
Sign up to save your podcasts
Or


Tadi malam, timnas sepakbola Indonesia menghadapi tuan rumah Bahrain dalam pertandingan lanjutan penyisihan babak ketiga piala dunia zona Asia. Laga yang berakhir dengan skor imbang 2-2 ini memperoleh perhatian begitu luas dan emosional di Tanah Air. Demam menuju piala dunia, kira-kira begitulah suasana kebatinan masyarakat Indonesia. Informasi sekecil apa pun terkait perhelatan itu, baik tentang pemain, kontroversi kepemimpinan wasit ataupun hal lain akan disambar jadi berita yang tersebar luas dengan partisipasi penonton, like, dan comment yang banyak.
Jika dibaca dari sisi lain maka pertandingan ini mencerminkan pertandingan dua negara yang memiliki kesamaan dan perbedaan dalam banyak hal termasuk posisi dan sikapnya terhadap isu-isu besar di Timur Tengah. Bahrain adalah negara mikro yang memiliki wilayah sedikit lebih luas daripada Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta atau lebih kecil dari Kabupaten Trenggalek di Jawa Timur. Sedangkan Indonesia memiliki wilayah yang begitu luas hampir mencapai dua juta kilometer persegi. Namun, kedua negara sama-sama negara kepulauan. Perbedaannya, kepulauan Bahrain hampir setengahnya adalah pulau buatan sedangkan kepulauan di Indonesia seluruhnya atau hampir seluruhnya pulau natural.
Kendati ukurannya mikro, Bahrain seperti negara Arab Teluk lain, sangat kaya terutama dari hasil minyak dan gas. Mereka adalah negara investor yang jadi rebutan kerja sama negara-negara di dunia meskipun masih kalah mentereng dari Qatar dan Uni Emirat Arab. Penghasilan lain yang khas negeri ini adalah mutiara yang konon punya kualitas tinggi dan tentu pariwisata pantai. Negara-negara Arab Teluk terdiri dari enam negara yaitu Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab dan Kesultanan Oman yang keenamnya tergabung dalam organisasi regional GCC.
Sebagaimana negara Arab Teluk yang lain, Bahrain merupakan negara monarki. Negara-negara ini selamat dari amuk Arab Spring meskipun Bahrain sempat mengalami tekanan sangat besar dari gelombang itu sekitar satu dekade lalu. Dibandingkan negara Arab Teluk lain, kehidupan masyarakat Bahrain cenderung terbuka dan lebih permisif. Ini bisa dipahami sebab masyarakat Bahrain pada dasarnya adalah masyarakat pelabuhan, persinggahan dan lalu lintas manusia dari beragam kebudayaan. Mereka juga jadi rebutan kekuatan-kekuatan politik besar dari masa ke masa.
Sekadar informasi sederhana, mayoritas penduduk Bahrain adalah Syiah yang terdiri dari suku Baharna dan Ajam sementara penguasanya berasal dari golongan Sunni yang minoritas yang terdiri dari Arab dan Huwala. Ini berbalikan dengan kondisi Suriah yang penguasanya minoritas Syiah Alawiyah sementara penduduknya mayoritas Sunni. Fakta itu jadi tekanan tambahan terhadap penguasa Bahrain di tengah gerakan protes yang melanda kawasan pada dekade lalu.
Catatan lain dari negeri ini dan perbandingannya dengan Indonesia adalah keputusan penguasa Bahrain untuk melakukan normalisasi dengan negara Israel. Sedangkan Indonesia dikenal sebagai pendukung militan Palestina dan lantang terhadap penjajahan Zionis Israel. Pada 15 September 2020, Menlu Abdullatif bin Rasyid al-Zayyan atas nama kerajaan Bahrain menandatangani perjanjian Abraham dengan Israel dan disaksikan oleh Presiden Trump di Gedung Putih. Ada tiga negara Arab lain yang sudah melakukan normalisasi dengan Israel, yaitu Uni Emirat Arab, Sudan, dan Maroko.
Kesibukan dunia memang sering membuat seseorang mengalami hal seperti itu. Nabi Muhammad ﷺ sesungguhnya telah memberikan resep mujarab agar situasi semacam itu tidak berkembang ke hal-hal negatif yang tak diinginkan, yakni dengan mengerjakan shalat. Nabi Muhammad ﷺ, selain sebagai rasul, beliau juga adalah manusia biasa seperti halnya yang lain. Beliau juga melakukan aktivitas keduniaan, seperti berdagang atau berusaha mencari nafkah untuk dirinya dan keluarganya. Sebagaimana manusia lainnya, ketika intensitas aktivitas keduniaan beliau makin meningkat, beliau juga kerap merasa lelah dan ingin beristirahat menenangkan pikiran dan jiwanya agar tetap terkontrol dan kondusif. Dalam hadis disebutkan, jika Nabi ﷺ tertimpa suatu masalah yang berat maka beliau segera mengerjakan shalat.
Nabi Muhammad ﷺ disebutkan juga kerap kali meminta sahabatnya, Bilal bin Rabah, untuk mengumandangkan azan shalat ketika beliau merasa telah terlalu lelah, "Wahai Bilal, berdirilah, lantunkan azan dan istirahatkanlah kita dengan shalat." (HR Abu Dawud). Dalam hadis lain, Nabi Muhammadﷺ bersabda, "Sesungguhnya shalat dijadikan untukku sebagai penenang hati." (HR an-Nasa'i).
Shalat dapat menenangkan hati, pikiran, dan jiwa yang gundah juga fisik yang letih akibat tenaga terlalu banyak diforsir. Sebab, dalam shalat, seseorang sejatinya tengah menghadap Allah SWT, meninggalkan sejenak kesibukan duniawi untuk memberikan kesempatan bagi rohani atau jiwanya untuk berkomunikasi dengan-Nya. Shalat adalah ibadah yang berisi zikir (mengingat Allah) dan doa kepada Allah SWT. Dalam Alquran, zikir disebutkan dapat membuat hati menjadi tenang, "Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. ar-Ra'd, ayat 28).
Menilik profil hingga komposisi anggota DPR, DPD, dan MPR RI untuk masa jabatan 2024-2029 yang baru pekan lalu dilantik, lebih dari 50 persen atau mayoritasnya adalah anggota dewan lama (petahana) yang terlibat dalam penyusunan sejumlah UU kontroversial. Sejumlah anggota DPR terpilih diketahui memiliki hubungan keluarga atau kekerabatan dengan pejabat publik, elite politik, hingga sesama anggota DPR terpilih lainnya. Hal lain yang tidak kalah mengundang polemik adalah sejumlah anggota DPR terpilih karena ada caleg terpilih lainnya yang mengundurkan diri, tapi penggantinya merupakan orang dekat atau kerabat dari ketua umum parpol.
Fenomena ini tentu harus kita kritisi. Pasalnya, indikasi politik dinasti di Senayan terus meningkat. Menurut hasil riset Litbang Kompas, ada 220 anggota DPR RI periode 2024—2029 terindikasi mempunyai ikatan kekerabatan dengan pejabat publik atau tokoh politik nasional. Jika ditotal dari seluruh jumlah anggota MPR 2024—2029 terpilih (termasuk DPD), ada 285 atau 38,9% caleg dan senator terpilih yang terindikasi memiliki kekerabatan politik. Ini mengindikasikan politik dinasti masih kental melekat pada DPR periode sekarang. Suara rakyat nyata-nyata sekadar penggembira pesta demokrasi. Rakyat tidak dianggap penting, sedangkan yang dianggap penting adalah para penguasa pemilik hajatan politik demokrasi.
Realitas kekerabatan di kalangan anggota dewan tentu sebuah preseden buruk. Politik dinasti di antara wakil rakyat akan berdampak pada legitimasi kekuasaan dan kepentingan parpol semata. Mereka bisa saja tidak memiliki pengetahuan sama sekali terhadap skema kerja DPR. Dampaknya, anggota dewan seperti ini hanya akan mengandalkan kehadirannya untuk sekadar menggugurkan kewajiban tugas. Mereka tidak memberikan partisipasi dan masukan dalam menyampaikan aspirasi rakyat. Lebih buruk lagi, kehadiran dalam rapat-rapat anggota dewan pun belum tentu dapat mereka penuhi dengan disiplin.
Ini tentang gubernur Jakarta tempo dulu. Dulu kota ini pernah dipimpin oleh seorang Muslim negarawan. Namanya Sjamsuridjal. Pria kelahiran Karanganyar 11 Oktober 1903 ini memiliki segudang pengalaman. Semasa mudanya, ia adalah seorang ketua Jong Islamieten Bond (JIB), sebuah organisasi pemuda Islam yang kebanyakan anggotanya didikan Barat, tapi hidup sebagai pejuang Islam. Kecintaan Sjamsuridjal pada Islam membuatnya tergerak untuk mengadakan pelajaran Islam di Jong Java. Namun sayang upayanya kandas. Ditengah kekecewaan, Sjamsuridjal bertemu dengan H. Agus Salim.
Sebagaimana yang dikisahkan oleh H. Agus Salim: “Pimpinan kelompok pemuda beragama Islam ini, Sjamsuridjal, sangat sedih dan ketika pulang malam dari kongres itu aku mencoba menghiburnya dan berkata; jangan sedih, mari kita segera bentuk persatuan pemuda Islam dan kita akan menerbitkan surat kabar Islam berjudul Het Licht (Sinar). Orang-orang itu telah mencoba mematikan sinar Ilahi tetapi Tuhan tak akan membiarkannya! Maka disudut jalan itu, pada malam tahun baru jam 24.00, 1 Januari 1925 dibentuklah Jong Islamieten Bond (JIB).”
JIB kemudian memang menjadi organisasi yang berpengaruh luas. Selain menerbitkan majalah Het Licht, JIB berperan sebagai poros dari pergerakan siswa Muslim didikan Belanda yang memiliki ghirah (semangat) luar biasa terhadap Islam. Mulai dari membentuk forum-forum diskusi, membangun sekolah di berbagai wilayah Indonesia, hingga turut serta dalam penolakan Zionisme yang dibawa Belanda.
Selain JIB, Sjamsuridjal juga pernah aktif sebagai anggota Pengurus Besar Partai Sarikat Islam Indonesia (PSII) tahun 1929, dan menjadi anggota Dewan Pimpinan Masyumi tahun 1950. Dalam pemerintahan, Sjamsuridjal pernah mengemban amanah sebagai Wali Kota Bandung dan Surakarta. Ia dipilih sebagai Wali Kota Bandung karena keberhasilannya mengalahkan penjajah Jepang. Selain melawan penjajah Jepang, yang paling fenomenal adalah ketika Sjamsuridjal melawan kebiadaban tentara Sekutu. Bersama Komandan TRI, Divisi III, dan Kolonel A.H. Nasution, setelah mengadakan pertemuan dalam rangka strategi mengusir Sekutu. Hasilnya sepakat untuk mengadakan pengungsian rakyat ke luar kota dan Bandung akan dibumihanguskan. Langit Bandung memerah dan menjadi lautan api.
“Tajuk Rasil”
Senin, 4 Rabiul Akhir 1446 H/ 7 Oktober 2024
*Setahun Genosida di Gaza, Standar Ganda Amerika Serikat Melindungi yang Bersalah*
_Artikel Republika_
7 Oktober 2023 merupakan hari di mana Israel mulai melakukan genosida di Jalur Gaza setelah kelompok Hamas melakukan serangan lintas batas sebagai salah satu bentuk perjuangan Palestina melawan pendudukan ilegal Israel yang sudah dilakukan selama puluhan tahun. Menurut Israel, serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 itu menewaskan 1.139 warga Israel dan sekitar 250 orang dijadikan sandera.
Dengan memakai dalih "berhak membela diri", Israel melancarkan serangan balasan yang terus dilakukan hingga satu tahun kemudian, yang sudah membuat lebih dari 41.800 warga Palestina syahid dan lebih dari 96.800 lainnya terluka. Tidak berhenti di situ, pada 23 September, Israel mulai melakukan serangan udara besar-besaran ke Lebanon dan pada 1 Oktober Israel melaksanakan serangan darat ke Lebanon, dengan dalih klasik, untuk "membela diri" dari serangan Hizbullah. Hingga saat ini, jumlah korban tewas serangan Israel di Lebanon sudah mencapai 2.011 orang, sekitar 9.500 lainnya terluka serta 1,2 juta warga mengungsi.
Sudah dua negara yang diserang Israel dengan memakai alasan "membela diri" dan banyak korban warga sipil yang berjatuhan karena alasan itu. Namun, tidak ada sanksi, seperti larangan ekspor dan impor, pembekuan aset, yang dijatuhkan kepada Israel untuk "memaksa" Israel menghentikan serangan mereka. Hanya publik saja yang berupaya memboikot semua produk yang dimiliki Israel dan produk pendukung Israel. Beberapa negara pun seolah "membeo" dengan apa yang dikatakan oleh Israel; saat Israel menyebutkan bahwa mereka berhak membela diri dengan melakukan serangan ke Jalur Gaza.
Negara pendukung utama Israel, yakni Amerika Serikat, justru mendukung pernyataan "membela diri" dari Israel tersebut. Meski pada akhirnya Amerika Serikat menyerukan gencatan senjata setelah mengetahui puluhan ribu warga sipil Palestina meninggal dunia, --sambil tetap mengirimkan bantuan militer kepada Israel--, hingga saat ini seruan itu belum membuahkan hasil yang nyata. Selain menyerang Palestina dan Lebanon, Israel juga menyerang Suriah karena Israel menganggap Suriah sebagai proksi dari Iran. Iran sendiri merupakan sponsor utama kelompok Hamas yang menentang Israel. Di saat Israel melabeli Hamas sebagai kelompok teroris, AS dan beberapa negara Barat lainnya juga ikut menyatakan hal yang sama, meski yang dilakukan Hamas itu merupakan reaksi dari aksi ilegal yang dilakukan Israel terhadap Palestina, sejak puluhan tahun yang lalu.
Iran pun pernah menyerang fasilitas militer Israel sebagai balasan atas hancurnya gedung konsulat Iran di Damaskus, Suriah, akibat serangan udara Israel. Akan tetapi, alih-alih "menegur" Israel yang memprovokasi Iran, Amerika Serikat malah memperingatkan Iran untuk tidak membalas serangan Israel itu. Meski ada standar ganda yang dilakukan oleh beberapa negara Barat terhadap konflik Israel dan Palestina, perlahan tapi pasti, mulai ada negara Barat, seperti Spanyol, Norwegia, dan Irlandia, yang menyuarakan dukungan terhadap Palestina dan mulai mengkritik Israel. Bahkan Spanyol bergabung dengan Afrika Selatan melaporkan tuduhan kejahatan genosida yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina di Jalur Gaza ke Mahkamah Internasional (ICJ).
Mahkamah Internasional sendiri telah memutuskan bahwa pendudukan Israel di wilayah Palestina adalah ilegal dan memerintahkan Israel untuk segera keluar dari wilayah Palestina. Sayangnya, keputusan Mahkamah Internasional itu hanya dianggap angin lalu oleh Israel dan beberapa negara pendukungnya. Mahkamah Pidana Internasional (ICC) pun berusaha mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap beberapa pejabat Israel, seperti Benjamin Netanyahu, atas dugaan kejahatan perang dan pelanggaran HAM yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina di Jalur Gaza.
Hampir setahun setelah serangan Israel di Jalur Gaza, beberapa negara Barat mulai mengubah sikap mereka terhadap Israel. Sulit bagi mereka untuk terus "menutup mata" atas jumlah warga sipil Palestina yang syahid akibat serangan Israel, terutama setelah Israel membombardir rombongan relawan asal negara-negara Barat yang mengirimkan bantuan makanan untuk warga Palestina di Jalur Gaza. Bahkan Prancis mulai mengambil sikap tegas terhadap Israel dan mengkritik sikap Amerika Serikat yang selalu memveto resolusi gencatan senjata Dewan Keamanan PBB.
Meski tidak langsung menjatuhkan sanksi terhadap Israel atau memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel, beberapa negara Barat mulai bereaksi terhadap Israel yang terus melancarkan serangan ke negara lain. Perlahan tapi pasti, meski beberapa negara Barat mengatakan bahwa mereka "setia" dengan Israel, mereka juga mulai melihat bahwa Israel tidak akan pernah berhenti menyerang negara yang Israel anggap sebagai musuh, sekeras apa pun seruan dari mereka untuk melakukan gencatan senjata atau meminta Israel tidak melakukan penyerangan.
Meski membutuhkan hampir setahun untuk "membuka mata" beberapa negara Barat terhadap Israel, bukan tidak mungkin mereka bisa menghentikan agresi Israel tersebut, selama yang dilakukan bukan hanya seruan, melainkan tindakan nyata, --seperti sanksi, embargo atau larangan--, agar bisa efektif menghentikan Israel. Tindakan nyata perlu dilakukan untuk mencegah bertambahnya korban warga sipil yang meninggal dan terluka akibat serangan Israel. Selama setahun, Palestina sudah kehilangan 41.800 warganya dan Lebanon, hanya dalam dua minggu, sudah kehilangan lebih dari 2.000 warganya dalam serangan Israel. Tunggu apa lagi?
_Wallahu‘alam bishshawab_
Dikutip dari buku “Sejarah Lengkap Rasulullah Jilid 2” karya Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi, ketika rombongan umat Islam sampai di sebuah tempat bernama Hudaibiyah yang berjarak sekitar 6 mil dari Kota Makkah, mereka kemudian berhenti. Nabi Muhammad ﷺ mengutus Utsman bin Affan untuk mengabarkan kepada kaum kafir Quraisy tentang maksud dan tujuan mereka. Para pemuka kafir Quraisy bersikeras tidak mengizinkan rombongan umat Islam memasuki Makkah. Mereka kemudian mengutus Suhail bin Amr yang menonjol dan terkenal akan kecerdasan politiknya. Melihat kedatangan Suhail, Nabi Muhammad ﷺ paham. Rasulullah bersabda, "Mereka menginginkan perjanjian damai saat mengutus orang itu."
Kedua kubu saling melobi dan membahas poin-poin perundingan, menawarkan beberapa poin yang harus tertera dalam perjanjian damai. Masing-masing mengemukakan berbagai permasalahan yang memicu perbedaan di antara mereka. Kedua kubu menyepakati beberapa poin sebagai prinsipnya namun tidak menyetujui poin-poin lain. Pembahasan dan perdebatan berlangsung lama dan alot, namun mereka berhasil membuat kesepakatan. Kesepakatan itu kemudian dinamakan Perjanjian Hudaibiyah.
Rasulullah ﷺ kemudian memerintahkan sahabat Ali bin Abi Thalib untuk mulai menulis isi perjanjian tersebut secara resmi. Rasulullah ﷺ menyetujui kaum musyrikin untuk tidak menulis kalimat Basmalah, dan sebagai gantinya ditulis "Dengan nama-Mu ya Allah." Seperti itu juga tulisan "Muhammad bin Abdullah," dan tidak menulis "Muhammad Rasulullah (utusan Allah)." Rasulullah ﷺ juga setuju mengembalikan orang yang datang untuk bergabung dengan barisan kaum Muslimin dan kalangan kaum Muslimin yang hendak bergabung dengan kaum musyrikin tidak boleh dikembalikan. Rasulullah ﷺ menyetujui semua hal tersebut untuk suatu maslahat penting yang akan didapatkan dari perjanjian tersebut, karena kesepakatan itu sama sekali tidak membawa kerugian. Tuntutan musyrikin Quraisy sama sekali tidak merugikan, namun kerugian bila mereka menuntut untuk menulis hal-hal yang tidak diperbolehkan seperti mengagungkan tuhan-tuhan mereka dan semacamnya.
Sejarah Kerajaan Mulyono, salah satu kerajaan terbesar di Nusantara, diwarnai oleh kisah-kisah kepahlawanan dan kejayaan, namun juga oleh pertarungan kekuasaan yang menyala-nyala menjelang akhirnya. Menjelang keruntuhan, bara api di dalam istana mulai menyulut keretakan yang tak terelakkan. Pergantian kekuasaan di Kerajaan Mulyono, pada masa-masa akhir menampilkan gambaran yang gelap tentang perebutan tahta, ketidakstabilan politik, dan ambisi pribadi yang membakar persatuan kerajaan.
Kerajaan yang dahulu mampu mengendalikan hampir seluruh wilayah kepulauan Nusantara kini terpecah dalam konflik internal yang menggerogoti kekuatannya dari dalam. Para bangsawan dan pejabat istana yang dulu setia kepada sang raja mulai menunjukkan tanda-tanda perpecahan, mengadu kepentingan pribadi demi kekuasaan yang tersisa. Api kemelut ini membesar di antara intrik, dendam, dan pengkhianatan yang melibatkan keluarga kerajaan hingga para panglima perang.
Sofyan Ats-Tsauri dikenal sebagai ulama besar pada jamannya. Beliau seorang mujtahid mutlak, al-hafidh ad-dhabith (penghapal yang cermat), yang memiliki sifat wara’ dan zahid. Beliau dikenal cermat dalam periwayatan hadist sehingga dijuluki sebagai “Amirul Mu’minin fi al-Hadits”.
Dalam berfatwa dan meriwayatkan hadits, Ats-Tsauri dikenal sangat hati-hati. Tak jarang seseorang menunggu fatwanya selama berhari-hari. Ini karena jika ragu-ragu terhadap hafalan haditsnya, beliau akan kembali mempelajari catatan haditsnya, termasuk juga memeriksa catatan murid-muridnya.
Keahliannya dalam bidang ilmu hadits dan fiqih membuatnya termasyhur, sehingga para sejarawan mensejajarkan kedudukannya dengan Ibnu Abbas, tokoh di masa Sahabat Nabi dan Amir bin Syarahil Asy-Sya’bi, tokoh di masa ulama tabi’in. Bahkan Imam Ahmad bin Hanbal menyebutnya sebagai faqih (pakar ilmu fiqih) dan muhaddits (ahli hadits).
Pendapat Ats-Tsauri yang juga mashur dan diikuti oleh ulama lain adalah soal membaca qunut saat shalat Subuh. Menurutnya, orang yang membaca qunut itu baik dan yang tidak membaca juga bagus. Pendapatnya ini diikuti oleh Ibnu Hajm, Ibnu Qoyyim Al Jauzi dan ahli Hadits lainnya.
Ulama yang memiliki nama asli Abu Abdillah Sofyan bin Sa’id bin Masruq al Kufi ini lahir di Kufah, Iraq pada tahun 97 H. Ayahnya salah seorang ulama Kufah, yang menjadi guru Imam Abu Hanifah, pendiri Mazhab Hanafi. Sofyan mulai belajar pada usia yang masih muda, dibawah bimbingan orang tuanya. Kemudian menuntut ilmu fiqih kepada Imam Ja’far Ash-Shadiq. Sedang dalam ilmu Hadits belajar kepada ulama tabi’in terkenal seperti Amr bin Dinar, Salamah bin Kuhail, Abu Shakrah, dan lainnya.
Geger penemuan tujuh mayat di Kali Bekasi, tepatnya di belakang Masjid Al-Ikhlas Jatiasih, Kota Bekasi, Ahad lalu, membuat miris. Mereka ialah anak-anak usia belasan, atau lebih tepatnya remaja, korban tenggelam di Kali Bekasi. Mereka meloncat ke Kali Bekasi untuk menghindari Tim Patroli Perintis Presisi Polres Metro Bekasi Kota yang memantau kawasan tersebut. Mereka diduga akan tawur pada Sabtu dini hari. Sebanyak 15 orang ditetapkan menjadi tersangka terkait dengan peristiwa tewasnya tujuh remaja di Kali Bekasi tersebut.
Duka mendalam tak hanya menyelimuti keluarga korban. Kita juga patut berduka karena mereka sebenarnya korban lingkungan pergaulan yang tidak sehat. Lingkungan yang membuat mereka bergerak ke mana saja, seperti kumpul-kumpul dini hari pukul 03.00 untuk tawur. Mereka berkumpul pada waktu yang tidak lazim. Dini hari ialah waktu raga manusia normal beristirahat, terlelap di tempat tidur. Bukan di jalan, apalagi berencana tawur dengan sejumlah senjata tajam, celurit yang besar-besar nan mengerikan.
Tawur remaja, anak sekolah atau pun remaja antarkampung di Jakarta dan sekitarnya, tak pernah pudar. Malah semakin menjadi-jadi. Mereka tidak sekadar nakal, tetapi juga berani melenyapkan nyawa orang lain dengan senjata tajam. Tantangan bermula di media sosial, saling provokasi. Selanjutnya mereka menentukan titik tawur. Tak hanya itu, mereka menyiarkan tawur secara live di Instagram. Seolah mereka ada kebanggaan bisa berkelahi ramai-ramai dengan cara seperti itu. Fenomena tawur ini juga terjadi di berbagai kota lainnya.
Sejumlah wilayah di Jakarta diketahui juga menjadi 'langganan' lokasi tawur hingga turun-temurun. Mulai kakek sampai cucunya. Dalam satu bulan bisa terjadi tawur antarkampung yang bertetangga di wilayah tersebut. Lingkungan yang tidak sehat, tak ada ruang hijau atau taman, untuk rehat, berolahraga, dan interaksi warga, membuat kondisi lingkungan menimbulkan energi negatif yang menyuburkan sifat destruktif.
Umat Islam butuh seorang pemimpin seperti Umar bin Abdul Aziz. Berikut adalah khutbah yang disampaikan oleh Umar bin Abdul Aziz tatkala dirinya dibai’at sebagai khalifah:
“Wahai hadirin sekalian, sesungguhnya tidak ada satu kitab suci apapun setelah Al-Qur’an, dan tidak akan ada Nabi setelah Muhammad ﷺ. Ketahuilah bahwa saya bukan pembuat undang-undang. Saya hanyalah orang yang melaksanakan dan bukan pula orang yang membuat ajaran-ajaran baru, saya hanyalah sebagai pengikut. Saya bukan sebagai orang yang terbaik diantara kalian, justru saya adalah orang yang memikul beban demikian berat. Sesungguhnya seorang yang melarikan diri dari pemimpin yang zhalim, dia bukanlah orang yang zhalim. Ketahuilah, bahwa tidak ada ketaatan kepada makhluk apabila dia berada dalam maksiat.”
Kita semua merindukan sosok seperti Umar bin Abdul Aziz, guna mengatur urusan umat ini menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya. Bukan pemimpin yang hadir lewat pencitraan, atau pemimpin yang hanya datang bila ada kepentingan. Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah seorang penguasa diserahi urusan kaum Muslim, kemudian ia mati, sedangkan ia menipu mereka, kecuali Allah mengharamkan surga untuknya” (HR. Bukhari dan Muslim).
Penipuan tersebut antara lain bisa berwujud pengabaian terhadap hak-hak umat. Setiap penguasa yang melakukan hal ini dipandang telah menipu dan berkhianat kepada umat. Ancaman terhadap para penguasa dan pemimpin yang khianat tentu wajar. Pasalnya, kekuasaan adalah amanah. Amanah adalah taklif hukum dari Allah SWT. Imam Ibnu Katsir menjelaskan, “Pada dasarnya, amanah adalah taklif (syariah Islam) yang harus dijalankan dengan sepenuh hati…Jika ia melaksanakan taklif tersebut maka ia akan mendapatkan pahala di sisi Allah. Sebaliknya, jika ia melanggar taklif tersebut maka ia akan memperoleh siksa.”
Rasulullahﷺ telah memperingatkan umatnya sejak 16 abad lalu, bahwa akan datang masa ketika umatnya akan dipimpin oleh orang-orang egois. Mereka adalah orang-orang yang mementingkan diri sendiri. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya akan muncul sepeninggalku sifat egois (pemimpin yang mengutamakan kepentingan diri sendiri) dan beberapa perkara yang tidak kamu sukai.” (HR Muslim).
From the publisher's feed