Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Keutamaan Kayu Siwak Untuk Membersihkan Mulut
    Keutamaan Kayu Siwak Untuk Membersihkan Mulut adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 23 Syawal 1443 H / 24 Mei 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Keutamaan Shalat Dimalam Al-Qadar
    Keutamaan Kayu Siwak Untuk Membersihkan Mulut
    Pembahasan kita yang terakhir masih pada keutamaan menggunakan kayu siwak untuk membersihkan mulut. Ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang memperhatikan tentang kebersihan.
    Telah disampaikan sejumlah hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang bagaimana keadaan beliau dan bagaimana beliau sebagai contoh kita di dalam memperhatikan masalah kebersihan mulut. Beliau selalu menggunakan kayu siwak. Sehingga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda:
    أكْثَرْتُ عَلَيْكُمْ في السِّوَاكِ
    “Aku telah banyak menganjurkan kalian untuk menggunakan siwak.” (HR. Bukhari)
    Ini adalah satu anjuran yang beliau lakukan kepada umat ini agar mereka betul-betul memperhatikan masalah yang satu ini.
    Hadits yang berikutnya:
    وعن شريح بن هانىءٍ، قَالَ: قلت لعائشة – رضي الله عنها -: بأَيِّ شَيْءٍ كَانَ يَبْدَأُ النَّبِيُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ بَيْتَهُ؟ قالت: بِالسِّوَاكِ. رواه مسلم.
    Dan dari Syuraih bin Hani’: “Aku berkata kepada ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha: ‘Apa yang dimulai oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jika beliau masuk rumahnya?’ Dijawab oleh ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha: ‘Beliau ketika masuk rumah menggunakan kayu siwak membersihkan mulutnya.'” (HR. Muslim)
    Hadits ini menunjukkan bahwa dalam setiap kondisi yang memungkinkan seorang dianjurkan untuk menggunakan kayu siwak ini untuk membersihkan giginya.
    Hadits yang berikutnya:
    وعن أَبي موسى الأشعري – رضي الله عنه -، قَالَ: دَخلتُ عَلَى النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – وَطَرَفُ السِّوَاكِ عَلَى لِسَانِهِ. متفقٌ عَلَيْهِ، وهذا لفظ مسلمٍ.
    Dari Abu Musa Al-Asy’ari Radhiyallahu ‘Anhu: “Beliau berkata: ‘Aku pernah datang menemui Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan yang dilihat ketika itu bahwa ujung kayu siwaknya diatas lisan beliau.'” (Muttafaqun ‘alaihi)
    Hadits ini menjelaskan kepada kita tentang kesungguhan dan keseriusan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam menggunakan kayu siwak membersihkan mulut beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Sehingga dianjurkan agar seorang muslim selalu menggunakan kayu siwak untuk membersihkan mulut/giginya dan juga agar tetap terasa bau yang harum dari mulut seseorang.
    Hadits ini juga menjelaskan tentang bolehnya seorang menggunakan kayu siwak di depan orang lain. Karena kayu siwak tidak sama dengan sikat gigi. Kalau menyikat gigi dengan menggunakan pasta gigi di depan orang, maka justru itu kurang sopan. Adapun kayu siwak tidak mengeluarkan busa. Seorang hanya meletakkan di mulutnya kemudian sesekali dia bersihkan dan sesekali dia menggosok-gosoknya.
    Hadits ini juga menjelaskan tentang penekanan penggunaan siwak yang tidak hanya sekedar di gigi. Tapi juga mungkin untuk membersihkan lidah. Sehingga betul-betul gigi dan lidahnya bersih.
    Hadits yang berikutnya:
    وعن عائشة – رضي الله عنها -: أنَّ النبيَّ – صلى الله عليه وسلم -، قَالَ: {السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ للرَّبِّ} رواه النسائي وابنُ خُزَيْمَةَ في صحيحهِ بأسانيدَ صحيحةٍ.
    1 hr 24 min
  • Masa Iddah Wanita Ditinggal Mati Suami
    Masa Iddah Wanita Ditinggal Mati Suami – Surah Al-Baqarah 234 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 23 Syawal 1443 H / 24 Mei 2022 M.
    Download kajian sebelumnya: Hukum Menyusui Anak – Surah Al-Baqarah 233
    Masa Iddah Wanita Ditinggal Mati Suami – Surah Al-Baqarah 234
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا ۖ فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا فَعَلْنَ فِي أَنْفُسِهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
    “Dan orang-orang yang diwafatkan di antara kalian (para suami) dan meninggalkan istri-istri, maka istri-istri tersebut menunggu diri mereka (beriddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah selesai masa iddahnya, maka tidak ada dosa atas kalian pada apa yang mereka lakukan pada diri mereka sesuai dengan kebiasaan. Dan Allah sangat mengetahui dan akan mengabarkan semua yang kalian lakukan.” (QS. Al-Baqarah[2]: 234)
    Dari ayat ini kita ambil faedah:
    Wajibnya beriddah
    Wajibnya beriddah atas wanita yang ditinggal mati oleh suaminya. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:
    يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ
    “Hendaklah mereka menunggu (beriddah)…”
    Istri yang masih muda ataupun sudah tua
    Wajibnya beriddah ini adalah atas setiap istri yang ditinggal meninggal oleh suaminya. Baik si istri ini masih muda ataupun sudah tua. Karena sifat ini ayatnya mutlak. Dan kaidah ushul fiqih mengatakan: “Dalil yang mutlak harus dibawa kepada kemutlakannya. Tidak boleh diikat dengan ikatan tertentu kecuali kalau ada dalil.” Dan disini tidak ada ikatan. Maka pada waktu itu tidak boleh mengikat suatu dalil yang mutlak kecuali dengan dalil. Kalau tidak ada dalil maka kita sikapi sesuai dengna kemutlakannya.
    Di sini Allah mengatakan: “Dan mereka meninggalkan istri.” Allah tidak menyebutkan istri yang muda atau tua.
    Istri yang sudah didukhul maupun yang belum didukhul
    Misalnya seseorang menikah dengan akhwat. Setelah akad belum sempat berduan dengannya ternyata suami meninggal. Maka ayat ini tidak memberikan kepada kita penjelasan apakah istri dalam ayat ini yang sudah didukhul atau belum didukhul. Ayat ini mutlak. Walaupun dia belum didukhul maka tetap masa iddahnya empat bulan sepuluh hari. Karena Allah mengatakan: “dan meninggalkan istri” dan sebatas diadakan akad nikah sudah dianggap sebagai istri.
    Tidak boleh menerima pinangan
    Wajibnya seorang wanita yang ditinggal mati suaminya untuk menunggu beriddah. Dimana ia tidak boleh menikah dan tidak boleh menerima pinangan.
    Selir bukan istri
    Istri sirriyah (selir) itu hakikatnya bukanlah istri, maka tidak berlaku bagi mereka masa iddah.
    Tidak ada masa iddah jika pernikahannya batil
    Ketika suami meninggal lalu ternyata jelas kepada sang istri bahwa pernikahannya batil (tidak sah), maka pada waktu itu dia tidak perlu beriddah.
    Misalnya setelah suaminya meninggal baru tahu ternyata suaminya itu saudara sepersusuan. Sementara menikah dengan saudara sepersusuan tidak boleh. Sehingga pernikahannya batil. Karena dia tidak sah sebagai seorang istri, maka pada waktu tidak ada masa iddah untuknya.
    Hikmah masa iddah
    Masa iddahnya adalah empat bulan sepuluh hari tanpa melihat apakah wanita ini haid atau tidak. Dikecualikan padanya wanita hamil dimana masa iddahnya sampai melahirkan...
    52 min
  • Kisah-Kisah Penuh Hikmah
    Kisah-Kisah Penuh Hikmah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Furqan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 22 Syawal 1443 H / 23 Mei 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Faedah-Faedah Kisah Luqman Al-Hakim
    Ceramah Agama Islam Tentang Kisah-Kisah Penuh Hikmah
    Hikmah adalah karunia Allah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada siapa yang Allah kehendaki. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا
    “Dan barangsiapa yang diberikan hikmah, maka sesungguhnya dia telah diberikan kebaikan yang besar.” (QS. Al-Baqarah[2]: 269)
    Luqman Al-Hakim adalah seorang manusia yang dipandang biasa saja oleh manusia yang lain, bahkan hanya dianggap sebagai pengembala kambing. Tapi beliau Allah angkat derajatnya karena Allah berikan Al-Hikmah.
    Ada seorang laki-laki yang melewati Luqman kemudian manusia berkumpul disisi Luqman untuk mengambil hikmahnya. Laki-laki tersebut bertanya kepada Luqman: “Bukankah engkau budaknya Bani Fulan?” Kemudian Luqman berkata: “Iya.” Laki-laki tersebut bertanya: “Bukankah engkau yang menggembala di gunung ini?” Kemudian Luqman berkata: “Iya.” Orang itu bertanya lagi: “Apa yang membuat engkau menduduki derajat seperti ini?” Kemudian beliau menjawab: “Dengan bertakwa kepada Allah, jujur dalam berbicara, menunaikan amanah dan tidak berbicara tentang hal yang tidak bermanfaat bagi diriku.” Dengan ini Luqman disebut dengan Al-Hakim. Dengan ini beliau dianugerahi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala Al-Hikmah.
    Dan Al-Qur’an serta hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam semuanya mengandung hikmah. Oleh karena itu kalau kita ingin mendapatkan hikmah, maka hendaknya kita kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah.
    Kisah Abdullah bin Ubay bin Salul
    Contoh hikmah yang lain adalah ketika Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang sahabat membunuh Abdullah bin Ubay bin Salul kepalanya kaum munafik. Dari Jabir Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata bahwa ketika terjadi perselisihan antara seorang dari kalangan Muhajirin dan seorang dari kalangan Anshar, kemudian setiap satu dari orang tersebut memanggil jamaahnya. Ibnu Salul berkata: “Apakah dia telah memanggil kami? Apabila kami pulang ke Madinah niscaya orang yang paling mulia akan mengusir orang yang hina.” Maksudnya yang mulia adalah dia dan yang hina adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ini adalah perkataan yang mungkar.
    Umar Radhiyallahu ‘Anhu berkata: “Tidakkah kita bunuh Ibnu Salul ini?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:
    لا يَتَحَدَّثُ النَّاسُ أنَّه كانَ يَقْتُلُ أصْحَابَهُ
    “Tidak, supaya manusia tidak berbicara bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membunuh sahabatnya.”
    Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak membolehkan Umar bin Khattab membunuh Ibnu Salul karena khawatir manusia berbicara tidak benar tentang Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Jika ini terjadi tentu mudharatnya lebih besar lagi.
    Inilah hikmah yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Seandainya manusia berbicara bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membunuh sahabatnya, maka ini akan menghalangi manusia masuk Islam.
    47 min
  • Cara Mendapatkan Manisnya Iman
    Cara Mendapatkan Manisnya Iman merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 21 Syawal 1443 H / 22 Mei 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Ayat-Ayat Nabi dan Mengimaninya

    Kajian Hadits Cara Mendapatkan Manisnya Iman
    Hadits nomor 22:
    عَنْ أَنَسٍ – رضي الله عنه – عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ.
    “Dari Anas -semoga Allah meridhainya- ia berkata, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Ada tiga perangai yang barangsiapa tiga perangai ini ada pada seseorang maka ia akan mendapatkan manisnya iman; yaitu siapa yang Allah dan RasulNya lebih ia cintai dari semua selain Allah dan RasulNya, dan tidaklah ia mencintai seseorang kecuali karena Allah, dan ia membenci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah selamatkan ia darinya sebagaimana ia benci untuk dilemparkan kedalam api neraka.'” (HR. Muslim)
    Yang dimaksud dengan manisnya iman -kata Imam Nawawi- yakni merasakan kelezatan ketaatan. Ketika dia berdzikir, shalat atau ibadah yang lainnya ia merasakan kenikmatannya. Karena ada orang yang shalat tapi tidak merasakan kenikmatan. Yang dia pikirkan adalah bagaimana caranya supaya cepat selesai dari shalat. Bagi dia shalat hanya beban saja.
    Ada yang lisannya berdzikir tapi dia tidak merasakan kenikmatan dari dzikir. Ada orang yang membaca Al-Qur’an tapi dia tidak merasakan kenikmatan.
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan untuk mendapatkan manisnya iman adalah dengan tiga cara ini. Yaitu:
    1. Allah dan RasulNya lebih kita cintai dari segala-galanya
    Ini bukan perkara yang ringan. Karena untuk mencintai Allah dari segala-galanya mengharuskan kita berusaha terus untuk mengenal Allah dan mengenal RasulNya. Semakin kita kenal Allah dengan namaNya, sifatNya, semakin kita mengenal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka semakin tumbuh rasa cinta kepada Allah dan RasulNya. Semakin kurang mengenal Allah dan RasulNya, maka semakin kurang cinta kita kepada Allah dan RasulNya.
    Kemudian supaya kita bisa mencintai Allah dan RasulNya adalah dengan berusaha terus untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah. Dan ini membutuhkan mujahadatun nafs (berjihad melawan hawa nafsu/syahwat). Karena ibadah tidaklah mudah. Makanya Allah mengatakan:
    إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
    “Hanya kepada Engkau kami beribadah dan hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah[1]: 5)
    Kata Syaikh Utsaimin Rahimahullah bahwa Allah menyebutkan “meminta pertolongan” setelah ibadah karena ibadah itu berat dan kita butuh pertolongan dari Allah ‘Azza wa Jalla. Maka dari itulah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyuruh kita minta tolong kepada Allah supaya Allah memudahkan kita untuk memperbaiki ibadah kita. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan doa:
    اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِك
    “Ya Allah bantu aku untuk senantiasa mengingatMu, bersyukur kepadaMu dan memperbaiki ibadahku kepadaMu.” (HR. Abu Dawud)
    Ini yang pertama, Allah dan RasulNya lebih ia cintai dari selain keduanya.
    50 min
  • Tafsir Ali Imran Ayat 50-51 – Kebenaran Risalah Nabi Isa ‘Alaihis Salam
    Tafsir Ali Imran Ayat 50-51 – Kebenaran Risalah Nabi Isa ‘Alaihis Salam adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Ayat-Ayat Ahkam. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Kamis, 18 Syawal 1443 H / 19 Mei 2022 M.

    Tafsir Ali Imran Ayat 50-51 – Kebenaran Risalah Nabi Isa ‘Alaihis Salam
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَمُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَلِأُحِلَّ لَكُم بَعْضَ الَّذِي حُرِّمَ عَلَيْكُمْ ۚ وَجِئْتُكُم بِآيَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ ‎﴿٥٠﴾‏ إِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ ۗ هَٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيمٌ ‎﴿٥١﴾
    “Dan dia (Isa ‘Alaihis Salam) membenarkan taurat yang datang sebelumku, dan agar aku menghalalkan sebagian yang diharamkan atas kalian, dan aku datang kepada kalian dengan membawa ayah (mukjizat) dari Rabb kalian. Maka bertakwalah kalian kepada Allah dan taatilah aku. Sesungguhnya Allah adalah Rabbku dan Rabb kalian, oleh karena itu sembahlah Allah semata. Ini adalah jalan yang lurus.” (QS. Ali Imran[3]: 50-51)
    Di antara faedah yang bisa kita ambil dari ayat yang mulia ini adalah:
    Isa adalah rasul bagi Bani Israil
    Pembenaran Isa ‘Alaihis Salam terhadap kitab sebelumnya (yakni Taurat) yang diturunkan kepada Nabi Musa ‘Alaihis Salam. Beliau betul-betul menyaksikan tentang kebenarannya. Kitab tersebut merupakan kitab yang haq. Ini dengan dasar dari ayat yang kita baca:
    وَمُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ …
    “Aku membenarkan kitab suci Taurat yang datang sebelumku.”
    Nabi Isa meringankan beban Bani Israil
    Nabi Isa ‘Alaihis Salam menghalalkan sebagian dari apa yang diharamkan atas Bani Israil dalam rangka meringankan beban mereka. Hal ini dengan dasar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    وَلِأُحِلَّ لَكُم بَعْضَ الَّذِي حُرِّمَ عَلَيْكُمْ ۚ
    “Dan aku halalkan untuk kalian sebagian hal yang diharamkan atas kalian.”
    Penghapusan sebagian syariat
    Adanya naskh (penghapusan syariat-syariat) samawiyah.  Yaitu menghapus sebagian dengan sebagian yang lain. Di dalam syariat Isa dihalalkan sebagian hal yang diharamkan di syariat Nabi Musa. Dna ini tentunya masuk dalam naskh sebagaimana semua syariat sebelum Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dihapus dengna syariat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Ketika turun Al-Qur’an dan Allah utus Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka ini sebagai penghapus syariat-syariat sebelum Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Artinya kita harus kembali kepada syariat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Hujjah Nabi Isa kepada kaumnya
    Nabi Isa menguatkan untuk menegakkan hujjah pada kaumnya. Beliau berkata:
    وَجِئْتُكُم بِآيَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ
    “Aku datang betul-betul membawa ayat dari Rabb kalian.”
    Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari Download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian Tafsir Ali Imran Ayat 50-51 – Kebenaran Risalah Nabi Isa ‘Alaihis Salam

    Radio Rodja 756AM · T...
    32 min
  • Keutamaan Shalat Dimalam Al-Qadar
    Keutamaan Shalat Dimalam Al-Qadar adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 16 Syawal 1443 H / 17 Mei 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Shalat Malam Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
    Keutamaan Shalat Dimalam Al-Qadar
    Pada pertemuan sebelumnya kita telah membahas tentang باب فضل قيام ليلة القدْر وبَيان أرجى لياليها (Bab tentang keutamaan shalat dimalam al-qadar dan penjelasan tentang malam keberapa yang paling menjadi harapan sebagai malam al-qadar).
    Dari Abu Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:
    مَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إِيماناً واحْتِسَاباً، غُفِر لَهُ مَا تقدَّم مِنْ ذنْبِهِ
    “Barangsiapa yang bangun dimalam al-qadar karena iman kepada Allah dan karena mengharapkan apa yang ditunjukkan Allah kepadanya, maka akan diampuni dosanya yang terdahulu.” (Muttafaqun ‘alaihi)
    Hadits ini menjelaskan kepada kita tentang keutamaan orang yang bangun di malam-malam ganjil pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan. Hal ini karena diharapkan salah satu dari malam itu adalah sebagai malam al-qadar.
    Hadits ini juga menjelaskan kepada kita keutamaan ikhlas kepada Allah Ta’ala dalam beribadah. Disebutkan dalam hadits: “Karena belut-betul beriman kepada Allahdan mengharapkan apa yang Allah janjikan kepada seorang hamba.” Maka dia akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.
    Maka seorang yang beriman mengerjakan sesuatu amal ibadah karena beriman dan berharap kepada Allah. Kita jangan berharap kepada manusia, jangan merengek pada hamba-hamba Allah, itu menunjukan kelemahan kita. Kalau kita banyak merengek kepada manusia, itu menunjukkan kelemahan tauhid kita kepada Allah Ta’ala.
    Tapi keluhkanlah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Curhat kepada Allah. Allah tempatnya curhat, bukan manusia. Inilah orang bertauhid. Kalau kita curhatnya kepada manusia atau kepada selain Allah, maka ini menunjukkan kelemahan tauhid yang dimiliki. Inilah prilaku ahli tauhid. Baik dalam keadaan senang maupun tidak senang, lapang maupun sempit, maka Allah tetap menjadi tempat mereka mengadu.
    Tujuh hari terakhir di bulan Ramadhan
    Hadits selanjutnya dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, beliau berkata bahwasannya ada sejumlah orang dari para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditampakkan dalam mimpi tentang malam al-qadar. Yaitu pada 7 hari terakhir dari bulan Ramadhan. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    أَرى رُؤيَاكُمْ قَدْ تَواطَأَتْ في السَّبْعِ الأَوَاخِرِ، فَمَنْ كَانَ مُتحَرِّيهَا، فَلْيَتَحرَّهَآ في السبْعِ الأَواخِرِ
    “Aku memandang bahwa mimpi kalian ini sepertinya sepakat (yaitu pada tujuh hari terakhir di bulan Ramadhan). Maka barangsiapa yang berusaha untuk mendapatkan malam al-qadar hendaknya dia mencarinya pada tujuh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (Muttafaqun ‘alaihi)
    Ini menunjukkan bahwa mimpi itu adalah haq, apalagi mimpi orang-orang beriman. Dan Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam menyampaikan bahwa mimpi kalian telah sepakat. Yaitu mimpi beberapa orang sahabat sama bahwa malam al-qadar itu ada pada tujuh malam terakhir bulan Ramadhan.
    Maka dari itu Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam menyuruh kita untuk menghidupkan 7 malam terakhir bulan Ramadhan. Dalam riwayat yang lain nanti disebutkan sepuluh malam terakhir di...
    1 hr 29 min
  • Hukum Menyusui Anak – Surah Al-Baqarah 233
    Hukum Menyusui Anak – Surah Al-Baqarah 233 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 16 Syawal 1443 H / 17 Mei 2022 M.
    Download kajian sebelumnya: Menikah Harus dengan Wali – Surah Al-Baqarah 232
    Hukum Menyusui Anak – Surah Al-Baqarah 233
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ ۚ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَهُ بِوَلَدِهِ ۚ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَٰلِكَ ۗ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا ۗ وَإِنْ أَرَدْتُمْ أَنْ تَسْتَرْضِعُوا أَوْلَادَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُمْ مَا آتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوفِ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
    “Dan para ibu menyusui anak-anak mereka selama dua tahun yang sempurna, bagi orang yang ingin menyempurnakan persusuan. Dan atas ayah memberikan rezeki dan pakaian kepada wanita yang menyusui anaknya sesuai dengan ‘urf (kebiasaan). Jiwa tidak dibebani keculali sesuai dengan kemampuannya. Dan tidak boleh sang ibu memberikan mudharat kepada anaknya dan tidak boleh juga sang ayah memberikan mudharat kepada anaknya, dan atas pewaris mendapatkan seperti itu juga. Dan apabila keduanya menginginkan untuk menghentikan susuan dengan keridhaan dari kedua belah pihak dan musyawarah, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kalian hendak mencari wanita lain yang hendak menyusukan si anak itu, maka itupun tidak dosa atas kalian apabila kalian memberikan upahnya dengan cara yang ma’ruf. Dan bertakwalah kalian kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Melihat perbuatan kalian tersebut.” (QS. Al-Baqarah[2]: 233)
    Dari ayat ini kita ambil faedah:
    Seorang ibu wajib menyusui anaknya
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diperlihatkan oleh Allah seorang wanita yang payudaranya dipatuki oleh ular yang berbisa. Kemudian ketika Nabi bertanya kepada para malaikat yang membawanya: “Siapa dia?” Kata malaikat itu: “Dia wanita yang tidak mau memberi asi kepada anaknya.”
    Ini menunjukkan bahwa seorang ibu wajib menyusui anaknya.
    Kasih sayang Allah kepada hamba-hambaNya
    Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat sayang kepada hamba-hambaNya melebihi kasih sayang ibu kepada anaknya. Karena Allah mewajibkan para ibu untuk menyusui. Walaupun sebetulnya secara fitrah pun seorang ibu biasanya menyusui. Tapi ketika Allah jadikan sebagai sebuah kewajiban, itu menunjukkan akan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hambaNya.
    Susuan yang sempurna adalah dua tahun
    Hal ini sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dua tahun yang sempurna.”
    Penekanan
    Penekanan terhadap lafadz. Fungsi penekanan itu adalah untuk meniadakan keraguan atau adanya kemungkinan sesuatu yang kurang. Maka ketika Allah mengatakan: “Dua tahun yang sempurna.” maka kata-kata “sempurna” ini meniadakan pengurangan.
    Mengambil hati
    Hendaknya kita berusaha untuk mengambil hati orang yang sedang diajak bicara dengan sesuatu yang berkonsekuensi dia menjadi merasa sayang dengannya. Karena Allah mengatakan: “Dan hendaklah para ibu menyusui anak-anak mereka.”
    Perkataan “anak-anak mereka” memberikan kesan bahwa “itu anakmu lo...
    46 min
  • Talbis Iblis Terhadap Para Pejuang
    Talbis Iblis Terhadap Para Pejuang ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 15 Syawal 1443 H / 16 Mei 2022 M.

    Kajian Islam Tentang Talbis Iblis Terhadap Para Pejuang
    Tidak ada seorangpun yang dibiarkan begitu saja oleh iblis tanpa diganggu. Hingga kita dalam kondisi ibadah bukan berarti aman. Maka seorang muslim hendaklah memperhatikan amalnya mulai dari sebelum beramal ia pastikan tujuannya, saat beramal dia tetap fokus pada niatnya, sesudah beramal dia jaga amalnya dari sum’ah.
    Demikianlah iblis berusaha untuk merusak amal anak Adam agar amal-amal yang mereka kerjakan menjadi sia-sia sehingga tidak bisa membantu dan menolong mereka. Bahkan sebaliknya amal itu menjadi bencana/malapetaka yang justru menyebabkan hamba tersebut masuk ke dalam neraka. Maka kita tidak boleh lengah terhadap tipu daya dan makar dari musuh kita ini.
    Iblis mengelabuhi banyak orang dengan mendorong mereka untuk beramal (yaitu jihad). Padahal niat mereka bukan untuk meninggikan kalimat Allah. Niat mereka sebenarnya adalah untuk membanggakan diri serta riya atau untuk mengejar reputasi, pujian, sanjungan dan kedudukan di tengah-tengah manusia. Terkadang tujuan-tujuan ini tidak nampak, tapi akan terbongkar nantinya apa yang tersembunyi ini.
    Banyak orang-orang yang melakukannya supaya dikatakan dia seorang pemberani, seorang pejuang, atau supaya dielu-elukan oleh manusia, atau tujuannya adalah untuk mencari harta rampasan perang.
    Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:
    إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ
    “Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niat (apa yang menjadi motivasi dari amal tersebut).”
    Abu Musa Al-Asy’ari meriwayatkan kepada kita bahwa ada seorang laki-laki mendatangi Nabi dan bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana menurutmu seorang laki-laki yang berperang karena untuk menunjukkan bahwa dia seorang pemberani, dan seorang yang berperang karena fanatisme (menunjukkan loyalitasnya kepada suku/bangsa), dan berperang agar bisa riya (dilihat oleh orang). Siapakah di antara mereka siapakah dari mereka yang berperang di jalan Allah?”
    Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab:
    مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ الله هِيَ الْعُلْيَا، فَهُوَ فِي سَبِيلِ الله
    “Barangsiapa yang berperang demi meninggikan kalimat Allah, maka dialah yang berada di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, ia mengatakan: “Janganlah kamu katakan ‘Fulan mati syahid’ ataupun mengatakan ‘Fulan telah gugur sebagai syahid'” Yaitu tidak boleh memastikan bahwa dia pasti mati syahid. Al-Imam Bukhari menyebutkan di dalam Shahihnya larangan terhadap ucapan ini, kecuali dengan menyertakan kalimat “insyaAllah”.
    Kita kembalikan rahasianya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena hanya Allah yang tahu apa yang menjadi niatnya. Kecuali ada persaksian dari langit (wahyu) dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa mereka adalah orang-orang yang gugur sebagai syuhada seperti syuhada uhud.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM ·
    39 min
  • Ayat-Ayat Nabi dan Mengimaninya
    Ayat-Ayat Nabi dan Mengimaninya merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 14 Syawal 1443 H / 15 Mei 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Perintah Dengan Iman dan Berlindung Kepada Allah Ketika Ada Godaan Setan

    Kajian Hadits Ayat-Ayat Nabi dan Mengimaninya
    Yang dimaksud dengan “ayat” di sini adalah mukjizat. Dan sebetulnya penamaan mukjizat dengan ayat itu lebih bagus. Karena “ayat” adalah lafadz yang ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan hadits.. Hadits nomor 19:
    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ مَا مِنْ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا قَدْ أُعْطِيَ مِنْ الْآيَاتِ مَا مِثْلُهُ آمَنَ عَلَيْهِ الْبَشَرُ وَإِنَّمَا كَانَ الَّذِي أُوتِيتُ وَحْيًا أَوْحَى اللَّهُ إِلَيَّ فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ تَابِعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
    “Dari Abu Hurairah -semoga Allah meridhainya- ia berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Tidak ada seorangpun Nabi kecuali telah diberikan dari mukjizat yang membuat manusia beriman kepadanya. Dan sesungguhnya yang diberikan kepadaku (Al-Qur’an) adalah wahyu yang Allah wahyukan kepadaku. Maka aku berharap sekali menjadi Nabi yang paling banyak pengikutnya nanti pada hari kiamat.'” (HR. Muslim)
    “Tidak ada seorangpun Nabi kecuali telah diberikan dari mukjizat yang membuat manusia beriman kepadanya.” Artinya mukjizat tersebut tidak bisa ditolak oleh akal manusia dan setiap orang yang melihatnya pasti akan yakin bahwa itu tidak mungkin perbuatan manusia, tapi itu pasti perbuatan dari pencipta alam semesta.
    Setiap Nabi diberikan oleh Allah ayat (mukjizat) yang menjadikan orang yang melihatnya seharusnya beriman.
    Oleh karena itu Firaun ketika melihat mukjizat Nabi Musa, sebetulnya Firaun yakin akan kebenaran Nabi Musa. Makanya Allah mengatakan:
    وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا
    “Mereka mengingkari risalah Nabi Musa padahal hati mereka yakin akan kebenarannya.” (QS. An-Naml[27]: 14)
    “Dan sesungguhnya yang diberikan kepadaku (Al-Qur’an) adalah wahyu yang Allah wahyukan kepadaku.” Dalam hal ini ada dua pendapat ulama. Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud adalah bahwa setiap Nabi diberikan mukjizat. Adapun mukjizatku yang paling besar yaitu Al-Qur’an.
    Pendapat yang kedua adalah bahwa mukjizat-mukjizat yang Allah berikan kepada para Nabi itu sudah tidak terlihat lagi. Sedangkan mukjizat yang Allah berikan kepada Rasulullah berupa Al-Qur’an akan terus terlihat/dibaca oleh manusia sampai hari kiamat.  Makna kedua ini yang dirajihkan oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani Rahimahullah.
    Dari hadits ini kita ambil faidah:
    Setiap Nabi memiliki mukjizat
    Hadits ini menunjukkan bahwa setiap Nabi memiliki mukjiza dan biasanya mukjizat para Nabi itu disesuaikan dengan keadaan kaumnya. Di zaman Nabi Musa ilmu sihir pada puncak keemasannya. Maka Allah berikan mukjizat dengan sesuatu yang seperti sihir tapi bukan sihir.
    Dimana para penyihir bisa menipu mata manusia, mereka lemparkan tali-tali itu sehingga terlihat ular (padahal sebetulnya itu tipuan saja). Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan mukjizat kepada Nabi Musa tongkat yang Allah perintahkan Nabi Musa untuk lemparkan dan berubah menjadi ular asli (bukan tipuan). Sehingga akhirnya ketika para penyihir melihat tongkat yang beru...
    49 min
  • Khutbah Jumat: Tidak Boleh Memberikan Mudharat
    Khutbah Jumat: Tidak Boleh Memberikan Mudharat ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 27 Ramadhan 1443H / 29 April 2022 M.

    Khutbah Pertama Tentang Tidak Boleh Memberikan Mudharat
    Sesungguhnya di antara keindahan Islam bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya melarang kita untuk memberikan mudharat kepada manusia. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ
    “Tidak boleh memberikan mudharat dan tidak boleh membalas mudharat dengan perbuatan yang mudharat.” (Hadits hasan riwayat Ibnu Majah, Ad-Daraquthni dan yang lain.)
    Mudharat adalah perkara yang membahayakan orang lain, baik membahayakan agamanya, ataupun jiwanya, ataupun hartanya, ataupun akalnya, ataupun keturunannya. Semua itu dilarang oleh syariat Islam. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala pun menurunkan syariat untuk menghilangkan mudharat dari manusia.
    Allah mensyariatkan berbagai macam syariat berupa perintah-perintah untuk menghilangkan mudharat dari kehidupan manusia. Allah syariatkan shalat. Karena hati orang yang tidak senantiasa dekat kepada kemaksiatan kepada Allah. Dan kemaksiatan itu adalah kemudharatan bagi manusia. Dengan shalat Allah berikan manusia kekuatan untuk meninggalkan perbuatan keji dan mungkar. Sebagaimana Allah berfirman:
    إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
    “Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut[29]: 45)
    Maka dengan shalat itu datanglah maslahat yang besar dan terhindarlah manusia dari mudharat yang akan menimpa dunia dan akhirat mereka.
    Allah syariatkan zakat untuk menghindarkan mudharat dari harta mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala minta mereka mengeluarkan 2,5% dari harta mereka. Dan itu tidak berat untuk mereka. Itupun Allah akan ganti dan Allah berkahi hartanya. Semua itu untuk  memperhatikan saudara-saudaranya sesama muslim yang susah/miskin dan membutuhkan bantuan.
    Ketika si kaya tidak mau memperhatikan orang miskin, bisa jadi si miskin pun akhirnya nekat untuk memberikan mudharat kepada si orang kaya dengan mengambil hartanya, dengan cara mencuri ataupun merampok. Tapi dengan adanya zakat dan sedekah, semua itu terhindar dari kemudharatan.
    Allah syariatkan demikian pula semua syariat. Allah perintahkan kita berbakti kepada orang tua. Semuanya untuk mendatangkan maslahat dan menjauhkan kemudharatan.
    Sungguh indah kaidah yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah sampaikan kepada kita tadi:
    لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ
    “Tidak boleh melakukan perbuatan yang sifatnya mudharat dan tidak boleh menolak mudharat dengan cara yang mudharat lagi.” (Hadits hasan riwayat Ibnu Majah, Ad-Daraquthni dan yang lain.)
    Bahkan ibadah pun kalau ternyata menyakiti dan menggangu orang lain, maka itu tidak diperkenankan. Imam Abu Dawud meriwayatkan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masuk ke dalam masjid. Didapati para sahabat sedang shalat masing-masing dan masing-masing mengeraskan suaranya sehingga mengganggu temannya. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    أَلَا إِنَّ كُلَّكُمْ مُنَاجٍ رَبَّهُ فَلَا يُؤْذِيَنَّ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَلَا يَرْفَعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْقِرَاءَةِ
    “Ketahuilah, sesungguhnya setiap kalian sedang bermunajat dengan Rabbnya. Maka janganlah seseorang sebagian kalian mengganggu sebagian yang lain, dan jangan pula sebagian yang satu mengeraskan terhadap sebagian yang lain di dalam membaca Al-Qur’an.” (HR. Abu Dawud)
    Padahal membaca Al-Qur’an itu kemuliaan. Padahal membaca Al-Qur’an itu adalah ibadah yang agung.
    14 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah