis. Di bab ini @patricia.wulandari berkesempatan mengobrol dengan sastrawan @damonosapardi yang pasti banyak dari kamu sudah tidak asing lagi dengan karya-karyanya. Sapardi Djoko Damono dikenal akan tulisan-tulisannya yang meskipun gaya bahasanya sederhana tetapi artinya sangat dalam dan penuh makna. Di Podcast Main Mata, Pak Sapardi bercerita tentang cerita pendek pertamanya yang ditolak oleh redaksi sebuah majalah anak karena dianggap tidak masuk akal dan membuatnya beralih menulis puisi, pengalaman berharganya menerjemahkan banyak karya sastra yang memperkaya dirinya sebagai penulis, satu hal yang mendorongnya untuk konsisten menulis setiap hari, karya favorit yang pernah dia tulis dari sekian banyak yang sudah dipublikasikan, dan masih banyak lagi. Selamat mendengarkan!
Sandiwara Sastra, inisiatif alih wahana karya sastra ke bentuk audio yang merupakan hasil kolaborasi antara Kemendikbud, Yayasan Titimangsa, dan Kawankawan Media, kini memasuki episode kedua melalui pengalihwahanaan karya Catatan Buat Emak (Ronggeng Dukuh Paruk).
Catatan Buat Emak merupakan Catatan Buat Emak, bagian pertama dari novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya penulis asal Banyumas Ahmad Tohari. Sandiwara Sastra Catatan Buat Emak diperankan dengan sangat apik oleh tiga aktor, yaitu Lukman Sardi (narator), Reza Rahadian (Rasus), dan Happy Salma (Srintil).
Untuk ngobrolin Catatan Buat Emak karya Ahmad Tohari yang telah mendapatkan berbagai penghargaan dari dalam dan luar negeri ini, host @patricia.wulandari mengajak @arnellism, pemilik Podcast Ceritanya Pendek, Artinya Panjang, yang sangat menggemari karya-karya beliau. Ia telah membaca novel Ronggeng Dukuh Paruk, menonton film Sang Penari, dan mengobrol dengan penulisnya sendiri (ada di salah satu episode podcast). Bahkan, skripsinya saat kuliah pun mengangkat tentang novel Ronggeng Dukuh Paruk.
Selamat mendengarkan!
Kemendikbud berkolaborasi dengan Yayasan Titimangsa dan Kawankawan Media meluncurkan podcast Sandiwara Sastra yang merupakan alih wahana karya sastra Indonesia ke dalam medium audio. Tujuannya untuk memperkenalkan dan menghidupkan karya-karya sastra Indonesia. Ada 10 karya sastra yang diangkat di tahap pertama program ini, dan di episode pertama mereka menghadirkan alih wahana cerpen Mencari Herman karya Dee Lestari.
Seperti ditulis oleh Podcast Budayakita, Mencari Herman adalah pencarian tanpa ujung bagi Hera. Tapi itulah yang berkali-kali menyelamatkannya dari kejatuhan dan petaka hidupnya. Bersama di Abang, pencarian itu jadi memiliki berlapis makna. Hingga suatu hari pencarian itu mesti berakhir. Apakah Hera bisa menemukan Herman? Apakah Herman bisa menggenapi hidupnya? Dan siapakah Herman yang sesungguhnya?
Cerpen Mencari Herman karya Dee Lestari diperankan oleh Widi Mulia (Narator), Ario Bayu (Abang), dan Pevita Pearce (Hera). Dengarkan bab ini untuk tahu lebih banyak soal Sandiwara Sastra di Podcast Budayakita dan pendapat dari host @patricia.wulandari dan seorang teman sesama podcaster buku @arnellism (Podcast Ceritanya Pendek, Artinya Panjang) tentang episode pertama Sandiwara Sastra Mencari Herman karya Dee Lestari.
Bab ini merupakan bagian kedua obrolan @patricia.wulandari bersama @marja_margareth alias Ratih Fernandez di podcast buku Podcast Main Mata.
Kali ini Ratih bercerita tentang pekerjaannya sebagai Chief Editor Buku Mojok, sebuah penerbit independen yang berlokasi di Yogyakarta, mulai dari aktivitas keseharian, tantangan profesi, perbedaan dinamika penerbit independen dengan penerbit mayor, dan lainnya.
Selain itu, Ratih juga bercerita pengalamannya menjalankan Buku Mojok di tengah pandemi COVID-19. Banyak orang di media sosial menyatakan bahwa industri buku sedang mengalami kesulitan penjualan akibat pandemi karena banyak toko buku tutup dan jalur penjualan menjadi terbatas. Akibatnya, banyak tanggal peluncuran buku yang tertunda dan beberapa penerbit memilih untuk menerbitkan buku secara digital.
Bagaimana dengan Buku Mojok sendiri? Bagaimana caranya mempertahankan bisnis di tengah situasi sulit seperti sekarang ini? Apakah ada perbedaan penjualan genre buku dari sebelum dan saat pandemi? Seperti apa cara mereka mempromosikan sebuah produk, dalam hal ini, buku, agar tetap relevan?
Langsung saja dengarkan obrolannya!
Cerita pendek bertema Memori dari segmen Pembaca Menulis podcast buku Podcast Main Mata ini ditulis dan dinarasikan oleh Aditya Hadi (@adityahadi) dari Podcast Buku Kutu (@podcastbukukutu). Bercerita tentang seorang laki-laki yang suatu hari menemukan ponsel lamanya dan kenangan masa lalu yang tertera di dalam ponsel tersebut kembali hadir di ingatannya, termasuk sebuah hal penting yang dulu tidak diselesaikan dengan baik. Selamat mendengarkan!
Dengarkan obrolan bersama @siskayuanita, editor buku dan penerjemah @fiksigpu di podcast buku Podcast Main Mata. Seorang editor buku memiliki peranan penting dalam terbitnya sebuah buku. Ia tidak hanya memeriksa isi buku secara teknis tapi juga substansi agar sebuah buku layak terbit dan memiliki pangsa pasarnya.
Beberapa karya yang lahir dari hasil suntingannya di antaranya: Pemetik Bintang (@venerdihandoyo), Melihat Api Bekerja (@aanmansyur x @emteemte), The Book of Invisible Questions (@lalabohang), Selamat Datang, Bulan (@theoresiarumthe), dan Karena Cinta Kuat Seperti Maut (@adimasnuel).
Tertarik menjadi editor buku? Dengerin dulu keseruan dan tantangan menjalani profesi yang satu ini.
Tipe pembaca yang seperti apakah kamu? Melahap bacaan apa pun atau mencari bacaan yang sesuai dengan perasaan kamu saat itu? Atau keduanya? Ketika membaca, pasti ada perasaan yang menyenangkan sekaligus menenangkan saat menemukan sebuah tulisan yang dapat mewakili yang sedang kita alami saat itu. Terlebih ketika yang kita alami adalah rasa insecure alias ketidakamanan terhadap isi kepala sendiri.
Di bab ini, host podcast buku Podcast Main Mata @patricia.wulandari memperkenalkan kamu ke dua orang teman yang pernah mengirimkan cerpennya untuk segmen Pembaca Menulis Podcast Main Mata, yaitu Chink-chink/Yunita Dewiyana, pemilik podcast @abjadtersirat, yang menulis cerpen bertema perempuan PATUNG MANEKIN dan Muhammad Farhan Nasrulloh (@farhan_cerdik) yang menulis cerpen bertema memori IDRIS TERSENYUM.
Baik Chink-chink maupun Farhan menulis sebagai cara mereka untuk mengungkapkan rasa insecure yang mereka alami di dalam kepala mereka, perasaan yang bisa jadi ternyata dialami juga oleh banyak orang lainnya. Keduanya merasa tulisan adalah medium efektif untuk mereka mengutarakan dan mempertanyakan hal yang tak terucap.
Dengarkan cuplikan cerpennya dan simak obrolannya. Temukan bagaimana proses menulis sebuah cerita itu sendiri sebenarnya merupakan sebuah perjalanan untuk mencapai sesuatu layaknya seorang tokoh yang sedang berada di dalam satu cerita.
From the publisher's feed