Mengenal Ruh merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Al-Irsyad Ila Shahihil I’tiqad yang disampaikan oleh Ustadz Abu Haidar As-Sundawy. Kajian ini disampaikan pada Jum’at, 23 Al-Muharram 1442 H / 11 September 2020 M.
Download kajian sebelumnya: Kematian Sebuah Kepastian
Kajian Tentang Mengenal Ruh
Kemarin kita sudah membahas kematian, berpisahnya ruh dari jasad. Dan kematian adalah awal menuju gerbang akhirat. Makanya kematian dibahas oleh para ulama di dalam Bab beriman kepada hari akhir.
Berbicara tentang kematian, kita tidak bisa lepas dari berbicara tentang ruh. Karena mati itu -seperti yang sudah kita jelaskan- memenuhi empat kriteria, yaitu:
* Keluarnya ruh dari badan.
* Terputusnya hubungan ruh dengan badan, tidak ada hubungan. Kalau masih ada hubungan, berati belum mati, mungkin tidur, mungkin pingsan atau yang sejenisnya,
* Berubah, kondisi badan berubah dan ruh juga berubah. Badan sehari dua hari busuk, bau, kaku, tidak bisa lagi digerakkan.
* Berpindah dari satu alam ke alam lain, dari alam dunia ke alam barzakh.
Jadi, ruh adalah sesuatu yang menempati badan kita selama kita masih hidup.
Apakah itu ruh?
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah dalam Majmu’ Al-Fatawa:
ومذهب الصحابة والتابعين لهم بإحسان وسائر سلف الأمة وأئمة السنة أن الروح عين قائمة بنفسها، تفارق البدن، وتنعم، وتعذب، ليست هي البدن، ولا جزء من أجزائه
“Madzhab para sahabat dan para tabi’in yang mengikuti mereka dengan kebaikan, madzhab seluruh ulama-ulama salaful ummah dan imam-imam Ahlus Sunnah menyatakan bahwa ruh itu materi yang berdiri sendiri, terpisah dari badan, dia juga mengalami nikmat, bahagia, ataupun menderita. Ruh ini ini bukanlah badan dan bukan salah satu bagian dari badan.”
Hal ini ditekankan juga oleh Imam Ahmad dan imam-imam lainnya di kalangan ulama-ulama Ahlus Sunnah dan sahabat-sahabat Imam Ahmad, tidak ada seorangpun yang ikhtilaf di kalangan mereka tentang hal itu.
Dalam bab lain, berkata juga Syaikhul Islam:
والصواب أنها ليست مركبة من الجواهر الفردة، ولا من المادة والصورة، ولست من جنس الأجسام المتميزات المشهودة المعهودة…
“Yang benar, bahwa ruh itu tidaklah tersusun dari beberapa materi-materi yang terpisah-pisah yang bercampur. Bukan termasuk jenis jasad yang tersaksikan, tapi memiliki beberapa sifat yan gumumnya dimiliki oleh makhluk. Dia naik, dia juga turun, ruh juga keluar dari badan. Sebagaimana diterangkan hal itu di dalam nash-nash hadits yang shahih.
Kalau ada yang bertanya: Dimana tempat ruh di dalam jasad?
Maka jawabannya adalah ruh tidak menempati tempat khusus di dalam jasad, tapi ruh ini menjalar atau mengalir di seluruh jasad sebagaimana mengalir atau menjalarnya kehidupan di dalam jasad memenuhi seluruh bagian dari jasad. Karena yang namanya hidup disyariatkan dengan adanya ruh. Selama ruh itu ada dalam jasad, selama itu pula kehidupan ada di dalam jasad itu. Dan ketika ruh ini berpisah dari jasad, maka tidak ada lagi kehidupan di dalam jasad tersebut.”
Itulah penjelasan yang memang ringkas karena informasi tentang ruh dari Allah ‘Azza wa Jalla juga amat sangat sedikit. Sebagaimana firman Allah:
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا ﴿٨٥﴾
“Mereka bertanya kepada kamu tentang ruh. Jawab: ‘Ruh itu termasuk urusan Rabbku dan kalian tidak diberikan ilmu tentang ruh ini kecuali hanya sedikit saja.’” (QS. Al-Isra'[17]: 85)
Tapi yang jelas ruh itu adalah makhluk.