Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Mukjizat Nabi Isa ‘Alaihis Salam
    Tafsir Ali Imran Ayat 49 – Mukjizat Nabi Isa ‘Alaihis Salam adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Ayat-Ayat Ahkam. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Kamis, 11 Syawal 1443 H / 12 Mei 2022 M.

    Tafsir Ali Imran Ayat 49 – Mukjizat Nabi Isa ‘Alaihis Salam
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَرَسُولًا إِلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنِّي قَدْ جِئْتُكُم بِآيَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ ۖ أَنِّي أَخْلُقُ لَكُم مِّنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِ اللَّهِ ۖ وَأُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ وَأُحْيِي الْمَوْتَىٰ بِإِذْنِ اللَّهِ ۖ وَأُنَبِّئُكُم بِمَا تَأْكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
    “Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan Isa sebagai seorang rasul yang diutus kepada Bani Israil. Beliau berkata: ‘Sesungguhnya aku telah datang kepada kalian dengan membawa ayat (mukjizat) dari Rabb, dan sesungguhnya aku bisa membuat untuk kalian dari tanah sesuatu yang berbentuk seperti burung, kemudian aku meniupnya dan ia menjadi burung dengan izin Allah. Dan aku menyembuhkan orang yang buta dari lahir, dan orang yang berpenyakit kusta, dan aku bisa menghidupkan orang-orang yang mati dengan izin Allah. Dan aku mengabarkan kepada kalian tentang apa yang kalian makan dan apa yang kalian simpan di rumah kalian. Sesungguhnya di dalam hal yang demikian itu ada tanda-tanda kebesaran Allah bagi kalian jika kalian beriman.” (QS. Ali Imran[3]: 49)
    Di antara faedah yang bisa kita ambil dari ayat yang mulia ini adalah:
    Isa adalah rasul bagi Bani Israil
    Ayat ini menetapkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Isa menjadi rasul bagi Bani Israil dengan firmanNya وَرَسُولًا إِلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ. Dan ayat ini tentunya membantah orang-orang Yahudi yang mana mereka mendustakan risalah Isa ‘Alaihis Salam.
    Ini menunjukkan tentang keutamaan Islam. Di mana Islam menyingkap bahwa apa yang didustakan oleh kaum Yahudi itu tidak benar. Dan di dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa Nabi Isa adalah seorang rasul.
    Risalah Isa ‘Alaihis Salam umum untuk seluruh Bani Israil
    Allah menguatkan Nabi Isa dengan mukjizat
    Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat ini menguatkan Isa dengan ayat-ayat kauniyah (mukjizat). Dimana Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kesanggupan dengan izinNya kepada Nabi Isa untuk mencipta dari tanah seperti bentuk burung. Beliau meniup sehingga tanah tersebut menjadi burung yang hidup kemudian bisa terbang dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Juga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan mukjizat kepada Nabi Isa ‘Alaihis Salam dimana Nabi Isa bisa menyembuhkan orang yang buta. Sebagian ulama  mengatakan buta sejak lahir, dan sebagian ulama mengatakan buta secara umum.
    Juga bisa menyembuhkan penyakit kusta. Dan juga bisa menghidupkan orang-orang yang mati dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Ini semua disebut dalam ayat ini sebagai mukjizat yang Allah berikan kepada Nabi Isa ‘Alaihis Salam. Dimana disaat itu banyak dokter. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kemampuan kepada Nabi Isa untuk bisa menyembuhkan orang yang buta dan kusta. Dimana dua penyakit ini sesuatu yang sangat berat bahkan para dokter tidak sanggup untuk menyembuhkannya. Apalagi menghidupkan orang mati.
    Subhanallah.. Ini merupakan mukjizat besar yang Allah berikan kepada Nabi Isa.
    Dan Allah mengatakan di ayat ini bahwa Nabi Isa bisa mengabarkan kepada Bani Israil tentang apa yang mereka makan dan apa yang mereka simpan di r...
    47 min
  • Problematika Remaja
    Problematika Remaja merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh: Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah pada Kamis, 11 Syawal 1443 H / 12 Mei 2022 M.

    Ceramah Agama Islam Tentang Problematika Remaja
    Remaja dizaman sekarang ini menghadapi problematika yang berat. Karena zaman ini adalah zaman yang sangat penuh dengan fitnah. Fitnah berupa syahwat dan syubhat. Sedangkan jiwa remaja itu masih sangat labil dan sangat mudah sekali terpengaruh, mudah terombang-ambing kesana kemari. Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak merahmatinya, maka dia akan terhempas, dia akan mengikuti arus-arus yang tidak baik. Tapi kalau Allah merahmatinya, maka Allah akan bimbing dia kepada kebaikan.
    Maka betapa pentingnya pembahasan masalah problematika remaja. Karena memang remaja adalah generasi yang akan menggantikan orang-orang yang sudah tua. Dan generasi penerus inilah yang menjadi bidikan orang-orang yang ingin merusak mereka. Yaitu orang-orang yang notabene pemikirannya menyimpang, duniawiyah, materialistik, demikian pula berbagai macam penyimpangan-penyimpangan yang lainnya. Yang mereka incar adalah para remaja yang masih labil dan seperti gelas yang kosong sehingga siap untuk diisi.
    Seorang remaja sangat membutuhkan bimbingan. Demikian pula seorang remaja sangat membutuhkan idola. Seorang remaja juga sangat membutuhkan teman. Seorang remaja juga sangat membutuhkan lingkungan.
    Maka problematika besar yang dihadapi oleh seorang remaja adalah ketika ternyata ia memiliki teman dan lingkungan yang tidak mendukung.
    Pentingnya teman
    Masalah teman adalah masalah yang sangat urgent. Oleh karena itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an menyebutkan tentang penyesalan seorang penduduk api neraka yang masuk neraka karena teman. Allah berfirman dalam surah Al-furqan ayat 28:
    يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا ‎﴿٢٨﴾‏ لَّقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِيا
    “(Berkata penduduk api neraka itu:) “Aduh andaikan aku tidak menjadikan Si Fulan sebagai teman akrab saya. Sungguh ia telah menyesatkan aku setelah datangnya peringatan kepada diriku…” (QS. Al-Furqan[25]: 28)
    Subhanallah.. Ini adalah penyesalan yang sudah tidak ada gunanya lagi. Ternyata ia masuk neraka karena salah bergaul.
    Berapa banyak remaja yang terkena slogan-slogan yang dia kira itu sebagai sebuah kebenaran. Contohnya slogan “Kita harus gaul, jangan kuper” sehingga akhirnya kata-kata ini menghujam di hatinya, mengiang-ngiang di telinganya, dia mengatakan “Saya tidak boleh kuper (kurang pergaulan), saya harus gaul”. Akhirnya demi untuk disebut gaul dan tidak ingin disebut kuper,  akhirnya dia bergaul kepada semua orang tidak peduli apakah orang itu akan menyelamatkan agamanya atau tidak.
    Akhirnya kita melihat seorang remaja hanya karena ingin disebut gaul, disitulah dia tidak mendapatkan bimbingan yang cukup tentang bagaimana dia harus bergaul. Maka ia bergaul dengan orang-orang yang ia pandang itu manfaat untuk dirinya. Dia bergaul dengan orang-orang yang dia memandang cocok dengan keinginan.
    Sehingga ketika ia mendapatkan teman-teman pergaulan yang tidak baik, disitulah akan terbentuk jiwa seorang remaja yang tidak baik lagi. Karena yang namanya jiwa manusia itu sangat mudah mengambil atau mencuri sifat orang lain. Apalagi yang namanya remaja masih labil, remaja belum punya pendirian, remaja belum bisa stabil. Sehingga ketika dia bergaul dengan orang yang salah, dia akan mengambil sifat orang tersebut dan menjadikannya sebagai sifat dirinya.
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengingatkan dalam hadits:
    الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
    “Seseorang itu diatas agama teman akrabnya, maka hendaklah seseorang melihat dengan siapa dia berte...
    1 hr 17 min
  • Menikah Harus dengan Wali – Surah Al-Baqarah 232
    Menikah Harus dengan Wali – Surah Al-Baqarah 232 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 9 Syawal 1443 H / 10 Mei 2022 M.
    Download kajian sebelumnya: Merujuk Istri Yang Ditalak – Surah Al-Baqarah 231
    Menikah Harus dengan Wali – Surah Al-Baqarah 232
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا تَعْضُلُوهُنَّ أَن يَنكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ إِذَا تَرَاضَوْا بَيْنَهُم بِالْمَعْرُوفِ ۗ ذَٰلِكَ يُوعَظُ بِهِ مَن كَانَ مِنكُمْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۗ ذَٰلِكُمْ أَزْكَىٰ لَكُمْ وَأَطْهَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
    “Dan apabila kamu mentalak (menceraikan) isteri-isteri kalian, dan para wanita yang ditalak itu telah selesai masa iddahnya, maka janganlah kalian (para wali/mantan suami) melarang para wanita itu untuk menikah dengan suami-suami mereka, apabila mereka ridha di antara mereka dengan cara yang ma’ruf. Yang demikian itu jadikan peringatan bagi orang yang beriman di antara kalian dan kehidupan akhirat. Yang demikian itu lebih suci untuk kalian dan lebih bersih. Dan Allah Maha Tahu sedangkan kalian tidak tahu.” (QS. Al-Baqarah[2]: 232)
    Dari ayat ini kita ambil faedah:
    Tidak halal akad nikah sebelum selesai masa iddah
    Tidak halal akad nikah sebelum selesai masa iddah. Kalau ada wanita akad nikah sementara masa iddahnya belum selesai, maka nikahnya tidak sah. Kalau dia sudah berhubungan dianggap zina.
    Haramnya wali melarang wanita untuk menikah dengan laki-laki yang ia ridha dengannya
    Haramnya wali melarang wanita untuk menikah dengan laki-laki yang ia ridha dengannya. Sehingga kalau seorang wanita sudah dilamar seorang laki-laki dan wanita ridha, maka tidak boleh seorang wali melarang hanya karena masalah dunia.
    Wali boleh melarang kalau memang alasannya syar’i. Adapun kalau alasannya tidak syar’i, misalnya karena berbeda suku, maka ini tidak benar.
    Lalu bagaimana wali menasihati “Calon kamu itu miskin. Coba kamu cari calon yang kaya.”? Tentu masalah miskin atau tidak sebenarnya rezeki dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Maka jawabannya bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah menasihati demikian. Yaitu ketika ada wanita yang berkonsultasi dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Wanita itu berkata: “Hai Rasulullah, saya dilamar dua laki-laki, Muawiyah dan Abu Jahm. Siapa yang harus aku pilih Hai Rasulullah?”
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Adapun Muawiyah itu fakir tidak punya harta. Adapun Abu Jahm tidak pernah meletakkan tongkat dari pundaknya (suka memukul). Tapi menikahlah kamu dengan Usamah bin Zaid.”
    Tapi kalau si wanita merasa ridha maka tidak mengapa walaupun miskin. Misalnya dia mengatakan: “Walaupun dia miskin tidak masalah buat saya. Yang penting agamanya bagus. Rezeki dari Allah.”
    Jika si wanita sudah ridha seperti ini, maka jangan kemudian wali mencegah dan melarangnya. Karena Allah berfirman dalam ayat tadi:
    فَلَا تَعْضُلُوهُنَّ أَن يَنكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ
    “Janganlah kalian para wali mencegah mereka untuk menikah dengan calon-calon suaminya…”
    Menikah harus dengan wali
    Menikah harus dengan wali dan bahwasannya wanita tidak boleh menikahkan dirinya sendiri. Karena kalaulah si wanita bisa menikahkan dirinya sendiri, tentu walaupun dilarang oleh walinya itu tidak berpengaruh apa-apa.
    49 min
  • Kemarahan Mendatangkan Malapetaka di Dunia
    Kemarahan Mendatangkan Malapetaka di Dunia merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Mendidik Anak Tanpa Amarah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 9 Syawal 1443H / 10 Mei 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Kemarahan Mendatangkan Penyesalan
    Kemarahan Mendatangkan Malapetaka di Dunia
    Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang dishahihkan Al-Albani dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa ada seorang laki-laki yang mencaci Abu Bakar Ash-Shiddiq sementara Nabi duduk di dekatnya. Abu Bakar menahan emosi, memilih bersabar dan tidak membalasnya. Nabi takjub dan tersenyum melihat kesabaran Abu Bakar Ash-Shiddiq.
    Tapi ketika laki-laki itu melontarkan cacian yang lebih banyak lagi, Abu Bakar Ash-Shiddiq membalas sebagian dari caciannya itu. Maka Nabi pun beranjak dari tempat beliau dan pergi.
    Abu Bakar Ash-Shiddiq menyusul Nabi dan bertanya: “Wahai Rasulullah, ketika ia mencaciku dan aku tidak membalas, engkau tetap berada di sampingku. Dan tatkala aku membalas sebahagian ucapannya engkau beranjak pergi.”
    Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:
    إِنَّهُ كَانَ مَعَكَ مَلَكٌ يَرُدُّ عَنْكَ ، فَلَمَّا رَدَدْتَ عَلَيْهِ بَعْضَ قَوْلِهِ ، وَقَعَ الشَّيْطَانُ ، فَلَمْ أَكُنْ لِأَقْعُدَ مَعَ الشَّيْطَانِ
    “Tadi ketika kamu bersabar (tidak membalas caciannya) ada malaikat yang bersamamu dan membelamu. Akan tetapi tatkala kamu membalas sebahagian caciannya, maka setan pun datang, dan aku tidak ingin duduk bersama setan.” (HR. Ahmad)
    Ini merupakan salah satu malapetaka di dunia akibat dari kemarahan. Yaitu setan akan mendekati kita dan malaikat akan pergi ketika orang itu jatuh dalam kemarahan.
    Kadang-kadang semacam alasan yang kita buat untuk bisa melampiaskan amarah. Misalnya kata-kata “Sudah cukup saya bersabar” atau “Kalau didiamkan dia makin menjadi-jadi” atau kata-kata sejenis yang itu adalah pembenaran untuk melampiaskan amarah. Tapi ketika jatuh dalam kemarahan, baru kita sesali kemarahan itu dan berkata “Seandainya aku tadi tidak marah.”
    Apalagi akibat buruk dari kemarahan? Bagaimana kajian lengkap tentang Kemarahan Mendatangkan Malapetaka di Dunia? Mari download dan simak mp3 kajiannya.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Kemarahan Mendatangkan Malapetaka di Dunia
    Mari turut membagikan hasil rekaman ataupun link kajian “Kemarahan Mendatangkan Malapetaka di Dunia” ini melalui jejaring sosial Facebook, Twitter dan yang Anda miliki, agar orang lain bisa turut mengambil manfaatnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.
    53 min
  • Talbis Iblis dalam Perkara Tawakal
    Talbis Iblis dalam Perkara Tawakal ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 7 Syawal 1443 H / 9 Mei 2022 M.

    Kajian Islam Tentang Talbis Iblis dalam Perkara Tawakal
    Banyak orang-orang salah dalam memahami tawakal ini. Sebagian orang mengatakan “saya bertawakal” tapi dia belum melakukan usaha yang maksimal. Ini tidak disebut tawakal, tapi dia berpura-pura tawakal. Yaitu dia berpura-pura menyerahkan dan menyadarkan urusan kepada Allah, tapi sebenarnya tidak.
    Makhluk di dunia tentunya berlaku hukum sebab akibat. Kalau kita mau kenyang, maka kita harus makan. Tidak mungkin kita kenyang tanpa makan. Itu adalah hukum yang kita jalani di dunia. Sebagai makhluk, untuk mencapai sesuatu kita harus berikhtiar, baru kemudian kita serahkan urusan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Untuk itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala ciptakan pada kita akal agar bisa berpikir dan mencari ikhtiar yang terbaik untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.
    Orang yang bertawakal tanpa usaha yang maksimal, maka dia belum disebut tawakal. Akan tetapi sebagian orang mengucapkan kata-kata tawakal ini lalu dia meninggalkan ikhtiar. Ini adalah suatu kekeliruan.
    Iblis mengelabui seseorang yang mengaku bertawakal dengan meninggalkan ikhtiar. Misalnya mendorong mereka berpergian tanpa berbekal. Mereka mengira hal itu adalah hakikat tawakal. Padahal itu bukan tawakal.
    Ada seseorang yang berkata kepada Imam Ahmad “Aku ingin berangkat ke Mekkah dengan penuh tawakal tanpa membawa bekal.” Maka Imam Ahmad berkata kepadanya: “Kalau begitu berangkatlah tanpa rombongan.” Dia berkata: “Tidak, aku akan pergi bersama rombongan.” Maka Imam Ahmad berkata kepadanya: “Berarti kamu bertawakal kepada bekal orang lain.”
    Tidak mungkin seseorang pergi safar dengan jarak yang jauh dan dalam waktu yang lama tanpa membawa bekal kecuali dia bersandar kepada bekal orang lain. Tidak tepat dikatakan “Aku bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala” lalu di pergi tanpa membawa bekal apapun. Itu tidak mungkin. Karena Allah menjadikan sebab atas segala sesuatu. Kita bisa sampai ke tujuan karena berbekal. Tidak mungkin kita sampai ke tujuan tanpa bekal.
    Oleh karena itu hamba-hamba yang paling mulia (yaitu para Nabi dan Rasul) juga mengajari kita untuk berikhtiar baru kemudian bertawakal dengan cara yang benar. Ini adalah fitrah yang sebenarnya Allah tanamkan pada semua makhluk. Sampai burung juga bertawakal dengan mencari rezekinya, dia tidak duduk di sarangnya kemudian rezeki datang menghampirinya.
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata “Seekor burung pergi pagi hari dalam keadaan perutnya kosong kemudian pulang sore hari dalam keadaan perutnya sudah penuh. Seandainya kalian bertawakal sebagaimana tawakalnya seekor burung, niscaya kamu akan diberi rezeki sebagaimana diberi rezekinya seekor burung. Dia pergi pagi hari dalam keadaan perutnya kosong dan pulang sore hari dalam keadaan perutnya sudah penuh.”
    Seandainya kamu bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal. Seperti seekor burung bertawakal dengan mengais rezekinya. Dia tidak duduk manis di sarangnya kemudian datang rezeki itu kepadanya.
    Seseorang yang dia berdoa, maka doa adalah salah satu bentuk ikhtiar. Namun harus disertai dengan ikhtiar yang lain. Seorang berdoa di masjid memohon rezeki kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka tidak ada yang salah dengan itu. Hanya saja dia juga harus tahu sebab datangnya rezeki itu dengan cara apa.
    38 min
  • Khutbah Jumat: Ramadhan Madrasah Yang Agung
    Khutbah Jumat: Ramadhan Madrasah Yang Agung ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 27 Ramadhan 1443H / 29 April 2022 M.

    Khutbah Pertama Tentang Ramadhan Madrasah Yang Agung
    Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada kita sebuah madrasah yang agung, yaitu bulan Ramadhan ini. Yang apabila seseorang berpikir dan memikirkan dengan baik-baik tentang bulan Ramadhan yang telah kita lewati dan sekarang kita berada di penghujungnya, maka akan kita dapati banyak sekali manfaat yang bisa kita rasakan, terutama untuk hati kita dan keimanan kita. Karena sesungguhnya Ramadhan mendidik kita agar senantiasa bertakwa kepada Allah, senantiasa sabar di atas ketaatan kepada Allah, sabar untuk meninggalkan maksiat kepada Allah dan sabar menghadapi berbagai macam ujian; kelaparan, kehausan, demikian pula susahnyanya kita berpuasa di siang bulan Ramadhan.
    Dengan seperti itulah setelah Ramadhan kita bisa berusaha sabar diatas ketaatan kepada Allah. Setelah Ramadhan pun kita berusaha sabar untuk meninggalkan maksiat kepada Allah, setelah Ramadhan pun kita berusaha untuk sabar menghadapi ujian dan cobaan yang akan menimpa kita.
    Saudaraku.. Ramadhan mengajarkan kepada kita kejujuran dalam keimanan. Dimana kita benar-benar jujur bahwa kita berpuasa memang mengharapkan ridha Allah, bukan ridha manusia. Lihatlah ketika kita sendiri tidak ada orang yang melihat, kita pun tidak berani untuk berbuka, kita tidak berani untuk membatalkan puasa kita. Bukankah itu menunjukkan bahwa kita memang jujur karena Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika berpuasa?
    Maka demikian pula saudaraku.. Yang diharapkan setelah Ramadhan. Walaupun kita sendirian, tapi kita tidak berani untuk memaksiati Allah ‘Azza wa Jalla. Walaupun tidak ada manusia yang melihat, tapi kita yakin Allah yang melihat kita. Dan tidak ada yang tersembunyi bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan apa yang ada dalam dada-dada kita.
    Ramadhan mendidik kita agar kita menjadi orang yang terbiasa di atas kebaikan. Membiasakan dengan berbagai macam amalan-amalan shalih; membaca Al-Qur’an, bersedekah, berpuasa, shalat malam dan yang lainnya. Sehingga akhirnya kebiasaan-kebiasaan ini yang diharapkan setelah Ramadhan adalah sesuatu yang bisa senantiasa kita lakukan.
    Ramadhan mendidik kita untuk mempunyai jiwa dermawan. Agar kita memperhatikan orang-orang fakir miskin, agar kita mau berbagi dengan orang-orang susah. Karena sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menganjurkan umatnya untuk meningkatkan kedermawanan di bulan Ramadhan.
    Lihatlah betapa banyaknya -Alhamdulillah- kaum muslimin yang semangat untuk bersedekah di bulan Ramadhan mengharapkan ridha Allah ‘Azza wa Jalla dan mengharapkan pahala yang lebih besar disisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Sungguh ini pendidikan yang sangat luar biasa. Bagi siapapun yang mau berpikir dan berakal, maka akan tampaklah hikmah-hikmah yang agung daripada syariat bulan puasa Ramadhan ini.
    Dibandingkan dengan mudharat kelaparan sangat sedikit sekali. Justru kelaparan yang kita rasakan ini tiada lain adalah untuk maslahat yang lebih besar dari itu.
    Saudaraku.. Karena siapapun orang yang mempunyai akal pikiran ia akan dapatkan bahwa semua perintah Allah pasti maslahat, pasti mengandung hikmah yang agung dan besar. Dan semua yang Allah larang pasti itu menimbulkan mudharat baik cepat ataupun lambat. Namun itu hanyalah untuk orang-orang yang berfikir.
    Adapun orang-orang yang tidak berfikir dan hanya memikirkan syahwat saja, yang ia pikirkan hanya dunia saja, ia tidak akan merasakan manfaat-manfaat yang besar tersebut.
    15 min
  • Ramadhan Belum Selesai
    Ramadhan Belum Selesai adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah yang  disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 25 Ramadhan 1443H / 27 April 2022 M.

    Kajian Ilmiah Tentang Ramadhan Belum Selesai
    Pada kesempatan kali ini kita membahas sebuah tema “Ramadhan belum selesai”. Hal ini agar mengingatkan kepada kaum muslimin bahwasanya Ramadhan bulan yang penuh dengan berkah belum selesai. Baik itu berkah berupa ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala atau berkah berupa pembebasan dari api nerakanya Allah Subhanahu wa Ta’ala, atau berkah berupa dimudahkannya untuk beramal shalih dan ditempatkannya pahala di dalam bulan Ramadhan ini.
    Kita masih di tanggal 25 Ramadhan 1443 Hijriyah bagi yang mengikuti ketetapan pemerintah negara kesatuan Republik Indonesia. Kalau seandainya Ramadhan itu 29 hari, maka berarti dengan hari ini masih tersisa 5 hari.
    Dan agar kita tetap bersemangat/tidak kendor di hari-hari puncak keberkahan Ramadhan, maka saya ingin mengingatkan bahwasanya sebagaimana yang sudah kita ketahui bersama bahwa di 10 hari terakhir Bulan Ramadhan terdapat lailatul qadar. Sebagaimana hadits Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam riwayat Imam Bukhari dan Muslim:
    تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
    “Carilah lailatul qadar di 10 hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Dan ada 5 malam yang sudah lewat dari 10 malam terakhir dari bulan Ramadhan. Berarti Ramadhan belum selesai. Bahkan disebutkan bahwasanya lailatul qadar lebih diharapkan terjadinya di 7 malam terakhir. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, dari Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘Anhuma:
    أَنَّ رِجَالاً مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرُوا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْمَنَامِ فِي السَّبْعِ الأَوَاخِرِ
    “Bahwa ada beberapa sahabat Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diperlihatkan di dalam mimpi bahwa lailatul qadar terjadi pada 7 hari terakhir bulan Ramadhan.”
    Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengomentari mimpi mereka ini, beliau mengatakan:
    أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي السَّبْعِ الأَوَاخِرِ فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الأَوَاخِرِ
    “Aku melihat mimpi-mimpi kalian telah bersepakat (artinya setiap dari orang-orang tersebut bahwa lailatul qadar terjadi pada tujuh hari terakhir dari bulan Ramadhan), maka siapa saja yang bersungguh-sungguh mencari lailatul qadar, hendaklah dia bersungguh-sungguh di tujuh hari terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Juga berdasarkan hadits dari Abdurrahman bin ‘Asilah Ash-Shunabihi Radhiyallahu ‘Anhu, beliau ditanya: “Apakah engkau pernah mendengar sesuatu tentang lailatul qadar?” Beliau berkata:
     نعم، أخبرني بلال مؤذن النبي -صلى الله عليه وسلم-: أنها في السبع في العشر الأواخر
    “Iya, aku telah diberitahukan oleh Bilal muadzinnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: ‘Sesungguhnya dia terjadi pada tujuh hari terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)
    Ini yang mendasari bahwasanya tema kita “Ramadhan belum selesai”. Bahkan semakin mau berakhir bulan Ramadhan, maka semakin diharapkan terjadinya lailatul qadar.
    Zir bin Khubaits bercerita: “Aku pernah bertanya kepada Ubay bin Ka’ab: ‘Sesungguhnya saudaramu Abdullah bin Mas’ud berkata:
    من يقم الحول يصب ليلة القدر
    “Siapa yang bangun beribadah selama setahunan penuh, maka pasti dapat lailatul qadar.”
    Maka Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu ‘Anhu berkata: “Semoga Allah merahmati beliau! Sungguh yang diinginkan Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu adalah agar orang-orang tidak bersandar pada sesuat...
    1 hr 20 min
  • Mencari Lailatul Qadar
    Mencari Lailatul Qadar merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh: Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah pada Jum’at, 20 Ramadhan 1443 H / 22 April 2022 M.

    Ceramah Agama Islam Tentang Mencari Lailatul Qadar
    Alhamdulillah sekarang sudah tanggal 20 Ramadhan, kalau di Saudi tanggal 21 Ramadhan. Tersisa untuk kita 10 hari lagi. MasyaAllah 10 hari terakhir ini merupakan hari-hari yang sangat berharga. Hari-hari yang tentunya kita berharap 10 hari ini bisa memaksimalkan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Mencari Lailatul Qadar
    Lailatul qadar adalah malam yang sangat mulia sekali. Al-Qadar artinya takdir. Disebut lailatul qadar karena di malam itu Allah mentakdirkan takdir seluruh makhluk. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan demikian di dalam surat Ad-Dukhan:
    فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ
    “Di malam ditentukan semua urusan yang bijaksana.” (QS. Ad-Dukhan[44]: 4)
    Maka itulah disebut dengan lailatul qadar (malam takdir).
    Para ulama membagi takdir menjadi beberapa macam. Yang pertama adalah takdir yang sifatnya umum. Ini adalah yang Allah tuliskan dalam Lauhul Mahfudz.
    Ada lagi takdir seumur hidup. Ini yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tuliskan di dalam janin. Ketika dia seorang bayi berada di perut ibunya yang berumur bulan 120 hari.
    Kemudian ada lagi yang disebut dengan takdir tahunan. Takdir tahunan ini yang terjadi pada malam lailatul qadar.
    Dan ada lagi yang disebut dengan takdir setiap hari. Ini yang ditunjukkan oleh Allah dalam surah Ar-Rahman. Allah Ta’ala berfirman:
    كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ
    “Setiap harinya Allah berada dalam kesibukan.” (QS. Ar-Rahman[55]: 29)
    Artinya Allah memberikan rezeki ini, memuliakan ini, merendahkan ini.
    Inilah kenapa disebut dengan lailatul qadar. Yaitu karena dimalam itu Allah mentakdirkan takdir seluruh makhluk yang disebut dengan takdir sanawi (takdir setiap tahun). Dan takdir tahunan ini merupakan perincian dari takdir yang telah Allah tuliskan dalam Lauhul Mahfudz.
    Keistimewaan Lailatul Qadar
    Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan keistimewaan lailatul qadar dalam surah Al-Qadar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ‎﴿١﴾
    “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur’an di malam qadar.” (QS. Al-Qadr[97]: 1)
    وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ‎﴿٢﴾
    “Tahukah kalian apa itu lailatul qadar?” (QS. Al-Qadr[97]: 2)
    Lebih baik dari seribu bulan
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ ‎﴿٣﴾
    “Malam qadar itu lebih baik daripada 1.000 bulan.” (QS. Al-Qadr[97]: 3)
    Banyak ahli tafsir mengatakan artinya bahwa beramal shalih di malam itu sama dengan beramal shalih selama seribu bulan.
    Imam Malik meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diperlihatkan oleh Allah umur umat Islam. Lalu diperlihatkan oleh Allah orang-orang sebelum umat Islam. Dan ternyata umur Islam sangat pendek sekali dibandingkan dengan umur orang-orang sebelum umat Islam.
    Sehingga kesempatan untuk beramal shalihnya sedikit. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merasa sedih. Maka Allah pun kemudian memberikan hadiah lailatul qadar. Namun sayang riwayat ini dhaif.
    Akan tetapi Imam Asy-Syaukani mengatakan bahwa hadits ini mempunyai jalan-jalan lain yang menurut beliau itu bisa mengangkatnya.
    Jadi lailatul qadar ini adalah pemberian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang luar biasa. Dimana satu malam senilai 83 tahun. Beribadah dimalam itu sama dengan beribadah 1.000 bulan.
    Ini keistimewaan dan pemberian dari Allah untuk kita umat Islam yang Allah tidak berikan kepada umat-umat sebelum umat Islam.
    51 min
  • Khutbah Jumat: Bersungguh-Sungguh Di Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan
    Khutbah Jumat: Bersungguh-Sungguh Di Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 20 Ramadhan 1443 H / 22 April 2022 M.

    Khutbah Pertama Tentang Bersungguh-Sungguh Di Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan
    Sesungguhnya Al-Qur’an dan shiyam akan datang kelak pada hari kiamat memberikan syafaat kepada pelakunya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    الصيام والقران يشفعان لصاحبهما يوم القيامة
    “Al-Qur’an dan puasa memberikan syafaat untuk orang yang melakukannya nanti pada hari kiamat.”
    Berkatalah puasa: “Ya Rabb, dahulu di dunia aku telah mencegah ia dari makan, minum dan syahwatnya. Maka berikan syafaat bagiku untuknya.”
    Dan Al-Qur’an akan berkata: “Ya Rabb, aku telah mencegah ia tidur di waktu malam untuk membaca Al-Qur’an di dalam shalat malam. Maka berikan syafaat bagiku untuknya.”
    Subhanallah, saudaraku.. Sebuah keutamaan yang agung ketika kita melaksanakan shaum, demikian pula membaca Al-Qur’an.
    Ini bulan Ramadhan tersisa 10 hari lagi. Maka kita berusaha bersungguh-sungguh untuk bisa memaksimalkan ibadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Yaitu dengan berpuasa dengan sebaik-baiknya. Karena sesungguhnya puasa bukan hanya sebatas menahan diri daripada makan dan minum. Akan tetapi puasa itu hakikatnya mempuasakan anggota tubuh kita dari memaksiati Allah.
    Kita berusaha untuk lebih banyak fokus dengan Al-Qur’an dan mentadabburinya. Sehingga pada waktu itu kita bisa meraih malam yang sangat mulia, yaitu lailatul qadar yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan:
    لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
    “Lailatul qadar lebih baik daripada 1.000 bulan.” (QS. Al-Qadr[97]: 3)
    Banyak ahli tafsir mengatakan bahwa artinya beramal di malam itu lebih baik daripada beramal dalam 1.000 bulan.
    Subhanallah.. Maka sungguh bahagia orang-orang yang Allah jadikan beramal shalih di malam itu. Dan sungguh celaka orang-orang yang dimalam itu Allah jadikan ia lalai. Bahkan na’udzubillah malah berbuat maksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
    Saudaraku.. Kita ingin menjadi orang-orang yang senantiasa berharap untuk berbisnis dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bisnis yang tidak akan pernah ada rugi-ruginya. Yaitu kita beriman kepada Allah ‘Azza wa Jalla, kita senantiasa membaca ayat-ayat Allah, kita senantiasa mendirikan shalat, kita pun berinfak. Sebagaimana Allah mengatakan:
    إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ
    “Sesungguhnya orang yang senantiasa membaca ayat-ayat Allah, mendirikan shalat dan menginfakkan apa yang Kami berikan kepadanya berupa rezeki baik ia rahasia maupun terang-terangan, sesungguhnya ia orang-orang yang mengharapkan perniagaan yang tidak akan pernah ada rugi-ruginya.” (QS. Fatir[35]: 29)
    Berniaga dengan Allah modalnya hanya satu, saudaraku.. Yaitu dengan keimanan dan ketakwaan kita. Pengorbanan kita untuk sedikit memberikan waktu untuk Allah dalam beramal shalih. Kita membaca Al-Qur’an dan mentadabburinya, kita berusaha untuk mendirikan shalat (baik shalat lima waktu maupun shalat sunnahnya). Dan kita sedikit memberikan sebagian rezeki yang Allah berikan kepada kita. Kita infakkan kepada para fuqara, kita infakkan kepada orang-orang yang susah dan lemah. Maka dengan seperti itu kita sudah berbisnis dengan Allah ‘Azza wa Jalla.
    Maka ini di bulan Ramadhan, saudaraku.. Tersisa tinggal 10 hari lagi. Kita berusaha jangan menyia-nyiakan 10 hari lagi ini.
    16 min
  • Ilmu Yang Wajib Dipelajari
    Ilmu Yang Wajib Dipelajari adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 19 Ramadhan 1443 H / 21 April 2022 M.
    Kajian sebelumnya: Ilmu adalah Kewajiban dalam Syariat Islam

    Ceramah Agama Islam Tentang Ilmu Yang Wajib Dipelajari
    Kita masih melanjutkan pembahasan dari pertemuan yang lalu tentang makna hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang hadits ini saling menguatkan dari berbagai jalurnya yang banyak:
    طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
    “Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim.”
    Disini Imam Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala menyebutkan bahwa ilmu yang wajib untuk kita pelajari ada dua jenis, yaitu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah.
    Fardhu ‘ain yaitu yang wajib bagi setiap muslim, tidak boleh untuk seorang muslim tidak mengetahuinya. Ini ada beberapa macam. Pada pertemuan yang lalu sudah kita sebutkan macam yang pertama, yaitu ilmu yang berkenaan dengan prinsip-prinsip dasar iman. Hal-hal yang disebutkan dalam rukun-rukun iman wajib untuk kita memahaminya sesuai dengan aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah.
    Adapun macam yang kedua adalah ilmu yang berhubungan dengan syariat-syariat Islam yang wajib, di antaranya yaitu yang dibutuhkan oleh seorang hamba agar dia bisa menjalankannya dengan benar.
    Perkara-perkara yang wajib dalam syariat Islam, maka ini wajib bagi seorang hamba untuk mempelajarinya karena ini menjadikan dia bisa mengamalkan hal tersebut dengan benar sesuai dengan petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan petunjuk RasulNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka ini perkara yang wajib untuk dipelajari.
    Contohnya seperti ilmu tentang wudhu. Kita mengetahui bagaimana sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam berwudhu, bahkan kita mempelajari cara prakteknya dari orang yang berilmu.
    Kemudian berikutnya ilmu tentang tata cara shalat yang benar. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
    “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari)
    Tentu “melihat” ini maksudnya kita mengikuti seperti yang dipraktekkan oleh para sahabat Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhum Ajma’in yang melihat langsung tata cara shalat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Inilah shalat yang dengan mengikutinya berarti kita telah melaksanakan perintah Allah untuk menunaikan shalat.
    Juga tentang tata cara berpuasa yang benar, sesuai dengan petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya. Hal ini agar puasa kita tidak sia-sia, agar tidak masuk di dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang shahih:
    رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ
    “Berapa banyak orang yang berpuasa tapi bagian yang didapatkan dari puasanya hanya lapar dan dahaga semata-mata.” (HR. An-Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad)
    Juga tentang tata cara berhaji yang benar sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ
    “Ambillah dariku tata cara manasik haji dan umrah yang kalian lakukan.” (HR. Muslim)
    Kemudian membayar zakat. Lalu hal-hal yang berhubungan dengannya,
    50 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah