Khutbah Jumat: Kehidupan Hati ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 14 Rabi’ul Akhir 1443H / 19 November 2021M.
Khutbah Pertama Tentang Kehidupan Hati
Sesungguhnya kehidupan hati adalah merupakan kehidupan yang hakiki. Dimana seorang hamba yang hatinya hidup, maka Allah berikan kepada dia berbagai macam kenikmatan. Dan kenikmatan yang paling luas adalah mengenal Allah ‘Azza wa Jalla, kenikmatan beramal shalih.
Maka ketika seorang hamba diberikan oleh Allah hati yang hidup, dia bisa melihat kebenaran, dia bisa merasakan akan adanya penyakit-penyakit yang masuk ke dalam dirinya.
Orang yang hatinya hidup, maka ia lebih bahagia dengan melaksanakan ketaatan kepada Allah dibandingkan ia memaksiati Allah ‘Azza wa Jalla.
Oleh karena itulah kewajiban seorang hamba lebih memperhatikan kesehatan hatinya dibandingkan kesehatan badannya. Dahulu para sahabat Rasulullah Shalawatullahi ‘Alaihi wa Salamuhu diberikan oleh Allah keistimewaan dan keutamaan bukan dengan banyaknya amal, akan tetapi dengan kebeningan hati mereka.
Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Tidaklah para sahabat diberikan keutamaan oleh Allah karena banyaknya shalat atau banyaknya puasa mereka. Akan tetapi mereka diberikan keutamaan oleh Allah karena apa yang ada di hati mereka.”
Dalam riwayat yang lain Al-Hasan Al-Bashri berkata kepada teman-temannya: “Kalian lebih banyak shalatnya, kalian lebih banyak puasanya dibandingkan para sahabat. Tapi para sahabat lebih utama dari kalian.”
Lalu teman-temannya Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Kenapa hal itu terjadi?” Kata Al-Hasan Al-Bashri: “Karena hati mereka lebih mengharapkan akhirat dibandingkan kalian. Dan hati mereka lebih zuhud terhadap kehidupan dunia dibandingkan kalian.”
Subhanallah..
Seorang mukmin lebih memperhatikan kesehatan hatinya dibandingkan dengan kesehatan badannya. Adapun orang-orang yang terkena penyakit hati berupa kemunafikan, dia lebih memperhatikan kesehatan badannya dan tidak peduli dengan hatinya.
Allah mensifati orang-orang munafik dalam surah Al-Munafiqun, Allah berfirman:
وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ
“Apabila kamu melihat mereka, badan-badan mereka membuat kamu kagum.” (QS. Al Munafiqun[63]: 4)
Karena orang-orang munafik lebih memperhatikan badannya, tapi mereka tidak peduli dengan hatinya. Sedangkan mukmin sangat memperhatikan hatinya, dia khawatir kalau ternyata kemunafikan itu masuk ke dalam dirinya.
Muhammad bin Al-Munkadir berkata:
أَدْرَكْتُ ثَلاَثِيْنَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – كُلُّهُمْ يَخَافُ النِّفَاقَ عَلَى نَفْسِهِ
“Aku bertemu dengan tiga puluh sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, semua mereka mengkhawatirkan kemunafikan itu ada pada diri mereka.” (HR. Bukhari)
Bayangkan, para sahabat yang imannya luar biasa ternyata mereka semua mengkhawatirkan dan takut kalau ternyata hatinya ditimpa penyakit kemunafikan. Karena sesungguhnya penyakit-penyakit hati (apalagi penyakit kemunafikan) akan membinasakan akhirat seorang hamba. Keselamatan kita di akhirat bukan tergantung kepada harta benda, tapi keselamatan di akhirat tergantung kepada hati kita Allah berfirman:
يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ﴿٨٨﴾ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ ﴿٨٩﴾
“Pada hari tidak bermanfaat harta dan anak-anak, kecuali orang yang datang kepada Allah membawa hati yang selamat.” (QS. Asy-Syu’ara[26]: 88-89)
Apa yang dimaksud dengan selamat? Kata Ibnul Qoyyim selamat dari mengagungkan selain Allah, selamat dari berbagai macam penyakit-penyakit hati ...