Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Khutbah Jumat: Memanfaatkan Bulan Ramadhan Sebaik-Baiknya
    Khutbah Jumat: Memanfaatkan Bulan Ramadhan Sebaik-Baiknya ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 06 Ramadhan 1443 H / 08 April 2022 M.

    Khutbah Pertama Tentang Memanfaatkan Bulan Ramadhan Sebaik-Baiknya
    Kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas nikmat karunia yang Allah berikan kepada kita semua.
    وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا…
    Tidak akan mungkin kita menyebut satu persatu nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Kewajiban kita hanyalah mensyukuri nikmat-nikmat tersebut.
    Kita bersyukur pada Allah yang masih memberikan kesempatan kepada kita semua untuk bisa bertemu lagi dengan Ramadhan. Mudah-mudahan kita dapat menyempurnakan Ramadhan ini, baik itu puasanya maupun qiyamnya dengan baik dan sempurna.
    Kita bersyukur pada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang masih menjaga kita semua diatas agamaNya dan diatas sunnah NabiNya.
    Shalawat beriring salam tidak lupa juga kita limpahkan untuk Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, keluarga beliau, sahabat beliau dan umat beliau sampai hari kemudian.
    Jamaah yang dimuliakan Allah..
    Ramadhan adalah bulan yang istimewa. Allah memilih Ramadhan sebagai bulan kita menjalankan rukun Islam yang keempat, yaitu ibadah puasa. Allah menciptakan apa yang dikehendakiNya dan Allah memilih. Tidak sama Ramadhan dengan bulan-bulan yang lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan banyak keutamaan bagi bulan Ramadhan. Di antaranya adalah Allah pilih Ramadhan dari bulan-bulan lainnya sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an.
    شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ…
    “Bulan Ramadhan yang pada bulan ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan Al-Qur’an.” (QS. Al-Baqarah[2]: 185)
    Tepatnya pada malam Lailatul qadar.
    إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
    “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Lailatul qadar.” (QS. Al-Qadr[97]: 1)
    Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan Al-Qur’an secara utuh ke langit dunia di malam Lailatul Qadar di bulan Ramadhan. Kemudian menurunkan ayat pertama kepada NabiNya pada bulan Ramadhan, tepatnya di malam Lailatul qadar. Kemudian Al-Qur’an diturunkan berangsur-angsur menurut peristiwa.
    Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengistimewakan Ramadhan ini sebagai bulan Al-Qur’an. Maka disebut juga Syahrul Qur’an. Salah satu ibadah yang kita perbanyak di bulan Ramadhan adalah berinteraksi dengan Al-Qur’an. Baik membacanya, menghafalnya, maupun mentadabburinya.
    Setan-setan dibelenggu
    Kemudian di Ramadhan ini pula Allah Subhanahu wa Ta’ala mengikat dan membelenggu setan-setan, yaitu iblis dan balatentaranya dari kalangan jin. Allah Belenggu dan ikat selama Ramadhan. Dan itu berlaku pada malam pertama sampai saat terakhir bulan Ramadhan.
    Kita harus meyakini hadits ini seperti yang disampaikan Nabi. Bahwa setan, iblis dan balatentaranya itu benar-benar dibelenggu, benar-benar diikat. Artinya kuasa/kekuatan mereka untuk menggoda anak Adam melemah. Artinya lagi bahwa ada kesempatan bagi kita untuk dapat dengan mudah mengalahkannya.
    Maka kita rasakan kelemahan setan itu dari meningkatnya keinginan kita untuk berbuat kebaikan dan melemahnya kehendak kita untuk berbuat dosa. Mudah-mudahan tren positif ini terus berlanjut di luar Ramadhan.
    Akan tetapi apabila seorang hamba tidak dapat mengalahkan musuhnya, bahkan dia selalu kalah dan terus-menerus kalah sampai di bulan Ramadhan juga, maka jangan harap hamba ini bisa mengalahkan musuhnya itu diluar Ramadhan.
    Maka Ramadhan ini adalah ukurannya. Orang yang tidak bisa baik di bulan Ramadhan,
    28 min
  • Ilmu Membuahkan Keyakinan
    Ilmu Membuahkan Keyakinan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 05 Ramadhan 1443 H / 07 April 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Keterikatan Antara Ilmu dan Dakwah

    Ceramah Agama Islam Tentang Ilmu Membuahkan Keyakinan
    Keyakinan di hati merupakan sebesar-besar sebab yang menghidupkan hati manusia. Keyakinan menjadikan manusia bisa meraih kedudukan iman yang tinggi di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka ilmu akan membuahkan keyakinan dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala menjelaskan bahwa seandainya tidak ada faedah daripada mempelajari ilmu agama kecuali hanya ilmu membuahkan keyakinan -yang mana keyakinan ini adalah sebesar-besar kehidupan bagi hati manusia, dengan keyakinan inilah hati akan menjadi kuat, kemudian bisa melakukan amalan-amalan hati yang merupakan amalan-amalan yang paling tinggi dalam Islam, dan semua sebab-sebab yang menghidupkan hati- maka cukuplah ini merupakan keagungan, kemuliaan dan keutamaan yang sangat besar.
    Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam banyak ayat-ayat Al-Qur’an memuji hamba-hamba yang memiliki keyakinan. Di dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji menyebutkan keutamaan mereka.
    Kita harus ingat bahwa keyakinan yakni ilmu yang benar-benar merasuk kedalam hati sehingga menjadikan hamba tersebut yakin, ini akan menjadi sebab hamba tersebut beramal dengan ikhlas, karena dia yakin dengan balasan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala siapkan baginya lebih tinggi mulia daripada perhiasan palsu dunia yang nampak di hadapannya. Dengan ini dia akan bisa bersandar dengan sepenuhnya kepada Allah, bisa akan melaksanakan shalat dengan khusyuk. Semua ini adalah hasil dari keyakinan yang keyakinan ini merupakan buah daripada ilmu.
    Allah memuji orang-orang yang yakin di dalam Al-Qur’an:
    …وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ
    “Dan mereka adalah orang-orang yang yakin terhadap kehidupan di akhirat.” (QS. Al-Baqarah[2]: 4)
    Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    …كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
    “Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat Kami bagi orang-orang yang yakin.” (QS. Al-A’raf[7]: 32)
    Orang-orang yang yakin dipuji karena merekalah yang bisa mengambil pelajaran dari penjelasan ayat-ayat Al-Qur’an.
    Juga firman Allah ketika menyebutkan tentang hamba dan Nabi yang dicintaiNya, yaitu Nabi Ibrahim ‘Alaihish Shalatu was Salam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَكَذَٰلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ
    “Dan demikianlah Kami memperlihatkan kepada Nabi Ibrahim kerajaan langit-langit dan bumi agar dia termasuk orang-orang yang memiliki keyakinan.” (QS. Al-An’am[6]: 75)
    Di ayat-ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala mencela orang-orang yang tidak punya keyakinan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    … أَنَّ النَّاسَ كَانُوا بِآيَاتِنَا لَا يُوقِنُونَ
    “Sesungguhnya mereka orang-orang yang tidak yakin terhadap ayat-ayat Kami.” (QS. An-Naml[27]: 82)
    Ini jelas merupakan celaan. Menunjukkan orang-orang yang memiliki keyakinan dipuji oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan pujian yang tinggi.
    Jika keyakinan telah merasuk dan menyentuh hati manusia,
    53 min
  • Harta dan Anak-Anak Adalah Ujian
    Harta dan Anak-Anak Adalah Ujian merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mencetak Generasi Rabbani. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 03 Ramadhan 1443 H / 05 April 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Meluruskan Kesalahan Pada Anak
    Harta dan Anak-Anak Adalah Ujian
    Sebagai orang tua tentunya tidak kurang usaha untuk mendidik anak-anak mereka menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah. Karena memang itulah keinginan dan harapan tiap-tiap orang tua ketika menyambut si jabang bayi ini ke dunia. Harapan besar ada di hatinya bahwa anak ini akan menjadi anak yang berguna, anak yang shalih, berbakti kepada orang tua dan bermanfaat bagi manusia.
    Namun kita harus sadar bahwa tidak ada yang bisa mewujudkan semua itu selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, penciptanya. Kita hanya diberi amanah untuk membesarkannya, menjadikannya sebagai hamba yang menyembah Allah, yang mentauhidkan dan menaati Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Anak adalah amanah yang ada di pundak kedua orang tuanya, anak adalah perhiasan, dan anak adalah cobaan bagi kita.
    إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ…
    “Sesungguhnya harta dan anak-anak kamu adalah ujian bagi kamu.” (QS. At-Thaghabun[64]: 15)
    Tentunya kita hanya mampu ia berusaha dan berikhtiar menurut kemampuan kita. Dan kemampuan kita juga mungkin sangat terbatas, bahkan boleh jadi banyak kekurangan-kekurangan dari upaya dan ikhtiar yang kita lakukan. Namun yang menentukan hasilnya hanyalah Allah semata.
    Hati anak-anak bukan ditangan kita. Sekeras apapun kita mendidiknya, kalau hatinya tidak dilembutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka tidak akan lembut, dia tidak akan menerima.
    Sekuat apapun kita berupaya, sehebat apapun argumentasi dan nasihat yang kita sampaikan kepadanya, kalau hatinya ditutup oleh penciptanya, maka tidak akan ada yang dapat membukanya.
    مَنْ يَّهْدِ اللّٰهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهٗ وَلِيًّا مُّرْشِدًا
    “Dan barangsiapa yang diberi hidayah petunjuk oleh Allah, maka dialah orang yang mendapat petunjuk. Dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka tidak ada satu orang pun yang bisa memberinya petunjuk.” (QS. Al-Kahfi[18]: 17)
    Maka kita lihat juga bahwa banyak para Nabi dan Rasul diuji oleh anak-anak mereka. Nabi Nuh, Nabi Ya’kub, mereka adalah para Nabi dan Rasul yang diuji juga dengan anak-anak mereka. Artinya status mereka sebagai Nabi bukan berarti tidak diuji dengan anak-anak keturunan. Apalagi kita, tentunya kita menyadari betapa berat tugas mendidik.
    Tugas ini tidak mudah, lebih-lebih lagi hasil akhir itu bukan ditangan kita. Kita mendidik makhluk bernyawa yang punya hati pikiran dan perasaan. Kita bukan sedang memainkan sebuah robot yang bisa kita atur programnya.
    Boleh jadi kadang-kadang ikhtiar dan upaya yang kita lakukan tidak berbanding lurus dengan hasilnya. Disinilah kita harus menyerahkan urusan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jangan lupa satu upaya, dan ini mungkin yang sangat menentukan. Yaitu kita minta kepada Allah agar mempermudah hidayah itu sampai kepada anak-anak kita.
    Jangan terlalu mengandalkan apa yang sudah kita upayakan. Itu belum cukup. Karena kita berhadapan dengan sesuatu yang hatinya bukan ditangan kita.
    Bagaimana kajian lengkap tentang Harta dan Anak-Anak Adalah Ujian? Mari download dan simak mp3 kajiannya.
    Download mp3 Kajian

    41 min
  • Talbis Iblis Atas Ahli Puasa
    Talbis Iblis Atas Ahli Puasa ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 2 Ramadhan 1443 H / 4 April 2022 M.

    Kajian Islam Tentang Talbis Iblis Atas Ahli Puasa
    Ibnul Jauzi berkata bahwa iblis telah menipu sebagian orang dengan menjadikan mereka menganggap bagus berpuasa secara terus-menerus tanpa putus. Ini yang dinamakan puasa wishal, yaitu menyambung satu puasa dengan puasa lainnya tanpa berbuka dan tanpa makan sahur. Ini tentunya tidak boleh dilakukan. Karena,
    نَهَى رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – عَنِ اَلْوِصَالِ
    “Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang puasa wishal.” (Muttafaqun ‘alaihi)
    Di dalam puasa yang diajarkan kepada kita adalah perintah untuk makan sahur.
    تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السُّحُورِ بَرَكَةً
    “Bersahurlah karena dalam makanan sahur terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
    Kita juga diperintahkan untuk menyegerakan berbuka. Bahkan Nabi mengatakan:
    لاَيَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ
    “Umat ini akan senantiasa jaya selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Maka tidak dibenarkan seorang menyambung satu puasa dengan puasa berikutnya. Apalagi itu lebih dari dua hari, tentunya ini akan memudaratkan diri sendiri. Dan ibadah-ibadah yang Allah anjurkan tidaklah memudharatkan manusia. Salah satu sifat syariat adalah sejalan dengan fitrah.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
    “Allah tidak membebani satu jiwa ataupun manusia melainkan menurut kadar kemampuannya.” (QS. Al-Baqarah[2]: 286)
    Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَىْءٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
    “Jika aku memerintahkan kepada sesuatu, maka lakukanlah menurut kemampuan yang kamu miliki.” (HR. Muslim)
    Tentunya menyambung puasa dengan puasa berikutnya tanpa berbuka adalah termasuk hal yang dilarang. Begitu juga berpuasa terus-menerus walaupun dengan berbuka dan makan sahur.
    Tentu berbeda halnya dengan puasa Ramadhan karena kita berpuasa satu bulan penuh. Atau juga puasa kaffarah yang memang harus berturut-turut. Adapun puasa sunnah, kita tidak boleh melakukannya terus-menerus.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Talbis Iblis Atas Ahli Puasa
    Mari turut membagikan link download kajian tentang “Talbis Iblis Dalam Perkara Membaca Al-Qur’an” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    53 min
  • Shalat Malam Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
    Shalat Malam Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 03 Ramadhan 1443 H / 05 April 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Cara Agar Tidak Malas
    Shalat Malam Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
    Pada bulan Ramadhan kita dianjurkan untuk melaksanakan shalat tarawih yang dilakukan oleh kaum muslimin di malam-malam bulan Ramadhan. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
    “Barangsiapa yang shalat di malam-malam hari bulan Ramadhan karena beriman kepada Allah dan mengharapkan apa yang dijanjikan Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.” (Muttafaqun ‘alaihi)
    Shalat di malam hari tidak hanya di bulan Ramadhan, tapi juga di bulan-bulan yang lain. Seorang muslim dianjurkan untuk selalu shalat di malam hari meskipun hanya shalat witir satu atau tiga rakaat. Maka pembahasan kita masih pada keutamaan shalat di malam hari.
    Dan juga dari ‘Aisyah Ummul Mukminin, beliau berkata:
    ما كانَ رَسولُ اللَّهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ يَزِيدُ في رَمَضَانَ ولَا في غيرِهِ علَى إحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً؛ يُصَلِّي أَرْبَعًا، فلا تَسَلْ عن حُسْنِهِنَّ وطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا، فلا تَسَلْ عن حُسْنِهِنَّ وطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا. قالَتْ عَائِشَةُ: فَقُلتُ: يا رَسولَ اللَّهِ، أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ؟ فَقالَ: يا عَائِشَةُ، إنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ ولَا يَنَامُ قَلْبِي
    “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak menambah shalatnya baik di bulan Ramadhan ataupun diluar Ramadhan lebih dari 11 rakaat. Beliau shalat empat rakaat, jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya shalat beliau. Kemudian beliau shalat empat rakaat lagi, jangan kamu bertanya tentang bagus dan panjangnya shalat tersebut. Kemudian beliau shalat tiga rakaat (witir).
    Maka aku bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau tidur sebelum shalat witir?’ Beliau menjawab: ‘Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur namun hatiku tidak tidur.'” (Muttafaqun ‘alaihi)
    Hadits ini menjelaskan kepada kita tentang shalat malam Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bahwasanya dalam shalat malam beliau tidak menambah lebih dari 11 rakaat.
    Memang ada beberapa riwayat menyebutkan bahwa terkadang beliau shalat 13 rakaat. Para ulama menjelaskan tentang dua rakaat tambahan itu adalah sunnah ba’da isya’. Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa itu adalah dua rakaat ringan sebagai pembukaan shalat malam. Maka tidak ada pertentangan antara dua riwayat ini.
    Memang kita dianjurkan ketika shalat dimalam hari baik di Ramadhan atau di luar Ramadhan untuk shalat dua rakaat yang ringan. Namun ada sebuah permasalahan apakah shalat tersebut dilakukan berjamaah atau tidak. Para ulama menyebutkan bahwa shalat yang dua rakaat memang tidak secara berjamaah. Meskipun mungkin ada sebagian kaum muslimin yang mengerjakannya secara berjamaah, itu ada ijtihad mereka.
    Hadits ‘Aisyah Ummul Mukminin ini menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat 11 rakaat dengan cara 4 rakaat, 4 rakaat, kemudian 3 rakaat.
    Syaikh Al-Blbani Rahmatullah ‘Alaihi mempunyai kitab bernama قيام رمضان (Shalat malam dibulan Ramadhan). Beliau membawakan sejumlah riwayat tentang bagaimana shalat seorang muslim di malam-malam hari bula...
    1 hr 16 min
  • Merujuk Istri Yang Ditalak – Surah Al-Baqarah 231
    Merujuk Istri Yang Ditalak – Surah Al-Baqarah 231 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 26 Rajab 1443 H / 29 Maret 2022 M.
    Download kajian sebelumnya: Hukum Setelah Talak Tiga – Surah Al-Baqarah 230
    Hukum Setelah Talak Tiga – Surah Al-Baqarah 231
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ سَرِّحُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ ۚ وَلَا تُمْسِكُوهُنَّ ضِرَارًا لِّتَعْتَدُوا ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ ۚ وَلَا تَتَّخِذُوا آيَاتِ اللَّهِ هُزُوًا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَمَا أَنزَلَ عَلَيْكُم مِّنَ الْكِتَابِ وَالْحِكْمَةِ يَعِظُكُم بِهِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
    “Dan apabila kalian mentalak isteri-isteri kalian, dan telah mendekati selesai masa iddahnya, maka rujukilah mereka dengan cara yang ma’ruf, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang ma’ruf (pula). Dan jangan kalian rujuk mereka dengan tujuan untuk memberikan mudharat kepada istri, sehingga kalian pun berbuat melampaui batas. Dan siapa yang melakukan perbuatan tadi, maka sesungguhnya ia sudah mendzalimi dirinya sendiri. Dan jangan kamu ambil ayat-ayat Allah itu sebagai permainan, dan ingatlah nikmat-nikmat Allah atas kalian, dan apa yang Allah turunkan kepada kalian dari Kitab Al-Qur’an dan Hikmah (hadits). Allah mengingatkan kalian dengan apa yang diturunkanNya itu. Dan bertakwalah kalian kepada Allah serta ketahuilah sesungguhnya Allah Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah[2]: 231)
    Dari ayat ini kita ambil faedah:
    Talak itu ada masa iddah atau tempo
    Allah mengatakan: “Apabila kalian mentalak istri-istri kalian, dan telah sampai masa iddah…” di dalam ayat ini bentuknya mujmal (tidak dijelaskan). Allah hanya mengatakan bahwa apabila telah sampai ajalnya, dan Allah tidak menyebutkan ajalnya berapa. Tapi dalam ayat yang lain Allah menyebutkan:
    وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ…
    “Dan wanita-wanita yang ditalak hendaklah mereka menunggu diri mereka selama tiga kali haid…” (QS. Al-Baqarah[2]: 228)
    Demikianlah Al-Qur’an, terkadang di satu tempat disebutkan secara mujmal (global), tapi dalam tempat yang lain disebutkan secara mufashshal (diberikan perincian). Faedahnya adalah bahwa kalau ada dalil yang sifatnya mujmal, biasanya jiwa kita itu ada semangat ingin tahu. Hal ini agar muncul rasa rindu kita kepada ilmu.
    Bolehnya merujuk istri yang ditalak
    Bolehnya merujuk istri yang ditalak sebelum sempurnanya masa iddah, yaitu sebelum ia mandi. Terjadi khilaf para ulama kalau wanita telah selesai tiga haid tapi belum mandi. Masa ketika ia belum mandi kemudian suaminya merujuk, apakah ini sah atau tidak? Menurut jumhur tidak sah. Tapi pendapat yang dirajihkan oleh Syaikh ‘Utsaimin Rahimahullah adalah sah. Karena kalau belum mandi berarti belum selesai secara sempurna masa iddahnya.
    Wajib dengan cara yang ma’ruf
    Merujuk istri dengan cara yang ma’ruf dan tujuannya memang mau berbuat ma’ruf atau tidak merujuknya lagi pun juga harus dengan cara yang ma’ruf, itu semua hukumnya wajib. Karena Allah melarang seseorang suami merujuk istrinya dengan tujuan untuk memberikan mudarat kepadanya.
    Mempergauli istri dengan cara yang ma’ruf
    Wajibnya mempergauli istri dengan cara yang ma’ruf walaupun sudah ditalak,
    44 min
  • Targhib Ramadhan 1443 H
    Targhib Ramadhan 1443 H merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh: Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah pada Jum’at, 29 Sya’ban 1443 H / 1 April 2022 M.

    Ceramah Agama Islam Tentang Targhib Ramadhan 1443 H
    Sebuah kenikmatan yang luar biasa ketika umur kita masih diberikan oleh Allah kesempatan untuk mendapatkan bulan Ramadhan. Karena Salafush Shalih terdahulu jauh-jauh hari minta kepada Allah supaya umurnya disampaikan ke Ramadhan. Mereka berkata:
    اللهم بلغنا رمضان
    “Ya Allah sampaikan kami ke bulan Ramadhan.”
    Maka ketika kita disampaikan umur kita ke bulan Ramadhan, jangan sia-siakan. Demi Allah ini kesempatan yang luar biasa yang Allah inginkan kebaikan untuk kita semuanya, saudaraku.
    Bulan Ramadhan adalah kesempatan untuk menempa diri agar menjadi orang yang bertakwa. Allah berfirman:
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
    “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian shiyam sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah[2]: 183)
    Ini masyaAllah hikmah yang luar biasa agung sekali. Yaitu supaya kita bertakwa. Kenapa supaya kita bertakwa, ada apa dengan takwa? Karena janji Allah untuk orang yang bertakwa luar biasa.
    Allah berjanji bahwa orang yang bertakwa dijamin dengan surga. Allah berfirman:
    إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ
    “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada di dalam surga dan mata air yang mengalir.” (QS. Al-Hijr[15]: 45)
    Orang yang bertakwa dijanjikan oleh Allah untuk dibuka pintu-pintu rezekinya. Allah berfirman:
    …وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا ‎﴿٢﴾‏ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ…
    “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, Allah akan berikan kepadanya jalan keluar dari kesulitannya. Dan Allah akan berikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka…” (QS. At-Talaq[65]: 2-3)
    Subhanallah.. Bahkan penduduk negeri yang bertakwa, maka Allah akan bukakan pintu-pintu keberkahan untuk mereka. Allah berfirman:
    وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ…
    “Kalaulah penduduk negeri itu beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan bukakan untuk mereka keberkahan di langit dan di bumi.” (QS. Al-A’raf[7]: 96)
    Allah berjanji bahwa orang yang bertakwa itu pasti dibela oleh Allah. Allah berfirman:
    إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوا وَّالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ
    “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. An-Nahl[16]: 128)
    Dan masih banyak lagi keistimewaan orang yang bertakwa itu. Bahkan orang yang bertakwa akan Allah tolong ia menghadapi musuh-musuhnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَإِن تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا
    “Jika kalian terus bersabar dan terus bertakwa, maka tipu daya mereka tidak akan membahayakan kalian sedikitpun juga.” (QS. Ali-Imran[3]: 120)
    Inilah takwa. Dan ternyata kita disyariatkan puasa Ramadhan agar bertakwa. Artinya supaya kita masuk surga, supaya kita mendapat pertolongan dari Allah, supaya pintu-pintu rezeki kita dibuka oleh Allah, supaya Allah mudahkan urusan-urusan kita, yaitu dengan kita bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lihat betapa agungnya tujuan dari puasa Ramadhan ini.
    Pahala puasa
    Memang puasa itu lumayan berat, apalagi bagi orang yang tidak punya kebiasaan puasa. Tapi jangan melihat kepada beratnya amal. Kalau kita sudah belum apa-apa sudah melihat kepada beratnya amal, maka kita akan mundur. Maka hendaknya kita melihat kepada manfaat, pahala dan faidahnya yang luar biasa.
    1 hr 1 min
  • Meluruskan Kesalahan Pada Anak
    Meluruskan Kesalahan Pada Anak merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mencetak Generasi Rabbani. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 26 Rajab 1443 H / 29 Maret 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Memberikan Waktu dan Perhatian Untuk Anak
    Meluruskan Kesalahan Pada Anak
    Di antara sikap yang salah adalah menyepelekan dan meremehkan maksiat dan kesalahan-kesalahan yang kecil tanpa memberi nasihat atau pengarahan atau bimbingan kepada kebenaran.
    Nasihat itu perlu, jangan kita kira percuma karena dia masih kecil, dia tidak paham. Sehingga orang tua menahan diri dari memberikan nasihat kepada anak-anaknya. Ini adalah sikap yang salah.
    Ada pepatah yang mengatakan “Sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit.” Kesalahan kecil yang dibiarkan atau adanya pembiaran akan bertambah besar dan akan menjadi kebiasaan/karakter/tabiat. Apabila sudah melekat akan susah untuk dihilangkan.
    Maka jangan biarkan kesalahan-kesalahan kecil ini menumpuk menjadi besar. Segera berusaha agar kesalahan-kesalahan itu dapat dihilangkan.
    Sadarilah bahwa penyimpangan yang besar itu berawal dari penyimpangan yang kecil. Api yang besar itu berasal dari percikan kecil sehingga menjadi besar, hingga mungkin bisa membakar. Maka cegah dan arahkan anak semenjak dini.
    Apabila kita melihat penyimpangan yang mereka lakukan walaupun terlihat remeh atau sepele seperti berkata bohong, mengucapkan kata-kata yang keji, berprilaku kasar dan yang semisalnya, segera kita atasi hal itu. Itulah sikap yang seharusnya kita lakukan. Yaitu memberikan nasihat, meskipun dalam hal-hal yang kecil.
    Seperti yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika melihat Al-Hasan bin Ali mengambil kurma zakat yang ada di masjid. Nabi menghampirinya, mengambil kurma itu, meletakkannya kembali dan memberikan nasihat: “Kita keluarga Muhammad tidak dibolehkan memakan harta sedekah/zakat.”
    Ini adalah nasihat yang berisi ilmu. Nabi menyampaikannya kepada seorang bocah. Dimana waktu itu Hasan bin Ali masih kecil.
    Sebagian orang tua ketika mendapati kondisi seperti ini mungkin dia marah kepada anak itu atau mengusirnya tanpa memberikan pengarahan kenapa dia tidak boleh melakukan hal itu. Sehingga tidak ada ilmu/pelajaran yang dia dapat dari larangan tersebut.
    Kita mungkin hanya sekedar melarang tanpa memberikan argumentasi. Padahal anak perlu argumen, sehingga dia tahu kenapa dia tidak boleh melakukan itu, kenapa dia harus melakukan ini. Maka berilah argumen yang dapat dia terima, tentunya dengan cara yang sesuai dengan perkembangan akalnya. Anak-anak kita perlu nasihat.
    Misalnya dia berkata bohong. Sebagian orang tua menyikapinya dengan memarahi anak itu. Kemudian mungkin dengan kata-kata yang merendahkan. Ini sebenarnya tidak menyelesaikan masalah. Si anak mungkin akan mengulangi kebohongan kalau yang kita lakukan hanya sekedar melarang saja. Seharusnya dijelaskan dan berikan nasihat bahwa bohong itu tercela. Hingga dia tahu kenapa dia tidak boleh bohong.
    Bagaimana kajian lengkap tentang Sikap Yang Salah dan Yang Seharusnya Ketika Mendidik Anak? Mari download dan simak mp3 kajiannya.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Meluruskan Kesa...
    56 min
  • Talbis Iblis Dalam Perkara Membaca Al-Qur’an
    Talbis Iblis Dalam Perkara Membaca Al-Qur’an ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 25 Sya’ban 1443 H / 28 Maret 2022 M.

    Kajian Islam Tentang Talbis Iblis Dalam Perkara Membaca Al-Qur’an
    Salah satu pintu yang dimasuki oleh iblis adalah pintu-pintu kebaikan. Seperti yang dikatakan oleh salah seorang ulama salaf bernama Yahya bin Yahya, bahwa iblis membuka 99 pintu kebaikan untuk memperdaya anak Adam dari satu pintu keburukan.
    Iblis menggoda atau merusak anak Adam kadangkala bukan dari perkara-perkara yang jelas-jelas buruk atau maksiat. Tapi iblis juga masuk dalam perkara-perkara yang pada dasarnya itu baik, bahkan utama. Diantaranya adalah membaca Al-Qur’an.
    Artinya kita beribadah saja belum tentu selamat dari talbis iblis, dan iblis tidak membiarkan kita. Iblis menggunakan sarana-saran kebaikan itu untuk menyeret seseorang kepada keburukan. Perkara yang seharusnya baik bagi seseorang bisa menjadi sebuah keburukan. Begitulah dahsyatnya tipu daya iblis ini.
    Di antaranya adalah di dalam perkara membaca Al-Qur’an. Tipu daya iblis kepada sebagian orang adalah dengan mendorong mereka agar banyak-banyak membaca tapi dengan cara yang tidak tepat. Mereka membacanya dengan cepat, tapi tidak tartil, tidak memastikan keshahihan bacaannya, apalagi mentadabburinya.
    Nabi membatasi menghatamkan Qur’an tidak boleh kurang dari tiga hari. Karena bacaan seperti itu bacaan yang tidak tadabbur. Mungkin dikecualikan waktu-waktu yang utama seperti bulan Ramadan. Sebagaimana yang dilakukan juga oleh banyak ulama. Tapi ini khusus di waktu-waktu utama.
    Ibnu Rajab Al-Hambali juga berpendapat seperti itu. Bahwa di waktu-waktu utama boleh kurang dari tiga hari. Itu salah satu pendapat ulama. Tapi di dalam masa-masa yang normal, maka kembali kepada ketentuan yang dibuat oleh Nabi, yaitu tidak boleh mengkhatamkannya kurang dari tiga hari.
    Sebagian orang termotivasi tapi ke arah yang salah. Dia hanya fokus untuk membanyak kuantitas bacaan, bukan kualitas. Sehingga jangankan memahaminya, membacanya dengan benar saja tidak. Sehingga kadang-kadang seperti orang kumur-kumur karena mengejar target. Tidak ada tajwid, tidak ada tartil, apalagi tadabbur.
    Begitu terus cara dia membaca Al-Qur’an sehingga dia tidak dapat faedah apapun dari yang dibacanya. Inilah yang diinginkan oleh iblis. Kalaulah tidak dapat menghalanginya dari Al-Qur’an itu, minimal iblis membuatnya tidak dapat memahami. Kalau tidak bisa membuat dia lupa dari Al-Qur’an, maka iblis membuat dia tidak memahami Al-Qur’an, padahal dia membaca Al-Qur’an.
    Ibnul Jauzi mengatakan bahwa ini merupakan sikap yang keliru. Iblis menipu sekelompok Qori dengan mendorong mereka agar membaca 1 atau 2 juz dalam beberapa jam. Mungkin bisa kita bayangkan bagaimana kecepatan membacanya. Dan mereka membacanya di menara masjid dimalam hari secara berjamaah dengan suara keras.
    Perbuatan seperti ini menghimpun dua perkara yang buruk sekalipun. Yaitu menggangu orang yang sedang tidur. Padahal kita tidak boleh beribadah dengan menggangu atau mengusik ketenangan orang lain. Karena tidak semua mendengarkannya, ada orang yang istirahat.
    Ketika bacaan itu disuarakan dimenara-menara masjid (padahal dulu tidak ada pengeras suara), itu saja sudah dikatakan oleh Ibnul Jauzi menggangu orang yang sedang tidur. Bagaimana seandainya Ibnul Jauzi hidup pada hari ini? Dia lihat apa yang dilakukan sebagian orang membaca dengan suara keras dengan mikrofon.
    42 min
  • Membaca Surah As-Sajdah Sebelum Tidur
    Membaca Surah As-Sajdah Sebelum Tidur merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Doa dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 25 Sya’ban 1443 / 28 Maret 2022.
    Lihat sebelumnya: Membaca Surah Al-Isra’ Sebelum Tidur

    Kajian Tentang Membaca Surah As-Sajdah Sebelum Tidur
    Membaca Surah As-Sajdah sebanyak satu kali. Nomor urut surat ini dalam mushaf Al-Qur’an adalah nomor 32. Terletak di juz 21. Jumlah ayatnya sebanyak 30 ayat.
    Dalil Landasan Membaca Surah As-Sajdah
    عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: ” كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَنَامُ حَتَّى يَقْرَأَ {الم تَنْزِيلُ} السَّجْدَةَ، وَ{تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ}”.
    Jabir Radhiyallahu ‘Anhu menuturkan, “Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak akan tidur hingga beliau membaca “Alif lam mim tanzil as-sajdah” (Surah As-Sajdah) dan “Tabarakalladzi biyadihil mulk” (Surah Al-Mulk)”. (HR. Ahmad (No. 14714) dan dinilai sahih oleh al-Hakim (No. 3598), adz-Dzahabiy serta al-Albaniy.)
    Renungan Kandungan
    Kandungan global surah ini terbagi menjadi tiga poin:
    Pertama: Pendahuluan (Ayat 1-9)
    Surah ini diawali dengan mengenalkan kepada manusia tentang Allah ta’ala. Bahwa Dialah yang menciptakan langit dan bumi, mengetahui segala sesuatu yang ada di dalamnya, serta Dia pulalah yang mengatur alam semesta ini. Dia juga yang menurunkan al-Qur’an kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sebagai sarana untuk mengajak umat manusia agar beriman kepada Allah ta’ala. Ini semua menunjukkan kesempurnaan kekuasaan-Nya.
    Kedua: Penjelasan mengenai sikap orang-orang kafir dan kaum mukminin terhadap kekuasaan Allah (Ayat 10-25)
    Setelah mengenalkan Allah, tema pembahasan berpindah kepada keterangan mengenai sikap orang kafir terhadap kekuasaan Allah. Terutama kekuasaan-Nya untuk membangkitkan manusia kembali. Mereka mengingkari hal tersebut. Akibatnya mereka enggan untuk beriman kepada Allah dan untuk bersujud kepada-Nya.
    Agar terjadi perpaduan antara targhib (motivasi) dan tarhib (ancaman), maka pembahasan selanjutnya adalah tentang sikap kaum mukminin. Bertolak belakang dengan sikap orang-orang kafir, kaum mukminin sangat meyakini kekuasaan Allah ta’ala dan mempercayai ayat-ayat-Nya. Hal itu dibuktikan dengan kepatuhan mereka untuk bersujud kepada-Nya. Sebab mereka berharap meraih rahmat Allah dan terhindar dari siksa-Nya.
    Ketiga: Penutup (Ayat 26-30)
    Di penghujung surah mulia ini, diulang kembali penjelasan mengenai hal-hal yang menunjukkan kesempurnaan kekuasaan Allah. Di mana Dialah yang mengatur turunnya hujan dan tumbuhnya tanaman, sebagai rizki bagi manusia juga binatang.
    Terakhir digambarkan penyesalan orang-orang kafir kelak di akhirat, sebagai akibat keengganan mereka untuk beriman kepada Allah saat di dunia. Ini menunjukkan kekuasaan Allah untuk membangkitkan manusia di hari kiamat.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajiannya. Download juga mp3 bacaan dzikir pagi dan petang.
    Download mp3 Kajian Membaca Surah As-Sajdah Sebelum Tidur

    Radio Rodja 756AM ·
    29 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah