Ancaman Dari Meninggalkan Sunnah dan Melakukan Bid’ah merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah كتاب صحيح الترغيب والترهيب (kitab Shahih At-Targhib wa At-Tarhib) yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Rabu, 19 Shafar 1442 H / 07 Oktober 2020 M.
Download kajian sebelumnya: Bersungguh-Sungguh Untuk Menaati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Kajian Hadits Tentang Ancaman Dari Meninggalkan Sunnah dan Melakukan Bid’ah
Hadits ke-49
Kita masuk hadits ke-49, membawakan hadits ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:
من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد
“Barangsiapa mengada-ada di dalam urusan kami ini apa-apa yang bukan termasuk darinya, maka ia tertolak.” (HR. Bukhari Muslim)
Abu Dawud meriwayatkan dengan lafadz:
من صنع أمرا على غير أمرنا فهو رد
“Siapa yang melakukan suatu perkara yang tidak sesuai dengan perintah kami, maka ia tertolak.” (HR. Abu Dawud)
Juga dikeluarkan oleh Ibnu Majah dalam riwayat Muslim dengan lafadz:
من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد
“Siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada diatasnya perintah kami, maka ia tertolak.” (HR. Ibnu Majah)
Hadits ini termasuk hadits yang agung kata Imam An-Nawawi. Dimana hadits ini membantah segala macam sesuatu yang dibuat-buat dalam agama dan diada-adakan. Karena agama kita ini sudah sempurna, agama kita tidak membutuhkan tambahan lagi. Semua ibadah yang mendekatkan ke surga sudah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan semua perkara yang bisa menjerumuskan ke dalam api neraka juga sudah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Lihat juga: Hadits Arbain Ke 5 – Hadits Tentang Bid’ah
Maka dari itu kewajiban kita adalah betul-betul ittiba’, mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sebagaimana dikatakan oleh Abdullah bin Mas’ud, kata beliau:
اتَّبِعوا ولا تبتدِعوا؛ فقد كُفِيتُم
“Ikuti saja, dan jangan berbuat bid’ah, karena kalian sudah dicukupi.”
Dicukupi oleh siapa? Oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Jadi kewajiban kita adalah ikuti saja, jangan sibuk bagaimana membuat cara dzikir tertentu, bagaimana membuat suatu ibadah tertentu, jangan. Bahkan setiap ibadah-ibadah yang ada wajib kita periksa lagi apakah ada contohnya di Rasulullah? Apakah ada asalnya dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam atau tidak? Karena setiap ibadah yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, itu adalah ibadah yang tertolak dan ditolak oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena ingat saudaraku, kita beribadah kepada Allah bukan sesuai dengan selera-selera kita, bukan sesuai dengan kepuasan batin kita.
Kita beribadah kepada Allah harus sesuai dengan apa yang Allah cintai dan ridhai. Yang Allah cintai dan ridhai itu yang disampaikan oleh Allah melalui Jibril kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, baik dari sisi tata caranya, sifatnya, tempatnya, waktunya, demikian pula jumlahnya, jenisnya, itu semua harus mengikuti tata cara Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bukan kemudian kita malah membuat-buat sendiri. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa S...