Di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah, perhatian dunia tertuju pada satu titik krusial: Selat Hormuz—jalur sempit yang dilalui hampir seperlima pasokan minyak dunia.
Iran memang tidak sepenuhnya menutup jalur ini. Namun, ada satu pesan tegas: hanya negara yang dianggap “bukan musuh” dan mematuhi aturan mereka yang bisa melintas.
Lalu muncul pertanyaan penting… bagaimana dengan Indonesia?
Faktanya, Indonesia tidak masuk dalam daftar negara yang secara eksplisit diberi akses khusus. Artinya, posisi Indonesia berada di wilayah abu-abu—tidak dilarang, tapi juga tidak dijamin aman.
Situasi ini bukan sekadar soal diplomasi… tapi soal energi, ekonomi, dan stabilitas nasional. Jika jalur ini terganggu, pasokan minyak Indonesia bisa ikut terdampak, bahkan lebih dari 20 persen.
Jadi, apa yang harus dilakukan?
Indonesia harus bermain cerdas.
Memperkuat diplomasi, menjaga posisi netral, dan memastikan hubungan tetap terbuka dengan semua pihak.
Di saat yang sama, pemerintah perlu menyiapkan langkah darurat—mulai dari diversifikasi sumber energi, hingga strategi logistik alternatif.
Karena di dunia yang penuh ketegangan ini…
yang paling bertahan bukan yang paling kuat,
tapi yang paling siap.
TALK :: Pakar Hubungan Internasional Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Dr. Agus Haryanto, S.IP, M.Si & Pengamat Ekonomi, Irwan Ibrahim