Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Ilmu Menyingkap Hakikat Segala Sesuatu
    Ilmu Menyingkap Hakikat Segala Sesuatu adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 2 Dzul Qa’dah 1443 H / 02 Juni 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Ilmu Yang Wajib Dipelajari
    Ceramah Agama Islam Tentang Ilmu Menyingkap Hakikat Segala Sesuatu
    Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala menjelaskan bahwasanyya Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan makhlukNya untuk mereka beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata-mata yang ibadah kepada Allah ini menghimpun kecintaan kepadaNya dan senantiasa mengutamakan keridhaanNya. Hal ini berarti mengkonsekuensikan kita harus mengenal Allah, yakni mengenal kemahaindahan nama-namaNya dan kesempurnaan sifat-sifatNya.
    Sebagaimana Allah juga menegakkan bagi hamba-hambaNya ilmu agama yang diturunkanNya kepada RasulNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang mana tidak ada kesempurnaan bagi manusia kecuali dengan ilmu ini.
    Yang mana ilmu ini menjadikan setiap gerakan yang dilakukan manusia semua terjadinya adalah sesuai dengan keridhaan dan kehendak atau kecintaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Jadi ilmu agama yang menjadikan setiap perbuatan yang dilakukan manusia selalu bersesuaian dengan apa yang diridhai dan dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Untuk tujuan inilah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus para RasulNya, menurunkan kitab-kitabNya dan mensyariatkan hukum-hukum syariat di dalam Islam kepada hamba-hambaNya.
    Maka kesempurnaan hamba yang tidak ada sama sekali kesempurnaan baginya kecuali dengan dia menjadikan semua gerakan pada dirinya selalu bersesuaian dengan hal-hal yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan diridhaiNya.
    Oleh sebab itulah Allah menyebutkan di dalam Al-Qur’an bahwa mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merupakan bukti argumentasi bahwa hamba ini mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
    “Katakanlah wahai Rasulullah: ‘Jika kalian benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku. Maka niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'” (QS. Ali ‘Imran[3]: 31)
    Ini bukti bahwa hanya dengan mengikuti petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam baru kita bisa mewujudkan ibadah yang benar, yaitu yang sesuai dengan kecintaan dan keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan sebab inilah kecintaan kita akan dibalas oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan diterimaNya.
    Maka seorang yang jujur dalam pengakuan cintanya, dia akan memandang ada pengkhianatan pada dirinya terhadap kekasihnya kalau dia melakukan satu perbuatan yang dilakukan secara sadar tapi hal tersebut bertentangan dengan keridhaan kekasihnya.
    Sebagaimana ketika dia melakukan satu perbuatan yang sebenarnya diperbolehkan bagi dirinya sesuai dengan tuntutan tabiatnya atau keinginan syahwatnya, maka dia akan segera bertaubat dari perbuatan tersebut sebagaimana dia bertaubat dari perbuatan-perbuatan dosa.
    Yang kemudian senantiasa perkara ini semakin kuat pada dirinya. Sampai kemudian jadilah perkara-perkara mubah yang dilakukannya semuanya berganti menjadi ketaatan.
    40 min
  • Hukum Menyembelih Dengan Niat Bukan Karena Allah
    Hukum Menyembelih Dengan Niat Bukan Karena Allah adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 2 Dzulqa’dah1443 H / 1 Juni 2022 M.

    Kajian Tentang Hukum Menyembelih Dengan Niat Bukan Karena Allah
    Dari Thariq bin Syihab Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    دخل الجنة رجل في ذباب، ودخل النار رجل في ذباب
    “Ada orang masuk surga karena seekor lalat dan ada seseorang yang masuk neraka karena seekor lalat pula.”
    Para sahabat bertanya: “Bagaimana hal itu Ya Rasulallah?” Beliau menjawab:
    مر رجلان على قوم لهم صنم لا يجاوزه أحد حتى يقرب له شيئا…
    “Ada dua orang berjalan melewati suatu kaum yang mempunyai berhala. Yang mana tidak seorang pun melewati berhala itu sebelum mempersembahkan kepadanya sesuatu kurban.
    Mereka berkata kepada salah seorang dari kedua orang tersebut: ‘Persembahkanlah kurban kepadanya.’ Dia menjawab: ‘Aku tidak mempunyai sesuatu yang dapat ku persembahkan kepadanya.’ Mereka pun berkata kepadanya lagi: ‘Persembahkanlah sekalipun seekor lalat.’ Lalu orang itu mempersembahkan seekor lalat dan merekapun memperkenankannya untuk meneruskan perjalanannya. Maka dia masuk neraka karenanya.
    Kemudian berkatalah mereka kepada seorang yang lain: ‘Persembahkanlah kurban kepadanya.’ Dia menjawab: ‘Aku tidak patut mempersembahkan sesuatu ataupun kurban kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla.’ Kemudian mereka memenggal lehernya. Karenanya orang ini masuk surga.” (HR. Imam Ahmad)
    Dalam hadits ini Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengabarkan tentang bahaya dan tentang buruknya perbuatan syirik. Yaitu gara-gara seekor lalat yang disembelih untuk selain Allah menyebabkan masuk ke dalam nerakanya Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Apalagi sebab-sebab yang disyariatkan? Mari kita download dan simak mp3 kajiannya.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Hukum Menyembelih Dengan Niat Bukan Karena Allah
    Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link ceramah agama “Hukum Menyembelih Dengan Niat Bukan Karena Allah” ini melalui jejaring sosial facebook, twitter dan yang lainnya agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.
    1 hr 14 min
  • Jadikanlah Kemarahanmu Ibarat Garam Bagi Masakan
    Jadikanlah Kemarahanmu Ibarat Garam Bagi Masakan merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mendidik Anak Tanpa Amarah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 30 Syawal 1443 H / 31 Mei 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Kemarahan Mendatangkan Malapetaka di Dunia
    Jadikanlah Kemarahanmu Ibarat Garam Bagi Masakan
    Jadikanlah kemarahanmu ibarat garam bagi masakan. Yaitu ada marah yang dibutuhkan tapi tetap masih dalam koridornya dan membawa suatu manfaat bagi kita. Disana disebut “Marah karena Allah”.
    Sebenarnya orang tua manapun tidak ada yang punya keinginan untuk marah, apalagi kepada anak-anak mereka. Tapi kita sadar kita adalah manusia. Manusia adalah makhluk yang lemah. Dan yang paling lemah dari manusia itu adalah hatinya. Mengapa setan menyasar hati manusia? Karena itu adalah titik terlemah manusia. Dan Allah menegaskan di dalam Al-Qur’an:
    …وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا
    “Dan manusia diciptakan bersifat lemah.” (QS. An-Nisa'[4]: 28)
    Oleh karena itu wajar jika tidak ada satupun di antara kita yang tidak pernah marah kepada anaknya. Walau akhirnya kita sadar dan menyesali kemarahan itu. Atau kemarahan itu menimbulkan mudharat yang lebih besar lalu kita pun menyesalinya. Itulah tabiat manusia yang selalu melakukan kesalahan.
    كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ
    “Semua Bani Adam pasti melakukan kesalahan.”
    Tidak ada yang tidak berbuat salah. Bahkan dalam hadits yang lain Nabi menegaskan:
    وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ، وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ ، فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ
    “Demi Dzat yang diriku berada ditanganNya, kalau seandainya kamu tidak berbuat dosa niscaya Allah akan melenyapkan kamu dan Allah akan mendatangkan kaum lain yang berbuat dosa, lalu mereka pun minta ampun kepada Allah, dan Allah pun ampuni dosa mereka.” (HR. Imam Muslim)
    Lihat juga: Makna Hadits Jika Kalian Tidak Berbuat Dosa Allah Akan Hilangkan Kalian
    Begitulah manusia tempatnya salah dan lupa. Namun tentunya Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada manusia qudrah (kemampuan) dan iradah (kehendak). Oleh karena itu sebagai orang tua kita harus benar-benar mengerahkan segenap kemampuan untuk bisa mengelola emosi sebaik mungkin. Hingga kalaupun kita emosi/marah kita dapat ini menunjukkan marah itu dalam bentuk yang benar dan dalam porsi yang tepat. Sehingga marah kita menjadi sesuatu yang bermanfaat.
    Sebagian orang tua mungkin marah dengan mengekspresikannya dalam bentuk yang buruk. Memukul, melontarkan kata-kata yang tidak baik, bahkan mungkin mengusir dan lain sebagainya. Orang tua seperti itu menunjukkan marah mereka dalam bentuk yang buruk.
    Sebagian orang tua lainnya marah dan menunjukkan amarah itu dalam bentuk yang bermanfaat. Contohnya kita marah kepada anak dan memberikan nasihat. Kita berbicara kepadanya dengan lemah lembut dan menegurnya dengan baik. Sementara di dalam hati kita sebenarnya telah tersimpan marah. Tapi kita tunjukkan marah itu dalam wujud yang tepat. Sehingga marah itu bermanfaat bagi kita dan bagi anak.
    Itulah dia pentingnya memiliki kemampuan untuk bisa mengelola emosi sebaik mungkin. Hingga kalau pernah marah, jadikan marah itu ibarat garam bagi masakan. Kadarnya cukup sedikit saja, jangan berlebihan.
    Ada disana orang tua yang terlalu berlebihan marahnya.
    40 min
  • Penekanan Kewajiban Menunaikan Zakat
    Penekanan Kewajiban Menunaikan Zakat adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 30 Syawal 1443 H / 31 Mei 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Keutamaan Kayu Siwak Untuk Membersihkan Mulut
    Penekanan Kewajiban Menunaikan Zakat
    Islam menjaga hubungan seorang hamba dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam bentuk beriman kepada Allah, mentauhidkan Allah, beribadah kepada Allah. Dan Islam juga menjaga hubungan antara sesama kaum muslimin. Salah satunya dengan berbagi kepada mereka berupa harta baik zakat ataupun sedekah.
    Dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma, beliau berkata bahwasannya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mengutus Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu ke negeri Yaman dalam rangka berdakwah. Maka beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan pesan:
    ادْعُهُمْ إلى شَهَادَةِ أنْ لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، وأَنِّي رَسولُ اللَّهِ، فإنْ هُمْ أطَاعُوا لذلكَ، فأعْلِمْهُمْ أنَّ اللَّهَ قَدِ افْتَرَضَ عليهم خَمْسَ صَلَوَاتٍ في كُلِّ يَومٍ ولَيْلَةٍ، فإنْ هُمْ أطَاعُوا لذلكَ، فأعْلِمْهُمْ أنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عليهم صَدَقَةً في أمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِن أغْنِيَائِهِمْ وتُرَدُّ علَى فُقَرَائِهِمْ
    “Ajaklah mereka agar memberikan persaksian bahwasannya tiada sesembahan yang haq kecuali Allah dan bahwasannya aku adalah Rasul utusan Allah. Jika mereka menaati hal tersebut, maka beritahukan kepada mereka bahwasannya Allah mewajibkan atas mereka lima shalat pada setiap hari siang dan malam. Dan kalau mereka telah taat terhadap apa yang engkau sampaikan, maka beritahukan kepada mereka bahwasannya Allah mewajibkan atas mereka membayar sedekah yang diambil dari orang-orang kaya mereka dan diberikan kepada orang-orang fuqara mereka.” (Muttafaqun ‘alaihi)
    Al-Imam An-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala membawakan hadits ini dalam bab tentang penekanan kewajiban untuk menunaikan zakat karena disini disebutkan salah satu dari apa yang didakwahi oleh Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu adalah mengingatkan kepada mereka tentang zakat.
    Mengutus Dai
    Hadits ini menjelaskan kepada kita tentang metode di dalam berdakwah. Yang pertama ada kewajiban penguasa/pemerintah untuk mengutus para Dai ke tempat-tempat yang jauh, tempat-tempat yang memerlukan para Dai untuk mengajarkan kepada mereka tentang Islam.
    Berilmu
    Pelajaran lain yang diambil dari hadits ini bahwa yang diutus adalah orang yang mempunyai ilmu. Karena dia akan mengajarkan kepada manusia tentang hal-hal yang wajib bagi mereka, terutama tentang tauhid, kemudian shalat, kemudian zakat dan yang lainnya.
    Diawali dengan tauhid
    Hadits ini juga memberikan pelajaran kepada kita tentang permulaan dari dakwah itu diawali dengan tauhid. Mengajarkan kepada manusia akan keesaan Allah. Bahwasannya tiada sesembahan yang haq kecuali Allah, dan menyeru mereka untuk beribadah hanya kepada Allah, jangan menyembah/menyeru/meminta/curhat kepada selain Allah. Kalau ada suatu masalah maka shalat dan menghadap kepada Allah, bukan kepada manusia. Apabila seseorang curhatnya kepada manusia, maka ini menunjukkan bahwa tauhidnya lemah. Seorang mukmin selalu mengadu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Beriman kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
    Selanjutnya adalah mengajarkan kewajiban mereka untuk beriman kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa beliau adalah seorang utusan ...
    1 hr 23 min
  • Talbis Iblis Dalam Perkara Ghanimah
    Talbis Iblis Dalam Perkara Ghanimah ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 29 Syawal 1443 H / 30 Mei 2022 M.

    Kajian Islam Tentang Talbis Iblis Dalam Perkara Ghanimah
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ ۚ وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ…
    “Nabi tidak akan melakukan ghulul (khianat) dalam perkara harta rampasan perang. Barangsiapa yang melakukan khianat terhadap harta rampasan perang, maka dia akan memikul beban dosa khianat yang telah dia lakukan itu pada hari kiamat nanti…” (QS. Ali ‘Imran[3]: 161)
    Tentunya iblis tidak membiarkan satu celah pun yang bisa dia masuki untuk merusak anak Adam melainkan dia akan memasukinya, termasuk di dalam hal ghanimah. Iblis mengelabui orang-orang yang berjihad/berperang tatkala mendapatkan harta ghanimah, lalu mereka mengambil sesuatu dari harta tersebut sebelum dibagikan. Ini tidak halal baginya untuk diambil terlebih dulu walaupun dia termasuk orang yang ikut dalam peperangan dan mungkin akan diberi jatah juga. Tapi dia mengambilnya sebelum dibagikan.
    Dia mendahului dengan mengambil barang itu sembunyi-sembunyi. Inilah yang disebut ghulul, khianat di dalam perkara harta rampasan perang. Ini terjadi di medan peperangan dan ketika Allah memberikan kemenangan.
    Maka hati-hati bahwa setan ataupun iblis tidak membiarkan satu celah pun melainkan dia akan memasukinya. Hal itu bisa terjadi karena pelakunya mungkin memiliki sedikit ilmu hingga dia beranggapan bahwa harta orang kafir halal bagi muslim manapun. Dia tidak tahu bahwa menggelapkan harta rampasan perang itu termasuk maksiat. Banyak orang-orang yang punya syubhat sehingga mengatakan harta orang kafir dianggap sebagai fa’i (berhak untuk dimiliki tanpa hak). Ini tentunya satu pemikiran yang salah.
    Harta siapapun kalau itu tidak hak bagi kita maka tidak boleh kita ambil secara khianat. Termasuk harta rampasan perang yang mana itu merupakan bagian yang akan didapatkan oleh orang-orang yang ikut berperang. Namun ketika itu diambil sebelum waktunya, maka itu menjadi maksiat.
    Ini juga berlaku dalam perkara-perkara lain yang berkaitan dengan harta umat. Hati-hati terhadap status harta dengan label harta umat. Tidak boleh kita mengambilnya tanpa hak sebelum itu resmi dinyatakan sebagai bagian kita. Walaupun kita yang mengumpulkan dan yang membuat program donasinya.
    Demikian juga semua harta wakaf untuk umat. Banyak pengelola-pengelola harta-harta seperti ini merasa itu harta dia. Padahal dia berteriak kesana-kemari atas nama umat. Ketika itu sudah terkumpul di hadapannya, tiba-tiba harta itu berubah status menjadi harta pribadi. Harta rakyat yang diambil secara diam-diam oleh orang-orang yang diamanahi untuk mengelolanya ini termasuk ghulul. Dalam bahasa sekarang disebut korupsi.
    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia bercerita: “Kami pergi bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menuju Khaibar. Lalu Allah memberikan kemenangan untuk kami. Kami tidak mendapatkan harta rampasan perang berupa emas maupun perak saat itu, akan tetapi berupa peralatan makanan dan pakaian. Kemudian kami pergi ke sebuah lembah.
    Saat itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersama seorang budak laki-lakinya. Pada waktu kami tiba di persinggahan, budak tersebut berdiri hendak melepaskan pelana Nabi. Namun sebilah anak panah lewat mengenainya dan membunuhnya.
    Spontan kami berseru: ‘Selamat baginya,
    0 min
  • Tempat Yang Dilarang Untuk Shalat
    Tempat Yang Dilarang Untuk Shalat ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 29 Syawal 1443 H / 30 Mei 2022 M.

    Download kajian sebelumnya: Syarat Shalat
    Kajian Tentang Tempat Yang Dilarang Untuk Shalat
    Kemarin kita telah membahas dua syarat sahnya shalat. Yaitu:

    * masuknya waktu shalat,
    * suci dari hadats dan najis,
    * menghadap ke kiblat,
    * niat.

    Dalam pembahasan masalah syarat-syarat ini ada masalah-masalah yang berkaitan dengan syarat shalat yang belum kita bahas. Di antaranya adalah tempat shalat
    Ini berkaitan dengan syarat bahwa kita harus membersihkan tempat dari kotoran-kotoran. Berkaitan dengan ini ada tempat-tempat yang kita dilarang shalat diatasnya. Hal ini berdasarkan dalil-dalil yang ada dalam syariat.
    Di antara tempat yang kita tidak boleh shalat di dalamnya adalah:
    Kandang unta
    Hal ini berdasarkan hadits dari Jabir Ibnu Samurah, bahwa ada seseorang yang yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    أُصَلِّي في مَرَابِضِ الغَنَمِ؟
    “Apakah aku boleh shalat di kandang kambing?”
    Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Iya, kamu boleh shalat di kandang kambing.”
    Kemudian orang tersebut bertanya lagi:
    أُصَلِّي في مَبَارِكِ الإبِلِ؟
    “Apakah aku boleh shalat di kandang unta?”
    Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Jangan.”
    Ini menunjukkan bahwa shalat di kandang unta merupakan sesuatu yang dilarang oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Hadits ini juga menunjukkan bahwa kotoran kambing itu suci. Karena kandang kambing biasanya tidak lepas dari kotoran-kotoran kambing, dan ternyata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membolehkan sahabat ini untuk shalat di kandang kambing.
    Dari hadits ini para ulama mengqiyaskan kotoran semua hewan yang halal dimakan itu hukumnya seperti kotoran kambing. Sebagaimana kotoran kambing tidak najis, maka semua kotoran hewan yang boleh dimakan juga tidak najis.
    Mungkin ada yang bertanya, bukankah hadits ini juga menunjukkan bahwa kotoran unta itu najis karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang sahabat tersebut untuk shalat di kandang unta? Maka jawabannya bahwa hadits ini tidak menunjukkan bahwa kotoran unta itu najis. Karena adanya hadits lain yang menunjukkan bahwa air kencing unta boleh diminum.
    Disebutkan dalam hadits yang shahih bahwa pernah ada sekelompok orang yang datang ke Madinah dan mengeluhkan sakit di perutnya. Mereka bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Rasulullah memerintahkan mereka untuk meminum air kencingnya unta. Hal ini menunjukkan bahwa air kencing unta suci dan boleh diminum. Karena kalau itu najis maka tentunya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang mereka untuk meminumnya.
    Lalu apa jawaban larangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat di kandang unta? Alasan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang sahabat ini untuk shalat di kandang unta adalah sebagaimana disebutkan di dalam riwayat yang lain. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mengatakan:
    لا تصَلُّوا في مبارِكِ الإبِلِ؛ فإنَّها من الشياطينِ
    “Janganlah kalian shalat di kandang unta. Karena sesungguhnya unta itu diciptakan dari setan.” (HR. Abu Dawud)
    Kuburan
    1 hr 4 min
  • Perumpamaan Mukmin Seperti Pohon Alang-Alang
    Perumpamaan Mukmin Seperti Pohon Alang-Alang merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 28 Syawal 1443 H / 29 Mei 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Ayat-Ayat Nabi dan Mengimaninya

    Kajian Hadits Perumpamaan Mukmin Seperti Pohon Alang-Alang
    Kita telah sampai pada bab perumpamaan mukmin itu seperti pohon zara’ (alang-alang, padi dan sejenisnya), sedangkan perumpamaan orang munafik dan orang kafir seperti pohon urzah (pohon yang tinggi dan kuat).
    Hadits nomor 28:
    عن كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مَثَلُ الْمُؤْمِنِ كَمَثَلِ الْخَامَةِ مِنْ الزَّرْعِ تُفِيئُهَا الرِّيحُ تَصْرَعُهَا مَرَّةً وَتَعْدِلُهَا أُخْرَى حَتَّى تَهِيجَ وَمَثَلُ الْكَافِرِ كَمَثَلِ الْأَرْزَةِ الْمُجْذِيَةِ عَلَى أَصْلِهَا لَا يُفِيئُهَا شَيْءٌ حَتَّى يَكُونَ انْجِعَافُهَا مَرَّةً وَاحِدَةً. وفي رواية “وَتَعْدِلُهَا مَرَّةً حَتَّى يَأْتِيَهُ أَجَلُهُ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ مَثَلُ الْأَرْزَةِ الْمُجْذِيَةِ الَّتِي لَا يُصِيبُهَا شَيْءٌ”.
    “Dari Ka’ab bin Malik ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Perumpamaan orang yang beriman seperti batang dari tanaman zara’ (biasanya batangnya lembut) yang dibolak-balikan oleh angin. Terkadang ia tersungkur dan terkadang ia tegak kembali hingga ia pun menjadi menguning. Sedangkan perumpamaan orang kafir sama seperti pohon arzah yang kokoh berdiri diatas pokoknya. Tidak dibolak-balikkan oleh apapun juga, sehingga tercabutnya itu sekaligus.’
    Dalam satu riwayat yang lain: ‘Perumpamaan seorang mukmin itu seperti pohon zara’, dimana ia dibolak-balikkan oleh angin. Terkadang ia tersungkur terkadang ia tegak sampai datang kepadanya ajalnya.'” (HR. Muslim)
    Hadits ini memberikan kepada kita perumpamaan tentang kehidupan seorang mukmin yang tidak lepas dari ujian dan cobaan. Karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengumpamakan mukmin itu seperti pohon alang-alang. Dimana terkadang angin membuat ia tersungkur merunduk. Dan terkadang ketika angin pergi dia pun tegak kembali.
    Subhanallah.. Tidak ada satupun pohon alang-alang yang tercabut sekuat apapun angin itu berhembus. Dia hanya tersungkur merunduk. Kemudian ketika angin telah pergi kembali tegak lagi.
    Demikian kehidupan mukmin terkadang ia ditimpa musibah dan ujian sampai tersungkur. Kemudian ujian pun pergi akan kemudian ia tegak lagi. Datang lagi angin dari arah yang lain, tersungkur lagi, terkadang meliuk-liuk. Tapi Subhanallah dia tidak pernah tercabut sama sekali. Tetap kuat istiqamah di atas agamanya, seberat apapun ujian yang menimpa hidupnya. Hal ini karena dia kuat berpegang kepada keimanan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
    Maka dari itulah saudaraku, jangan menganggap bahwa kita beriman itu tidak diuji, tidak mungkin. Siapapun kita yang menyatakan “saya beriman” pasti diuji. Allah yang mengatakan demikian. Allah berfirman:
    وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
    “Sungguh benar-benar Kami akan uji kalian, dengan sedikit rasa takut, rasa lapar, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah[2]: 155)
    Allah juga berfirman:
    الم ‎﴿١﴾‏ أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ ‎﴿٢﴾‏ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَ...
    52 min
  • Kelompok-Kelompok Ahlul Bid’ah Yang Harus Dijauhi
    Kelompok-Kelompok Ahlul Bid’ah Yang Harus Dijauhi merupakan kajian Islam ilmiah oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. dalam pembahasan kitab Kun Salafiyyan ‘alal Jaddah. Kajian ini disampaikan pada Sabtu, 27 Syawal 1443 H / 28 Mei 2022 M.

    Kajian Islam Tentang Kelompok-Kelompok Ahlul Bid’ah Yang Harus Dijauhi
    Ketika kita berusaha untuk menjelaskan penyimpangan-penyimpangan dari permasalahan-permasalahan bid’ah yang dilakukan oleh perorangan atau kelompok-kelompok tertentu, tentu kita akan menghadapi risiko. Yang namanya amar ma’ruf nahi munkar selembut apapun kita bawakan tetap namanya orang dikritik dia akan tersinggung. Tetapi kalau kita berusaha ikhlas, kita berusaha untuk mengikuti manhaj salaf dalam menjelaskan hal ini dengan dalil dan kita bersabar menghadapi segala risikonya, maka pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala justru datang dari hal-hal yang seperti ini.
    Kita dulunya waktu mengenal manhaj salaf bukankah dengan metode seperti ini? Kita dengarkan ustadz kita menjelaskan tentang metode Ahlus Sunnah wal Jama’ah kemudian membantah penyimpangan-penyimpangan. Alhamdulillah sekarang kita kenal aqidah yang benar, bisa mengetahui tauhid yang benar dan mengetahui penyimpangan syirik yang harus kita berusaha menjauhinya. Demikian pula permasalahan sunnah dan bid’ah dan masalah-masalah lainnya.
    Kita masih sampai di pembahasan tentang nukilan-nukilan dari pernyataan para imam Ahlus Sunnah di akhir zaman tentang kaidah-kaidah muwazanah, yaitu ketika mengkritik ahlul bid’ah (menurut pendapat yang menyimpang) kita harus menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka jangan hanya menyebutkan keburukan-keburukannya. Padahal kita bukan sedang membahas biografi seseorang yang harus dicantumkan semua mulai dari lahirnya sampai matinya. Tapi ini pembahasannya adalah penyimpangan besar yang terjadi di masyarakat sehingga kita harus peringatkan kaum muslimin untuk menjauhinya. Maka dalam hal ini tidak diharuskan menyebutkan kebaikan.
    Syaikh Fauzan Al-Fauzan Hafidzahullahu Ta’ala ditanya tentang bagaimana menyikapi jamaah-jamaah Islam yang ada saat ini. Kemudian beliau dilontarkan kepadanya pertanyaan “Wahai Syaikh, ketika kita memperingatkan satu kelompok tertentu yang jelas penyimpangannya besar, apakah kita peringatkan tanpa menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka, atau kita harus menyebutkan kebaikan-kebaikannya sekaligus keburukan-keburukannya?”
    Karena ada pemahaman yang mengharuskan hal ini. Sehingga mereka mengkritik metode Ahlus Sunnah wal Jama’ah ketika membantah penyimpangan yang hanya menyebutkan keburukan-keburukan tersebut. Mereka mensyaratkan bahwa harus menyebutkan juga kebaikannya. Apakah ini manhaj yang benar?
    Maka Syaikh Shalih Fauzan Hafidzahullah berkata bahwa kalau kamu menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka itu maknanya kamu mempromosikan mereka. Tidak boleh, kamu tidak perlu menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka. Sebutkan kesalahan yang mereka lakukan saja. Karena bukan merupakan tugasmu untuk meluruskan semua keadaannya. Yang merupakan tugasmu adalah menjelaskan kesalahan yang mereka lakukan supaya mereka bertaubat darinya. Dan supaya kaum muslimin yang lain bisa berhati-hati dan menjauhi kesalahan tersebut. Adapun kalau kamu sebutkan kebaikan-kebaikan mereka, mereka malah mengatakan “inilah yang kami inginkan” yakni karena dengan sebab ini mereka justru dipromosikan dan orang-orang justru akan tertarik dengan kebaikan-kebaikan tersebut. Sehingga tujuannya memberikan peringatan tidak tercapai dengan cara seperti ini.
    Ini juga pernyataan yang semakin menguatkan metode para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah ketika memperingatkan tentang kesalahan. Mereka benar-benar membahas kesalahan tersebut karena tu...
    56 min
  • Khutbah Jumat: Tidak Cukup Sebatas Niat Yang Baik
    Khutbah Jumat: Tidak Cukup Sebatas Niat Yang Baik ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 26 Syawal 1443 H / 27 Mei 2022 M.

    Khutbah Pertama Tentang Tidak Cukup Sebatas Niat Yang Baik
    Imam Muslim meriwayatkan dalam shahihnya bahwa ada tiga orang datang kepada istri-istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka bertanya kepada istri-istri Nabi tersebut tentang bagaimana ibadah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Ketika para istri Nabi mengabarkan bagaimana ibadah-ibadah Rasulullah, maka seakan-akan mereka menganggap bahwa ibadah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sangat ringan sekali. Kemudian salah seorang dari mereka berkata:
    أينَ نحنُ مِن رسولِ اللَّهِ و قد غَفرَ اللَّهُ له ما تقدَّمَ من ذنبِهِ و ما تأخَّرَ ؟
    “Siapa kita dibandingkan dengan Rasulullah. Kalau Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sudah dijamin masuk surga, sudah diampuni dosanya yang telah lalu maupun yang akan datang, sedangkan kita tidak ada jaminan.”
    Lalu yang satu berkata: “Adapun saya akan shalat semalam suntuk dan tak akan pernah tidur.” Yang satu lagi berkata: “Saya akan berpuasa terus-menerus.” Dan yang satu lagi berkata: “Adapun aku tidak akan menikah. Aku akan ibadah kepada Allah saja.”
    Maka ucapan tiga orang ini sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memanggil tiga orang ini. Kemudian Rasulullah bersabda kepadanya: “Bukankah kalian yang mengatakan begini dan begitu?” Kata mereka: “Benar wahai Rasulullah.”
    Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    وَاللَّهِ إِنِّى لأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ ، لَكِنِّى أَصُومُ وَأُفْطِرُ ، وَأُصَلِّى وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى
    “Demi Allah, aku ini orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa dari kalian. Aku berpuasa namun aku juga berbuka. Aku sendiri mengerjakan shalat malam dan tidur. Dan aku pun menikahi wanita. Maka siapa yang tidak menyukai sunnahku, ia bukan dari golonganku.”
    Sebuah kisah agung yang hendaknya kita petik dan ambil pelajaran.
    Lihat bagaimana tiga orang sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang sangat semangat ingin beribadah kepada Allah. Mereka datang kepada istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mempertanyakan tentang ibadah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ternyata mereka menganggap bahwasanya ibadah Rasulullah amat ringan sekali.
    Maka dengan semangatnya untuk ibadah kepada Allah dan dengan niatnya yang baik tersebut, yang pertama ingin shalat semalam suntuk tak pernah tidur setiap malam. Yang satu lagi dia akan terus berpuasa. Dan yang satu lagi tidak mau menikah.
    Namun ternyata Rasulullah mengingkari tiga orang ini. Rasulullah tidak menyetujui perbuatan mereka. Karena bertentangan dengan سماحة الإسلام (kemudahan Islam), bertentangan dengan ruhul Islam, bahkan bertentangan dengan firman Allah:
    يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
    “Allah menginginkan untuk kalian kemudahan dan tidak menginginkan untuk kalian kesulitan.” (QS. Al-Baqarah[2]: 185)
    Ini menunjukkan bahwa sebatas niat yang baik tidaklah cukup. Terkadang seseorang berkata “Yang penting niat saya baik, yang penting hati saya baik.” Kita katakannya bahwa sebatas niat yang baik itu tidak cukup sampai perbuatanmu sesuai dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Sesungguhnya Islam adalah agama yang telah disempurnakan oleh Allah R...
    15 min
  • Tafsir Ali Imran Ayat 52-53 – Kisah Al-Hawariyyun
    Tafsir Ali Imran Ayat 52-53 – Kisah Al-Hawariyyun adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Ayat-Ayat Ahkam. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Kamis, 25 Syawal 1443 H / 26 Mei 2022 M.

    Tafsir Ali Imran Ayat 52-53 – Kisah Al-Hawariyyun
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَىٰ مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنصَارِي إِلَى اللَّهِ ۖ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنصَارُ اللَّهِ آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ ‎﴿٥٢﴾‏رَبَّنَا آمَنَّا بِمَا أَنزَلْتَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ ‎﴿٥٣﴾‏
    “Maka ketika Isa mengetahui keingkaran mereka, Isa berkata: ‘Siapa yang menjadi penolongku untuk menegakkan agama Allah?’ Al-Hawariyyun berkata: ‘Kamilah penolong-penolong Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikan bahwa kami adalha orang-orang yang menyerahkan diri. Wahai Rabb kami, kami beriman kepada apa yagn Engkau telah turunkan dan kami mengikuti Rasul, maka tetapkanlah kami bersama orang-orang yang memberikan persaksian.'” (QS. Ali Imran[3]: 52-53)
    Di antara faedah yang bisa kita ambil dari ayat yang mulia ini adalah:
    Bani Israil Membangkang
    Bani Israil membangkang padahal mereka menyaksikan mukjizat-mukjizat besar yang didatangkan Isa. Tapi tidak ada satupun dari mereka yang beriman.
    Menyeru Keikhlasan
    Ketika perkara sudah tersamar, maka seyogyanya bagi seorang dai menyeru untuk menyatakan kepada kaumnya: “Siapa yang ikhlas?” Hal ini adalah dalam rangka mendorong mereka untuk ikhlas. Supaya tahu mana orang-orang pilihan di antara mereka dan mana yang pecundang.
    Nabi Isa berkata: “Siapa yang menjadi penolong-penolongku untuk menegakkan agama Allah?” ketika beliau melihat kaumnya sudah membangkang.
    Dakwah Yang Ikhlas
    Dakwah para Rasul Shallallahu ‘Alaihim wa Sallam ikhlas mengajak manusia kepada Allah, bukan untuk kepentingan diri mereka. Isa ‘Alaihis Salam berkata: “Siapa yang menjadi penolong-penolongku untuk menegakkan agama Allah?”
    Penolong Dakwah
    Para Rasul membutuhkan orang-orang yang menolong mereka. Dasarnya adalah firman Allah tadi: “Siapa yang menjadi penolong-penolongku untuk menegakkan agama Allah?”
    Demikian juga sebagaimana Allah berfirman kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Allah berfirman:
    هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَبِالْمُؤْمِنِينَ
    “Dialah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menguatkan engkau dengan pertolonganNya dan dengan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anfal[8]: 62)
    Keutamaan Hawariyyin
    Ayat yang mulia ini menjelaskan tentang keutamaan Hawariyyin Radhiyallahu ‘Anhum. Dimana mereka mengumkan bahwa mereka menjadi penolong-penolong Allah. Padahal semua kaumnya kufur.
    Mereka berkata: “Kami adalah penolong-penolong Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Demikian juga hendaknya bagi seseorang untuk menyatakan dengan tegas bahwa dia adalah pengikut Rasul di antara orang-orang pengusung kekafiran. Hal ini supaya tidak mudahanah (berbasa-basi) dalam agama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena mudahanah dalam agama Allah dan taqiyyah hakikatnya merupakan kemunafikan.
    Lihat: Disunnahkannya Mudaroh dan Meninggalkan Mudahanah
    Hakikat Muslim
    Ayat ini merupakan dalil bahwa orang-orang Nasrani itu adalah orang-orang muslim. Hal ini dengan dasar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Saksikan...
    32 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah