
Sign up to save your podcasts
Or


Dalam pandangan dunia Islam, ilmu bukanlah untuk ilmu semata atau bebas nilai, tetapi ilmu harus bermakna dan berpihak pada kebenaran dan kebaikan. Sebab, ilmu bersumber dari Zat Yang Mahabenar dan Mahabaik, yakni Allah SWT. Manakala ilmu didapatkan dengan cara salah (manipulatif) yang bertentangan kaidah ilmiah dan digunakan untuk menindas umat manusia dan lingkungan alam, maka terjadi kezaliman intelektual.
Sikap kemunafikan selalu menimbulkan kezaliman intelektual dalam tindakan yang destruktif terhadap tatanan sosial dan alam. Data atau hasil penelitian bukan lagi didasarkan pada objektivitas, tapi sesuai subjektivitas penguasa atau pemilik modal. Kezaliman intelektual kadang tidak telihat secara kasat mata, akan tetapi wujudnya mencederai dan menghancurkan kehidupan umat manusia. Setidaknya, kezaliman intelektual dapat dibagi tiga macam.
Pertama, ilmu yang tak diajarkan. Ketika seorang berilmu tapi enggan mengajarkan, maka ia telah berlaku zalim terhadap dirinya dan orang yang berhak menerimanya. Ia khawatir tidak mendapat apresiasi jika orang lain lebih pandai. Ilmunya tidak mendatangkan kebaikan bahkan menimbulkan dosa. Mengajarkan ilmu (tarbiyah dan dakwah) adalah kewajiban setiap Muslim. Nabi Muhammad ﷺ bersabda, "Sampaikan dariku walau hanya satu ayat dan ceritakanlah kisah-kisah dari Bani Israil, sebab itu tidak mengapa." (HR Bukhari).
Kedua, ilmu yang tak diamalkan. Betapa merugi orang yang mengajarkan ilmu tapi tidak mengamalkan. Ia pandai berdebat hingga mengundang decak kagum khalayak ramai. Ilmunya tinggi melangit tapi tidak membumi. Allah SWT murka kepada orang yang pandai bicara tapi tak melakukan. Nabi Muhammad ﷺ berpesan, "Barang siapa menuntut ilmu untuk mendebat orang-orang bodoh, menyaingi para ulama, atau memalingkan wajah-wajah manusia kepadanya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam neraka." (HR Turmidzi).
Ketiga, ilmu yang disalahgunakan. Orang pintar yang tidak punya rasa kemanusiaan (integritas moral, adab) akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan duniawi (ketenaran, kekayaan, dan kekuasaan). Kepintaran hanya digunakan untuk menipu, merekayasa kebijakan, dan keputusan hukum demi kepentingan pribadi dan kroni. Data dan informasi yang diperoleh dimanipulasi agar layak dijadikan pijakan, tapi dikemas seakan kebebaran.
Dalam sejarah Indonesia, kaum komunis tercatat beberapa kali mengupayakan perebutan kekuasaan. Yang pertama, pada November 1926 dan Januari 1927, Partai Komunis Indonesia (PKI) meletuskan pemberontakan bersenjata di Jawa dan Sumatra Barat. Pemerintah kolonial Belanda saat itu dengan mudah memadamkan keduanya. Ribuan anggota PKI ditahan. Sekira 1.300 orang simpatisannya dibuang ke Boven-Digul. Partai ini lalu ditetapkan sebagai organisasi terlarang.
Pergerakan komunis toh tidak berhenti sesudah itu. Melewati zaman penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang, kaum kiri di Indonesia terus menyusun kekuatan, baik dari dalam maupun luar negeri. Sesudah Peristiwa 1926/1927, beberapa tokoh kunci bermukim di Uni Soviet, induk negara-negara komunis sedunia. Di antara mereka ialah Muso Manowar--namanya kerap dieja Musso atau Paul Mussotte.
Sesudah jatuhnya Kabinet Amir Sjarifuddin II, Bung Karno memberikan mandat. Kali ini, tugas menyusun kabinet diserahkan kepada tokoh non-partai, yaitu Bung Hatta. Maka terbentuklah Kabinet Hatta I pada Februari 1948. Tidak ada satu pun wakil sayap kiri di dalam jajaran kabinet ini. Amir pun menyatakan diri sebagai oposan. Untuk menandingi Kabinet Hatta, Amir berupaya mengonsolidasi unsur-unsur kiri. Pada 28 Juni 1948, ia pun membentuk Front Demokrasi Rakyat (FDR). Pada saat itulah, kaum komunis di Tanah Air mendapatkan “amunisi” baru: pulangnya Muso alias Muso Manowar alias Paul Mussotte. Dedengkot Partai Komunis Indonesia (PKI) itu kembali ke Tanah Air.
Tanggal 16-18 September menandai hari kelam di tahun 1982 ketika ribuan warga Palestina dibantai secara brutal di kamp pengungsi Sabra dan Shatilla di Lebanon; sebuah kekejaman yang dianggap sebagai salah satu yang paling keji dalam sejarah manusia modern.
Shatila, adalah sebuah kamp pengungsi Palestina, dan lingkungan Sabra yang berdekatan terletak di barat daya Ibu Kota Lebanon, Beirut. Setelah mengepung dan membombardir daerah tersebut selama berhari-hari, milisi palangis Lebanon yang didukung penjajah Zionis ‘Israel’ menyerang dan menewaskan sedikitnya 3.000 pengungsi Palestina dan warga sipil Lebanon.
Setelah pengepungan kedua kamp tersebut pada tanggal 15 September, tentara ‘Israel’ di bawah komando Ariel Sharon menerangi langit dengan suar saat milisi Lebanon bersenjata memasuki kamp tersebut melalui garis tentara ‘Israel’ dan mulai membunuh siapa saja yang menghalangi jalan mereka, tanpa memandang apakah mereka orang tua, wanita, atau anak-anak. Mereka juga masuk ke rumah sakit kamp dan membunuh perawat, dokter, dan pasien yang melarikan diri dari pembantaian tersebut.
Selama tiga hari, dan di bawah pengawasan tentara Ariel Sharon, milisi tersebut melanjutkan pembantaian mereka hingga berita pembantaian tersebut bocor ke luar kamp dan gambar-gambar mengerikan dari orang-orang yang gugur terlihat di seluruh dunia sebelum tekanan diberikan kepada ‘Israel’ untuk menghentikan milisi tersebut.
Komisi Kahan tahun 1983, yang dibentuk oleh pemerintah penjajahan Zionis ‘Israel’, menemukan bahwa Ariel Sharon, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan, memiliki “tanggung jawab pribadi” atas pembantaian tersebut. Meskipun demikian, Ariel Sharon kemudian malah menjadi Perdana Menteri ‘Israel’ pada tahun 2001.
Pada tanggal 16 Desember 1982, Majelis Umum PBB mengutuk pembantaian tersebut dan menyatakannya sebagai tindakan genosida. Pembantaian Sabra dan Shatila dikenang sebagai salah satu peristiwa paling traumatis dalam sejarah Palestina dan untuk mengingatnya diperingati setiap tahun oleh orang-orang Palestina di Lebanon dan di Palestina. Acara ini terus menyoroti penderitaan pengungsi Palestina di Lebanon sampai hari ini, yang sekarang berjumlah hampir 480.000, menurut PBB.
Hidup mengejar dunia tidak akan ada ujungnya, karena manusia mempunyai sifat yang tak berkesudahan atau sifat yang tidak puas. Setelah sukses mendapatkan satu keinginannya maka manusia itu akan bersiap menggapai kesuksesan yang lainnya, baik dalam hal kebaikan maupun keburukan. Namun sekuat-kuatnya berjuang memperjuangkan dunia cuma satu ujung yang dapat dijumpainya, yaitu kematian.
Manusia yang memilih jalan seperti itu akan semakin jauh meninggalkan eksistensi dirinya. Ia akan terus terobsesi mengumpulkan harta yang banyak dan semakin banyak setiap harinya. Akibatnya, nilai-nilai agama dan norma sosial dinilainya menjadi tak berguna. Sejauh keinginannya bisa dicapai, apa pun cara harus dilakukan. Inilah tipe manusia yang telah mati hatinya. Mereka tak akan pernah sadar akan kekeliruannya hingga ajal pun tiba.
Terlampau mencintai dunia akan menyesatkan, terlampau takut pada kematian juga akan melemahkan. Kondisi ini bisa menimpa siapa saja, baik penguasa, pegawai, pengusaha, ataupun alim ulama. Itulah mengapa, dalam sebuah hadis Nabi Muhammad ﷺ mengingatkan umat agar berhati-hati pada hal-hal duniawi. Bagaimanapun, ambisi materil yang ada pada diri pemimpin jauh lebih berdampak serius dan masif. Alquran telah memberikan bukti akan hal tersebut.
Simaklah kisah tentang Firaun. Dengan kekuasaannya, raja Mesir itu menghalang-halangi manusia dari jalan Allah. Secara terbuka, ia pun menyatakan perang terhadap utusan-Nya, Nabi Musa Alaihissalam. Harta benda dan kekuasaan yang dimiliki Firaun semakin membuatnya gelap mata. Firaun tidak peduli bahwa dirinya hanyalah manusia. Segala yang ada adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.
Kemuliaan Rasulullah ﷺ dan keunggulan beliau sebagai insan kamil (manusia sempurna) terbukti dengan pujian tinggi yang datang langsung dari Allah SWT, (sungguh engkau memilki akhlak yang sangat agung). Di kalangan masyarakat Muslim, khususnya Muslim Asia Selatan, ada puji-pujian yang masyhur yang umumnya dilantungkan di musim-musim mengenang kelahiran Rasulullah ﷺ. Di antara syair itu berbunyi: “Muhammad adalah manusia. Tapi tidak sama dengan manusia lain. Sesungguhnya dia adalah mutiara, sementara manusia lainnya adalah bebatuan”.
Hal ini menunjukkan bahwa keistimewaan Rasulullah itu ada pada nilai. Bukan pada fisik (darah-daging). Dan sebagaimana kita ketahui nilai itu ada pada iman dan akhlak (ketakwaan). Sebagaimana disimpulkan dalam Al-Quran: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa”.
Dalam sebuah Riwayat, Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian, sehingga aku lebih dicintai baginya dibandingkan mencintai dirinya sendiri, hartanya, anaknya, orang tuanya dan manusia seluruhnya” (HR. Al-Bukhari & Muslim).
Hadis yang tertulis di lembaran kisah perjalanan nabi Muhammad ﷺ, Rasul utusan Allah yang paripurna membuat siapa pun yang membacanya memiliki ghirah untuk mencintai Rasulallah ﷺ. Memang, siapa yang tidak jatuh cinta dengan sosok nabi Muhammad? Bahkan Allah SWT pun menjadikan Muhammad kekasih-Nya. “Kalau bukan karena engkau Muhammad, Aku tidak akan menciptakan alam ini”, begitu firman-Nya dalam hadits qudsi riwayat Al-Hakim dan Al-Baihaqi.
Saat ini, Anies Baswedan adalah leader terbaik yang disiapkan oleh bangsa ini. Begitu pengakuan publik. Pengakuan ini bukan hanya datang dari para pendukung, tapi juga datang dari para lawan. Nasdem dan PKB yang semula kontra Anies di pilgub DKI Tahun 2017, akhirnya menjadi pengusung Anies di pilpres 2024. Hampir saja dua partai ini mengusung kembali Anies di pilgub DKJ. Namun, dua partai ini berhasil kena operasi kekuasaan. Nasdem dan PKB pun gagal calonkan Anies karena terlalu besar risikonya. Lebih besar dari risiko saat pilpres. Begitu pengakuan kedua ketum partai itu.
Begitu juga dengan PDIP. Suara DPD PDIP DKJ bulat mengsusulkan Anies dicalonkan di pilgub DKJ. Lagi-lagi, tangan kekuasaan terlalu kuat untuk dilawan. Dua penguasa (lama dan baru) punya segala cara untuk menghentikan PDIP agar tidak calonkan Anies. Akhirnya, PDIP menyerah. Anies-pun gagal nyalon. Besar kemungkinan akan ada banyak cerita yang dibuka pasca 20 oktober 2024 ini, saat terjadi pergantian presiden. Ini suatu hal yang biasa terjadi dalam sejarah politik.
Lalu, kemana langkah Anies setelah secara sempurna sukses digagalkan jadi calon gubernur? Sebagian besar pendukungnya “ngotot” dan “mendesak” Anies membuat partai. Nampaknya, mereka terprovokasi diantaranya oleh sejumlah kader partai ideologis berplatform agama: “Anies bikin partai dong supaya punya tiket kalau mau nyagub dan nyapres”. Ini saran, tentu saja. “Gak mau jadi kader, hanya mengandalkan popularitas untuk menjadi calon”. Lagi-lagi, sindiran kader partai ideologis yang sering berseliweran di medsos”. “Apa sih yang didapatkan partai pengusung dari Anies? Logistik enggak, tambahan suara juga enggak”. Kata sejumlah kader partai yang sama. Nasib Anies memang lagi kurang baik. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Sudah gak diusung, masih terus dihajar.
Hari ini agenda besar kita hanyalah mengecam dan menggerutui tindakan genoside pada saudara kita di Gaza. Mungkin ini imbas dari terlalu lama kita hidup dari bantuan sang “pihak berwajib”, tetapi bisa juga manifestasi dari ketidakberdayaan kita terhadap keadaan. Bahkan sebagian dari kita sering skeptis tentang seberapa besar manfaat yang kita bisa berikan lewat sumbangan-sumbangan yang beredar – walaupun jika mereka diajak berjihad ke sana mereka pasti menolak. Mereka berdalih, jangankan untuk membeli sebutir peluru, mungkin sumbangan kita hanya mampu membeli sepotong roti untuk saudara kita di sana.
Namun, jangan pernah remehkan arti sepotong roti. Mungkin sepotong roti tersebut hanya bisa menyambung hidup saudara kita di sana selama 1 x 24 jam. Namun kita tidak bisa membayangkan, berapa banyak lontaran batu yang bisa mengenai serdadu-serdadu israel yang dilempar oleh anak manusia yang kekuatannya berasal dari sepotong roti dalam 1x 24 jam tersebut. Atau, berapa ratus doa yang bisa keluar dari mulut orang yang hidupnya disokong oleh sepotong roti itu. Sudah cukup bagi kita hanya sekadar menggerutui. Sudah cukup pula bagi kita untuk mencari-cari alasan guna menutupi ketakutan kita. Mungkin ini saatnya kita harus berhenti hanya sebatas kesal pada keadaan. Mungkin ini saatnya berbuat walau hanya dengan doa dan sepotong roti!
Pondasi keluarga dakwah ialah ketentraman, kedamaian, dan ketenangan (sakinah). Semua hal itu menjadi modal merajut rasa cinta kasih pada setiap anggota keluarga karena Allah. Setiap anggota keluarga bersinergi melakukan berbagai kebajikan yang dapat mendatangkan rahmat Allah Taala. Oleh karena itu, sejatinya keluarga muslim harus bisa menjalankan misi dakwah, sebagaimana dakwah Rasulullah ﷺ bersama Ibunda Khadijah radhiallahuanha kepada keluarga dekat mereka.
“Di atas partai, bukan petugas partai. Wawasan kebangsaan, bukan wawasan kepartaian. Loyalitas pada negara, bukan loyalitas pada partai. Untuk kepentingan negara, bukan untuk kepentingan partai. Memperkuat negara, bukan memperkuat partai”.
Itu yang seharusnya dilaksanakan dan diajarkan oleh partai kepada semua kadernya. Tetapi itu pula yang dirasakan hilang saat ini di partai-partai. Apa yang terjadi sebaliknya, kader-kader menjadi petugas partai, membela keselamatan partai, mengutamakan kepentingan partai, menjalankan agenda partai, memenangkan dan membesarkan partai. Di mana negara? Mungkin sebagai alat-nya kader untuk membesarkan partai. Kader-kader yang menjadi pejabat negara, menjadi petugas partai. Benar-benar salah kaprah.
Siapa pemilik negara? Rakyat. Maka rakyatlah yang seharusnya dipertimbangkan oleh partai. Rakyatlah yang didahulukan oleh partai, rakyatlah yang dilayani, dibela dan dilindungi. Rakyatlah yang menjadi konstituen dan klien utama partai. Maka sudah seharusnya partai-partai lantang membawa dan memperjuangkan aspirasi rakyat. Tapi apa mau dikata, partai-partai lemah bersuara jika untuk kepentingan rakyat.
From the publisher's feed