Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Kemarahan Mendatangkan Penyesalan
    Kemarahan Mendatangkan Penyesalan merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mendidik Anak Tanpa Amarah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 17 Ramadhan 1443 H / 19 April 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Mendidik Anak Tanpa Amarah
    Kemarahan Mendatangkan Penyesalan
    Mungkin kita pernah terlanjur marah kepada anak. Kemudian setelah itu kita justru menyesalinya dan berkata dalam hati “Andaikata tadi saya tidak marah, tentunya lebih baik.” Ini menunjukkan keburukan dari amarah. Karena hasilnya adalah penyesalah. Yang biasanya penyesalan adalah sesuatu yang sebenarnya tidak kita inginkan.
    Kita sudah menyesalinya, tapi hal itu terus berulang. Maka tentunya kita harus menyadari bahwa amarah hanya mendatangkan kerugian. Beberapa kerugian yang disebabkan amarah adalah:
    1. Amarah menghilangkan kasih sayang
    Ketika kita melampiaskan amarah, maka secara otomatis kita telah menghilangkan kasih sayang. Dua hal yang tidak bisa bertemu, yaitu antara amarah dan kasih sayang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata dalam hadits qudsi:
    إنَّ رَحْمَتي سَبَقَتْ غَضَبِي
    “Sesungguhnya rahmatKu mendahului kemarahanKu.” (HR. Bukhari)
    Artinya Allah lebih banyak memaafkan hamba-hambaNya daripada menghukum mereka dengan murkaNya. Kalaulah dosa-dosa yang kita lakukan itu berhak mendapatkan kemarahan Allah, maka tidak ada satupun makhluk yang layak hidup.
    Maka ketika kita melampiaskan amarah kepada anak, secara otomatis kasih sayang juga terangkat. Tentunya ini adalah kerugian bagi anak yang membutuhkan kasih sayang dari orang tua. Maka berilah kasih sayang, jangan disodori dengan kemarahan dan kemarahan yang membuat dia akan lari.
    2. Marah akan menghilangkan kebijaksanaan
    Orang yang marah tidak bisa bersikap bijaksana. Seiring dengan lepasnya kendali akal, maka dia tidak bisa menimbang mana yang masalah dan mudharat, mana yang membawa kerugian dan mana yang membawa keuntungan. Dia berbuat sesuatu yang sebenarnya tidak ingin dia lakukan. Tapi dia melakukan itu karena marah.
    Kalau kita lihat kekerasan-kekerasan fisik yang dilakukan oleh para orang tua kepada anak-anak, itu berawal dari amarah. Mungkin secara akumulasi memuncak menjadi tindak kekerasan secara fisik. Maka anak itu dipukul, diusir, dikurung, diikat. Tidak sedikit kasus-kasus ini berujung kepada kehilangan nyawa.
    Semua berawal dari marah yang terus dilampiaskan. Kalau tidak dihentikan maka marah itu terus berlanjut. Hal ini karena setan mudah membisiki orang yang marah. Sebab pertimbangan akal sehatnya hilang.
    Maka dari itu di dalam syariat kita talak tidak jatuh pada saat marah. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    لَا طَلَاقَ فِي إِغْلَاقٍ
    “Tidak ada talak pada saat marah.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah)
    Di dalam bab mendidik, coba lihat orang tua yang kehilangan kendali ketika marah. Hingga akhirnya mengucapkan kata-kata yang sebenarnya tidak ingin dia ucapkan terhadap anaknya. Kemudian dia usir anaknya, setelah anaknya pergi dia yang kebingungan. Dia pukul anaknya, setelah anaknya semaput dia yang menyesal.
    Dia melakukan itu semua karena marah sehingga kehilangan pertimbangan akal sehat.
    3. Marah menghilangkan kesantunan
    Orang yang marah tidak bisa santun. Coba lihat di jalan raya orang-orang yang tersulut emosi. Kata-katanya, sikapnya, perilakunya, tidak ada kesantunan dan kelembutan dari dirinya. Kalau sudah begini tentunya orang akan lari. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:
    وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا ...
    58 min
  • Mendidik Anak Tanpa Amarah
    Mendidik Anak Tanpa Amarah merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mendidik Anak Tanpa Amarah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 10 Ramadhan 1443 H / 12 April 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Harta dan Anak-Anak Adalah Ujian
    Mendidik Anak Tanpa Amarah
    Buku ini bukan berarti kita meniadakan marah. Tentunya ada yang disebut marah karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tapi ini dalam konteks pendidikan. Maka kita katakan ini mendidik tanpa amarah, bukan manusia yang tidak ada marah.
    Kita tahu juga Rasulullah dalam beberapa momen juga marah, tapi marahnya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bukan itu yang kita bahas.
    Yang akan kita bahas di dalam buku ini adalah marah yang kaitannya dengan pendidikan. Ini lebih mengerucut lagi pada pendidikan anak. Tentunya berbeda. Anak-anak dengan segala kekurangan dan keterbatasannya, ia makhluk belum sempurna, berbeda dengan kita mendidik orang dewasa seperti istri dan lain-lainnya.
    Ketika kita menyebut “anak”, maka yang dimaksud adalah usia bawah sepuluh tahun (basuta). Karena diatas itu sudah masuk pra remaja, remaja, dan pra dewasa. Ada buku khusus juga untuk itu yang nanti insyaAllah akan kita bahas juga.
    Makna amarah
    Adapun makna amarah adalah luapan emosi. Ketika Nabi berkata dalam sebuah hadits “Jangan marah” bukan berarti Nabi menafikan marah. Tapi maksudnya bahwa seharusnya kondisi yang dominan pada diri kita adalah jangan marah, apalagi dalam konteks mendidik anak.
    Terbawa emosi itu banyak merugikan. Dan itu mungkin sering terjadi dalam kehidupan kita. Dimana kita mengikuti emosi yang pada akhirnya menyesalinya.
    Kita dibulan Ramadhan ini dilatih untuk menahan emosi. Kalau ada orang yang mengganggu ataupun mengajak kita bertengkar, maka kita katakan kepadanya:
    إِنِّي صَائِمٌ
    “Aku sedang puasa.”
    Artinya ibadah puasa satu bulan penuh ini salah satu tujuannya adalah agar kita bisa menjadi seseorang yang mampu mengendalikan emosi.
    Kita tidak pernah temukan Nabi marah-marah kepada seorang anak. Itulah cara Nabi mendidik anak yang sebenarnya harus kita teladani, terlepas sejauh mana kita bisa meneladani Nabi di dalam bab ini.
    Terus terang saja kadang-kadang kita ini banyak lemahnya. Kita sudah tahu tapi berulang-ulang jatuh dalam kesalahan yang sama. Meskipun akhirnya kita menyesal setelah memarahi anak. Artinya kita tahu itu salah. Oleh karena itu semoga kajian ini bisa membantu orang tua untuk lebih memahami hal ini.
    Tugas berat
    Mendidik adalah tugas yang berat. Bahkan kita curiga kalau ada yang mengatakan bahwa mendidik itu ringan. Jangan-jangan dia tidak melakukannya sehingga tidak tahu bagaimana beratnya mendidik. Apalagi mendidik anak, makhluk yang belum sempurna yang harus kita maklumi.
    Itulah dia anak-anak yang harus kita pahami dunianya. Maka para pendidik juga harus mengetahui ilmu psikologi anak. Karena kalau kita selami bagaimana Nabi melakukan pendekatan kepada anak, ilmu psikologi anak yang dimiliki Nabi adalah rangkuman dari semua ilmu psikologi yang dibuat oleh manusia hari ini. Hanya saja mungkin kita tidak tahu bahwa Nabi lebih dulu melakukannya 15 abad yang lalu sebelum ilmu psikologi anak modern berkembang.
    Tentunya ini tidak mudah. Apalagi kalau kita punya anak itu lebih dari satu. Dan masing-masing anak berbeda sifat-sifatnya antara satu dan lainnya. Sehingga untuk menghadapi semua ini seorang pendidik harus benar-benar memiliki ketabahan, kesabaran dan kecerdasan dalam mengelola hati.
    Semua kembali kepada hati.
    58 min
  • Talbis Iblis dalam Perkara Haji
    Talbis Iblis dalam Perkara Haji ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 16 Ramadhan 1443 H / 18 April 2022 M.

    Kajian Islam Tentang Talbis Iblis dalam Perkara Haji
    Sebelumnya sudah kita jelaskan beberapa orang yang berhaji dengan hutang yang dia tingalkan. Sementara haji bukanlah wajib atasnya (karena mungkin sebelumnya dia sudah melaksanakannya). Dia memaksakan berangkat walaupun meninggalkan hutang. Padahal sebenarnya dengan ongkos haji itu dia bisa melunasi hutangnya. Namun dia mendahulukan yang sunnah dan meninggalkan kewajiban.
    Hal ini dilakukan karena mungkin karena gengsi atau mengejar sebutan atau target berhaji berapa kali. Sementara kewajiban haji itu wajibnya satu kali, itu pun jika dia mampu. Jika tidak mampu maka gugur kewajiban itu. Allah mengatakan:
    وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا
    “mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS. Ali-Imran[3]: 97)
    Namun sebagian orang mendahulukan ini dengan mengorbankan kewajiban membayar hutang. Ini merupakan perbuatan yang tidak benar. Dia harus mengembalikan hak manusia. Apalagi hutang itu sudah jatuh tempo. Maka hendaknya dia dahulukan hal itu.
    Lalu apa lagi talbis iblis dalam perkara haji yang lainnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Talbis Iblis dalam Perkara Haji
    Mari turut membagikan link download kajian tentang “Talbis Iblis dalam Perkara Haji” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    31 min
  • Membaca Surah Az-Zumar Sebelum Tidur
    Membaca Surah Az-Zumar Sebelum Tidur merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Doa dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 16 Ramadhan 1443 H / 18 April 2022 M.
    Lihat sebelumnya: Membaca Surah As-Sajdah Sebelum Tidur

    Kajian Tentang Membaca Surah Az-Zumar Sebelum Tidur
    Di antara bacaan yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk kita baca sebelum tidur adalah surah Az-Zumar. Yaitu surah nomor 39, ada di juz 23. Jumlah ayatnya 75 ayat (sekitar 9 halaman).
    Ummul mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha menuturkan:
    كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَنَامُ حَتَّى يَقْرَأَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَالزُّمَرَ
    “Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak tidur (malam) hingga membaca “Bani Israil” (Surah al-Isra) dan surah Az-Zumar”. HR. Tirmidziy (No. 2920) dan dinilai sahih oleh Ibn Khuzaimah (No. 1163) serta al-Albaniy.
    Lihat juga: Membaca Surah Al-Isra’ Sebelum Tidur
    Surah ini dibaca sebelum tidur karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membacanya. Ini adalah jawaban yang paling utama.
    Namun apa sebenarnya pesan yang ingin disampaikan di dalam surah yang mulia ini? Kenapa setiap malam kita diperintahkan untuk membacanya?
    Secara umum, pesan utamanya adalah bahwa orang yang beriman harus berbeda dengan orang kafir. Kita harus berbeda karena nanti di akhirat juga berbeda. Yaitu orang beriman masuk surga sedangkan orang kafir masuk neraka.
    Kalau kita ingin mendapatkan negeri keabadian yang isinya adalah kenikmatan (surga), maka kita harus punya perilaku yang berbeda dengan penduduk negeri kesengsaraan (neraka).
    Sehingga setiap malam ketika membaca surah ini kita diingatkan bahwa besok kita harus punya perbedaan sifat dengan orang-orang yang tidak beriman.
    Renungan Kandungan
    Kandungan global surah ini terdiri dari tiga poin:
    Pertama: Pendahuluan (Ayat 1-7)
    Surah mulia ini dibuka dengan menyebutkan karunia diturunkannya Al-Qur’an kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kitab yang berisikan perintah untuk menegakkan tauhid dan kebajikan lainnya. Namun kaum musyrikin justru kufur dan mendustakan ajaran mulia tersebut.
    Kedua: Penjelasan mengenai perbedaan antara kaum mukminin dengan orang-orang kafir (Ayat 8-66)
    Ada delapan perbedaan yang dipaparkan di sini:

    * Orang kafir jauh dari ilmu agama, sehingga terbiasa mengingkari nikmat Allah. Sedangkan orang yang beriman selalu mendalami ilmu agama, sehingga tekun beribadah kepada Allah.
    * Orang kafir tenggelam dalam kesyirikan. Adapun orang yang beriman selalu berupaya mentauhidkan Allah, dengan memurnikan ibadah hanya kepada-Nya.
    * Orang kafir hatinya keras dan sulit menerima nasehat. Sedangkan orang yang beriman mudah menerima nasehat, pesan-pesan keagamaan dan ayat-ayat Al-Qur’an; sebab hatinya lembut.
    * Orang kafir gagal fokus karena menyembah banyak tuhan. Adapun orang yang beriman senantiasa fokus dalam beribadah, sebab hanya menyembah satu Tuhan saja.
    * Orang kafir terbiasa mendustakan ayat-ayat Allah dan kebenaran yang datang dari-Nya. Sedangkan orang yang beriman selalu mempercayai kebenaran dari Allah.
    29 min
  • Syarat Shalat
    Syarat Shalat ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 16 Ramadhan1443 H / 18 Maret 2022 M.

    Download kajian sebelumnya: Dua Macam Bacaan Iqamah
    Kajian Tentang Syarat Shalat
    Syarat shalat dibagi oleh para ulama menjadi dua:

    * Syarat wajibnya shalat. Yaitu perkara-perkara yang apabila ada maka shalat menjadi wajib atas seorang.
    * Syarat sahnya shalat. Yaitu perkara-perkara yang harus terpenuhi agar shalat seseorang menjadi sah.

    Syarat Wajibnya Shalat
    1. Islam
    Ketika seseorang tidak beragama Islam, maka dia tidak dituntut untuk melakukan shalat.
    Misalnya di negara Islam ada petugas yang menjalankan amar ma’ruf nahi munkar. Kemudian ada orang yang tidak beragama Islam di jalan dan dia tidak menjalankan shalat. Maka tidak ada hak bagi petugas amar ma’ruf nahi munkar tersebut untuk memaksa orang itu menjalankan shalat.
    Berbeda ketika yang didapati adalah orang yang beragama Islam. Ketika ada petugas amar ma’ruf nahi munkar mendapatinya tidak shalat, maka petugas berhak untuk memaksa orang itu menjalankan shalat.
    Kita maknai demikian karena sebenarnya orang kafir mempunyai kewajiban shalat. Di antara dalilnya adalah firman Allah ketika ahli neraka ditanya tentang sebab mereka masuk neraka. Mereka mengatakan:
    قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ ‎﴿٤٣﴾‏ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ ‎﴿٤٤﴾
    “Kami dahulu bukan termasuk orang-orang yang shalat. Dan kami juga bukan orang yang memberikan makan kepada orang miskin.”
    Kemudian beberapa ayat setelahnya mereka berkata:
    وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ ‎﴿٤٦﴾
    “Dan kami dahulu mendustakan hari kiamat.”
    Ini menunjukkan bahwa orang-orang tersebut adalah orang-orang yang diluar Islam. Karena mereka mendustakan hari akhir. Tapi lihat jawaban pertama adalah “Karena kami bukan termasuk orang-orang yang shalat.”
    Ini menunjukkan bahwa orang-orang di luar Islam pun sebenarnya mereka diperintahkan untuk menjalankan shalat. Namun mereka tidak diperintahkan untuk menjalankan shalat ini kecuali setelah mereka masuk Islam.
    2. Telah mencapai usia baligh
    Menit ke- Syarat wajib shalat yang kedua adalah telah mencapai usia baligh.
    Di antara tanda baligh adalah:

    * Keluarnya mani (baik laki-laki maupun perempuan).
    * Tumbuhnya bulu yang ada di sekitar kemaluan.
    * Sampainya seseorang kepada usia 15 tahun.
    * Keluarnya haid bagi seorang wanita.

    Ketika seseorang seseorang sudah mencapai usia baligh, maka shalat menjadi wajib atas dia. Sebelum mencapai usia baligh, maka seseorang tidak diwajibkan untuk menjalankan shalat.
    3. Berakal
    Menit ke- Apabila seseorang yang tidak berakal (akalnya tidak sehat) walaupun tanda-tanda baligh ada padanya, maka shalat tidak diwajibkan atas dia.
    Seperti orang yang punya penyakit gila, maka dia tidak punya kewajiban untuk shalat walaupun usianya sudah 30 tahun.
    Begitu pula orang yang tidak gila tapi mempunyai keterbelakangan mental/akal. Orang yang seperti ini tidak punya kewajiban untuk menjalankan shalat.
    Orang yang stress dan akalnya menjadi hilang. Pada asalnya sehat-sehat saja. Tapi ketika ada masalah yang terlalu besar bagi dia akhirnya tidak kuat dan menjadi stress seperti orang gila. Orang seperti ini tidak punya kewajiban untuk shalat.
    Orang yang pikun juga demikian. Karena akalnya sudah tidak sehat lagi.
    1 hr 3 min
  • Khutbah Jumat: Gembira Dengan Ketaatan
    Khutbah Jumat: Gembira Dengan Ketaatan ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 13 Ramadhan 1443 H / 15 April 2022 M.

    Khutbah Pertama Tentang Gembira Dengan Ketaatan
    Sesungguhnya kegembiraan dan kebahagiaan yang hakiki adalah gembira dengan ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, gembira ketika bertemu dengan Allah membawa membawa pahala. Itulah kegembiraan yang hakiki. Adapun gembira dengan dunia bukanlah kegembiraan yang terpuji.
    Bahkan gembira dengan dunia seringkali melalaikan manusia. Berapa banyak manusia yang gembira dengan dunia lalu ia pun lalai dari mengingat Allah ‘Azza wa Jalla. Berapa banyak orang yang gembira dengan dunia lalu menimbulkan ujub dan kesombongan, menimbulkan berbagai macam kelaliman dan kedzaliman.
    Oleh karena itulah Allah berfirman tentang Si Qorun yang bergembira dengan dunianya sehingga menyebabkan ia sombong dan berbuat dzalim. Allah berfirman:
    … لَا تَفْرَحْ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ
    “‘Jangan kamu bergembira,’ sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang bergembira seperti itu.” (QS. Al-Qashash[28]: 76)
    Seorang mukmin kegembiraannya bukanlah dengan kehidupan dunia. Seorang mukmin kegembiraannya ketika ia bisa melaksanakan ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Apalagi ketika ia bertemu dengan Allah membawa pahala amalan shalihnya.
    Sungguh saudaraku.. Inilah yang didapati oleh orang-orang yang berpuasa. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا: إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ، وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ صَوْمِهِ
    “Orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan; yaitu kegembiraan ketika ia berbuka puasa dan kegembiraan ketika ia bertemu dengan Rabbnya.” (Muttafaqun ‘alaihi)
    Ketika ia berbuka puasa, bukan hanya sebatas ia bergembira karena bisa makan dan minum lagi. Tapi ia bergembira karena Allah telah membantunya untuk berpuasa di hari itu, karena Allah telah memberikan kepada dirinya kekuatan dan kesehatan sehingga ia bisa menaati Allah ‘Azza wa Jalla di hari itu. Ia bergembira dengan ketaatannya.
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda dalam riwayat Tirmidzi:
    من سرَّتْهُ حسنتُهُ وساءتْهُ سيِّئتُهُ فهو مؤمنٌ
    “Siapa yang ia merasa gembira dengan amalan shalihnya dan ia merasa susah dengan amalan keburukannya, maka ia tanda seorang mukmin.” (HR. Tirmidzi)
    Saudaraku.. Allah menyuruh kita bergembira dengan rahmat Allah tersebut. Allah berfirman:
    قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
    “Katakanlah: ‘Dengan karunia Allah dan rahmatNya lah hendaklah mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan dari kehidupan dunia.'” (QS. Yunus[10]: 58)
    Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thabari ketika menafsirkan ayat tersebut, beliau berkata “Katakanlah: ‘Dengan karunia Allah (yaitu Islam) dan rahmatnya (yaitu Al-Qur’an) hendaklah mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan dari kehidupan.'”
    Subhanallah.. Allah menyuruh kita gembira dengan kegembiraan yang luar biasa terhadap hidayah yang Allah berikan kepada kita (yaitu Islam), terhadap Al-Qur’an yang Allah turunkan kepada kita.
    Sungguh di bulan Ramadhan ini kita sangat dianjurkan untuk bergembira dengan Al-Qur’an; membaca Al-Qur’anul Karim, merasakan kenikmatan dan kesejukan ketika tilawah dengannya. Sungguh di bulan Al-Qur’an ini kita melihat Salafush Shalih pun mereka sibuk dengan membaca Al-Qur’anul Karim. Maka dari itulah bulan Ramadhan disebut dengan Syahrul Qur’an (bula...
    13 min
  • Hadits Arbain Ke 41 – Kesempurnaan Iman
    Hadits Arbain Ke 41 – Kesempurnaan Iman merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Anas Burhanuddin, M.A. dalam pembahasan Al-Arba’in An-Nawawiyah (الأربعون النووية) atau kitab Hadits Arbain Nawawi Karya Imam Nawawi Rahimahullahu Ta’ala. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 10 Ramadhan 1443 H / 12 April 2022 M.

    Download juga kajian sebelumnya: Hadits Arbain Ke 40 – Prioritas Seorang Muslim
    Kajian Hadits Arbain Ke 41 – Kesempurnaan Iman
    عَنْ أَبِي مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ العَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «لاَيُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعاً لِمَا جِئْتُ بِهِ» حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ رُوِّيْنَاهُ فِي كِتَابِ الحُجَّةِ بِإِسْنَادٍ صَحِيْحٍ.
    Dari Abu Muhammad Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash Radhiyallahu ‘Anhuma berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidaklah sempurna iman di antara kalian sampai dia menjadikan kecintaannya mengikuti kebenaran yang aku bawa.” (Hadits hasan sahih, yang kami riwayatkan dalam kitab Al-Hujjah dengan sanad shahih).
    Hadits ini senada dengan apa yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits riwayat Al-Bukhari:
    لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
    “Tidaklah beriman seorang di antara kalian sampai dia mencintai aku lebih daripada cintanya kepada anak-anaknya, orang tuanya dan manusia semuanya.” (HR. Bukhari)
    Yang dinafikan dalam kedua hadits ini adalah kesempurnaan iman yang wajib. Yang dinafikan bukan pokok iman. Sehingga kalau masih ada sebagian dari kita yang kecintaannya masih tidak mengikuti kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kalau kecintaannya masih menyelisihi sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka berarti dia tidak kafir. Karena yang dinafikan adalah kesempurnaan iman. Tapi dia berdosa karena yang dinafikan dalam hadits ini adalah kesempurnaan iman yang wajib.
    Jadi seorang muslim itu memiliki pokok iman. Kemudian juga memiliki kesempurnaan iman. Dan kesempurnaan iman ini ada yang wajib juga ada yang sunnah. Kalau yang dinafikan adalah kesempurnaan iman, maka itu adalah kesempurnaan iman yang wajib. Adapun kesempurnaan iman yang sunnah berupa amalan-amalan sunnah, maka Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak menafikan iman seseorang ketika mereka meninggalkan kesempurnaan iman yang sunnah itu.
    Di sini Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menafikan iman dari umat Islam yang masih menjadikan cintanya menyelisihi sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau mengatakan:
    لاَيُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعاً لِمَا جِئْتُ بِهِ
    “Tidaklah beriman seorang di antara kalian sampai dia menjadikan kecintaannya mengikuti kebenaran yang aku bawa.”
    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullahu Ta’ala menambahkan bahwasanya yang lebih sering terjadi adalah sebagian orang itu mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, amalan-amalannya mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tapi ada sebagian yang masih tidak mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Karena kalau seandainya dia menyelisihi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam segala sesuatu, maka tentunya dia bukan seorang muslim. Tapi dalam konteks seorang muslim, kalau dia menyelisihi sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka pastinya dia hanya menyelisihi sebagian saja. Tidak mungkin menyelisihi semuanya.
    Oleh karenanya itulah yang membuat bahwasanya yang dinafikan...
    59 min
  • Gelar Bulan Ramadhan
    Gelar Bulan Ramadhan ini adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah yang  disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 11 Ramadhan 1443 H / 13 April 2022 M.

    Kajian Ilmiah Tentang Gelar Bulan Ramadhan
    Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan gelar-gelar pada bulan Ramadhan. Dan dengan memahami gelar-gelar tersebut, maka kita mengetahui apa yang harus kita lakukan dan apa yang harus kita jauhi di dalam bulan Ramadhan.
    1. Bulan Berpuasa
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
    “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana orang-orang sebelum kalian  diwajibkan atas mereka berpuasa agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah[2]: 183)
    Juga berdasarkan hadits riwayat Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
    “Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan berharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Berdasarkan ayat dan hadits tersebut, maka para ulama Rahimahumullahu Ta’ala menyebutkan bahwa gelar salah satu gelar Ramadhan adalah شهر الصيام (bulan berpuasa).
    Oleh karena itu pada bulan Ramadhan diwajibkan untuk berpuasa bagi setiap muslim, baligh, berakal, mampu, mukim, selain wanita yang haidh dan nifas. Siapa yang memenuhi enam syarat ini maka wajib baginya untuk berpuasa pada bulan Ramadhan.
    Dan siapa saja yang muslim, baligh, berakal, mampu, mukim, terlepas dari halangan-halangan puasa seperti haid dan nifas, kemudian dia tidak berpuasa pada siang bulan Ramadhan tanpa ada udzur yang dibenarkan syariat, maka dia adalah pelaku dosa besar.
    Yang patut diperhatikan saat kita mengatakan bahwa Ramadhan bulan berpuasa adalah bukan hanya sekedar berpuasa, tetapi berpuasa yang karena iman dan berharap pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Imam An-Nawawi Rahimahullah mengatakan bahwa makna berpuasa karena iman maksudnya adalah mempercayai bahwa ibadah puasa tersebut adalah benar datang dari Allah dan bermaksud mendapatkan kemuliaan dari puasa tersebut.
    Puasa bukan sekadar rutinitas kaum muslimin pada bulan Ramadhan. Tetapi ini adalah proses ibadah dimana kita menginginkan keutamaan dari puasa tersebut.
    Adapun yang dimaksud dengan berpuasa karena berharap pahala yaitu ketika berpuasa dia menginginkan pahala/penghargaan/sanjungan/ganjaran dari Allah, tidak memaksudkan dari puasanya pandangan manusia dan juga hal-hal selainnya yang menyelisihi keikhlasan berpuasanya.
    2. Bulan Ketakwaan
    Menit ke- Kalau kita perhatikan surah Al-Baqarah ayat 183-187, maka kita akan dapati bahwa ayat-ayat tersebut diawali dengan takwa dan diakhiri dengan takwa. Maka gelar Ramadhan adalah  شهر التقوى (bulan ketakwaan).
    Talq bin Habib Rahimahullah mengatakan bahwa bertakwa adalah:
    أن تعمل بطاعة الله، على نور من الله، ترجو ثواب الله، و تترك معصية الله على نور من الله تخاف عقاب الله
    “Mengerjakan ketaatan kepada Allah dengan petunjuk dari Allah karena berharap pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan meninggalkan maksiat yang dilarang oleh Allah dengan petunjuk dari Allah karena takut siksa Allah.”
    Ringkasnya, takwa adalah mengerjakan yang diperintahkan dan menjauhi yang dilarang.
    Oleh karena itu saat bulan Ramadhan, baik disiang hari saat berpuasa atau dimalam harinya kita dituntut untuk lebih bertakwa dengan mengerjakan perintah dan menjauhi larangan.
    Ada sebagian orang yang diceritakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa dia berpuasa ...
    56 min
  • Talbis Iblis dalam Perkara Niat Puasa
    Talbis Iblis dalam Perkara Niat Puasa ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 09 Ramadhan 1443 H / 11 April 2022 M.

    Kajian Islam Tentang Talbis Iblis dalam Perkara Niat Puasa
    Dalam sebuah hadits Qudsi Allah berkata:
    الصوم لي وأنا أجزي به
    “Puasa itu untukKu dan Aku yang langsung membalasnya.”
    Artinya puasa atau tidaknya seseorang hanya Allah yang tahu sebenarnya. Boleh jadi seorang berbuka diam-diam tetapi seolah-olah berpuasa.
    Jadi puasa itu untuk Allah. Kita lakukan lillah baik manusia tahu atau tidak. Karena hanya Allah yang akan memberikan balasan dari ibadah puasa. Itulah keagungan ibadah puasa. Walaupun demikian, iblis dan balatentaranya tidak tinggal diam untuk merusak ibadah puasa seseorang dari sisi niat. Sehingga melencenglah niatnya, keluar dari keikhlasan tanpa dia sadari. Mungkin seseorang tidak menduga bahwa dia jatuh dalam riya’ dari arah yang tidak dia sangka-sangka.
    Di antara talbis iblis di dalam bab ini adalah banyak orang-orang yang dikenal dengan sebuah ibadah (termasuk puasa). Dia selalu mengerjakan ibadah itu. Dia juga tahu bahwa orang-orang mengenal dirinya dengan ibadah tersebut. Mungkin mereka akan mengira bahwa Si Fulan tidak pernah meninggalkan ibadah tersebut karena dikenalnya dia dengan ibadah itu.
    Satu ketika dia tidak berpuasa, namun dia menyembunyikannya dari orang lain. Dia takut reputasinya jatuh karena ketahuan bahwa dia tidak berpuasa dihari yang biasa dia berpuasa sunnah. Dia menyembunyikan sesuatu dan menampilkan yang lain. Ini termasuk riya’ yang samar. Sebab apabila niatnya ikhlas, dia bisa menutupi kegemarannya berpuasa itu.
    Maka ini sebenarnya membongkar niat puasanya. Bahwa selama ini dia mengerjakan puasa untuk reputasi. Ketika dia tidak berpuasa, maka dia tutupi itu seolah dia berpuasa.
    Ini berlaku dalam amal-amal yang lain juga, bukan hanya puasa. Orang yang mungkin dikenal dengan shalat dhuha atau shalat syuruq misalnya. Ketika dia dia tidak melakukan itu, dia tunjukkan seolah-olah sudah melakukannya. Hal ini semata-mata agar reputasinya tidak jatuh di mata orang. Karena selama ini dia dikenal sebagai ahli ibadah tertentu.
    Memberitahukan kepada orang lain
    Di antara ahli ibadah ada yang mengabarkan kepada orang lain tentang puasa yang dilakukannya. Misalnya dia mengatakan: “Sudah 20 tahun ini aku tidak pernah tinggal berpuasa senin kamis.” Iblis berhasil menipunya dengan membisikan satu syubhat bahwa engkau perlu memberitahukan hal itu kepada orang lain agar mereka mengikutimu. Padahal tidak ada hajat juga dia memberitahukan itu kepada orang lain.
    Ini menjadi sangat berbahaya di zaman medsos sekarang ini. Hanya karena agar statusnya tidak basi, maka dia selalu update status, walaupun harus pamer amal.
    Ini adalah masalah manusia hari ini. Yaitu takut ketinggalan zaman, takut dibilang kuno, takut dibilang gaptek, takut dibilang tidak mengikuti tren, sehingga dia ikut-ikutan dalam bermain medsos. Dimana itu menjadi sarana untuk pamer. Awalnya mungkin kegiatan dunia, lama-lama  perangkap setan masuk kepada dirinya. Tidak ada lagi aktivitas dunia yang perlu dia kabarkan kepada manusia. Maka amal-amal akhiratnya lah yang dia tunjukkan di laman medsosnya.
    Maka diapun update status tentang ibadah-ibadahnya. “Saya begini, saya begitu, Alhamdulillah baru selesai taklim, alhamdulillah baru pulang umrah, alhamdulillah baru khatam Al-Qur’an, alhamdulillah baru pulang dari masjid.” Alhamdulillah-nya bagus,
    45 min
  • Memaklumi dan Menyayangi Anak
    Memaklumi dan Menyayangi Anak ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 09 Ramadhan 1443 H / 11 April 2022 M.

    Kajian Tentang Memaklumi dan Menyayangi Anak
    Ada satu hal yang terkadang belum dipahami oleh sebagian orang tua. Bahwa ada perbedaan antara akal dan perasaan. Adapun bayi jelas akalnya belum sempurna. Bahkan anak kecil baru bisa membedakan antara yang berbahaya dengan yang tidak ketika usia tamyiz (sekitar 6 atau 7 tahun).
    Walaupun bayi belum sempurna akalnya, namun ia memiliki insting yang tajam. Ia sangat perasa. Dengan cepat ia bisa merasakan apakah tangan yang menyentuhnya dengan kasih sayang atau sebaliknya. Ia akan merasa nyaman saat dipeluk dengan dekapan cinta. Sebaliknya akan gelisah bahkan mungkin menangis kencang saat direnggut dengan kasar.
    Menempelnya tubuh orang tua dengan tubuh anak saat menggendong, memeluk, memangku atau mengeloninya akan menambah kedekatan hubungan psikologis antara keduanya. Maka penggunaan kereta bayi secara berlebihan, atau menyerahkan segala detil urusan bayi kepada baby siter, adalah suatu perilaku yang kurang bijaksana. Sebab bisa memicu kerenggangan hubungan anak dengan orang tuanya.
    Memaklumi Hal Yang Wajar dari Anak
    Bayi mengompol adalah sesuatu yang wajar. Sebab ia belum bisa berjalan dan mengontrol keluarnya air seni. Sehingga tidak sepantasnya hal tersebut membuat orang tua jengkel atau merasa bosan dalam membersihkan bekas ompolan bayi.
    Abu Laila radhiyallahu ‘anhu menuturkan,
    “كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ يَحْبُو حَتَّى صَعِدَ عَلَى صَدْرِهِ، ‌فَبَالَ ‌عَلَيْهِ، قَالَ: ‌فَابْتَدَرْنَاهُ لِنَأْخُذَهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” ابْنِي ابْنِي “، قَالَ: ثُمَّ دَعَا بِمَاءٍ فَصَبَّهُ عَلَيْهِ”
    “Suatu saat kami sedang bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Tiba-tiba al-Hasan bin Ali datang merangkak hingga menaiki dada beliau dan mengompol. Kamipun bergegas akan mengambil al-Hasan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “(Biarkan) anakku, (biarkan) anakku”. Lalu beliau meminta diambil air untuk menyiram bekas ompolan itu”. HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Arna’uth.
    Dalam kitab Nukhab al-Afkâr, al-‘Ainiy (w. 855 H) rahimahullah menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengulang perkataannya dua kali dalam rangka memastikan agar al-Hasan dibiarkan. Dalam riwayat lain termaktub, “Jangan diputus!”. Sebab jika proses buang airnya mendadak diputus, bisa membahayakan kesehatan. Ini menunjukkan betapa besar kasih sayang beliau kepada cucunya.
    Menyayangi Anak Terlebih Saat Sakit
    Jika dalam kondisi normal dan saat sehat saja, orang tua harus menyayangi anaknya, apalagi ketika sedang sakit. Adalah wajar bila anak rewel saat sakit. Sebab ia merasa tidak nyaman. Seharusnya orang tua semakin melipatgandakan kesabarannya menghadapi kerewelan anak ketika sakit dan bersegera untuk mencarikan pengobatan yang terbaik untuk anaknya.
    Dikisahkan bahwa Ummu Qais binti Mihshan datang membawa bayinya yang sedang sakit kerongkongan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia terlihat menekan-nekan leher si bayi dengan maksud menerapinya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
    “عَلَى مَا ‌تَدْغَرْنَ أَوْلَادَكُنَّ بِهَذَا الْعِلَاقِ، عَلَيْكُمْ بِهَذَا العُودِ الهِنْدِيِّ، فَإِنَّ فِيهِ سَبْعَةَ أَشْفِيَةٍ، مِنْهَا ذَاتُ الجَنْبِ”
    “Mengapa kalian menyiksa anak-anak kalian dengan cara seperti itu? Hendaklah kalian menggunakan Gaharu. Sebab ia bisa digunakan untuk pengobatan tujuh jenis penyakit.
    54 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah