Ana Uhibbuka Fillah merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. dalam pembahasan Kajian kitab Adabul Mufrad karya Imam Bukhari Rahimahullah. Kajian ini disampaikan pada 16 Rabbi’ul Tsani 1440 H / 24 Desember 2018 M.
Download juga kajian sebelumnya: Menjenguk Orang Yang Sakit Mata – Kitab Al-Adab Al-Mufrad
Program Kajian Kitab Adabul Mufrad - Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. di Radio Rodja
Simak program ini di Radio Rodja dan Rodja TV setiap:Senin malam, 20:00-21:30 WIB
Status program Kajian Kitab Adabul Mufrad: AKTIF
Bab 248 – Ana Uhibbuka Fillah – Apabila seseorang mencintai saudaranya hendaklah dia memberitahukan.
Bicara cinta, cinta ini ada cinta syahwat, lelaki cinta kepada wanita, manusia cinta kepada harta, cinta kepada kedudukan. Tapi ada cinta yang karena Allah Jalla Jalaluhu. Kita mencintai seseorang karena Allah mencintai dia, karena dia mencintai Allah, karena dia beribadah kepada Allah, kita mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kita mencintai istri-istri Nabi, kita mencintai Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali. Kita tidak pernah jumpa dengan mereka, tapi ada cinta di hati kita kepada mereka. Sehingga kita ingin meneliti dan mengikuti jalan mereka.
Al-Imam Bukhari menyebutkan beberapa hadits berkaitan dengan cinta kepada saudara kita. Ada Muslim, tetangga kita. Kita lihat dia taat, Masya Allah suka mengaji, suka shalat malam, suka bersedekah. Kenapa kita tidak cinta dengan dia? Seharusnya kita mencintai dia.
Sekarang ini, kebanyakan hubungan kita dibangun diatas kepentingan, bukan cinta. Apalagi ditahun politik, seseorang membangun cinta dan loyalitasnya diatas partai. Jika pilihannya sama, berarti dia saudaraku. Jika pilihannya berbeda, afwan selamat tinggal. Bahkan kadang kala ada satu saudara dia yang taat tapi dari partai lain, bukan dari partai dia, dia benci. Karena berbeda warna bajunya. Allah mengatakan:
الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ ﴿٦٧﴾
“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf[43]: 68)
Yang cintanya karena takwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bukan karena partai, bukan karena harta, bukan karena satu tim. Cinta karena sama-sama pemain bola lalu benci dengan tim yang lainnya padahal lebih taat. Hati-hati, jangan sembarangan meletakkan cinta.
Imam Bukhari mengatakan:
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ : حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ ، عَنْ ثَوْرٍ قَالَ : حَدَّثَنِي حَبِيبُ بْنُ عُبَيْدٍ ، عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِي كَرِبَ ، وَكَانَ قَدْ أَدْرَكَهُ ، قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا أَحَبَّ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُعْلِمْهُ أَنَّهُ أَحَبَّهُ
“Musaddad menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami dari Tsaur, ia berkata: Habib bin ‘Ubaid menceritakan kepadaku: Dari al-Miqdam bin Ma’dikarib ia menjumpainya, ia berkata, “Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Jika salah seorang diantara kalian mencintai saudaranya hendaklah ia memberitahukan kepada saudaranya itu bahwa ia mencintainya'”
Lihatlah, agama ini diambil seperti ini, bukan katanya. Kita beragama bukan sesuai dengan nafsu kita. Malah nafsu kita harus ikut syariat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Karena ketika kita menyinggung masalah mengucapkan selamat natal yang diperdebatkan karena sebagian membolehkan dan sebagian melarangnya. Jangan ikuti nafsu kita. Jangan cari maslahat untuk diri sendiri, kepentingan.