Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 140 – 142 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan RodjaTV pada Selasa, 1 Jumadal Awwal 1440 H / 08 Januari 2019 M.
Download juga kajian sebelumnya: Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 138 – 140
Kajian Tafsir Al-Quran: Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 140 – 142
Allah Ta’ala berfirman membantah orang-orang Yahudi dan Nasrani:
أَمْ تَقُولُونَ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطَ كَانُوا هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ ۗ قُلْ أَأَنتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللَّـهُ ۗ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن كَتَمَ شَهَادَةً عِندَهُ مِنَ اللَّـهِ ۗ وَمَا اللَّـهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ ﴿١٤٠﴾
“ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani?” Katakanlah: “Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih dzalim dari pada orang yang menyembunyikan persaksian dari Allah yang ada padanya?” Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah[2]: 140)
Disini Allah mendebat atau membantah orang-orang Yahudi dan Nasrani yang mengatakan bahwa yang masuk surga adalah Yahudi dan Nasrani. Maka Allah mengatakan, “Apakah kalian yang lebih tahu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala? Dan siapakah yang lebih dzalim dari orang yang menyembunyikan persaksian disisinya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala?”
Artinya mereka sendiri bersaksi bahwa Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Nabi Ishak, mereka bukan sama sekali Yahudi dan Nasrani. Kalau mereka bukan Yahudi bukan Nasrani, lantas mereka siapa? Mereka diatas Islam. Karena Islam adalah agama para Nabi. Semua Nabi, agama mereka satu. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
وَالأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلاَّتٍ ، أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى ، وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ
“Para Nabi itu adalah saudara seayah walau ibu mereka berlainan, dan agama mereka adalah satu.” (HR. Bukhari)
Lalu Allah berfirman dalam ayat ke-141:
تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ ۖ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُم مَّا كَسَبْتُمْ ۖ وَلَا تُسْأَلُونَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ ﴿١٤١﴾
“Itu adalah umat yang telah lalu; baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan; dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Baqarah[2]: 141)
Kata Syaikh Utsaimin, dari ayat ini kita ambil beberapa faidah:
Pertama, ini membantah klaim orang-orang Yahudi dan Nasrani yang menyatakan bahwa Nabi Ibarahim, Nabi Ismail, Nabi Ishaq, Nabi Ya’qub, katanya Yahudi atau nasrani. Maka dibantah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bagaimana bisa mereka Yahudi atau Nasrani sementara Yahudi baru muncul belakangan jauh dari itu?
Saya ingat sebuah perdebatan Ahmad Deedat, seorang kristologi yang luar biasa dari Afrika Selatan. Dia diundang berdebat dengan Syiah. Dia terlambat datang dan ketika datang dia membawa sandal. “Kenapa kamu bawa sendal?”, “Sengaja saya membawanya karena dizaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam itu, orang Syiah suka mengambil sendal.”
Kata mereka, “Mana ada dizaman Rasulullah Syiah?”, Ahmad Deedat menjawab “Kalau dizaman Rasulullah tidak ada Syiah, berarti itu dari mana?” Perdebatan selesai dan hadirin langsung bubar.
Artinya, sebetulnya cara seperti ini sudah dicontohkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan beliau mengambil dari cara Al-Qur’an dalam membantah. Cara Al-Qur’an dalam membantu itu luar biasa.