Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Dua Macam Bacaan Iqamah
    Dua Macam Bacaan Iqamah ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 25 Sya’ban 1443 H / 28 Maret 2022 M.

    Download kajian sebelumnya: Kesalahan-Kesalahan Yang Berkaitan Dengan Ibadah Adzan
    Kajian Tentang Dua Macam Bacaan Iqamah
    Iqamah adalah pengumuman atau pemberitahuan bahwa shalat akan didirikan, dengan menggunakan bacaan-bacaan yang diajarkan oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dengan cara yang khusus.
    Iqamah ini sebagaimana ditunjukkan dalam riwayat-riwayat yang shahih bisa dengan dua cara, yaitu:
    Cara yang pertama adalah dengan 11 bacaan. Sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat yang shahih dari sahabat Abdullah bin Zaid Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu. Bacaannya:
    اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ
    أَشْهَدُ اَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّااللهُ
    اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
    حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ
    حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ
    قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ
    اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ
    لَاإِلٰهَ إِلاَّاللهُ
    Ada 11 bacaan. Inilah iqamah yang paling banyak dipraktekkan oleh kaum muslimin saat ini. Rata-rata kaum muslimin menggunakan iqamah dengan cara ini.
    Dari sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu, beliau pernah mengatakan:
    أُمر بلال أن يشفع الأذان ويوتر الإقامة، إلا الإقامة
    “Bilal diperintahkan untuk menggenapkan bacaan dalam adzan dan mengganjilkan di dalam iqamah, kecuali bacaan iqamahnya (yaitu قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ diulangi dua kali).” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Cara yang kedua, ini juga cara yang shahih namun masih jarang dilakukan di negeri kita. Bacaannya yaitu:
    اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ
    اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ
    أَشْهَدُ اَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّااللهُ
    أَشْهَدُ اَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّااللهُ
    اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
    اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
    حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ
    حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ
    حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ
    حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ
    قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ
    اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ
    لَاإِلٰهَ إِلاَّاللهُ
    Ini seperti adzan yang biasa dikumandangkan di negeri kita tapi ditambah قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ. Ini adalah iqamah yang jarang dipraktekkan di negeri kita. Kalau misalnya masyarakat kita sudah siap dengan iqamah yang seperti ini, maka bisa dipraktekkan. Karena ini salah satu dari cara iqamah yang diajarkan oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Saya katakan “kalau masyarakat kita sudah siap dengan cara iqamah seperti ini”, maka baru dipraktekkan. Karena kalau masyarakat tidak siap maka iqamah yang seperti ini bisa membuat kegaduhan.
    Kapan masyarakat siap untuk digunakan cara iqamah yang seperti ini? Yaitu ketika mereka sudah dikasih tahu. Misalnya di masjid yang di situ biasa diadakan kajian-kajian ilmiah yang sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kemudian sudah diajarkan cara iqamah yang seperti ini. Maka di masjid yang seperti itu tidak masalah menggunakan cara iqamah yang seperti ini.
    Pertimbangannya adalah mafsadah dan maslahat. Kalau digunakan iqamah yang seperti ini bisa saja nanti terjadi kegaduhan di antara jamaah. Nanti ada suara-suara yang tidak baik terhadap sunnah ini.
    Oleh karena itu sebelum kita menjalankan sunnah yang masih jarang diterapkan di sebuah masyar...
    1 hr
  • Kabar Gembira Tentang Kelahiran Nabi Isa
    Tafsir Ali Imran Ayat 46 – Kabar Gembira Tentang Kelahiran Nabi Isa adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Ayat-Ayat Ahkam. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Kamis, 21 Sya’ban 1443 H / 24 Maret 2022 M.

    Tafsir Ali Imran Ayat 46 – Kabar Gembira Tentang Kelahiran Nabi Isa
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَيُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا وَمِنَ الصَّالِحِينَ ‎﴿٤٦﴾‏ قَالَتْ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي وَلَدٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ ۖ قَالَ كَذَٰلِكِ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ إِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُن فَيَكُونُ ‎﴿٤٧﴾
    “‘Dan dia (Isa) bisa berbicara kepada manusia sewaktu dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia termasuk orang-orang yang shalih.’ Maryam berkata: ‘Wahai Rabbku, bagaimana aku bisa mendapatkan anak, sedangkan aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun.’ Kemudian Allah berfirman: ‘Demikianlah Allah mencipta apa yang Allah kehendaki. Apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala menentukan suatu perkara, maka sesungguhnya Allah hanya berkata kepada ia: ‘Jadilah’, maka perkara itu pun jadi.” (QS. Ali Imran[3]: 46-47)
    Nabi Isa ‘Alaihish Shalatu was Salam ketika kecil diberikan kemukjizatan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bisa berbicara.
    Ketika Maryam membahwa putranya, manusia waktu itu berkata: “Wahai Maryam, engkau telah mendatangkan sesuatu yang mungkar.” Orang-orang menyangkan bahwa Maryam telah melakukan perbuatan yang tidak senonoh. sehingga lahir seorang anak tanpa ada suami.
    Mereka berkata: “Wahai saudara Harun, bapakmu itu bukan orang memiliki perangai yang jelek, dan ibumu bukan pezina.” Mereka menuduh Maryam berbuat zina dengan berkata demikian.
    Kemudian Maryam mengisyaratkan kepada Isa yang waktu itu masih bayi. Mereka berkata: “Bagaimana kita mengajak bicara dengan bayi yang masih dalam buaian?”
    Kemudian Subhanallah..
    قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا ‎﴿٣٠﴾‏ وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا ‎﴿٣١﴾‏
    “Isa berkata: ‘Aku adalah hamba Allah, aku dianugerahkan oleh Allah Al-Kitab, dan aku dijadikan sebagai Nabi. Dan Allah menjadikan aku berkah dimanapun aku berada, dan Allah wasiatkan aku untuk shalat dan menunaikan zakat selama hidup.” (QS. Maryam[19]: 31)
    Bayi tapi bisa berbicara seperti orang dewasa. Ini merupakan tanda-tanda kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sangat besar. Ini juga merupakan karunia yang Allah berikan kepada Isa dan ibunya, yaitu Maryam Alaihima Assalam.
    Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari Download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian Tafsir Ali Imran Ayat 46 – Kabar Gembira Tentang Kelahiran Nabi Isa

    Radio Rodja 756AM · Tafsir Ali Imran Ayat 46 – Kabar Gembira Tentang Kelahiran Nabi Isa
    Mari turut membagikan link download kajian yang penuh manfaat ini ke jejaring...
    29 min
  • Keterikatan Antara Ilmu dan Dakwah
    Keterikatan Antara Ilmu dan Dakwah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 21 Sya’ban 1443 H / 24 Maret 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Ilmu Menghantarkan Pada Keyakinan

    Ceramah Agama Islam Tentang Keterikatan Antara Ilmu dan Dakwah
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
    “Dan siapakah yang lebih baik ucapannya dibandingkan orang yang mengajak manusia ke jalan Allah dan dia mengamalkan amalan shalih serta dia mengatakan: ‘Sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang berserah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.'” (QS. Fussilat[41]: 33)
    Ini pujian bagi orang yang menegakkan dakwah ke jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan benar. Bahwa dia adalah orang yang ucapannya paling baik bahkan tidak ada yang melebihi baiknya ucapannya. Makanya tugas ini senantiasa dilakukan oleh hamba-hamba Allah yang paling utama. Tentu di antaranya adalah para Nabi dan para Rasul ‘Alaihimush Shalatu was Salam.
    Hasan Al-Bashri Rahimahullahu Ta’ala, imam besar Ahlus Sunnah dari kalangan Tabiin ketika menafsirkan ayat ini berkata: “Dia adalah seorang beriman yang menjawab panggilan Allah untuk mengikuti petunjukNya. Setelah itu dia mengajak manusia kepada petunjuk Allah yang diikutinya. Dia juga mengamalkan amalan shalih dalam memenuhi panggilan Allah tersebut. Maka orang ini adalah wali Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
    Beliau menafsirkan yang namanya wali Allah adalah orang yang mengajak manusia ke jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan bekal ilmu sehingga dia mengetahui bagaimana mengajak manusia sesuai dengan petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya.
    Maka kedudukan dakwah (mengajak manusia ke jalan Allah) adalah seutama-utama kedudukan seorang hamba. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَأَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللَّهِ يَدْعُوهُ كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا
    “Dan bahwasanya ketika hamba Allah (yaitu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) berdiri untuk berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, hampir-hampir para jin itu berdesak-desakan untuk mengerumuninya.” (QS. Al-Jin[72]: 19)
    Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
    ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
    “Ajaklah manusia ke jalan Rabbmu dengan cara hikmah dan dengan nasihat yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang paling baik…” (QS. An-Nahl[16]: 125)
    Jadi mengajak manusia ke jalan Allah adalah kedudukan yang paling tinggi dan paling agung. Makanya tadi sudah kita sebutkan bahwa yang menegakkan dan Allah berikan tugas untuk melaksanakan hal ini tentu adalah makhluk-makhlukNya yang paling utama, yaitu para Nabi dan para Rasul ‘Alaihimuss Shalatu was Salam, kemudian hamba-hamba yang dipilihNya seperti para sahabat Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhum, selanjutnya para ulama dari kalangan Tabiin dan seterusnya. Mereka senantiasa menegakkan  tugas ini ia untuk menempati kedudukan hamba yang paling tinggi.
    Makanya Imam Abdullah bin Mubarak Al-Marwazi mengatakan:
    لا أعلم بعد النبوة درجة أفضل من بث العلم
    37 min
  • Hukum Bertabarruk dengan Pohon, Batu dan Semisalnya
    Hukum Bertabarruk dengan Pohon, Batu dan Semisalnya  adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 20 Sya’ban 1443 H / 23 Maret 2022 M.

    Kajian Tentang Hukum Bertabarruk dengan Pohon, Batu dan Semisalnya
    Kita sampai pada باب من تبرك بشجرة أو حجر ونحوهما (Bab siapa yang bertabarruk dengan pohon atau batu atau yang semisal dengan keduanya). Maksud dari bab ini adalah penjelasan bahwa bertabarruk dengan pohon atau batu atau semisal keduanya termasuk dari kesyirikan.
    Bertabarruk adalah mengambil/mencari/meminta berkah. Berkah yang dimaksud adalah kebaikan yang tetap, terus-menerus, banyak dan terus bertambah. Berarti kalau kita katakan ‘bertabarruk dengan pohon’ berarti mencari berkah melalui pohon/batu dan seterusnya.
    Tabarruk menjadi kesyirikan dalam dua keadaan-keadaan, yaitu:
    Pertama, syirik akbar. Yaitu jika orang yang bertabarruk meyakini bahwa pohon atau batu atau apa saja yang ditabarruki memang memberikan pengaruh penciptaan, pengaturan, dan kekuasaan. Perbuatan seperti ini adalah syirik akbar.
    Kedua, syirik asghar. Potret pertama yaitu seseorang yang bertabarruk menjadikan sesuatu tersebut sebagai sebab padahal dia bukan sebab yang diakui secara kebiasaan atau terbukti secara pembuktian. Siapa yang menjadikan sesuatu sebagai sebab dan belum terbukti dia sebagai sebab, maka ini adalah syirik asghar.
    Misalnya seseorang bertabarruk dengan batu. Dia meyakini batu ini adalah penyebab dia sehat. Padahal belum terbukti -baik secara kebiasaan/percobaan/penelitian ilmiah- batu tersebut sebagai penyembuh dari penyakit.
    Potret kedua yaitu bertabarruk dengan suatu sebab yang tidak disyariatkan dalam syariat Islam. Adapun sebab-sebab yang disyariatkan adalah seperti membaca Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ…
    “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an yang merupakan obat penyembuh.” (QS. Al-Isra'[17]: 82)
    Maka ini sebab yang syar’i. Adapun sebab syar’i yang lain adalah madu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    يَخْرُجُ مِن بُطُونِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِّلنَّاسِ
    “Dan dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, didalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.” (QS. An-Nahl[16]: 69)
    Sebab syar’i yang lainnya adalah minum air zamzam. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    مَاءُ زَمْزَمَ لمِاَ شُرِبَ لَهُ
    “Air zamzam sesuai dengan niat yang meminumnya.” (HR. Ibnu Majah, Ahmad, Al-Baihaqi)
    Apalagi sebab-sebab yang disyariatkan? Mari kita download dan simak mp3 kajiannya.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Hukum Bertabarruk dengan Pohon, Batu dan Semisalnya
    Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link ceramah agama “Hukum Bertabarruk dengan Pohon, Batu dan Semisalnya” ini melalui jejaring sosial facebook,
    1 hr 18 min
  • Hadits Arbain Ke 40 – Prioritas Seorang Muslim
    Hadits Arbain Ke 40 – Prioritas Seorang Muslim merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Anas Burhanuddin, M.A. dalam pembahasan Al-Arba’in An-Nawawiyah (الأربعون النووية) atau kitab Hadits Arbain Nawawi Karya Imam Nawawi Rahimahullahu Ta’ala. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 8 Sya’ban 1443 H / 22 Maret 2022 M.

    Download juga kajian sebelumnya: Hadits Arbain Ke 39 – Hukum Tidak Sengaja, Lupa dan Dipaksa
    Kajian Hadits Arbain Ke 40 – Prioritas Seorang Muslim
    عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ: أَخَذَ رَسُولُ اللهِ ﷺ بِمَنْكِبَيَّ، فَقَالَ: «كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ
    وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُوْلُ: إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ المَسَاءَ. وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ.
    Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, bahwasanya beliau mengatakan: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memegang kedua pundak saya, kemudian beliau bersabda: ‘Di dunia ini jadilah seperti orang yang asing atau orang yang sedang musafir.'”
    Dan Ibnu ‘Umar pernah mengatakan: “Jika engkau berada di waktu sore jangan menunggu waktu pagi, jika engkau berada di waktu pagi maka jangan tunggu waktu sore. Dan ambillah dari masa sehatmu sebelum sakitmu, dan ambillah dari masa hidupmu sebelum matimu.” (HR. Al-Bukhari)
    Hadits Abdullah bin ‘Umar ini adalah hadits pokok yang menjelaskan kepada kita tentang prioritas yang benar. Apakah dunia atau akhirat yang akan kita dahulukan? Juga bagaimana kita bersikap dalam urusan dunia kita.
    Semua Nabi dan para pengikutnya mengajarkan kepada kita bahwasannya akhirat harus diprioritaskan dan di dunia ini hendaknya kita mengambil secukupnya saja. Ini selaras dengan apa yang disampaikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an saat bercerita tentang orang yang beriman dari kalangan keluarga Firaun. Dia mengatakan:
    يَا قَوْمِ إِنَّمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ
    “Wahai kaumku, sesungguhnya dunia ini adalah kenikmatan dan sungguh akhirat adalah tempat yang abadi.” (QS. Ghafir[40]: 39)
    Kehidupan dunia adalah kehidupan dimana orang-orang merasakan kenikmatan di dalamnya, tapi hanya dalam waktu yang pendek kemudian dia segera hilang dan fana. Dan sungguh kehidupan akhirat adalah tempat yang abadi atau tempat untuk tinggal.
    Maka kita sebagai hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala hendaknya berpikir demikian. Akhirat adalah kehidupan yang abadi, sementara dunia ini hanya sementara, kita hanya mampir disini.
    Jangan salah prioritas, jangan kita terlalu asik dengan dunia yang fana dan segera habis. Kita tinggal di sini beberapa tahun saja untuk kemudian setelah itu kita berpindah ke alam yang lebih abadi. Sementara kebahagiaan kita di sana tergantung pada apa yang sudah kita amalkan saat di dunia.
    Maka jangan sampai kita terlena dengan kehidupan dunia yang pendek dengan terus mengejar kenikmatannya. Dimana mengejar kenikmatan dunia itu pasti akan membuat kita jatuh dalam perkara-perkara yang haram.
    Ingat bahwasanya dunia ini pendek dan kita hanya sementara di sini. Keberadaan kita di dunia adalah untuk menyiapkan bekal akhirat. Karena kehidupan yang sesungguhnya adalah kehidupan di akhirat. Maka di sini kita harus banyak beramal, harus banyak menambah bekal. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ
    “Maka berkahilah dirimu, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.
    1 hr 6 min
  • Memberikan Waktu dan Perhatian Untuk Anak
    Memberikan Waktu dan Perhatian Untuk Anak merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mencetak Generasi Rabbani. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 19 Sya’ban 1443 H / 22 Maret 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Sikap Yang Salah dan Yang Seharusnya Ketika Mendidik Anak
    Memberikan Waktu dan Perhatian Untuk Anak
    Sebelumnya kita sudah membahas tentang kurangnya memberikan waktu dan perhatian kepada anak, bersikap cuek, tidak mau peduli, bahkan ada indikasi menjauh dari anak dengan alasan sibuk bekerja, sibuk berdagang, sibuk berbisnis, sibuk mengajar dan lain sebagainya.
    Ada juga orang tua yang merasa bahwa orang yang paling berkompeten untuk dekat dengan anak adalah ibu, ini juga keliru. Kita semua tahu bahwa anak memerlukan dua sosok (ayah dan ibu). Lebih-lebih lagi ada orang tua yang menyerahkan urusan anaknya kepada pembantu. Anak itu justru dekat, bermain, bercanda, bergurau dan berkomunikasi dengan pembantu, bukan dengan kedua orang tuanya.
    Maka waktu dan perhatian adalah sesuatu yang harus kita berikan kepada anak, bukan hanya mengeluarkan materi/harta. Itu tentunya tidak seberapa dibandingkan dengan waktu yang kita berikan. Nilai waktu tidak bisa kita konversikan dengan materi.
    Anak perlu perhatian kita. Dia sebenarnya ingin orang tuanya menyembunyikan waktu untuknya. Ada anak yang melakukan hal-hal yang aneh seperti mencuri dan sebagainya hanya ingin mencuri perhatian orang tuanya. Dia melakukan hal-hal yang mengejutkan kita secara sengaja karena mungkin orang tua kurang perhatian. Biasanya anak-anak yang melakukan ini secara spontan tanpa pengaruh dari temannya itu dikarenakan orang tua kurang memberikan perhatian dan waktu kepada anak.
    Maka dari itu kita harus menyisihkan waktu. Sesibuk apapun kita, sepenting apapun pekerjaan kita, anak adalah amanah/titipan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang wajib kita berikan haknya. Salah satu haknya adalah perhatian dari kita. Dan perhatian itu perlu waktu.
    Kadangkala ada orang tua yang tidak sedang bekerja yang seharusnya waktunya bisa dia bisa berikan untuk keluarga (terutama untuk anak-anaknya) justru dihabiskan untuk melampiaskan hobinya. Sehingga nyaris tidak ada waktu untuk anak.
    Orang Tua Bakhil
    Bakhil dalam mengeluarkan uang untuk anak, untuk maslahat mereka, untuk pendidikan mereka. Kadang-kadang orang tua bukan tidak mampu, tapi tidak mau mengeluarkan hartanya untuk kemaslahatan anak. Kalau biaya pendidikan mungkin itu mau tidak mau dia harus keluarkan itu. Karena kalau tidak tentunya anaknya tidak bisa melanjutkan pendidikan.
    Namun ada hal-hal lain yang mungkin bukan merupakan tuntutan tapi merupakan kebutuhan dalam konteks pendidikan. Misalnya melakukan pendekatan kepada anak dengan hadiah. Tentu ini perlu mengalokasikan dana untuk itu. Jadi kita memang menyisihkan sebagian dari pendapatan kita untuk memberikan apresiasi ketika anak melakukan sesuatu yang kita perintahkan.
    Misalnya kita buat suatu peraturan atau mengeluarkan sebuah perintah kepada anak. Ada dua kemungkinan, yaitu anak melakukannya atau mengabaikan dan tidak mengindahkannya. Yang banyak terjadi adalah ketika anak tidak melakukan maka hukuman/sanksi itu menantinya. Bisa itu celaan, hardikan, amarah, bahkan sanksi dan hukuman seperti potong uang jajan atau dipukul.
    Tapi kalau dia melakukan ternyata tidak terjadi suatu apapun seperti tidak ada kejadian. Karena dalam hati ayah atau ibu memang sudah seharusnya seperti itu. Tidak ada apresiasi apalagi hadiah atas apa yang telah dilakukan oleh anak.
    46 min
  • Dianjurkannya Sujud Syukur
    Dianjurkannya Sujud Syukur adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 19 Sya’ban 1443 H / 22 Maret 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Keutamaan Datang Shalat Jumat Lebih Awal
    Dianjurkannya Sujud Syukur
    Kita sampai pada bab tentang dianjurkan sujud syukur tatkala seorang hamba mendapatkan suatu nikmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala atau tatkala dia terhindar dari satu bahaya/cobaan yang nyata.
    Sujud syukur adalah sesuatu yang memang dianjurkan. Karena seorang hamba yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala akan senantiasa berada di dalam kebaikan sebagaimana diberitahukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    عَجَباً لأمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَلِكَ لأِحَدٍ إِلاَّ للْمُؤْمِن: إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خيْراً لَهُ
    “Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin dan sesungguhnya urusan seorang mukmin itu selalu baik, dan hal itu tidak terwujud kecuali hanya bagi seorang mukmin. Jika dia mendapatkan hal-hal yang menyenangkannya maka dia bersyukur kepada Allah, dan bersyukur itu adalah baik baginya. Dan jika dia diuji oleh Allah dengan hal yang tidak menyenangkan maka dia bersabar, maka semuanya itu adalah baik bagi seorang mukmin.” (HR. Muslim)
    Di dalam kehidupan yang kita jalani, kita tidak luput dari dua hal ini. Kita berputar antara dua kutub; nikmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan cobaan. Bahwa suatu saat kita diberikan nikmat oleh Allah ‘Azza wa Jalla, kemudian kita diuji oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan teladan kepada kita dalam hal mensyukuri nikmat Allah dan bersabar terhadap cobaan. Di antaranya hadits dari Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    إِنِّيْ لَقِيْتُ جِبْرِيْلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ فَبَشَّرَنِيْ وَقَالَ: إِنَّ رَبَّكَ يَقُوْلُ: مَنْ صَلَّى عَلَيْكَ صَلَّيْتُ عَلَيْهِ، وَمَنْ سَلَّمَ عَلَيْكَ سَلَّمْتُ عَلَيْهِ، فَسَجَدْتُ لِلَّهِ شُكْرًا
    “Sesungguhnya aku bertemu dengan Jibril ‘Alaihis Salam, maka beliau memberikan berita gembira kepada aku, dan beliau berkata: ‘Sesungguhnya Rabbmu berkata kepada engkau Muhammad: ‘Siapa yang mengucapkan shalawat kepadamu maka Aku akan bershalawat kepadanya, dan barangsiapa yang mengucapkan salam kepadamu maka Aku pun akan mengucapkan salam kepadanya.’ Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam mengatakan: ‘Kemudian aku pun sujud kepada Allah dalam rangka mensyukuri nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.'” (HR. Ahmad, Al-Hakim, Al-Baihaqi)
    Sebetulnya hadits ini ada kelemahannya. Namun hadits ini didukung oleh beberapa riwayat. Demikian pula para Salafush Shalih yang mengamalkan tentang sujud syukur. Di antaranya adalah Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu ketika beliau bertemu dengan pimpinan orang-orang Khawarij yang telah terbunuh. Maka beliau kemudian mensyukuri Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena orang-orang itu telah merusak tatanan masyarakat kaum muslimin dengan mengadakan pemberontakan kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu.
    1 hr 25 min
  • Ucapan Seseorang “Siap Menjadi Tebusanmu Bapak dan Ibuku”
    Ucapan Seseorang “Siap Menjadi Tebusanmu Bapak dan Ibuku” adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Al-Adabul Mufrad. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. pada Senin, 18 Sya’ban 1443 H / 21 Maret 2022 M.

    Kajian Islam Tentang Ucapan Seseorang “Siap Menjadi Tebusanmu Bapak dan Ibuku”
    Kita telah sampai pada باب قول الرجل فداك أبي وأمي (Bab tentang ucapan seseorang “Siap menjadi tebusanmu, bapak dan ibuku”). Ungkapan ini tidak dimaksudkan makna yang sebenarnya. Tapi ini ungkapan untuk menumbuhkan cinta, menyirami kasih, sehingga bersemilah cinta di antara orang-orang yang beriman.
    Kita dalam bergaul diperintahkan untuk memilih kata-kata yang terbaik. Memanggil saudara kita dengan nama terbaik yang dia miliki, berbicara sama dia dengan intonasi yang lembut, kemudiian kata-kata yang dipilih juga kata-kata yang baik dan tidak sembarangan.
    Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
    “Tidak beriman seseorang di antara kalian sampai dia mencintai saudaranya seperti dia mencintai diri sendiri.” (HR. An-Nasa’i)
    Tentunya kita tidak ingin ada orang berbicara tidak enak, kita maunya orang itu berbicaranya baik kepada kita. Kalau engkau ingin itu maka tolong bicaralah yang baik kepada saudaranya.
    Al-Imam Bukhari menyebutkan sebuah hadits dari Ali bin Abi Thalib. Abdullah bin Syaddad mendengar Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu berkata:
    ما رَأَيْتُ النبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ يُفَدِّي رَجُلًا بَعْدَ سَعْدٍ سَمِعْتُهُ يقولُ: ارْمِ فِدَاكَ أَبِي وأُمِّي
    “Aku tidak pernah melihat/mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjadikan ayah bundanya sebagai tebusan kecuali untuk Sa’ad bin Abi Waqqash. Aku mendengar beliau berkata: ‘Lepas anak panahmu, menjadi tebusan untukmu ayah dan bundaku.'” (HR. Bukhari)
    Tentunya ucapan ini sangat menyenangkan Sa’ad bin Abi Waqqash dan memotivasi dia untuk semakin bersungguh-sungguh membela agama Allah ini.
    Siapa Sa’ad ini yang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menjadikan ayah bundanya tebusan bagi Sa’ad. Apa keistimewaan Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu ‘Anhu? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Adabul Mufrad – Ucapan Seseorang “Siap Menjadi Tebusanmu Bapak dan Ibuku”
    Mari turut membagikan link download kajian tentang “Ucapan Seseorang ‘Siap Menjadi Tebusanmu Bapak dan Ibuku'” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    1 hr 24 min
  • Faedah-Faedah Kisah Luqman Al-Hakim
    Faedah-Faedah Kisah Luqman Al-Hakim adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Furqan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 18 Sya’ban 1443 H / 21 Maret 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Luqman Menasihati Putranya
    Ceramah Agama Islam Tentang Luqman Menasihati Putranya
    1. Hikmah adalah karunia Allah
    Allah memberikan hikmah kepada siapa yang Allah kehendaki. Barangsiapa yang diberikan hikmah, maka dia telah diberikan kebaikan yang banyak.
    Di surah Luqman Ayat yang ke-12, Allah mengabarkan bahwa Allah memberikan anugerah hikmah kepada Luqman Al-Hakim. Allah berfirman:
    وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ …
    “Sesungguhnya Kami telah memberikan Al-Hikmah kepada Lukman…” (QS. Luqman[31]: 12)
    Hikmah adalah perkataan yang pas/cocok/sesuai, kepada seseorang yang pas, diwaktu yang pas, dengan kadar yang pas, dengan metode yang pas.
    Hikmah ini merupakan nikmat dari Allah. Dan Allah itu Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Sesungguhnya karena Allah Maha Bijaksana, maka Allah tidak memberikan hikmah kecuali memang kepada orang yang pantas untuk mendapatkannya.
    Allah memberikan tugas kepada orang yang pantas untuk mengembannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan wahyu yang besar berupa Al-Qur’an kepada orang yang pantas untuk mendapatkannya, yakni Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Sebagaimana perkataan Abdullah bin Mas’ud, Allah melihat kepada hati hamba-hamba diatas muka bumi ini. Dan Allah mendapati hati Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagus-bagusnya hati. Hati yang paling ikhlas dan bersih. Maka Allah pilih beliau untuk membawa risalah ini.
    Begitu juga setelah itu Allah Subhanahu wa Ta’ala melihat lagi hati-hati manusia. Dan Allah mendapati hati para sahabat sebaik-baik hati setelah hati Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka Allah pilih mereka sebagai para sahabat Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk mengemban risalah yang mulia. Makanya masalah hati adalah masalah yang sangat penting.
    Allah tidak memberikan Al-Hikmah melainkan kepada orang yang taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah ‘Azza wa Jalla dalam kitabNya tidak mensifati seorangpun dari kalangan orang-orang yang kafir/dzalim dengan sifat hikmah. Karena sifat hikmah merupakan sifat pemuliaan, dan hal ini tidak mungkin ada kecuali untuk orang yang beriman. Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mensifati siapapun dengan sifat hikmah kecuali para Nabi dan orang-orang yang shalih.
    Oleh karena hal itu tidak boleh siapapun mensifati ahli filsafat dengan hikmah. Ini perkataan ulama yang diambil dari Al-Qur’an dan hadits.
    Bagaimana kajian lengkapnya? Mari Download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Faedah-Faedah Kisah Luqman Al-Hakim
    Mari turut membagikan link download kajian yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya.
    44 min
  • Menempatkan Manusia Pada Posisinya
    Menempatkan Manusia Pada Posisinya ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 18 Sya’ban 1443 H / 21 Maret 2022 M.

    Kajian Islam Tentang Menempatkan Manusia Pada Posisinya
    Talbis dilancarkan iblis kepada seseorang yang mungkin dipandang sebagai ahli ibadah. Misalnya orang yang biasa menyendiri di masjid untuk mengerjakan shalat dan beribadah secara umum di dalamnya seperti membaca atau menghafal Al-Qur’an.
    Ini adalah satu amal shalih dan kebiasaan yang positif. Namun hal ini menjadikan orang tersebut dikenal sebagai ahli ibadah. Orang-orang pun menyebutnya ahli ibadah. Dan kemudian orang-orang pun mungkin menganggapnya berilmu. Orang-orang menemuinya, bermakmum kepadanya, hingga mungkin menjadikannya sebagai rujukan. Padahal dia ahli ibadah, bukan ahli ilmu.
    Ini bagian talbis iblis yang harus diwaspadai. Berapa banyak orang-orang yang rajin ibadah hingga disebut sebagai ahli ibadah dalam pandangan manusia. Kemudian orang-orang awam yang tidak mengetahui terminologi ahli ilmu memandang orang ini sebagai ahli ilmu. Maka mereka pun menemuinya, mendatanginya dan bertanya kepadanya. Mereka ingin menimba ilmu dari orang ini. Sementara ia tidak punya ilmu.
    Ibadah yang dikerjakannya adalah suatu hal yang positif. Akan tetapi kadang-kadang di sinilah bagian talbis iblis yang harus diwaspadai. Yaitu membuat kesamaran tentang status. Status seorang ahli ilmu dikatakan dia ahli ilmu karena memiliki latar belakang ilmu. Dia mempelajari dan menekuni ilmu itu, sehingga dikatakan ahli ilmu.
    Bagi orang-orang awam, keshalihan seseorang merupakan salah satu ciri dari ahli ilmu. Memang benar ahli ilmu itu seharusnya juga ahli ibadah, tapi mungkin tidak sebanyak ahli ibadah. Di sana mungkin ada orang yang lebih banyak ibadahnya daripada ahli ilmu.
    Dalam pandangan orang-orang awam mungkin si ahli ibadah ini dipandang lebih daripada ahli ilmu. Dan tidak sedikit dari mereka yang mengangkatnya bahkan sampai derajat ahli ijtihad/fatwa. Padahal dia hanya seorang yang rajin ibadah.
    Maka ini perlu diwaspadai. Mereka yang telah dicap sebagai ahli ibadah tadi menjadi semangat beribadah karena mengetahui apa yang mereka lakukan akan didengar oleh orang-orang dan mendatangkan pujian. Di sisi yang lain orang-orang yang memujinya mengangkatnya lebih daripada maqamnya.
    Bukan berarti ibadah yang dilakukannya tidak baik. Akan tetapi setan menyesatkan manusia kadang-kadang dari arah yang tidak terduga, bahkan dari sesuatu yang mungkin dipandang baik. Dari situ setan menggelincirkan anak Adam. Maka kita harus selalu waspada dan hati-hati.
    Seorang ahli ibadah yang menyadari dia sebenarnya adalah seorang penuntut ilmu juga ataupun bahkan dia mungkin masih kategori awam, dia harus menjelaskan keadaan. Bahwa dia tidak layak untuk dimintai fatwa atau dia bukanlah ahli ijtihad atau dia bukanlah seorang ahli ilmu yang memiliki latar belakang ilmu.
    Dia harus menjelaskan bahwa ibadah yang dikerjakannya bukan menunjukkan apa-apa yang berkaitan dengan ilmu.
    Namun itu yang terjadi sekarang ini orang-orang yang dipandang shalih, rajin ibadah atau bahkan orang yang baru hijrah sekalipun, nampak tanda-tanda keshalihan, lalu dijadikan sebagai rujukan dalam agama. Bahkan tidak sedikit orang-orang yang dia mungkin punya retorika yang bagus, cara bicara yang baik, keahlian dalam menyampaikan nasihat, tapi dia bukan ahli ilmu sebenarnya. Latar belakang ilmunya mungkin masih minim, ilmunya tidak cukup untuk dikatakan dia sebagai ahli ilmu.
    36 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah