Berdo’a kepada Allah, Menjauhi Syubhat dan Berlemah Lembut adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam dengan pembahasan Kitab Kaifa Takunu Miftahan Lil Khoir (Bagaimana Menjadi Pembuka Pintu Kebaikan). Pembahasan ini disampaikan oleh: Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada 16 Rabbi’ul Tsani 1440 H / 24 Desember 2018 M.
Penerjemah: Ustadz Ariful Bahri, M.A.
Download mp3 kajian sebelumnya: Perhatian Terhadap Kewajiban-Kewajiban Islam
Kajian Tentang Berdo’a kepada Allah, Menjauhi Syubhat dan Berlemah Lembut
Sekarang kita akan menyambung pembahasan kita bagaimana kita menjadi pembuka kebaikan. Adapun perkara yang ke-6 supaya kita menjadi pembuka kebaikan bagi orang lain, yaitu adalah:
6. Berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
Do’a adalah kunci dari pada seluruh kebaikan di dunia dan di akhirat. Oleh karenanya ada salah seorang diantara Salaf, mereka mengatakan:
“Apakah diantara kebaikan-kebaikan yang paling baik? Kemudian saya mendapatkan pintu kebaikan tersebut sangat banyak. Shalat adalah kebaikan, puasa juga kebaikan, haji juga kebaikan, dan pintu kebaikan itu sangat banyak. Kemudian saya menjumpai bahwa seluruh kebaikan tersebut, semuanya berada ditangan Allah subhanahu wa ta’ala. Maka seketika saya menjadi yakin bahwa do’a merupakan kunci kebaikan dan kunci dari seluruh kebaikan tersebut.”
Makanya seorang muslim, mereka tidaklah bisa melaksanakan ibadah shalat kecuali kalau Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kepada mereka pertolongan, mereka tidak bisa haji, mereka juga tidak bisa berpuasa, mereka juga tidak bisa bershodaqoh, dan juga mereka tidak bisa berbakti kepada kedua orang tuanya, dan mereka juga tidak bisa melakukan kebaikan-kebaikan kecuali atas pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh karenanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan ketika berada diperang Ahzab:
وَاللَّهِ لَوْلَا اللَّهُ مَا اهْتَدَيْنَا وَلَا صُمْنَا وَلَا صَلَّيْنَا
“Demi Allah, kalaulah Allah tidak memberi kami petunjuk, kami tidak puasa dan tidak pula shalat” (HR. Bukhari)
Allah subhanahu wa ta’ala mengatakan didalam firmanNya:
…وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّـهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَـٰكِنَّ اللَّـهَ يُزَكِّي مَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّـهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ﴿٢١﴾
“…Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur[24]: 21)
Dan juga Allah subhanahu wa ta’ala mengatakan didalam ayat yang lain:
…وَلَـٰكِنَّ اللَّـهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ ۚ أُولَـٰئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ ﴿٧﴾ فَضْلًا مِّنَ اللَّـهِ وَنِعْمَةً ۚ …
“…Allah menjadikan kamu “cinta” kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,” sebagai karunia dan nikmat dari Allah. … (QS. Al-Hujurat[49]: 7)
Apabila kita menginginkan untuk diri kita ini menjadi pembuka-pembuka pintu kebaikan dan menjadi orang yang diberikan karunia Allah subhanahu wa ta’ala dan menjadi orang yang berilmu, yang cemerlang, yang cerdas dan menjadi orang yang diberikan kelebihan didalam urusan-urusan yang besar,