Radio Seila FM

Radio Seila FM

By Seila fm BatamReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Seila FM episodes

  • Kerusakan Alam dan Pemiskinan

    Kesenjangan pendapatan, ekonomi, sosial, politik, pendidikan, kesehatan, kebutuhan dasar, sampai gaya hidup, dan bahkan passion, hedonisme. Kelompok para penikmat bergelimang harta lebih dari cukup untuk tujuh turunan. Sementara Kelompok korban bergelimang penderitaan berselimut kelaparan dan kemiskinan yang bisa jadi turun temurun juga yang selalu dininabobokan dengan diksi “sabar”.

    7 min
  • Hijrah dari Korupsi

    Perilaku korupsi saat ini telah merasuki semua lini dan mewabah di masyarakat kita. Bukan saja pejabat kelas atas, tetapi hingga pemegang amanah di bawah. Korupsi menyebabkan sekolah dasar roboh, jembatan ambruk, jalan rusak hingga memakan korban. Atau pembangunan puskesmas dan rumah sakit yang tidak sesuai anggaran. Bantuan sosial terpotong, hibah pendidikan tersunat, dan jatah bedah rumah orang miskin tidak merata.


    Akibatnya, warga miskin tidak bisa berobat jika sakit. Anak mereka sulit mengakses pendidikan. Padahal negara telah menyediakan anggarannya. Ini akibat ulah perilaku koruptif.

    Oleh karena itu, perlu ditanamkan spirit hijrah dari korupsi. Nilai-nilai antikorupsi seperti jujur, peduli, mandiri, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, hidup sederhana, berani, dan adil diharapkan menumbuhkan budaya antikorupsi termasuk di lingkungan kita.


    Hijrah dari korupsi harus dimulai dari komitmen perubahan dari diri sendiri. Setidaknya ada lima kiat sederhana yang bisa diterapkan dalam upaya hijrah dari korupsi.

    8 min
  • Rematch Ahok Berkah Buat Anies

    PDIP hampir saja mengusung Anies di pilgub Jakarta. Usulan mengusung Anies sudah disampaikan secara resmi DPD PDIP ke DPP. PDIP rencananya akan pasang cawagub. Prasetyo Edi Marsudi menjadi salah satu alternatif cawagub Anies.


    Ketika PKS deklarasikan AMAN, singkatan dari Anies – Sohibul Iman, PDIP mulai berpikir ulang. Sebab, peluang untuk ambil cawagub seolah tertutup. PDIP berupaya cari alternatif. Ini tidak mudah, karena PDIP di Jakarta hanya punya 15 kursi. Kurang 7 kursi untuk bisa mengusung pasangan cagub-cawagub. Sementara, PDIP tidak punya calon yang potensial dan menarik bagi partai lain untuk ikut gabung dan berkoalisi.


    Saat ini, PDIP nampak sendiri. PDIP berseberangan dengan Koalisi Indonesia Maju (KIM) yang dibentuk Jokowi. PDIP juga berada di luar Koalisi Perubahan yang dibentuk oleh PKS-PKB-Nasdem. Posisi PDIP sekarang terjepit diantara dua koalisi besar yaitu KIM dan Koalisi Perubahan. Dalam situasi kebuntuan ini, muncul Ahok. Kader PDIP yang di pilgub DKI 2017 dikalahkan oleh Anies-Sandi dengan sangat dramatis. Kasus penistaan agama telah memicu 7 juta umat Islam memenuhi halaman Monas di Jakarta. Mereka protes terhadap Ahok yang saat itu full diback up Jokowi.


    Tidak hanya Umat Islam, Ahok dan para pendukungnya nampak merawat memori ini. Dalam banyak kesempatan Ahok seringkali menyinggung soal kekalahannya di pilgub DKI. Ahok dan para pendukungnya seperti belum bisa menerima peristiwa 2017 silam. Mereka menganggap pilgub Jakarta 2017 itu hasil politisasi agama dan intoleransi. 2024 ini, perlu diuji kembali dengan rematch, kata Ahok penasaran.


    Saat ini, Ahok ingin sekali rematch dengan Anies. PDIP pun memberi sinyal, meski masih samar. Nampak ada keraguan. Karena PDIP tidak cukup kursinya untuk mengusung Ahok. Tapi, Ahok kelihatan sangat bersemangat dan antusias.

    8 min
  • Kapitalisme Pendidikan: Sebuah Pandangan Kritis

    Pendidikan adalah pilar fundamental bagi pembangunan suatu bangsa. Namun, dalam konteks Indonesia saat ini, pendidikan yang berkualitas telah menjadi barang mewah yang sulit dijangkau oleh banyak masyarakat. Meskipun disadari bahwa di era modern ini, pendidikan bagaikan pisau bermata dua. Di satu sisi, ia menjadi kunci kemajuan sebuah bangsa, membuka gerbang ilmu pengetahuan dan peluang masa depan. Di sisi lain, pendidikan di Indonesia terjerat dalam jerat kapitalisme, yang melahirkan kesenjangan dan ironi yang menganga lebar.


    Belum lagi terkait dengan biaya pendidikan yang semakin mahal dimana semakin menciptakan kesenjangan sosial yang semakin lebar dan disisi lain berbagai jenis kebijakan pendidikan, justru tak berpihak kepada rakyat kecil, bahkan semakin menghalangi akses pendidikan bagi mereka yang kurang mampu. Biaya pendidikan di Indonesia, dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, terus meningkat setiap tahunnya. Meskipun kebijakan gratis dari pendidikan dasar hingga menengah, akan tetapi realitas terjadinya pungutan liar di sekolah, telah menjadi rahasia umum. Fenomena Uang Kuliah Tunggal (UKT) di perguruan tinggi negeri, bagaikan mimpi buruk bagi rakyat kecil membuat banyak calon mahasiswa cerdas dan berprestasi harus mengubur mimpi mereka untuk melanjutkan pendidikan tinggi.


    Selain itu, sekolah swasta umum dan keagamaan, termasuk pesantren, semakin menjamur dengan memberlakukan uang gedung, SPP dan sederet biaya lainnya yang sangat tinggi. Ini semakin memperparah ketidaksetaraan akses pendidikan, di mana hanya mereka yang mampu membayar mahal dapat menikmati pendidikan berkualitas. Ironisnya penyelenggarakan pendidikan swasta termasuk sejumlah pesantren, juga menikmati situasi seperti ini. Untuk mendapatkan finansial, dari orang tua kelas menengah atas, dengan dalih memberikan layanan pendidikan yang lebih dengan menggunakan label internasional sebagai branding.


    Kondisi ini menjadi semakin ironis ketika kita melihat bahwa rata-rata IQ bangsa Indonesia berada di angka 78,49, menjadi terendah ke-2 di Asia Tenggara. Belum lagi jika menengiok sekor dari Program for International Student Assessment (PISA), sebuah evaluasi global yang mampu untuk memberikan gambaran mengenai sejauh mana sistem pendidikan suatu negara, dimana data terakhir di tahun 2022, Indonesia berada pada peringkat 68 dari total 81 negara partisipan, dengan skor matematika sebanyak 366, skor sains sebanyak 383, dan skor membaca sebanyak 359.

    9 min
  • Sejak Kapan Yahudi Punya Jejaring di Indonesia

    Bung Karno pernah menyatakan bahwa PBB nyata-nyata menguntungkan Zionis Israel negara Yahudi dan merugikan negara-negara Arab. Pernyataan itu dikemukakan saat Indonesia keluar dari organisasi dunia tersebut pada 1 Januari 1965.


    Konon, warga Yahudi sudah sejak kolonial Belanda banyak berdiam di Indonesia, khususnya di Jakarta. Pada abad ke-19 dan 20 serta menjelang Belanda hengkang dari Indonesia, ada sejumlah Yahudi yang membuka toko-toko di Noordwijk (kini Jl Juanda) dan Risjwijk (Jl Veteran) -- dua kawasan etlie di Batavia kala itu -- seperti Olislaeger, Goldenberg, Jacobson van den Berg, Ezekiel & Sons dan Goodwordh Company.


    Mereka hanya sejumlah kecil dari pengusaha Yahudi yang pernah meraih sukses. Mereka adalah pedagang-pedagang tangguh yang menjual berlian, emas dan intan, perak, jam tangan, kaca mata dan berbagai komoditas lainnya.


    Sejumlah manula yang diwawancarai menyatakan, pada tahun 1930-an dan 1940-an jumlah warga Yahudi di Jakarta banyak. Jumlahnya bisa mencapai ratusan orang. Karena mereka pandai berbahasa Arab, mereka sering dikira keturunan Arab. Konon pula, keturunan Yahudi di Indonesia kala itu banyak yang datang dari negara Arab. Maklum, kala itu negara Israel belum terbentuk. Seperti misalnya keluarga Musri dan Meyer yang datang dari Irak.


    Di masa kolonial, warga Yahudi ada yang mendapat posisi tinggi di pemerintahan. Termasuk gubernur jenderal AWL Tjandra van Starkemborgh Stachouwer (1936-1942). Kaum Yahudi di Indonesia pun memiliki persatuan yang kuat. Setiap Sabat (hari suci umat Yahudi), mereka berkumpul bersama di Mangga Besar, yang kala itu merupakan tempat pertemuannya.


    Menurut majalah Sabili, dulu Surabaya merupakan kota yang menjadi basis komunitas Yahudi, lengkap dengan sinagognya yang hingga kini masih berdiri. Mereka umumnya memakai paspor Belanda dan mengaku warga negara kincir angin. Pada hari Sabat, warga Yahudi bernyanyi sambil membaca kitab Talmut dan Zabur, dua kitab suci mereka.

    7 min
  • Israel, Zionisme dan Kader NU

    Israel, Zionisme dan Kader NU

    Oleh: Ustadz Shamsi Ali (Direktur Jamaica Muslim Center dan imam Islamic Center of New York)


    Sekarang lagi ramai di media tentang kunjungan lima orang (oknum) dari PBNU ke Israel? Sebenarnya kalau kita tahu apa yang mereka (zionis Israel) usahakan sekarang ini, tidak akan mengejutkan.


    Saya kebetulan berdialog dekat dengan tokoh-tokoh Yahudi, dan memang sulit memisahkan mana yang murni Yahudi dan mana Yahudi dengan ideologi Zionisme.


    Walau Yahudi itu diperkirakan hanya sekitar 15-16 juta se dunia, ada 5 juta di antaranya tinggal di Amerika Serikat. Mereka memilki banyak kaki tangan di berbagai belahan dunia. Mereka pintar dan memilki strategi yang lihai, seringkali membutakan banyak orang.


    Di antara organisasi Yahudi internasional yang sangat aktif menjadi “Public Relations”nya Israel adalah World Jewish Congress dan American Jewish Committee (AJC). Namun yang paling aktif dan agresif adalah AJC ini. Mereka berhasil menembus ke dunia Islam. Bahkan beberapa negara Islam yang sudah membuka hubungan diplomasi dengan negara Israel karena hasil pendekatan dan lobi AJC ini.


    Saya kenal AJC secara dekat. Karena beberapa tahun lalu saya pernah dekat bahkan pernah diminta duduk sebagai anggota “Muslim-Jewish Council” (Majlis Muslim-Yahudi). Waktu itu saya tidak mengenal mereka dan menyangka forum ini murni “dialog” antar pemeluk dua agama (Islam dan Yahudi). Anggota-anggota di Council ada tokoh-tokoh besar di dua komunitas. Bahkan salah seorang anggotanya adalah mantan Senator Libermen dari Connecticut.


    Tapi setelah duduk beberapa bulan, khususnya ketika Gaza diserang besar-besaran tahun 2008 (zamannya presiden Amerika Serikat, Barrack Obama) saya tinggalkan majelis itu. Masalahnya saya dianggap kurang moderat karena kritis kepada Israel dalam pertemuan-pertemuan mereka.


    Tapi nama saya masih tertera di sini (website mereka)


    AJC inilah yang dulu mengundang KH Yahya Cholil Tsaquf ketemu Benjamin Natanyahu. Bahkan jauh sebelumnya juga pernah mengundang Gus Dur ke Israel dan diberi penghargaan.

    8 min
  • Jiwa Futuwah

    Pada suatu peperangan, Sayyidina Ali bin Abi Thalib berhasil melumpuhkan dan nyaris membunuh lawannya. Ketika pedang diayunkan, tiba-tiba sang lawan meludahi Ali. Ali marah dan tidak jadi membunuh musuhya.


    Sang lawan kaget dan bertanya kenapa Ali mengurungkan niatnya membunuh padahal ia sudah tak berdaya? Ali menjawab, tadi ketika hendak membunuhmu, niatku bersih karena Allah. Tetapi setelah diludahi dan timbul rasa geram, niatnya bercampur dengan amarah. Ali takut membunuh karena nafsu, lalu membebaskan musuhnya itu. Mendengar jawaban Ali, sang lawan sungguh takjub, akhirnya dia masuk Islam.


    Itulah sifat futuwah Ali. Yakni menunjung tinggi kesatriaan. Sayyidina Ali, setelah menjadi khalifah dan menghadapi konflik politik dengan Muawwiyah, bahkan rela kehilangam amanat kekhalifahannya. Ali menjunjung tinggi moral politik dalam kesepakatan politik dengan pihak Muawwiyah. Demi kemuliaan akhlak, dia ikhlas amanat jabatannya lepas.


    Sayyidina Ali sebagaimana teladan Nabi dan para sahabat lainnya memang diajarkan futuwah, menjalani hidup kesatria meski terhadap musuh sekalipun. Futuwah, dijelaskan oleh Ibn Al-Husain As-Sulami, ialah pandangan hidup fata, pemuda yang gagah perkasa dan menjalani pencerahan diri. Kesetiaan Abu Bakar Shiddiq, kejujuran dan keadilan Umar bin Khattab, kekhuyusukan dan kesederhanaan Usman bin Affan, dan keberanian Ali bin Abi Thalib sebagai sahabat maupun khalifah utama penerus Nabi, memancarkan jiwa fata atau futuwah.


    Jiwa futuwah juga tercermin dalam keberanian Nabi Ibrahim alihissalam sewaktu muda yang menghancurkan berhala-berhala yang disembah kaumnya. Pemuda Ashabul Kahfi juga menunjukkan jiwa futuwah, sebagaimana dikisahkan dalam Al-Quran surat Al Kahfi ayat 13, yang artinya: “Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk”.


    8 min
  • Media Jangan Berhenti Beritakan Palestina

    Sejak lama, bahkan dapat dikatakan sejak negara Israel didirikan, pemerintahan Zionis telah membelanjakan ratusan miliar dolar uangnya untuk kepentingan penyampaian informasi ke dunia luar dan propaganda perebutan tanah bangsa Palestina. Dengan dana tersebut, Israel juga membiayai perjalanan gratis bagi para jurnalis, anggota parlemen, pengamat, bahkan para feminis dari seluruh dunia untuk berkunjung ke wilayahnya.


    Ini adalah usaha maksimal Zionis Israel menempuh berbagai cara untuk melancarkan propaganda dan kampanye politiknya. Para pemimpin Israel tidak hanya mengandalkan kemampuan dalam menyampaikan pesan, tetapi juga ikut mempengaruhi para pengelola media massa di seluruh dunia untuk memberikan dukungan terhadap langkah-langkah politik yang dilakukannya. Bisa dikatakan Israel sudah berhasil mengontrol arus informasi. Kekuatan lobi pun berhasil menjadikan setiap pihak yang mengkritik Israel sebagai kalangan "antisemit". Terlihat jelas bahwa imperialisme pers terkadang lebih merusak dibandingkan imperialisme secara fisik.


    Sementara kondisi bertolak belakang dialami Palestina yang tidak memiliki kekuatan dana seperti Zionis Israel untuk mendesain dan menyebarkan informasi lewat media massa berpengaruh. Mereka juga tidak mempunyai cukup kekuatan lobi untuk mempengaruhi opini masyarakat dunia, terutama warga negara maju. Namun demikian, dalam batas-batas tertentu informasi yang disampaikan orang-orang Palestina mampu mengundang simpati masyarakat dunia, terutama dari negara yang berpenduduk Muslim.


    Terlebih saat ini, ketika kondisi Palestina sudah hancur lebur. Namun yang terjadi diluar dugaan Zionis Israel adalah ketika pers Barat cenderung bungkam dalam menyikapi tragedi kemanusiaan di Gaza dalam beberapa bulan ini, media sosial secara efektif mengabarkan kepada dunia tentang kehancuran dan kengerian yang terus terjadi di Palestina. Ketika media konvensional Barat acuh tak acuh terhadap ”genosida” yang sedang melanda Gaza, media sosial tetap mengungkapkan detail fakta-fakta yang terus mengusik rasa kemanusiaan warga dunia. Sampai Zionis Israel begitu ngotot memblokir jaringan internet di Jalur Gaza yang sedang berkecamuk dalam perang. Karena Israel sadar betul akan kekuatan pengaruh media sosial.

    8 min
  • Aliran Sesat Semakin Berani dan Bebas Merusak Agama Islam

    Di depan peserta pelatihan standardisasi Dai MUI saya pernah menyampaikan bahwa peluang dakwah di Indonesia masih sangat terbuka lebar. Di Singapura dan di Malaysia jika anda mau ceramah atau Khutbah Jum’at harus ada lisensi atau surat izin dari pemerintah atau pemegang otoritas tempatan. Selain itu anda juga tidak bisa menyampaikan tema atau konten ceramah atau khutbah yang tidak sejalan dengan Mazhab yang diakui oleh Negara.


    Di Negara Saudi Arabia, jika anda berkhutbah dengan tema politik apalagi yang berisi kritik atau koreksi terhadap kebijakan pemerintah, ada harapan anda langsung diturunkan dari mimbar khutbah dan diganti dengan khatib yang lain, karena rakyat tidak boleh bicara politik sembarangan, urusan politik menjadi domain pemerintah.


    Di Indonesia khutbah dan ceramah tidak perlu mendapat izin dari pemerintah, begitu juga tema dan konten dakwahnya tidak harus sejalan dengan Mazhab yang dianut oleh pemerintah, karena memang pemerintah tidak menentukan Mazhab resmi yang dianut oleh Negara, sekalipun umat Islam Indonesia mayoritas pengikut Mazhab Syafi’i dan beraliran Ahlus Sunnah wal Jama’ah.


    Sampai begitu bebasnya, orang gila dan sakit jiwa pun bebas bicara seenaknya mengatas-namakan agama; mengaku bisa mengatur Allah, malaikat, mengaku nabi, semua bisa selesai hanya dengan menyebut namanya. Mengherankan orang seperti itu dapat panggung, dielu-elukan kedatangannya, sekalipun tidak ada tanda-tanda keulamaan di wajahnya, penampilannya dan cara bicaranya, tetapi masih saja ada yang percaya dan mendukungnya bahkan meyakini bahwa dia bisa menyelamatkan pengikutnya dari api neraka, karena dia sendiri yang akan menjaga neraka itu nantinya.


    Sebenarnya di Indonesia ada UU No 1/PNPS 1965 yang mengatur tentang aliran sesat di mana salah satu tugas pokoknya adalah mengawasi munculnya aliran keagamaan yang menyimpang dari aslinya. Kondisi ini sering dijumpai di Indonesia, maka dibuatnya undang undang yang mengatur aliran sesat. Berkaitan dengan pengawasan aliran sesat dan menyimpang ini dijelaskan dalam UU Kejaksaan

    7 min
  • Sayyidina Abu Bakar Tolak Dinasti Politik

    Dinasti politik yang dibiarkan terus berkembang tanpa regulasi yang ideal akan mengancam keberlangsungan demokrasi. Impian demokrasi “dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat” akan sulit tercapai, tapi justru tragedi “dari dinasti, oleh dinasti, dan untuk dinasti”, yang akan terjadi. Rakyat pun hanya akan menjadi alat dinasti politik mengguritakan pengaruhnya.


    Dalam sejarah pemerintahan Islam, Sayyidina Abu Bakar sebagai khalifah atau pengganti Rasulullah ﷺ telah menekankan pentingnya memilih orang-orang yang punya kredibilitas untuk menjalankan pemerintahan, sekaligus menolak dinasti politik secara tegas. Jelang wafatnya, Sayyidina Abu Bakar memanggil beberapa orang untuk diajak diskusi tentang sosok yang akan menggantikan perannya di pemerintahan.

    9 min

About Radio Seila FM

From the publisher's feed

Menyajikan sederetan program unggulan on air