
Sign up to save your podcasts
Or


Di era digital yang serba canggih ini, judi online telah menjadi ancaman besar yang mengintai masyarakat, terutama di Indonesia. Di balik kemudahan akses dan janji keuntungan instan, judi online menyimpan bahaya yang merusak dari berbagai perspektif, termasuk perspektif Islam. Judi online benar-benar menjadi musuh dalam selimut yang menggerogoti fondasi moral, sosial, dan spiritual masyarakat.
Judi online, yang sering kali dikemas dalam bentuk permainan yang menarik dan mudah diakses, menjebak banyak orang tanpa disadari. Ketagihan judi online dapat menyebabkan kerugian finansial yang serius. Banyak individu yang terjerat utang besar karena sulit mengendalikan keinginan untuk terus bermain dan berharap menang besar. Hal ini sering kali diikuti oleh stres, kecemasan, dan depresi. Studi menunjukkan bahwa ketergantungan pada judi online dapat memicu gangguan kesehatan mental, termasuk perilaku bunuh diri.
Tidak hanya berdampak pada individu, judi online juga membawa dampak negatif yang luas bagi masyarakat. Keluarga menjadi korban utama, dengan banyak hubungan yang rusak akibat perilaku judi yang tidak terkendali. Keretakan rumah tangga, perceraian, dan kekerasan domestik sering kali menjadi akhir dari kisah tragis para pecandu judi online. Dari segi ekonomi, judi online mengalirkan uang masyarakat ke luar negeri, karena banyak situs judi online yang beroperasi dari luar negeri untuk menghindari hukum domestik. Hal ini mengakibatkan hilangnya potensi pendapatan yang bisa digunakan untuk pembangunan ekonomi lokal. Selain itu, biaya sosial yang harus ditanggung pemerintah untuk mengatasi dampak negatif judi online, seperti layanan kesehatan mental dan rehabilitasi, sangat besar.
Islam tegas melarang segala bentuk perjudian, termasuk judi online. Dalam Surah Al-Maidah ayat 90, Allah SWT berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu beruntung."
Di awal Oktober 1917, di sebuah rumah sederhana di Jawa, Muhammad Hussein Baraja duduk di meja kerjanya, memandangi tumpukan kertas yang siap diterbitkan. Cahaya matahari senja menerangi ruangan dengan lembut, menandai awal dari sebuah babak baru dalam sejarah pers Arab di Indonesia. Inilah saat ketika Al-Iqbal, surat kabar pertama kaum Hadrami, terbit dan memulai perjalanan panjangnya.
‘Al-Iqbal’ tidak hanya menjadi surat kabar pertama bagi komunitas Arab di Jawa, tetapi juga menjadi simbol perjuangan mereka untuk menyuarakan pemikiran dan aspirasi. Majalah ini dipimpin oleh Muhammad Hussein Baraja yang menyajikan berita-berita tentang politik, sosial, dan budaya, mencerminkan kehidupan masyarakat Arab di tanah rantau. Tidak lama setelah itu, pada 11 Juni 1920, di Surabaya, Hassan bin Ali Al-Tsiqoh meluncurkan Al-Irsyad. Surat kabar mingguan ini diterbitkan oleh Al-Irsyad Al-Islamiyyah dan menjadi corong suara kaum reformis. Dengan tajam dan penuh visi, Hassan bin Ali Al-Tsiqoh menjadikan Al-Irsyad sebagai platform untuk menyuarakan perubahan dan kemajuan, menjadikannya bacaan wajib bagi mereka yang ingin mengetahui perkembangan terbaru.
Di Pekalongan, kota yang terkenal dengan batiknya, Oemar Suleiman Naji menerbitkan Al-Shifa pada tahun 1920. Majalah bulanan ini menawarkan artikel-artikel mendalam tentang kesehatan, pendidikan, dan kebudayaan, termasuk politik perjuangan di tanah air, menambah warna dalam dunia pers Arab di Indonesia. Di Batavia, Muhammad al-Hashemi al-Tunisi memulai petualangannya dengan menerbitkan Borobudur pada 9 November 1920. Awalnya, Borobudur memiliki hubungan erat dengan kaum Al-Irsyad, namun seiring waktu, pandangan mereka mulai berbeda, menambah dinamika dalam perjalanan pers Arab.
Memahami konstelasi pilgub DKJ setelah tidak lagi menjadi ibu kota, nampaknya masih menarik. Hal ini dikarenakan Jakarta akan tetap menjadi centrum perbincangan tentang Indonesia. Berkaitan dengan itu, semakin dekatnya masa jabatan Jokowi dan pelantikan Prabowo – Gibran sebagai presiden dan wakil presdiden, menjadi perlu melihat seberapa butuh Prabowo terhadap Anies dibanding kepada Jokowi.
Sebagai presiden terpilih meski meninggalkan persoalan – persoalan akibat dugaan kecurangan dan keterlibatan aparat untuk pemenangan, Prabowo tetap akan dilantik pada bulan Oktober 2024, dan hal itu juga akan berarti bahwa masa jabatan Jokowi sebagai presiden akan segera berakhir. Akankah Prabowo akan tetap dalam kendali Jokowi? Sebagai presiden dan pengendali pemerintahan, tentu Prabowo tidak berharap masa pemerintahannya akan mengalami gejolak dan gangguan dari mereka yang merasa didzolimi dalam pemilu Februari lalu. Prabowo tentu berharap semua kekuatan politik bisa menjadi kawan dan oposisi yang konstruktif dalam mengawal pemerintahannya. Namun sayangnya faktor Jokowi akan menjadi penghambat.
Jokowi dalam menjalankan pemerintahannya, telah dianggap gagal menjalankan demokrasi dan reformasi, bahkan Jokowi dengan nyata membangun politik dinasti dan menodai demokrasi secara terang terangan ikut campur dalam pilpres dengan memenangkan Prabowo dan Gibran yang merupakan anaknya. Benarkah Jokowi dalam pilpres membantu Prabowo karena faktor Prabowo? Publik tentu bisa mahfum untuk menjawabnya. Keberpihakan Jokowi kepada oligarki dan asing juga kasat mata, sehingga banyak menimbulkan konflik agrarian dengan masyarakat. Kasus pengusiran warga secara paksa ditanah adat di Batam menjadi contoh nyata.
Hal yang sama ketika Jokowi menunjuk Heru Budi sebagai PJ Gubernur Jakarta yang memerintah selama dua tahun, adalah sebuah ketidakwajaran. Apalagi selama memimpin Jakarta, Heru tidak membuat Jakarta semakin maju dan baik, segala jejak baik yang dibangun semasa Anies, semua dihilangkan dan ini yang membuat rakyat Jakarta marah. Kemarahan rakyat Jakarta diwujudkan dengan menghukum partai politik yang selama ini dianggap menjadi penyokong Jokowi. PPP dan PDIP sangat mengalami dampaknya. Bayangkan PPP yang pernah menjadi pemenang di Jakarta kini tak meyisakan lagi kursi di parlemen, PDIP yang memnguasai 25 kursi kini tinggal 15, kehilangan 10 kursi, dan yang lebih menyakitkan lagi terhadap PDIP, Jokowi terang – terangan menantang PDIP akankah bisa mengalahkan dirinya dalam pilpres dan pileg?
Puluhan ribu anak di Gaza menghilang sejak serangan Israel yang dimulai pada 7 Oktober 2023. Anak-anak menjadi salah satu pihak paling terdampak oleh serangan brutal ini. Menurut Save The Children, setidaknya 31 ribu anak hilang, dengan banyak faktor yang berkontribusi pada tingginya angka tersebut. Beberapa faktor penyebab tingginya angka anak hilang di Gaza termasuk anak-anak yang tertimbun bangunan, ditahan oleh tentara Israel, terkubur di pemakaman tanpa nama, hingga terpisah dari keluarga mereka. Dalam kondisi seperti ini, hampir mustahil untuk mengumpulkan dan memverifikasi informasi secara akurat.
Save The Children memperkirakan bahwa setidaknya 17 ribu anak berada tanpa pendampingan atau terpisah dari keluarga mereka. Selain itu, sekitar 4 ribu anak diyakini hilang di bawah reruntuhan bangunan dan tidak diketahui beberapa yang terkubur di pemakaman tanpa nama. Laporan ini menambah daftar panjang penderitaan anak-anak di Gaza, yang sudah lama hidup di bawah bayang-bayang konflik dan kekerasan.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, korban jiwa akibat serangan Israel telah mencapai lebih dari 37.500 orang, mayoritas adalah warga sipil termasuk anak-anak dan perempuan. Situasi ini menggarisbawahi betapa rentannya anak-anak di wilayah konflik, yang seringkali menjadi korban tak berdosa dari kekerasan yang terus berlangsung. Angka ini mencerminkan tragedi kemanusiaan yang tak kunjung berakhir di Gaza. Selain kehilangan anak-anak, laporan juga menyebutkan bahwa anak-anak di Gaza menjadi korban penyiksaan oleh tentara Israel. Banyak dari mereka yang dipaksa menghilang, termasuk yang ditahan atau dipindah paksa keluar Gaza.
Jakarta hari ini masih eksis sebagai kota metropolitan. Letaknya yang cukup strategis di pesisir bagian barat laut Pulau Jawa, serta mendapat julukan The Big Durian, menyaingi kota New York yang dijuluki The Big Apple. Jakarta sebagai pusat bisnis, politik, juga kebudayaan, tak heran jika kota ini menjadi pilihan banyak orang untuk mengadu nasib. Mengenyam pendidikan, membangun propspek berkarir, meningkatkan kesejahteraan ekonomi, dan sebagainya. Banyak yang berhasil, juga tak jarang yang gagal untuk bertahan hidup di Jakarta. Dengan segala dinamika yang ada, kemudahan akses juga berbagai tantangan untuk menghadapi kerasnya hidup di Kota.
Jakarta yang semakin padat, Kali Ciliwung dengan warnanya yang makin hitam pekat, infrastruktur serta mobilisasi kota semakin cepat, juga dinamika politik yang nampaknya masih berkutat dengan sebuah pangkat. Tahun ini mungkin menjadi perayaan ulang tahun terakhir Jakarta dengan menyandang status Ibu Kota Negara. Namun Jakarta tidak akan memudar pesonanya. Semoga kelak melahirkan banyak pemimpin yang amanah dan professional. Banyak harap kehidupan yang dititipkan di Jakarta, mudah-mudahan segera punya pemimpin yang amanah, mampu merealisasikan gagasan, serta bertanggung jawab atas sebuah jabatan.
Menarik ketika nabi Muhammad ﷺ menyuruh umatnya terus siaga untuk shalat dan menyebutnya sebagai ribath. Rasulullah ﷺ bersabda, “Maukah kutunjukkan kepadamu apa yang dapat menghapus dosa dan meningkatkan derajat?” Sahabat menjawab, “Baik ya Rasulullah!” Beliau bersabda, “Menyempurnakan wudhu di saat kesukaran, memperbanyak langkah kaki ke masjid, menunggu shalat (berikutnya) sesudah menunaikan shalat. Itulah ribath.” (HR Muslim)
Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan makna ribath dalam hadits tersebut, “asal makna ribath adalah al-habsu (menahan) atas sesuatu, seperti menahan dirinya untuk berada dalam ketaatan ini.” Beliau juga mengatakan bahwa hadits ini mengandung pengertian tentang jenis ribath yang lebih mudah dan lebih memungkinkan untuk dikerjakan, sehingga berjaga-jaga untuk shalat merupakan satu jenis dari ribath.” Beliau menukil pendapat tersebut dari al-Qadhi ’Iyadh. Penafsiran ini menguatkan apa yang disampaikan oleh Abdullah bin Mubaarak rahimahullah, bahwa ribath tak hanya dibutuhkan di medan perang saja.
Allah SWT mensyariatkan ibadah haji tidak hanya sebatas tentang ibadah biasa, namun lebih dari itu, ibadah haji justru sebagai bukti persatuan dan kejayaan Islam, serta bukti kekompakan pemeluknya. Ibadah haji juga sebagai ajang tukar pendapat satu suku dengan suku lainnya, satu bangsa dengan bangsa lainnya. Ketika sudah berada di Baitullah, tidak ada perbedaan antar umat Islam, semuanya sama-sama sebagai hamba Allah dengan tujuan yang sama pula.
Ketika melaksanakan ibadah haji, umat Islam tidak dibedakan lagi dengan berbagai identitas yang mereka miliki, karena itu sangat disayangkan bila umat Islam lupa dan tidak mengetahui manfaat dan hikmah luar biasa ini. Hikmah disyariatkan haji sebenarnya tidak jauh berbeda dengan ibadah lain, seperti shalat jamaah, shalat Jumat, dan dua shalat hari raya, yaitu guna menguatkan persatuan umat Islam. Islam menginginkan adanya ibadah yang bisa menghilangkan sekat kaya-miskin, tampan-jelek, kulit putih-kulit hitam, serta sekat lainnya. Di sisi Allah SWT, semuanya sama. Oleh karenanya, tentu adanya ibadah-ibadah tersebut tidak lantas mempersatukan umat Islam secara mayoritas. Ibadah itu hanya bisa mempersatukan umat Islam di tempat mereka masing-masing.
Saat ini, seluruh jemaah haji sudah melewati puncak prosesi dengan wukuf di Arafah dan menyelesaikan rangkaian ibadah berupa jumrah di Mina. Mereka tentu berharap semua rangkaian manasik yang dilakukan, diterima oleh Allah SWT. sehingga mereka layak mendapatkan predikat haji mabrur dan mabrurah. Begitu pun dengan umat Islam yang lainnya. Mereka telah berkurban dengan hewan terbaik yang mampu dibelinya. Namun, semestinya Idul Adha tidak boleh dimaknai sebatas ritual semata. Idul Adha sejatinya memiliki nilai politis yang relate dengan situasi umat hari ini. Nilai itu adalah nilai persatuan dan ukhuwah hakiki yang mestinya diperjuangkan umat Islam yang dengannya umat bisa bangkit dan memiliki kekuatan untuk mengangkat penderitaan kaum muslim Palestina dan di berbagai penjuru dunia lainnya.
Semestinya kita ingat pesan Rasulullah ﷺ dalam pidatonya di Arafah saat haji Wada. Beberpa poin penting dari pesannya tersebut, Rasulullah ﷺ mengingatkan kita agar selalu siap menjaga darah dan harta kita kaum Muslimin, meninggalkan berbagai tradisi jahiliyah, termasuk ashabiah, serta berpegang teguh pada tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah. Dengan demikian, bagaimana bisa kita berdiam diri atas penderitaan kaum muslim Palestina hanya demi mempertahankan kepentingan bangsa yang merupakan seruan-seruan jahiliyah?
Presiden RI Ke-1 Soekarno beserta Wakilnya, Moh. Hatta melaksanakan ibadah haji di waktu yang berbeda. Moh. Hatta menunaikan rukun Islam di tahun 1952. Sedangkan Ir. Soekarno pada tahun 1955. Keduanya memberikan sumbangsih atau usulan kepada pemimpin Arab Saudi saat menjalankan ibadah haji. Di antaranya memindahkan toko-toko dagangan dan memperbesar Masjidil Haram.
Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto mengatakan, aktivitas judol tak sekadar buruk bagi aspek sosial maupun norma, melainkan juga dari sisi ekonomi. Perputaran uang yang masif dari sektor judol tak memiliki efek apa pun dalam mendorong perekonomian Indonesia. Selain dari ekonomi secara makro, Eko menyampaikan daya beli masyarakat sebagai salah satu sumber daya penggerak ekonomi pun akan menurun imbas dari judol. Eko memastikan para pekerja yang kecanduan judol tidak akan mampu bekerja secara maksimal. Justeru judol akan membuat masyarakat tidak produktif.
Mirisnya, Pemerintah melalui Menko PMK Muhadjir Effendy melontarkan wacana kontroversial, yaitu memberikan bansos bagi masyarakat yang jatuh miskin akibat judol. Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira Adinegara buka suara terkait wacana tersebut. Bhima mengkritisi wacana pemerintah memberikan bantuan sosial kepada pelaku judol. Menurutnya, jika direalisasikan, maka bansos tidak tepat sasaran. Ada langkah lain yang bisa lebih solutif. Ia menilai judi online termasuk tindakan kriminal. Kurang tepat jika orang yang berkecimpung di aktivitas tersebut mendapat bansos. Pemerintah harus sepenuhnya fokus pada pencegahan. Menurutnya, judi online akan terus ada jika pemberantasan di hulu tidak serius.
Pakar ekonomi Islam yang juga anggota Dewan Syariah Nasional, ustaz Ikhwan Basri dalam salah satu kajiannya di radio Silaturahim mengatakan bahwa sumber utama judi online makin marak ialah sistem kapitalisme yang menghalalkan berbagai cara untuk menghasilkan uang tidak melihat halal atau haram. Bahkan yang mereka sebut sebagai “hiburan” (judi online lewat game), dalam Islam merupakan keharaman dan malah berakhir menjadi petaka.
From the publisher's feed