Pengertian Khauf, Raja’ dan Mahabbah kepada Allah merupakan rekaman ceramah agama dan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Haidar As-Sundawy dalam pembahasan Kitab Al-Irsyad Ila Shahihil I’tiqad karya Syaikh Shalih Fauzan Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada 18 Jumadal Awwal 1440 H / 25 Januari 2019 M.
Download mp3 kajian sebelumnya: Jenis-Jenis Syirik Besar
Kajian Tentang Pengertian Khauf, Raja’ dan Mahabbah kepada Allah – Kitab Al-Irsyad Ila Shahihil I’tiqad
Pertemuan yang lalu kita sudah berbicara tentang tiga jenis khauf. Syirik dibidang khauf;
Pertama, khauf (rasa takut) sirri (yang tersembunyi). Contohnya takut kepada berhala yang disembah oleh manusia. Kalau-kalau si berhala itu punya kekuatan, kemampuan, memberi mudzarat kepada kita kalau kita melarang orang menyembah mereka. Baik berhala itu patung, pohon, kuburan, arwah ruh yang sudah mati dan seterusnya. Jika ada rasa takut, maka itu khauf sirri dan itu syirik besar. Tidak boleh, itu sudah kita terangkan.
Kedua, rasa takut kepada orang yang menyebabkan kita terhalang melakukan kewajiban atau terdorong melakukan hal yang haram karena takutnya kepada orang. Ini juga haram, tapi tidak sampai kepada syirik besar. Syirik kecil tapi dengan dosa yang besar.
Ketiga, khauf tabi’i yang alami, rasa takut yang normal, yang manusiawi. Sebagai contoh takutnya kepada ular berbisa, kepada binatang buas, kepada listrik yang bila dipegang bisa nyetrum menyebabkan kematian, termasuk kepada orang jahat yang bisa menganiaya kita. Seperti takutnya Nabi Musa kepada Fir’aun dan tentaranya setelah membunuh. Seperti takutnya Nabi Ibrahim kepada tamu asing yang tak dikenal ketika disuguhi daging yang enak, yang lezat, ternyata tidak mau memakannya lalu curiga dan rasa takut muncul. Rasa takut tabi’i dialami juga oleh para Nabi, Maka itu tidak apa-apa.
Wajib Memiliki Rasa Takut kepada Allah
Rasa takut kita kepada Allah adalah wajib. Takut inilah yang menjadi bukti keimanan seseorang.
فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
“Jangan kalian takut kepada mereka, takutlah kepada Allah kalau kalian orang Mukmin.” (QS. Ali-Imran[3]: 175)
Takutnya kepada Allah sampai membuat hati ini bergetar ketika nama Allah disebut. Itu rasa takut yang dimiliki seorang mukmin yang hakiki.
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّـهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka.” (QS. Al-Anfal[8]: 2)
Mananya takut. Bagaimana tidak? Allah itu Maha Pencemburu, Allah itu Maha Pembalas.
إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنتَقِمُونَ ﴿٢٢﴾
“Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.” (QS. As-Sajdah[32]: 22)
Dan sekali membalas dengan adzab yang luar biasa dahsyat.
أَنَّ اللَّـهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“bahwa sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya” (QS. Al-Maidah[5]: 98)
Khauf, Raja’ dan Mahabbah
Wajib memiliki rasa takut. Tapi takut ini wajib disertai dengan dua sifat lain. Kalau tidak disertai dengan dua sifat ini maka berbahaya. Apakah dua sifat lain yang harus disertakan selain takut? Yaitu raja’ (berharap) dan mahabbah (cinta).
Jadi tiga hal ini harus dimiliki secara bersamaan ketika beribadah kepada Allah. Khaufnya ada, mahabbahnya ada, raja’nya juga ada. Kumpulkan, padukan ketiga rasa itu ketika kita beribadah. Apapun ibadahnya.
Shalat umpamanya, khaufnya ada. Takut shalat kita ini ditolak oleh Allah, takut shalat ini tidak diterima, takut shalat ini malah mengundang adzab karena...