Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Hukum Tiwalah (Pelet)
    Hukum Tiwalah (Pelet) adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 6 Sya’ban 1443 H / 9 Maret 2022 M.

    Kajian Tentang Hukum Tiwalah (Pelet)
    Kalau kita perhatikan hadits-hadits yang disebutkan di dalam larangan memakai tamimah dan jimat, maka pada saat itu akan jelas bagi kita keterasingan Islam. Terutama lagi yang dikerjakan oleh sebagian besar kaum muslimin dari pengagungan terhadap kuburan-kuburan dan menjadikan kuburan-kuburan tersebut sebagai tempat beribadah diatasnya, menghadapkan hati dan wajah kepada, memalingkan seluruh doa-doa, keinginan-keinginan, hal-hal yang ditakuti, dan juga macam-macam ibadah yang ia adalah hak Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan hak selainnya.
    Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    وَلَا تَدْعُ مِن دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۖ فَإِن فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِّنَ الظَّالِمِينَ
    “Dan janganlah kalian berdoa kepada selain Allah yang tidak memberi manfaat kepadamu, tidak juga memberikanmu mudharat kepadamu. Dan jika engkau lakukan berdoa kepada selain Allah, maka sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang dzalim.” (QS. Yunus[10]: 106)
    وَإِن يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِن يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ ۚ يُصِيبُ بِهِ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
    “Jika Allah mengenakan kepadamu sebuah musibah, maka tidak ada seorangpun yang mengangkat untuknya kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan jika Allah menginginkan kepadamu kebaikan, maka tidak ada seorangpun yang menolak akan kebaikan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah menimpakan musibah kepada siapa yang dikehendakiNya dari hamba-hambaNya dan Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus[10]: 107)
    Di sini penulis mengatakan bahwasanya salah satu hal yang kebanyakan kaum muslimin terperosok ke dalamnya adalah terlalu mengagung-agungkan kuburan-kuburan dan menjadikan kuburan-kuburan tersebut sebagai tempat ibadah, bahkan berdoa kepada orang yang dikubur, atau meminta pertolongan kepada orang yang dikubur, atau khawatir orang yang dikubur akan marah dan murka sehingga memberikan bala dan musibah. Maka ini bertentangan dengan surat Yunus ayat 106-107. Dan juga ayat-ayat yang semisal sangat banyak di dalam Al-Qur’an.
    Tiwalah
    Menit ke- Tiwalah adalah sesuatu yang dibuat oleh tukang sihir. Mereka menganggap bahwa sesuatu tersebut bisa mencintakan istri pada suaminya dan suami pada istrinya. Kalau di tempat kita mungkin namanya pelet.
    Dan dengan inilah Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu yang meriwayatkan hadits ini menafsirkannya. Sebagaimana disebutkan dalam Kitab Shahih Ibnu Hibban dan Al-Hakim bahwa mereka bertanya kepada Abdullah bin Mas’ud:
    قَالُوا: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَن، هَذِهِ الرُّقَى وَالتَّمَائِمُ قَدْ عَرَفْنَاهَا، فَمَا التِّوَلَةُ؟ قَالَ شَيْءٌ يَصْنَعُهُ النِّسَاءُ يَتَحَبَّبْنَ إِلَى أَزْوَاجِهِنَّ
    “Mereka bertanya: ‘Wahai Abu Abdirrahman, ruqyah-ruqyah dan tamimah-tamimah ini kita sudah mengenalnya, lalu apakah tiwalah?’ Ibnu Mas’ud menjawab: ‘Tiwalah adalah sesuatu yang dibuat oleh para perempuan untuk mencintakan mereka kepada suami-suami mereka.'” (Riwayat Ibnu Hibban dan Al-Hakim)
    Artinya perempuan melakukan ini agar sang suami tetap cinta kepada dirinya.
    Menit ke- Tiwalah adalah  sesuatu yang seorang perempuan mengambil dengannya kecintaan suami. Dan ia adalah contoh dari sihir.
    1 hr 37 min
  • Hadits Arbain Ke 39 – Hukum Tidak Sengaja, Lupa dan Dipaksa
    Hadits Arbain Ke 39 – Hukum Tidak Sengaja, Lupa dan Dipaksa merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Anas Burhanuddin, M.A. dalam pembahasan Al-Arba’in An-Nawawiyah (الأربعون النووية) atau kitab Hadits Arbain Nawawi Karya Imam Nawawi Rahimahullahu Ta’ala. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 5 Sya’ban 1443 H / 8 Maret 2022 M.

    Download juga kajian sebelumnya: Hadits Arbain Ke 38 – Wali Allah Adalah Orang-Orang Yang Beriman dan Bertakwa
    Kajian Hadits Arbain Ke 39 – Hukum Tidak Sengaja, Lupa dan Dipaksa
    عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَال: «إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِي: الخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ» حَدِيْثٌ حَسَنٌ رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ وَالبَيْهَقِيُّ وَغَيْرُهُمَا.
    Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma, bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengampuni karena aku untuk umatku ketidaksengajaan, lupa, dan sesuatu yang terjadi karena mereka dipaksa.” (Hadits hasan, HR. Ibnu Majah, Al-Baihaqi, dan yang lain)
    Ini adalah hadits yang Hasan. Ada sebagian ulama yang melemahkannya, tapi An-Nawawi Rahimahullah menghukumi Hasan. Para ulama mengatakan bahwa apapun yang dikatakan oleh para ulama tentang kelemahannya, maka kandungan hadits ini didukung oleh ayat-ayat yang jelas dan tegas. Maka An-Nawawi Rahimahullah menyimpulkan bahwa haditsnya adalah Hasan.
    Pengampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala ini karena keutamaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Pengampunan itu dengan tidak menghisab dari seorang hamba kesalahan yang terjadi karena tiga hal ini. Atau dengan mengampuni kesalahan yang terjadi karena tiga hal ini.
    Ketidaksengajaan
    Ketidaksengajaan adalah sesuatu yang terjadi karena tidak sengaja. Misalnya ketika ada seseorang yang ingin berburu, dia melepaskan panahnya ketika melihat binatang buruan, tapi kemudian ternyata tanpa disadari ada seorang muslim yang berada di dekat binatang buruan itu. Kemudian anak panah ini melesat dan membunuh muslim tersebut. Ini berarti adalah ketidaksengajaan.
    Membunuh seorang muslim tentunya adalah sebuah dosa, bahkan dosa besar. Tapi kalau itu terjadi karena ketidaksengajaan, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dosa tersebut.
    Di antara contohnya adalah apa yang terjadi pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dimana ada seorang sahabat yang bernama Mu’awiyah bin Al-Hakam yang belum sampai kepada beliau wahyu berupa larangan untuk berbicara dalam shalat. Kemudian turun larangan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi umat Islam untuk berbicara dalam shalat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ
    “Dan berdirilah untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan khusyuk.” (QS. Al-Baqarah[2]: 238)
    Ini adalah perintah untuk diam dalam shalat dan tidak berbicara. Tapi Mu’awiyah bin Al-Hakam tidak mengetahui turunnya ayat ini sehingga belum sampai kepada beliau wahyu ini. Setelah selesia shalat, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendatanginya kemudian mengatakan:
    إن هذه الصلاة لا يَصلح فيها شيء من كلام الناس، إنما هو التَّسبيح والتَّكبير وقراءة القرآن
    “Shalat ini tidak sah di dalamnya sesuatu dari pembicaraan manusia. Sesungguhnya yang ada dalam shalat ini hanyalah tasbih, takbir dan membaca Al-Qur’an.” (HR. Muslim)
    Karena beliau tidak tahu maka beliau jatuh pada ketidaksengajaan, maka kesalahan seperti ini dimaafkan oleh Allah Subh...
    1 hr 16 min
  • Keutamaan Hari Jumat
    Keutamaan Hari Jumat adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 5 Sya’ban 1443 H / 8 Maret 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Keutamaan dan Waktu Shalat Dhuha
    Keutamaan Hari Jumat
    Imam An-Nawawi Rahimahullah berkata:
    باب فضل يوم الجمعَة ووُجوبها والاغتِسال لَهَا والتطيّب والتبكير إِلَيْهَا والدعاء يوم الجمعة والصلاة عَلَى النبيّ ﷺ فيه وبيان ساعة الإجابة واستحباب إكثار ذكر الله بعد الجمعة
    “Bab tentang keutamaan hari Jumat, dan juga merupakan kewajiban bagi setiap orang muslim yang telah memenuhi syarat untuk mengerjakan shalat Jumat. Demikian pula dianjurkan untuk mandi, memakai minyak, dan seorang hendaknya bersegera ketika datang ke masjid. Juga kita dianjurkan untuk memperbanyak doa di hari Jumat, dan dianjurkan memperbanyak shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada hari Jumat. Saat dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala doa dan permohonan seorang hamba. Dan anjuran untuk memperbanyak berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sesudah mengerjakan shalat Jumat.”
    Adapun dalil dari Al-Qur’anul Karim yang dibawakan oleh Al-Imam An-Nawawi Rahimahullah adalah surah Al-Jumu’ah ayat yang ke-10, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
    “Maka apabila shalat (Jumat) telah selesai dikerjakan, maka bertebaranlah kalian di muka bumi ini, dan berharaplah akan karunia Allah, dan perbanyaklah berdzikir kepada Allah semoga kalian mendapatkan kemenangan.” (QS. Al-Jumu’ah[62]: 10)
    Di dalam ayat ini Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan kepada setiap Mukmin untuk mengerjakan shalat Jumat bagi mereka yang telah memenuhi syarat. Karena ada sejumlah orang yang tidak diwajibkan shalat Jumat, diantaranya adalah wanita, atau musafir, atau budak.
    Kemudian Allah Ta’ala membimbing kepada kita semuanya apabila selesai mengerjakan shalat Jumat maka bertebarlah di muka bumi untuk mencari rezeki atau untuk berusaha mendapatkan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena Allah Dzat Yang Maha Pemberi, tapi hendaknya seorang hamba tidak boleh lalai terhadap kewajiban-kewajibannnya yang diwajibkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Jadi ayat ini menjelaskan tentang dibolehkannya seorang mencari harta, tetapi semua itu tidak melalaikannya dari beribadah pada Allah Ta’ala, menjalankan kewajiban shalat Jumat.
    Juga dianjurkan memperbanyak dzikir kepada Allah Ta’ala. Karena ketika berusaha, sibuk di pasar atau ruang perniagaannya, pada umumnya manusia lupa dan lalai. Makanya pada ayat ini Allah mengingatkan: “Dan carilah kalian akan karunia Allah, dan berdzikirlah mengingat Allah dengan dzikir yang bahwa.”
    Hadits Keistimewaan Hari Jumat
    Adapun hadits-hadits yang dibawakan oleh Imam An-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala, yaitu:
    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا
    “Sebaik-baik hari yang mana matahari terbit padanya adalah hari Jumat. Pada hari Jumat Adam diciptakan oleh Allah Ta’ala, pada hari Jumat Adam dimasukkan ke dalam surga, dan pada hari Jumat pula Adam dikeluarkan dari...
    1 hr 1 min
  • Ucapan Seseorang: “Jiwaku Untukmu Sebagai Tebusan”
    Ucapan Seseorang: “Jiwaku Untukmu Sebagai Tebusan” adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Al-Adabul Mufrad. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. pada Senin, 4 Sya’ban 1443 H / 7 Maret 2022 M.

    Kajian Islam Tentang Ucapan Seseorang: “Jiwaku Untukmu Sebagai Tebusan”
    Kita telah sampai pada بَابُ قَوْلِ الرَّجُلِ: نَفْسِي لَكَ الفداء (Bab ucapan seseorang: ‘Jiwaku untukmu sebagai tebusan.’) Ini adalah ucapan untuk mencairkan suasana, untuk menumbuhkan cinta dan kasih sayang, dimana Allah ‘Azza wa Jalla mengatakan:
    ‏ وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنزَغُ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنسَانِ عَدُوًّا مُّبِينًا
    “Dan katakanlah kepada hamha-hambaKu: ‘Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang paling baik. Sesungguhnya setan berusaha merusak hubungan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (QS. Al-Isra'[17]: 53)
    Itulah yang dilakukan setan. Sehingga seorang muslim berusaha ketika bergaul dengan orang lain untuk menjaga lisannya. Bahkan Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:
    مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ
    “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berucap yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Lihat juga: Bab Berkata Baik Atau Diam
    Ini adalah sesuatu yang terkadang diremehkan oleh seorang muslim ketika berbicara. Kalau bisa berkata perkataan yang indah, yang enak didengar, yang menyejukkan hati, kenapa harus memilih kata-kata yang tidak enak didengar?
    Bagaimana kita lihat ucapan ini “Diriku siap menjadi tebusan untuk dirimu”, artinya kalau sampai orang ini ditangkap maka aku siap menggantikan dirimu. Bukankah ini ucatan yang mengandung makna mendalam tentang cinta orang yang mengatakan ucapan itu?
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Adabul Mufrad – Ucapan Seseorang: “Jiwaku Untukmu Sebagai Tebusan”
    Mari turut membagikan link download kajian tentang “Ucapan Seseorang: ‘Jiwaku Untukmu Sebagai Tebusan'” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    1 hr 26 min
  • Luqman Menasihati Putranya
    Luqman Menasihati Putranya adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Furqan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 4 Sya’ban 1443H / 7 Maret 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Hak Pemimpin Yang Wajib Ditunaikan Oleh Rakyatnya
    Ceramah Agama Islam Tentang Luqman Menasihati Putranya
    Kajian kita kali ini adalah tentang Luqman menasihati putranya dan memberikan peringatan dari seluruh keburukan. Ini diambil dari surah Luqman Ayat yang ke-13 dan ke-18. Allah berfirman:
    وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
    “Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada putranya, dan dia menasihatinya: ‘Wahai anakku, janganlah engkau menyekutukan Allah. Sesungguhnya kesyirikan adalah kedzaliman yang besar.'” (QS. Luqman[31]: 13)
    Kemudian di ayat yang ke-18, Allah berfirman:
    وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
    “Janganlah engkau palingkan wajahmu dari manusia karena sombong. Dan janganlah engkau berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman[31]: 13)
    Kenapa Luqman Al-Hakim mewanti-wanti putranya dari kesyirikan? Disebutkan disini oleh Syaikh Rahimahullahu Ta’ala ada 9 sebab, yaitu:
    1. Kesyirikan bisa menggugurkan amalan
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
    “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepada engkau (wahai Muhammad) dan kepada para Nabi sebelum engkau, ‘Apabila engkau berbuat syirik, niscaya amalmu akan hancur dan niscaya engkau termasuk orang-orang yang merugi.'” (QS. Az-Zumar[39]:65)
    Kalau orang memiliki satu juta amalan, kemudian ada satu saja amalan yang di dalamnya dia tujuakan kepada selain Allah, maka rusaklah seluruh amalannya. Kalau seseorang memiliki seribu doa, kemudian ada satu doa yang dia panjatkan kepada selain Allah, maka gugurlah pahala doanya.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
    ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۚ وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ
    “Itu adalah petunjuk Allah yang Allah berikan kepada siapa yang Allah kehendaki dari hamba-hambaNya. Kalau mereka berbuat syirik maka amalan mereka akan gugur.”
    Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
    وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَّنثُورًا
    “Kami hadapkan seluruh amalan yang mereka lakukan, dan Kami jadikan amalan-amalan mereka itu seperti debu yang bertebaran.” (QS. Al-Furqan[25]: 23)
    Maka hendaknya kita sebagai orang tua nasihat pertama yang kita sampaikan kepada anak adalah tauhid. Para ulama mengatakan bahwa kalau punya anak, pertama kali yang kita ajarkan ketika anak bisa berbicara adalah kalimat Laa Ilaaha Illallah Muhammadurrasulullah. Hal ini agar dia mendengar kalimat itu, masuk ke hatinya dan dia bawa sampai mati.
    2. Kesyirikan bisa menghalangi ampunan pada hari kiamat
    Menit ke- Orang yang melakukan perbuatan syirik da...
    49 min
  • Membaca Surah Al-Isra’ Sebelum Tidur
    Membaca Surah Al-Isra’ Sebelum Tidur merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Doa dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 4 Sya’ban 1443 H / 7 Maret 2022 M.
    Lihat sebelumnya: Membaca Dua Ayat Terakhir Surah Al-Baqarah Sebelum Tidur

    Kajian Tentang Membaca Surah Al-Isra’ Sebelum Tidur
    Dzikir dan doa sebelum tidur itu banyak sebagaimana yang pernah kita sampaikan. Kali ini kita akan memasuki bagian yang ketiga, yaitu membaca surah Al-Isra’.
    Surah Al-Isra’ disunnahkan untuk dibaca sebelum tidur malam hari sebanyak satu kali. Ini adalah surah ke-17 dan jumlah ayatnya ada 111 ayat.
    Ketika kita membaca ayat-ayat ini, maka dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membantu kita untuk lebih tenang. Sehingga insyaAllah tidur kita akan lebih pulas dan akan bangun dalam keadaan lebih fresh.
    Dalilnya adalah sebuah hadits yang disampaikan oleh Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, kata beliau:
    كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَنَامُ حَتَّى يَقْرَأَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَالزُّمَرَ
    “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak akan tidur (di malam hari) kecuali setelah membaca ‘Bani Israil’ (Surah Al-Isra’) dan surah az-Zumar”. (HR. Tirmidzi dan nyatakan sahih oleh Ibn Khuzaimah serta al-Albani)
    Hadits ini menunjukkan disunnahkannya membaca surah Al-Isra’ sebelum tidur. Dan membacanya akan lebih maksimal lagi manfaat yang kita petik apabila sambil merenungi kandungan yang ada di dalam surah mulia ini. Sehingga bukan hanya kita mendapatkan pahala dari setiap huruf yang kita baca, namun juga kita bisa mendapatkan pahala dari memahami kandungannya. Syukur-syukur nanti kita juga akan mendapatkan pahala mengamalkan isi dari surah yang mulia ini.
    Para ulama kita menjelaskan bahwa secara global surah mulia ini terbagi menjadi tiga poin pembahasan.
    1. Pendahuluan (Ayat 1-8)
    Menit ke- Surah ini diawali dengan penjelasan mengenai salah satu keutamaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Di mana beliau mengalami kejadian perjalanan Isra’ dari Masjidil Haram di Mekah menuju ke Masjidil Aqsha di Palestina hanya dalam semalam.
    Di mukadimah ini juga dijelaskan tentang perilaku Bani Israil yang membuat kerusakan sebanyak dua kali di bumi yang mereka tinggali, yaitu di Baitul Maqdis dan sekitarnya. Mereka akan berkuasa dengan penuh kezaliman dan penindasan. Di masa lalu mereka membunuh para Nabi, kemudian berlanjut setelah diutusnya Nabi terakhir yang membawa agama Islam.
    2. Penjelasan mengenai sikap kaum musyrikin Mekah terhadap diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan al-Qur’an (Ayat 9-98)
    Menit ke- Poin kedua ini diawali dengan penjelasan bahwa Al-Qur’an itu jika diikuti akan mengantarkan kepada jalan yang lurus. Juga memberikan kabar gembira berupa pahala yang besar untuk kaum mukminin yang gemar beramal salih.
    Allah juga menjelaskan jalan kejayaan, siapapun menitinya maka ia akan memperoleh kemenangan atas musuh-musuh mereka. Yaitu: tauhid, alias memurnikan ibadah hanya untuk Allah saja. Lalu berbakti kepada orang tua, berbuat baik kepada kerabat, anak yatim dan musafir.
    Lalu Allah menerangkan sikap kaum musyrikin Mekah terhadap al-Qur’an dan prinsip keimanan terhadap akhirat. Sikap mereka adalah menolak untuk mengimani al-Qur’an, serta selalu berupaya menebarkan keraguan tentang adanya hari kebangkitan.
    3. Penutup (ayat 99-111)
    Menit ke- Di penghujung surah mulia ini ditegaskan ...
    52 min
  • Sunnah-Sunnah Ketika Mendengarkan Adzan
    Sunnah-Sunnah Ketika Mendengarkan Adzan ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 4 Sya’ban 1443 H / 07 Maret 2022 M.

    Download kajian sebelumnya: Sunnah-Sunnah Ketika Seseorang Mengumandangkan Adzan
    Kajian Sunnah-Sunnah Ketika Mendengarkan Adzan
    Pada kajian kali ini kita akan membahas tentang sunnah-sunnah yang dianjurkan dilakukan oleh orang yang mendengarkan adzan. Disana ada banyak sunnah yang dianjurkan untuk dilakukan oleh orang yang mendengar adzan.
    1. Mengikuti apa yang dibaca muadzin dengan suara yang lirih
    Ada hadits yang menjelaskan sunnah ini beserta keutamaannya. Diriwayatkan dari ‘Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda:
    إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، فَقَالَ أَحَدُكُمْ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، ثُمَّ قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ
    “Apabila seorang muadzin mengatakan Allahu akbar.. Allahu akbar dan salah seorang dari kalian menjawab Allahu akbar.. Allahu akbar.
    Kemudian muadzin mengatakan, Asyhadu allaa ilaaha illallaah maka salah seorang dari kalian menjawab Asyhadu alnlaa ilaaha illallaah.
    Kemudian seorang muadzin mengatakan, Asyhadu anna muhammadarrasulullah maka salah seorang dari kalian menjawab Asyhadu anna muhammadarrasulullah.
    Kemudian seorang muadzin mengatakan, Hayya ‘alash shalah maka salah seorang dari kalian menjawab Laa haula wala quwwata illa billah.
    Kemudian seorang muadzin mengatakan, Hayya ‘alal falah maka salah seorang dari kalian menjawab Laa haula wala quwwata illa billah.
    Kemudian apabila seorang muadzin mengatakan Allahu akbar.. Allahu akbar maka salah seorang dari kalian menjawab Allahu akbar.. Allahu akbar.
    Kemudian apabila seorang muadzin mengatakan Laa ilaaha illallah maka salah seorang dari kalian mengucapkan Laa ilaaha illallah.
    Siapa yang menjawab ucapan muadzin dari hatinya, maka akan masuk surga. (HR. Muslim, Abu Dawud dan yang lainnya)
    Ini keutamaan yang sangat mulia, siapa yang tidak ingin dengan surga Allah Subhanahu wa Ta’ala? Kita semuanya pasti menginginkannya. Maka amalkan sunnah ini, jawablah adzan dengan sebaik-baiknya. Agar Allah Subhanahu wa Ta’ala benar-benar mewujudkan pahala masuk surga untuk kita.
    2. Membaca shalawat dan meminta wasilah untuk Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
    Menit ke- Yang dimaksud dengan wasilah disini adalah tempat yang sangat mulia di surga Allah yang hanya pantas ditempati oleh satu orang saja. Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berharap menjadi orang yang pantas dengan al-wasilah ini. Makanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menganjurkan kepada umatnya agar mereka semuanya memintakan untuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bisa menjadi orang yang pantas dengan al-wasilah di surga.
    0 min
  • Salah Satu Bukti Kebenaran Risalah Nabi Muhammad
    Tafsir Ali Imran Ayat 44 – Salah Satu Bukti Kebenaran Risalah Nabi Muhammad adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Ayat-Ayat Ahkam. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Kamis, 29 Rajab 1443 H / 3 Maret 2022 M.

    Tafsir Ali Imran Ayat 44 – Salah Satu Bukti Kebenaran Risalah Nabi Muhammad
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    ذَٰلِكَ مِنْ أَنبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهِ إِلَيْكَ ۚ وَمَا كُنتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يُلْقُونَ أَقْلَامَهُمْ أَيُّهُمْ يَكْفُلُ مَرْيَمَ وَمَا كُنتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يَخْتَصِمُونَ
    “Itu merupakan di antara berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada engkau; padahal engkau (Muhammad)  tidak bersama mereka, ketika mereka melemparkan pena-pena mereka, siapa di antara mereka nanti yang akan memelihara Maryam. Dan padahal engkau tidak berada bersama mereka ketika mereka bertengkar.” (QS. Ali-Imran[3]: 44)
    Kata ذَٰلِكَ mengisyaratkan kepada kisah yang telah disebutkan sebelum ayat yang mulia ini tentang kisah Nabi Zakaria dan kisah Mariyam.
    Maksud ‘di antara kabar-kabar yang ghaib,’ adalah dari sesuatu yang tidak diketahui. Bukan maksudnya tidak diketahui oleh orang-orang yang ada di masa itu, karena tentunya orang-orang di masa itu mengetahui berita itu dan bukan hal yang ghaib. Maksud ‘hal yang ghaib’ disini adalah karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan kaumnya tidak mengetahui tentang kisah Nabi Zakaria dan Maryam.
    Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mewahyukan apa yang Allah wahyukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari berita-berita umat yang telah lalu. Dimana beliau sebelumnya tidak mengetahui, begitu juga kaumnya.
    Maka ini merupakan dalil bahwa ia merupakan Rasulullah yang benar sebenar-benar utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan wahyunya betul-betul datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Makna ‘wahyu’ menurut bahasa adalah pengabaran dengan cepat dan tersembunyi. Apabila ada seseorang memberikan kabar kepada engkau dengan cepat dan tersembunyi, maka secara bahasa ini disebut dengan wahyu.
    Adapun makna wahyu menurut syariat adalah pengabaran Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada salah satu dari NabiNya dengan apa yang Allah kehendaki dari syariatNya. Kemudian kalau diberi beban untuk disampaikan kepada umat maka dia Rasul, tapi kalau tidak maka dia seorang Nabi.
    Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari Download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian Salah Satu Bukti Kebenaran Risalah Nabi Muhammad

    Radio Rodja 756AM · Tafsir Ali Imran Ayat 44 – Salah Satu Bukti Kebenaran Risalah Nabi Muhammad
    Mari turut membagikan link download kajian yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    43 min
  • Ilmu Menghantarkan Pada Keyakinan
    Ilmu Menghantarkan Pada Keyakinan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 29 Rajab 1443 H / 3 Maret 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Ilmu Menyampaikan Kepada Keindahan Islam dan Kemanisan Iman

    Ceramah Agama Islam Tentang Ilmu Menghantarkan Pada Keyakinan
    Ilmu apabila semakin kita dalami, maka akan semakin membawa kita kepada tingkat keyakinan. Sehingga orang-orang yang mendalam ilmunya akan menyaksikan janji Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang kemuliaan/kenikmatan yang Allah siapkan bagi hamba-hambaNya yang bertakwa. Dia menyaksikannya dari balik hijab dunia yang jika hijab ini hilang maka dia yakin akan bisa menyaksikan kemuliaan tersebut langsung dengan mata kepalanya.
    Tingkatan ini adalah awal dari tingkatan-tingkatan keyakinan. Yaitu tingkatan dia mengetahui dan meyakini sesuatu. Di dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan ‘yakin’ itu dengan beberapa nama yang menunjukkan tingkatannya. Ada yang namanya ilmul yaqin, ‘ainul yaqin, ada haqqul yaqin.
    Ilmul yaqin adalah yang dirasakan oleh orang-orang berilmu dengan hijab dunia mereka bisa melihat dengan keyakinan pada mata hatinya kenikmatan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sediakan bagi orang-orang yang beriman.
    Kedudukan ini adalah awal dari tingkat-tingkatan yakin. Yaitu tersingkapnya sesuatu pada hati manusia. Sesuatu yang dikabarkan bisa dilihat oleh hati manusia.
    ‘Ainul yaqin adalah tingkatan yang lebih tinggi lagi. Seolah-olah dia bisa melihat dengan matanya.
    Haqqul yaqin adalah tingkatan yang paling tinggi. Sesungguhnya ini adalah sesuatu yang sebenar-benarnya keyakinan. Yaitu merasakan langsung sesuatu itu dengan sempurna.
    Semakin tinggi seseorang mencapai tingkatan ini berarti dia semakin kuat keyakinannya, maka semakin yakin dia dengan janji-janji yang Allah Subhanahu wa Ta’ala janjikan dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Semua ini adalah buah dari ilmu yang bermanfaat ketika telah merasuk ke dalam hati manusia, tentu dengan taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Contoh-contoh tingkatan yakin
    Contoh ilmul yaqin. Misalnya seseorang memberitakan kepada kita bahwa ada pantai yang airnya jernih, sejuk dan benar-benar menyenangkan kalau kita berenang di sana. Ini adalah berita yang bisa diyakini karena orang yang menyampaikannya terpercaya dan pernah merasakan langsung.
    Contoh ‘ainul yaqin. Yaitu seperti orang yang menyaksikan langsung air tersebut. Misalnya suatu saat kita berkesempatan lewat di pantai itu. Dan kita menyaksikan memang jernih dan indah.
    Contoh haqqul yaqin. Yaitu seperti orang yang minum darinya, sehingga dia langsung merasakannya.
    Ketiganya adalah yakin. Tapi keyakinan yang pertama tentu dibawah keyakinan yang kedua, apalagi yang ketiga.
    Subhanallah.. Kalau mencapai tingkatan ini, benar-benar seseorang ketika hidup di dunia akan menganggap dunia tidak ada arti baginya. Hal ini karena dia telah meyakini bagaimana nikmatnya surga seolah-olah dia menyaksikan/merasakannya langsung.
    Maka wajar mereka-mereka ini menjadi orang-orang yang selalu bersemangat berlomba-lomba dalam mengerjakan kebaikan, selalu berusaha untuk mengisi waktunya hanya dengan hal-hal yang mendukung kei...
    36 min
  • Hukum Ruqyah dan Tamimah
    Hukum Ruqyah dan Tamimah adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 28 Rajab 1443 H / 2 Maret 2022 M.

    Kajian Tentang Hukum Ruqyah dan Tamimah
    Ruqyah artinya adalah ucapan-ucapan yang dengannya seseorang meminta perlindungan. Bacaan-bacaan itu bisa dari Al-Qur’an, doa-doa Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, atau bisa dari bacaan-bacaan yang selain keduanya (nanti akan diterangkan hukumnya).
    Tamimah adalah sesuatu yang digantung untuk kesempurnaan sebuah perkara, tujuannya adalah ingin mendapatkan manfaat atau menahan keburukan.
    Perbedaannya adalah bahwa permintaan perlindungan berupa ucapan, sedangkan tamimah adalah permintaan perlindungan dengan sesuatu barang/benda yang digantung/dipakai/dimasukkan ke dalam tubuh.
    Di dalam Kitab Shahih, dari Abu Basyir Al-Anshari:
    أنه كان مع رسول الله صلي الله عليه وسلم في بعض أسفاره فأرسل رسولا أن لا يبقين في رقبة بعير قلاة من وتر أو قلاة إلا قطعت
    “Beliau pernah bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam salah satu perjalanan beliau. Lalu beliau mengutus seorang utusan untuk memberikan pengumuman agar tidak terdapat lagi di leher unta kalung dan tali busur panah atau kalung apapun kecuali harus diputuskan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Orang-orang jahiliyah jika melihat kalung yang terbuat dari tali busur panah tadi sudah mau putus maka mereka menggantinya dengan selainnya. Mereka mengalungkan itu pada hewan-hewan dengan keyakinan bahwa kalung itu bisa menahan penyakit ‘ain dari hewan.
    Imam Al-Baghawi berkata bahwa Imam Malik Rahimahullah menafsirkan perintah Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk memotong kalung karena kalung itu dianggap bisa menahan penyakit mata jahat. Dan yang demikian itu karena orang-orang jahiliyah dimasa dahulu mengikat tali busur panah dan juga tamimah. Mereka mengira bahwa jimat-jimat tersebut dapat menjaga mereka dari keburukan-keburukan, penyakit-penyakit, dan musibah-musibah.
    Oleh karenanya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarangnya dan memberitahukan kepada mereka bahwasanya itu semua tidak menahan dari ketetapan Allah sedikitpun. Kalau seandainya Allah menetapkan berbahaya, maka akan berbahaya. Tapi kalau seandainya Allah menetapkan tidak berbahaya, maka tidak berbahaya.
    Abu ‘Ubaid berkata bahwa orang-orang jahiliyah dahulu mengalungkan tali busur-tali busur panah pada unta-unta agar unta-unta tersebut tidak terkena ‘ain. Lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan mereka untuk menghilangkan itu sebagai pemberitahuan bagi mereka bahwa tali busur panah tersebut tidak dapat menolak sesuatu apapun.
    Demikian pula penjelasan dari Imam Ibnul Jauzi dan selainnya.
    Dan yang menguatkan pendapat ini adalah hadits Uqbah bin Amir Radhiyallahu ‘Anhu, diriwayatkan secara marfu’ (sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam):
    مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيمَةً فَلاَ أَتَمَّ اللَّهُ لَهُ
    “Siapa yang menggantungkan tamimah maka Allah tidak akan sempurnakan urusannya.” (HR. Abu Dawud)
    Maka perintah untuk memotongnya menunjukkan bahwasanya haram menggantungkan gantungan-gantungan tersebut. Dan orang-orang Arab dahulu mereka menggantungkan kalung-kalung tersebut pada leher-leher unta untuk menolak penyakit ain. Maka hadits ini menjelaskan tentang hukum haramnya menggantung tamimah.
    Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    إنَّ الرُّقَى والتَمائِمَ والتِّوَلَةَ شِرْكٌ
    1 hr 24 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah