Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Menutup Aurat Ketika Shalat
    Menutup Aurat Ketika Shalat ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 13 Dzul Qa’dah 1443 H / 13 Juni 2022 M.

    Download kajian sebelumnya: Tempat Yang Dilarang Untuk Shalat
    Kajian Tentang Menutup Aurat Ketika Shalat
    Pada pertemuan ini kita akan membahas tentang masalah-masalah yang berkaitan dengan syarat-syarat shalat. Pada pertemuan sebelumnya kita sudah membahas sebagian dari masalah-masalah itu.
    Wajibnya Menutup Aurat
    Pada pertemuan yang membahas tentang syarat-syarat shalat, kita menyinggung bahwa menutup aurat di dalam shalat ketika dimampui oleh seseorang adalah syarat yang wajib dilakukan oleh seseorang. Dan ini merupakan sesuatu yang telah disepakati oleh para ulama.
    Lalu apa batasan aurat dalam shalat? Auratnya laki-laki antara pusar sampai lutut. Selama aurat ini telah ditutupi, maka shalat seseorang dianggap sah.
    Begitu pula dengan perempuan, ketika aurat perempuan telah ditutupi, maka shalatnya dianggap sah. Aurat perempuan dalam shalat adalah seluruh badannya kecuali wajah dan dua telapak tangan.
    Ada sebagian ulama yang juga mengecualikan telapak kaki. Namun lebih hati-hatinya kita mewajibkan seorang wanita untuk menutup telapak kakinya. Hal ini karena adanya ulama-ulama mewajibkan menutup kedua telapak kaki. Semakin sempurna auratnya tertutup maka semakin afdhal.
    Maka kalau bisa kita menggunakan pakaian yang benar-benar menutup aurat, bahkan melebihi itu. Sehingga ibadah shalat kita terlihat indah. Dan itulah yang diinginkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika kita shalat jangan sampai hanya memikirkan menutup aurat saja. Tapi pikirkanlah bagaimana shalat kita menjadi indah dengan pakaian itu. Gunakanlah pakaian terindah ketika shalat.
    Bagi seorang laki-laki, menutup kepala bukan merupakan kewajiban. Tapi menjadi sangat indah ketika kita shalat dengan memakai penutup kepala.  Memakai baju bukan kewajiban, kita bisa menutup aurat dengan memakai kaos. Tapi itu tidak menjadikan shalat kita tampak indah. Sehingga kalau kita bisa menghindari yang seperti ini maka hindari.
    Gunakan pakaian yang bisa menjadikan shalat kita indah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ …
    “Wahai anak Adam, pakailah perhiasan ketika kalian berada di setiap masjid…” (QS. Al-A’raf[7]: 31)
    Yang dimaksud dengan perhiasan di sini adalah pakaian yang indah. Maka pakailah pakaian yang indah. Karena ibadah shalat adalah ibadah yang istimewa, ibadah yang sangat dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika itulah kita menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Aurat tersingkap tanpa sengaja
    Apabila aurat tersingkap tanpa sengaja, apakah ini bisa membatalkan shalat? Sebagian ulama mengatakan bahwa tersingkapnya aurat akan membatalkan shalat walaupun tidak disengaja dan walaupun dalam waktu yang singkat.
    Namun pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini adalah pendapat yang menyatakan bahwa apabila aurat tersingkap tanpa sengaja dan dalam waktu yang tergolong singkat, maka shalatnya tetap dianggap sah. Karena hal ini bukan kesengajaan, bukan karena kesalahan seorang hamba. Dan hal-hal yang terjadi karena ketidaksengajaan telah diampuni/dimaafkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk umat ini.
    Di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa termasuk di antara doanya kaum mukminin adalah:
    1 hr 2 min
  • Rasa Malu Semuanya Baik
    Rasa Malu Semuanya Baik merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 12 Dzul Qa’dah 1443 H / 12 Juni 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Perumpamaan Mukmin Seperti Pohon Alang-Alang

    Kajian Hadits Rasa Malu Semuanya Baik
    Kita telah sampai pada bab perumpamaan mukmin itu seperti pohon zara’ (alang-alang, padi dan sejenisnya), sedangkan perumpamaan orang munafik dan orang kafir seperti pohon urzah (pohon yang tinggi dan kuat).
    Hadits nomor 30:
    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ.
    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Iman itu ada 70 atau 60 lebih cabang. Yang paling utama adalah ucapan Laa Ilaaha Illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu itu cabang dari iman.” (HR. Muslim)
    Hadits nomor 31:
    عن أَبي قَتَادَةَ – رضي الله عنه – قَالَ كُنَّا عِنْدَ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ فِي رَهْطٍ مِنَّا وَفِينَا بُشَيْرُ بْنُ كَعْبٍ فَحَدَّثَنَا عِمْرَانُ يَوْمَئِذٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – الْحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ أَوْ قَالَ الْحَيَاءُ كُلُّهُ خَيْرٌ فَقَالَ بُشَيْرُ بْنُ كَعْبٍ إِنَّا لَنَجِدُ فِي بَعْضِ الْكُتُبِ أَوْ الْحِكْمَةِ أَنَّ مِنْهُ سَكِينَةً وَوَقَارًا لِلَّهِ تعالى وَمِنْهُ ضَعْفٌ فَغَضِبَ عِمْرَانُ حَتَّى احْمَرَّتَا عَيْنَاهُ وَقَالَ أَلَا أَرَانِي أُحَدِّثُكَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَتُعَارِضُ فِيهِ قَالَ فَأَعَادَ عِمْرَانُ الْحَدِيثَ قَالَ فَأَعَادَ بُشَيْرٌ فَغَضِبَ عِمْرَانُ قَالَ فَمَا زِلْنَا نَقُولُ فِيهِ إِنَّهُ مِنَّا يَا أَبَا نُجَيْدٍ إِنَّهُ لَا بَأْسَ بِهِ.
    Dari Abu Qatadah Radhiyallahu ‘Anhu ia berkata: “Kami pernah berada di sisi Imran bin Husain bersama beberapa orang. Dan di tengah-tengah kami ada Busyair bin Ka’ab. Lalu Imran membawakan hadits, ia berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Rasa malu itu baik seluruhnya.’ Atau ‘Rasa malu itu semuanya baik.’ Maka berkata Busyair bin Ka’ab: ‘Sesungguhnya kami mendapatkan pada sebagian kitab atau hikmah bahwasannya rasa malu itu ada yang merupakan sakinah karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan ada lagi rasa malu yang sifatnya lemah.’
    Maka Imran pun marah sampai-sampai dua matanya merah. Lalu kemudian Imran berkata: ‘Apa kamu tidak melihat aku menyampaikan hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Lalu kamu kemudian menentang hadits tersebut dengan yang kamu temukan dalam kitab atau hikmah?’ Lalu Imran pun kembali menyampaikan hadits tersebut dan ternyata Busyair pun kembali mengulangi ucapannya.
    Maka Imran pun sangat marah sekali. Dan kami terus mengatakan kepada Imran bin Hushain (untuk meredakan kemarahannya): ‘Sesungguhnya dia dari kita Wahai Abu Nujaid, dia tidak mengapa.'” (HR. Muslim)
    Rasa malu semuanya baik
    Hadits ini menunjukkan bahwa rasa malu itu semuanya baik. Karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan: “Rasa malu itu semua baik.”
    Mungkin ada orang yang bertanya: “Bagaimana dengan orang yang malu tapi maluny...
    50 min
  • Para Rasul Tidak Mengetahui Perkara Ghaib
    Tafsir Ali Imran Ayat 52-53 – Para Rasul Tidak Mengetahui Perkara Ghaib adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Ayat-Ayat Ahkam. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Kamis, 9 Dzul Qa’dah 1443 H / 09 Juni 2022 M.

    Tafsir Ali Imran Ayat 52-53 – Kisah Al-Hawariyyun
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَىٰ مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنصَارِي إِلَى اللَّهِ ۖ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنصَارُ اللَّهِ آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ ‎﴿٥٢﴾‏رَبَّنَا آمَنَّا بِمَا أَنزَلْتَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ ‎﴿٥٣﴾‏
    “Maka ketika Isa mengetahui keingkaran mereka, Isa berkata: ‘Siapa yang menjadi penolongku untuk menegakkan agama Allah?’ Al-Hawariyyun berkata: ‘Kamilah penolong-penolong Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikan bahwa kami adalha orang-orang yang menyerahkan diri. Wahai Rabb kami, kami beriman kepada apa yagn Engkau telah turunkan dan kami mengikuti Rasul, maka tetapkanlah kami bersama orang-orang yang memberikan persaksian.'” (QS. Ali Imran[3]: 52-53)
    Faedah sebelumnya: Tafsir Ali Imran Ayat 52-53 – Kisah Al-Hawariyyun
    Di antara faedah yang bisa kita ambil dari ayat yang mulia ini adalah:
    Para Rasul Tidak Mengetahui Perkara Ghaib
    Ketika mendapati kaumnya kufur, Isa berkata:
    مَنْ أَنصَارِي إِلَى اللَّهِ
    “Siapa yang menjadi penolongku membela agama Allah?”
    Kemudian Al-Hawariyyun berkata: “Kamilah penolong-penolong Allah. Kami beriman kepada Allah dan saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri kepada Allah.”
    Di sini kita mendapatkan faedah bahwa para Rasul tidak mengetahui perkara yang ghaib. Hal ini didasari dengan perkataan mereka: “Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang muslim.” Karena kalau misalkan ada ilmu tentang hal ini, maka tentunya Isa tidak membutuhkan persaksian.
    Bolehnya seseorang mengatakan “Aku Orang Beriman”
    Tidak diragukan lagi bahwa ini boleh. Tetapi yang terjadi perbedaan pendapat di dalamnya adalah tentang apakah boleh mengucapkan “Saya Mukmin insyaAllah”.
    Jawabannya adalah bahwa ulama berbeda pendapat. Di antara mereka ada yang mengatakan tidak boleh. Dan di antara mereka ada yang mengatakan bahwa ini perlu perincian.
    Hukumnya haram?
    Adapun yang berkata bahwa mengucapkan “Saya mukmin insyaAllah” itu tidak boleh, mereka mengatakan bahwa sesungguhnya ucapan “InsyaAllah” itu bisa menunjukkan keraguan orang yang mengucapkan. Kalau tidak ragu bagaimana dia mengucapkan insyaAllah? Kalau iman itu sudah menetap di hati, maka tidak boleh dia mengucapkan insyaAllah.
    Seandainya engkau melihat ada orang shalat, kemudian dikatakan kepada orang itu: “Kamu sudah shalat?” Kemudian dia mengucapkan “Aku sudah shalat insyaAllah.” Tentunya ini adalah perkataan yang sia-sia.
    Kalau misalnya dikatakan kepada seseorang yang sudah berpakaian: “Apakah engkau sudah berpakaian?” Dia berkata: “Iya saya memakainya insyaAllah.” Padahal dia sudah berpakaian. Inilah adalah perkataan yang sia-sia.
    Artinya, seandainya orang itu betul-betul jazm dalam imannya, kenapa dia mengucapkan insyaAllah?
    Hukumnya wajib?
    Pendapat kedua, mereka berkata bahwa mengucapkan insyaAllah dalam “Saya Mukmin” ini hukumya wajib.
    47 min
  • Empat Golongan Manusia Perusak Islam
    Empat Golongan Manusia Perusak Islam adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 9 Dzul Qa’dah 1443H / 09 Juni 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Ilmu Menyingkap Hakikat Segala Sesuatu
    Ceramah Agama Islam Tentang Empat Golongan Manusia Perusak Islam
    Imam Muhammad Ibnu Fadl Az-Zahid menyebutkan bahwa pudarnya Islam akan terjadi di tangan empat golongan manusia. Yaitu:

    * Orang-orang yang tidak mengamalkan ilmu yang telah mereka ketahui,
    * Orang-orang yang mengamalkan tapi tanpa ilmu,
    * Orang-orang yang tidak beramal juga tidak berilmu,
    * Orang-orang yang melarang manusia dari menuntut ilmu.

    Semua kerusakan dan keburukan kembalinya kepada orang-orang yang berpaling dari ilmu. Karena orang yang tidak mengamalkan ilmu menunjukkan ilmunya tidak bermanfaat, ilmunya tidak menjadi sebab hatinya takut dan tunduk kepada Allah. Inilah golongan manusia yang celaka.
    Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala menjelaskan makna empat golongan ini.
    1. Orang yang punya ilmu tapi tidak punya amal
    Golongan ini adalah orang yang paling berbahaya bagi orang awam. Karena dia merupakan argumentasi yang dijadikan orang-orang awam dalam setiap kekurangan dan keburukan yang ada pada diri mereka.
    Yakni orang-orang awam akan mengatakan: “Dia saja yang berilmu tidak melakukannya. Dia saja yang dipandang sebagai orang yang paham dalam agama juga tidak mengerjakan ini.” Menjadi alasan bagi orang-orang awam untuk membela kesalahan mereka.
    2. Ahli ibadah yang tidak berilmu
    Mereka ini semangat tapi tidak punya ilmu, akhirnya dia mengamalkan semua apa yang dianggap baik dalam pikirannya, apa yang dibisikkan oleh setan dalam perasaannya.
    Ini juga bisa merusak agama. Karena orang-orang akan bersangka baik kepadanya dengan mempertimbangkan ibadahnya yang rajin, dianggap sebagai orang shalih, maka orang-orang pun akan meneladaninya dalam kebodohannya. Apa yang dia kerjakan akan diikuti dan dianggap baik padahal itu tidak ada dalilnya. Akhirnya manusia akan binasa dan orang-orang yang mengikutinya juga akan terjerumus ke dalam sebab kejahilan yang dilakukannya.
    Kedua golongan ini yang telah diperingatkan oleh salah seorang ulama Salaf:
    احذروا فتنة العالم الفاجر، والعابد الجاهل فإن فتنتهما فتنة لكل مفتون
    “Waspadalah terhadap fitnahnya orang yang berilmu tapi buruk pengamalannya, juga fitnahnya orang yang ahli ibadah tapi jahil. Karena fitnah keduanya merupakan fitnah bagi orang-orang yang terfitnah.”
    Ilmu kalau sekedar menjadi pengetahuan, hanya menjadikan seorang kelihatan banyak yang dikuasai tapi tidak membentuk pada dirinya, tidak menjadikan hatinya tunduk dan takut kepada Allah, maka ini adalah ilmu yang mencelakakan. Tentu ini bukanlah ilmu yang dipuji di dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang shahih.
    Kebanyakan manusia menjadikan panutan dua golongan. Yaitu orang-orang yang dianggap berilmu dan orang-orang yang dikatakan sebagai ahli ibadah. Oleh karena itu jika para ulamanya adalah orang-orang yang buruk amalnya, sedangkan ahli ibadahnya adalah orang-orang yang jahil, maka ini akan menjadi sebab musibah yang merata dengan sebab rusaknya dua golongan manusia ini, dan fitnah besar pun akan tersebar di masyarakat umum maupun di kalangan orang-...
    52 min
  • Tempat Untuk Menyembelih Binatang
    Tempat Untuk Menyembelih Binatang adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu 8 Dzulqa’dah 1443 H / 8 Juni 2022 M.

    Kajian Tentang Tempat Untuk Menyembelih Binatang
    Kita telah sampai pada pembahasan dilarangnya menyembelih binatang dengan niat karena Allah di tempat yang dipergunakan untuk menyembelih bukan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Kalau kita perhatikan maksud dari bab ini adalah penjelasan tentang haramnya menyembelih binatang dengan niat karena Allah tetapi tempatnya di tempat yang pernah disembelih hewan untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jadi disini yang bermasalah adalah tempatnya.
    Pengharaman penyembelihan binatang untuk Allah tetapi di tempat yang pernah hewan disembelih di sana untuk selain Allah, ini disebabkan karena dua perkara, yaitu:

    * Yang pertama adalah menyerupakan diri dengan kebiasaan orang-orang musyrik.
    * Yang kedua adalah menutup celah untuk melakukan kesyirikan. Karena tempat itu pernah disembelih binatang untuk selain Allah, maka kita tutup celah agar tidak terjadi lagi penyembelihan di tempat itu. Sehingga tidak terjadi lagi penyembelihan binatang meskipun niatnya karena Allah tetapi pernah di tempat tersebut disembelih binatang yang bukan karena Allah.

    Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا ۚ لَّمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَن تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَن يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ
    “Janganlah kamu bersembahyang dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut bagi engkau shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (QS. At-Taubah[9]: 108)
    Para ahli tafsir menyebutkan bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang RasulNya untuk shalat di masjid dhirar (مسجد الضرار‎). Masjid dhirar adalah masjid yang dibangun oleh orang-orang munafik untuk menyaingi Masjid Nabawi. Dan para ulama mengatakan bahwa setiap masjid yang dibangun untuk membahayakan dan menyakiti kaum muslimin. Juga termasuk dari masjid dhirar adalah masjid yang dibangun karena riya’ (berbangga-bangga).
    Imam Al-Qurtubi Rahimahullah mengatakan: “Para ulama kita berkata bahwa setiap masjid yang dibangun diatas bahaya dan karena riya serta sum’ah, maka dia adalah dalam hukum masjid dhirar, tidak boleh shalat di dalamnya.”
    Al-Qashimi Rahimahullah mengatakan bahwa ayat ini menunjukkan bahwasanya setiap masjid yang dibangun seperti yang dibangun diatas masjid dhirar, maka dia tidak ada hukum masjid padanya. Yaitu tidak ada kehormatannya, tidak boleh shalat di dalamnya. Dan ada pemimpin kaum muslimin bernama Ar-Radhi Billah telah membakar kebanyakan dari masjid-masjid seperti ini.
    Apa hubungan ayat ini dengan tidak ada penyembelihan binatang karena Allah disembelih di tempat yang pernah hewan disembelih untuk selain Allah?
    Hubungannya adalah bahwa tempat-tempat yang disediakan untuk menyembelih binatang untuk selain Allah wajib dijauhi untuk menyembelih binatang karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana masjid ini ketika disediakan untuk bermaksiat kepada Allah, maka berarti dia tempat penuh dengan kemurkaan. Oleh sebab itulah tidak boleh shalat di dalamnya. Ini diqiyaskan dengan menyembelih binatang karena Allah tetapi tempatnya pernah disembelih bi...
    1 hr 40 min
  • Hadits Wajibnya Zakat
    Hadits Wajibnya Zakat adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa 7 Dzulqa’dah 1443 H / 7 Juni 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Penekanan Kewajiban Menunaikan Zakat
    Hadits Wajibnya Zakat
    عن جرير بن عبد الله -رضي الله عنه- قال: بَايَعْتُ رسول الله -صلى الله عليه وسلم- على إِقَام الصَّلاَة، وإِيتَاء الزَّكَاة، والنُّصح لِكُلِّ مُسلم.
    Dari Jarir bin Abdillah Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata: “Aku membaiat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan menasihati setiap orang muslim.” (Muttafaqun ‘alaihi)
    Hadits ini menjelaskan tentang apa saja yang menjadi perjanjian antara beliau dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika beliau membaiat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Hadits ini menjelaskan kepada kita tentang baiat. Bahwa seseorang kalau sudah membaiat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan sesuatu yang dibaiatnya maka dia harus melaksanakan isi dari baiat tersebut.
    Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu ketika menjadi khalifah mengganti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setelah beliau wafat, maka Abu Bakar melanjutkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Di antaranya adalah beliau memerangi orang-orang yang tidak membayar zakat. Karena di antara baiat mereka kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah menunaikan zakat.
    Oleh karena itu beliau menganggap bahwa menunaikan adalah sesuatu yang besar. Sehingga orang-orang yang tidak mau menunaikan zakat setelah wafatnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diperangi oleh Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu. Ini adalah penekanan tentang wajibnya zakat.
    Hadits ini juga menjelaskan kepada kita tentang kewajiban menegakkan shalat, menunaikan zakat dan menasihati seorang muslim. Ini adalah perjanjian kita dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Memberi nasihat kepada setiap muslim adalah merupakan perjanjian seorang muslim dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Makanya seorang muslim harus mencintai saudaranya. Jika saudaranya melakukan kesalahan maka diingatkannya.
    Inilah manhaj yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada para sahabat. Makanya para sahabat dahulu begitu. Karena mereka sudah membaiat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam akan berbuat ikhlas menasihati setiap muslim, maka manhaj salaf ini tidak sekedar kita mengeluarkan dalil dari lisan tetapi tidak mengerjakan dan tidak mengetahui hak-hak sesama muslim.
    Bagaimana beratnya pemilik harta di dunia yang terkena wajib zakat namun tidak menunaikannya? Mari download dan simak mp3 kajian kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Riyadush Shalihin – Hadits Wajibnya Zakat
    Mari turut membagikan link download
    1 hr 2 min
  • Menyusui Anak
    Menyusui Anak ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 6 Dzulqa’dah 1443 H / 6 Juni 2022 M.

    Kajian Tentang Menyusui Anak
    Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan alam semesta, Allah ‘Azza wa Jalla juga menciptakan makhluk-makhluk hidup di dalamnya. Salah satunya adalah manusia.
    Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala saat menciptakan manusia di alam semesta ini bukan hanya menyiapkan tempat tinggalnya saja, tapi termasuk juga apa yang dibutuhkan oleh manusia untuk menjamin keberlangsungan hidupnya.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala menyediakan bahan makanan untuk manusia di muka bumi ini sangatlah banyak. Baik itu dari tumbuhan ataupun hewan.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala bukan hanya memperhatikan kebutuhan makanan ketika kita sudah terlahir ke muka bumi. Bahkan ketika kita masih di dalam perut ibu, Allah sudah memperhatikan makanan kita. Inilah keajaiban yang Allah buat di dalam tubuh manusia. Walaupun bayi yang ada di dalam perut ibunya itu belum punya gigi, tapi dia bisa makan sehingga dia hidup.
    Begitu bayi itu lahir, maka makanan yang biasanya dia dapatkan lewat plasentanya secara otomatis akan berhenti. Karena ari-arinya diputus. Sehingga ketika sudah tidak bisa memasukkan makanan lewat ari-ari, orang tua punya kewajiban untuk memenuhi makanan bayinya melalui jalur mulut.
    Ajaibnya, bayi yang selama ini biasa makan melalui plasenta begitu lahir ketemu dengan payudara tiba-tiba bisa menyedotnya. Itulah petunjuk yang Allah berikan kepada bayi tersebut.
    Kewajiban ibu untuk menyusui anaknya disebutkan di dalam Al-Baqarah ayat 233. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
     وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ ۚ…
    “Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama 2 tahun penuh bagi yang ingin menyempurnakan penyusuannya.” (QS. Al-Baqarah[2]: 233)
    Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Menyusui Anak
    Mari turut membagikan link download kajian “Menyusui Anak” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    52 min
  • Panggilan Yaa Bunayya
    Panggilan Yaa Bunayya adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Al-Adabul Mufrad. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. pada Senin, 6 Dzulqa’dah 1443 H / 6 Juni 2022 M.

    Kajian Islam Tentang Panggilan Yaa Bunayya
    Kita sampai pada قول الرجل: يا بني، لمن أبوه لم يدرك الإسلام (bab tentang panggilan seorang laki-laki kepada anak yang bapaknya meninggal dalam kondisi kafir atau  sebelum diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam). Bagaimana cara kita memanggil dia? Imam Bukhari menyebutkan dengan ucapan “Yaa Bunayya (Wahai ananda).” Kita memanggilnya seakan-akan anak kita, padahal bapaknya belum sempat masuk Islam.
    Ini adalah berbicara adab dalam bergaul. Islam datang untuk menyempurnakan perilaku-perilaku yang mulia, karakter-karakter yang indah, akhlak-akhlak dan budi pekerti yang baik. Dan di dalam panggilan kepada anak lain dengan panggilan “Wahai ananda” ada kandungan kasih sayang terhadapnya. Apalagi bapaknya anak tersebut mati kafir.
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:
    الرَّاحمونَ يرحمُهُمُ الرَّحمنُ
    “Orang yang mengasihi akan dikasih oleh Allah ‘Azza wa Jalla.”
    Jadi salah satu bentuk Islam menyebarkan kasih sayang dalam kehidupan bermasyarakat adalah dengan memanggil anak yang bapaknya mati kafir dengan panggilan “Yaa Bunayya (Wahai Ananda)”. Panggilan ini untuk membesarkan hatinya seakan-akan ada bapaknya karena ada orang yang peduli kepadanya.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Adabul Mufrad – Panggilan Yaa Bunayya
    Mari turut membagikan link download kajian tentang “Panggilan Yaa Bunayya” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    1 hr 32 min
  • Orang Tua Wajib Bertakwa Kepada Allah Dalam Urusan Anak-Anaknya
    Orang Tua Wajib Bertakwa Kepada Allah Dalam Urusan Anak-Anaknya adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Furqan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 6 Dzulqa’dah 1443 H / 6 Juni 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Tidak Ada Ketaatan Dalam Maksiat
    Orang Tua Wajib Bertakwa Kepada Allah Dalam Urusan Anak-Anaknya
    Wajibnya orang tua bertakwa kepada Allah dalam urusan anak-anak mereka ini diambil dari wasiat-wasiat Luqman Al-Hakim. Ini menunjukkan perhatian Luqman kepada putranya. Maka kita hendaknya mencontoh kepada Luqman Al-Hakim. Kita pun mengajarkan kebaikan dan memberikan wasiat kepada anak-anak kita.
    Bagi yang Allah Subhanahu wa Ta’ala anugrahi anak, maka hendaknya dia tahu bahwa ia akan dimintai pertanggungjawaban kelak di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang apa yang diajarkannya kepada anaknya. Apakah diajarkan membaca Al-Qur’an atau bernyanyi? Apakah diajarkan sedekah atau mencuri? Apakah diajarkan adab yang tinggi atau menjadi anak yang durhaka, pemarah dan seterusnya. Rasul kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا
    “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggung jawabnya dari apa yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan dia akan dimintai pertanggungjawaban dari apa yang dia pimpin. Begitu juga wanita adalah pemimpin di rumah tangganya (setelah suaminya) dan dia akan dimintai pertanggungjawaban dari apa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Oleh karena itu perhatikan rumah kita. Jangan sampai masuk ke dalamnya maksiat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا…
    “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.” (QS. At-Tahrim[66]: 6)
    Perlu kita ketahui bahwa anak merupakan nikmat yang besar. Dimana Syaikh Rahimahullah berkata bahwa nikmat itu akan senantiasa ada, akan menyertai hambaNya, dan akan dijaga oleh Allah dengan cara bersyukur. Dan nikmat itu akan dicabut oleh Allah karena kekufuran dan kemaksiatan. Begitu juga anak-anak yang Allah titipkan kepada kita semua.
    Bagaimana cara orang tua bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas nikmat anak? Jawabannya adalah dengan cara orang-orang tua menunaikan hak-hak dari anak-anak mereka.
    Apa saja hak anak-anak kita? Mari Download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Orang Tua Wajib Bertakwa Kepada Allah Dalam Urusan Anak-Anaknya
    Mari turut membagikan link download kajian yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya.
    47 min
  • Khutbah Jumat: Jangan Senang Dipuji Manusia
    Khutbah Jumat: Jangan Senang Dipuji Manusia ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 3 Dzul Qa’dah 1443 H / 03 Juni 2022 M.

    Khutbah Pertama Tentang Jangan Senang Dipuji Manusia
    Semua kita adalah hamba Allah. Dan semua kita wajib untuk menghambakan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Tidak diperkenankan seorang hamba untuk menyatakan bahwasanya dirinya adalah lebih baik daripada orang lain. Iblis yang pertama kali mengatakan:
    اَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُۚ
    “Aku lebih baik darinya.” (QS. Al-A’raf[7]: 12)
    Karena ketika kita merasa lebih baik, kita seringkali memunculkan sifat kesombongan dihati.
    Demikian pula kita pun dilarang oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk mempunyai sifat suka dipuji oleh orang lain. Dalam hadits yang dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani Rahimahullah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    إِيَّاكُمْ وَالتَّمَادُحَ
    “Jauhi oleh kalian sifat merasa suka dipuji oleh orang lain.” (HR. Ibnu Majah)
    Karena ketika kita merasa suka dipuji, itulah yang menjadi pintu untuk riya. Sehingga kita ingin supaya ibadah kita terlihat oleh orang lain, kita ingin kelebihan kita terlihat oleh orang lain, sehingga pada waktu itu kita mengharapkan pujian manusia. Padahal pujian manusia tidak ada manfaatnya untuk kita sama sekali.
    Islam menyuruh kita untuk hanya mengharapkan pujian Allah semata. Islam menyuruh kita untuk mempunyai pandangan dan pikiran bahwasannya pujian Allah itu segala-galanya.
    Maka dari itulah riya’ termasuk syirik. Karena seakan-akan ia menyamakan antara pujian Allah dengan pujian manusia, seakan-akan kita tidak merasa cukup dengan pujian Allah ‘Azza wa Jalla. Sehingga kita merasa butuh kepada pujian manusia. Padahal pujian manusia itu hakikatnya adalah:
    الذَّبْحُ
    “Sembelihan untuk kita.”
    Ketika seseorang ada yang memuji temannya di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan temannya ada di situ sedang shalat, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun bersabda kepada dia:
    قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ
    “Kamu sudah memenggal leher saudaramu sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyuruh apabila ada orang yang memuji-muji kita di hadapan kita, kata Rasulullah: “Maka taburkan ke wajahnya debu.”
    Semua ini menunjukkan agar kita tidak menjadi hamba yang suka pujian manusia. Karena banyak orang demi untuk mendapatkan pujian manusia akhirnya tidak peduli dengan syariat Allah ‘Azza wa Jalla, dia tidak peduli apakah amalnya diterima atau tidak. Padahal riya’ (ingin dilihat manusia, ingin dipuji manusia) dosanya berat dimata Allah ‘Azza wa Jalla.
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda bahwa ada tiga orang yang pertama kali diputuskan dan dilemparkan kedalam api neraka. Yang pertama kata Rasulullah adalah seorang yang alim dan qari’.
    Lalu Allah bertanya kepadanya pada hari kiamat: “Apa amalmu waktu di dunia?” Dia berkata: “Dahulu di dunia aku mempelajari ilmu, aku mengajarkan ilmu karena Engkau, aku baca Qur’an pun karena engkau.”
    Maka Allah berfirman: “Kamu dusta. Kamu dahulu menuntut ilmu hanya ingin disebut ulama. Kamu pun juga membaca Al-Qur’an hanya ingin disebut qari’. Dan kamu sudah mendapatkan sebutan itu.” Lalu kemudian ia diseret dan dilemparkan ke dalam neraka jahanam.
    Saudaraku.. Pujian manusia tidak ada manfaatnya untuk kita. Bahkan Al-Imam Ibnul Jauzi mengatakan bahwa celaan manusia lebih bermanfaat buat k...
    15 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah