Radio Seila FM

Radio Seila FM

By Seila fm BatamReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Seila FM episodes

  • Jauhi Saling Fitnah

    “Tajuk Rasil”

    Kamis, 15 Jumadil Akhir 1445 H/ 28 Desember 2023


    Jauhi Saling Fitnah

    Hikmah Republika


    Setiap individu mendambakan kehidupan yang tenteram. Tentu dambaan itu tidak akan terwujud jika pilar-pilarnya tidak ditegakkan. Salah satu faktor penting terwujudnya masyarakat yang tenteram adalah kemampuan masyarakat mengendalikan lisan dari menuduh orang lain tanpa bukti. Dalam Islam, menuduh adalah perilaku yang sangat tercela.


    Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata." (QS al-Ahzab: 58)


    Ancaman pada ayat di atas berbanding lurus dengan dampak yang ditimbulkan oleh sikap dan sifat menuduh. Secara individu, korban tersakiti dan rusak nama baiknya. Tetapi, keburukan memfitnah tidak berhenti pada level individu. Perilaku menuduh tanpa bukti dapat mengusik keakraban di tengah masyarakat. Bahkan, jika tidak diredam, maka akan mengoyak persatuan dan kesatuan.


    Karenanya, Islam memberikan ancaman berlapis kepada orang yang menuduh tanpa bukti. Ada hukuman di dunia berupa had (hukuman yang ketentuannya dari Allah SWT) dan ta’zir (hukuman yang ketentuannya berdasarkan ijtihad). Jika tuduhan itu berkaitan dengan zina, maka penuduh tanpa bukti dicambuk delapan puluh kali. Sedangkan, pada selain itu dihukum sesuai ijtihad hakim (ta’zir).


    Adapun di akhirat akan berhadapan dengan ancaman yang juga tak kalah mengerikan. Dalam hadis, Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa memfitnah saudaranya (dengan tujuan mencela dan menjatuhkan kehormatannya) maka Allah akan menahannya di jembatan jahanam sampai ia bersih dari dosanya (dengan siksaan itu).” (Riwayat Abu Daud)......................

    7 min
  • “Merawat” Proyek Terorisme

    “Tajuk Rasil”

    Rabu, 14 Jumadil Akhir 1445 H/ 27 Desember 2023


    “Merawat” Proyek Terorisme


    Beberapa hari ini pemberitaan mengenai terorisme lokal kembali mengemuka. Kapolri Jendral Listyo Sigit Prabowo menyampaikan bahwa Densus 88 telah mengamankan sebanyak 18 orang terduga pelaku teroris saat pengamanan Natal tahun 2023. Ia mengatakan bahwa pengamanan 18 orang tersebut adalah bagian dari atensi pihak kepolisian yang mengantisipasi adanya gangguan kelancaran ibadah Natal umat Katolik di Indonesia. Listyo belum menerangkan lebih rinci terkait pengamanan 18 orang tersebut. Ia juga belum menyebutkan bahaya yang dibawa orang-orang tersebut terhadap keamanan perayaan natal di daerah mana.


    Setiap momen Natal dan tahun baru (Nataru), sepertinya isu terorisme akan selalu muncul ke permukaan. Apalagi Densus 88 mengklaim, sepanjang Desember ini telah menangkap 18 orang terduga teroris di berbagai daerah. Penangkapan tersebut dilakukan dalam rangka mencegah terjadinya aksi terorisme di Indonesia, terutama agar acara Nataru bisa berjalan lancar.


    Menariknya, setiap isu terorisme muncul, bisa dipastikan pula yang menjadi objek penangkapan adalah orang Islam. Latar belakang mereka pun tidak jauh dari anggota atau aktivis gerakan Islam yang menginginkan berdirinya negara Islam melalui aksi-aksi kekerasan. Akibatnya, muncul kesan bahwa terorisme itu identik dengan perjuangan umat Islam.


    Hanya saja, masyarakat sendiri tampaknya sudah tidak terlalu peduli dengan munculnya narasi terorisme ini. Mereka cenderung berpandangan bahwa isu ini hanyalah “drama” yang diulang-ulang untuk menciptakan kondisi tertentu sesuai kepentingan kekuasaan. Sebagian lagi bahkan menuding bahwa di balik isu terorisme yang berulang, ada aroma proyek tahunan yang dilakukan demi kucuran cuan, terlebih tahun ini adalah tahun politik yang sarat dengan berbagai kepentingan..................

    9 min
  • Psy-War di Tahun Politik

    “Tajuk Rasil”

    Selasa, 13 Jumadil Akhir 1445 H/ 26 Desember 2023


    Psy-War di Tahun Politik

    Artikel Hidayatullah.com, Oleh: Mustofa B Nahrawardaya


    Alkisah Jozef Goebbels, Menteri Propaganda Nazi di zaman kekuasaan Hitler. Suatu saat memerintahkan kepada pasukannya agar terus-menerus menyebarkan kebohongan. Politikus Jerman ini yakin, kebohongan yang terus-menerus diucapkan, ditulis, dan diteriakkan kepada publik, pada akhirnya akan dianggap sebagai sebuah kebenaran. Akibat dari kerja sistematis ini, dunia kemudian mengenal adanya istilah genocide (pemusnahan massal) yang dilakukan terhadap Yahudi, oleh pasukan Nazi. Hitler melalui Nazi berhasil mempengaruhi dunia, untuk mengusir, bahkan membantai Yahudi dimanapun mereka berada.


    Di kemudian hari, teknik pembohongan publik yang dilakukan Goebbels ini dikenal sebagai teknik “argentums ad nausem” atau teknik “big lie” yang menyebabkan ia dijuluki ‘Bapak Kebohongan Dunia’. Sebelum mengakhiri hidupnya, Goebbels bersama istrinya, Magda, pada 1 Mei 1945 terlebih dahulu meracuni keenam anaknya menggunakan pil sianida. Dengan alibi tidak ingin keenam anaknya hidup di lingkungan Nazi, Goebbels dan istrinya meminumkan obat tidur kepada anak-anaknya. Keduanya kemudian bunuh diri. Propaganda kebohongan terus-menerus Goebbels itu menghasilkan sejarah panjang penjajahan Yahudi terhadap Palestina. Dunia menjadi serba salah untuk mendamaikan konflik ini, antara membiarkan Yahudi bercokol di bumi Palestina, atau mengusir Yahudi dari area konflik.


    Jozef Goebbels telah menjadi contoh sejarah tentang psy-war (perang urat syaraf). Dia berhasil memicu sebuah peperangan panjang. Ternyata aksi saling bunuh antar manusia tidak harus dengan menggunakan alat perang canggih atau peralatan serba besar. Cukup dengan menebar kebohongan, menebar fitnah, dan menebar kebencian kepada publik, maka mesin perang modern pun akan otomatis bekerja........................

    9 min
  • Makna Kata Amin Saat Sholat dan Doa

    “Tajuk Rasil”

    Kamis, 8 Jumadil Akhir 1445 H/ 21 Desember 2023


    Makna Kata Amin Saat Sholat dan Doa


    Kata amin mempunyai makna yang dalam menurut Alquran dan hadits. Syeikh Ali As-Shabuni dalam karyanya ‘Shafwatut Tafasir’ mengatakan, kata “amin” berarti “Terimalah doa kami.” Imam Al-Baghowi mengatakan, makna kata ini “Allāhumma isma wa istajib” atau “Tuhanku, dengar dan kabulkanlah.” Sahabat Ibnu Abbas dan Qatadah mengatakan, makna kata ini “ka dzālika yakūnu” atau “demikian itu (semoga) ia menjadi.” Semenara al-Mujahid berpendapat, “āmīn” adalah salah satu asma Allah. Ada juga ulama berpendapat bahwa, “āmīn” adalah segel Allah atas para hamba-Nya yang dapat melindungi mereka dari bahaya sebagaimana sampul buku yang memeliharanya dari kerusakan.


    Makna lafaz amin sangatlah besar. Dalam Sholat, kata “amin” bukan sebatas ritual bacaan yang dilafazkan ketika usai membaca surat Al-Fatifah, tetapi juga dia mempunyai makna. Pemaknaan lafaz “amin” menurut Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Prof KH Nasaruddin Umar, sebagaimana dikutip dari dokumentasi Harian Republika: Di akhir pembacaan surat al-Fatihah dalam sholat, khususnya sholat yang bacaannya dibesarkan (jahr), dianjurkan untuk membaca “amin” dengan nada kedengaran bagi kaum laki-laki. Diucapkan dalam hati bagi kaum perempuan.


    Ini sesuai dengan sabda Rasulullah ﷺ, "Jika imam membaca gair al-magdhub 'alaihim wa la al-dhalin (akhir surat al-Fatihah), maka hendaklah para makmumnya membaca "amin". Ucapan yang sama juga disampaikan oleh para penghuni langit (malaikat), lalu Allah SWT mengampuni dosa masa lalunya". Ada sejumlah redaksi lain yang intinya sama, dianjurkan membaca “amin” ketika imam atau orang lain membaca akhir surat al-Fatihah. Meskipun lafal amin bukan dari Alquran tetapi banyak riwayat menganjurkan pembacaannya ketika mendengar atau melantunkan bacaan akhir surat al-Fatihah. ...........................


    8 min
  • Islam Tak Kekurangan Figur Pemimpin Hebat
    “Tajuk Rasil”
    Rabu, 7 Jumadil Akhir 1445 H/ 20 Desember 2023
    *Islam Tak Kekurangan Figur Pemimpin Hebat*
    _Artikel Hidayatullah.com, oleh: Kholili Hasib_
    Dalam sejarah Islam, terdapat model terbaik pemimpin negara. Terbaik sedunia di masa itu. Mereka disebut “Khulafa ar-Rasyidin”, artinya para Khalifah yang mendapatkan petunjuk Allah SWT. Istilah yang digunakan untuk menyebut empat orang Khalifah yang memimpin umat Islam setelah wafatnya nabi Muhammad ﷺ. Mereka adalah Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin 'Affan, dan Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhum. Kebaikan karakter kepemimpinan mereka sudah sangat terlihat sebelum dipilih. Salah satunya bisa kita simak kisah Sayidina Abu Bakar dan Sayidina Umar.
    Sayidina Abubakar As-Shiddiq dalam pidato pertamanya saat diresmikan menjadi Khalifah, dia tak terlihat bergembira apalagi berpesta. Petikan sebagian pidatonya: “Saudara-saudara, saya telah diangkat menjadi pemimpin bukanlah karena saya yang terbaik di antara kalian. Untuk itu, jika saya berbuat baik bantulah saya dan jika saya berbuat salah luruskanlah. Patuhilah saya selama saya mematuhi Allah dan Rasul-Nya. Jika saya durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya maka tidak ada kewajiban bagi kalian untuk mematuhi saya. Semoga Allah melimpahkan Rahmat-Nya kepada kita.”...................
    8 min
  • Kalah Debat, Kenapa Dibawa Keluar Arena?
    “Tajuk Rasil”
    Selasa, 6 Jumadil Akhir 1445 H/ 19 Desember 2023
    *Kalah Debat, Kenapa Dibawa Keluar Arena?*
    _Tony Rosyid, Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa_
    Dalam acara temu kader Gerindra, di atas podium Prabowo bilang: “etik…etik…etik…ndasmu etik”. Langsung disambut riang gembira oleh para kader. Bagi orang Jawa, baik Jawa Timur maupun Jawa Tengah, kata “ndasmu” itu punya dua konotasi. Konotasi candaan, dan konotasi umpatan kemarahan. Konotasi candaan, jika itu diungkapkan kepada kawan akrab dalam kelakar. Biasanya sambil ketawa ngakak. Mirip kata “juancuk” di Jawa Timur. Biasa diucapkan untuk candaan kepada teman akrab. Kalau ditujukan kepada orang lain, itu bukan candaan, tapi cacian. Mudah membedakannya
    “Ndasmu” dalam pidato Prabowo itu adalah reaksi dari hasil debat capres (12 desember) lalu. Jauh dari arti candaan. Kata “Ndasmu” adalah ekspresi kemarahan Prabowo kepada Anies Baswedan, karena merasa ditelanjangi di acara debat capres. Prabowo sangat kecewa, karena Anies Baswedan, sosok yang pernah diusung di pilgub DKI Jakarta dan digadang-gadang menjadi cawapresnya, justru tampil sebagai riwal di pilpres. Lebih marah lagi, ketika dalam debat capres, Anies dianggap memojokkan Prabowo dengan sejumlah pertanyaan.
    Kalau mau fair, sebenarnya Prabowo juga menyerang dan memojokkan Anies dengan bertanya soal polusi udara DKI. Apalagi, beberapa kali Prabowo juga ungkit pilgub DKI dimana Prabowo yang mengusung Anies. Any way, bukankah saling serang dan saling mematahkan argumentasi dalam debat, itu hal biasa? Itu adalah sesuatu yang natural di arena debat. Mestinya, tidak ada yang merasa diserang dan dipojokkan. Kalau ada capres, siapapun itu, merasa dipojokkan dan diserang oleh lawan debat, ini menunjukkan bahwa ia belum dewasa dalam demokrasi. Apalagi, kalau kemudian membawa materi debat ke luar arena. Ini menunjukkan secara mental ia memang tidak siap.
    Blunder! Secara politik, ini blunder. Kata “ndasmu” itu kata-kata sangat kasar. Di kepala masyarakat Jawa, itu kasar sekali. Sangat tidak pantas untuk diungkapkan. Apalagi yang mengungkapkan adalah calon presiden. Calon pemimpin bangsa. Pidato Prabowo terkait dengan kata “Ndasmu” menunjukkan dua hal. Pertama, Prabowo membawa materi debat ke luar arena. Adu argumen, mestinya selesai di ruang debat. Kecuali jika ada media yang nanya. Itupun harus dijawab dengan diplomatis. Tidak dijadikan kesempatan untuk menyerang balik lawan debat di luar arena. Mestinya, tahan dulu. Tunggu jadual debat berikutnya. Masih ada beberapa jadual debat lagi. Di situ, Prabowo bisa mempersiapkan diri lebih matang.
    Bayangkan ketika seorang petinju bernama Wilder kalah dengan Tyson Fury. Dua pertandingan KO. lalu ngajak ribut di luar arena tinju. Kan gak asik. Dunia tinju akan gaduh. Jika itu terjadi, maka tidak ada lagi sportifitas dalam dunia tinju. Mike Tyson dikenal emosional. Ketika ia kalah dari Hollyfield, Lennox Lewis dan James Buster Douglas. Mike Tyson mengakui dan tidak menyerang balik di luar arena. Ini sportifitas. Dalam pertandingan, tidak hanya tinju, mesti sportif. Pertandingan apapun, ada arenanya. Tidak liar bermain di luar arena.
    Kedua, untuk menjadi pemimpin, apalagi pemimpin negara besar seperti Indonesia yang menganut sistem demokrasi, perlu emosi yang stabil dari seorang pemimpin. Pressure rakyat yang akan dihadapi oleh presiden jauh lebih besar dan kuat dari sekedar pertanyaan dan serangan lawan debat. Kalau menghadapi pertanyaan lawan debat saja tidak siap, bagaimana menghadapi kritik tajam mahasiswa dan cacian para oposan? “Tidak terbang dalam pujian, dan tidak tumbang dalam cacian”. Ini yang harus dijadikan sebagai salah satu prinsip dalam leadership. Stabilitas mental sangat dibutuhkan oleh seorang pemimpin. Tanpa memiliki stabilitas mental dan emosi, ini akan sangat berbahaya bagi seorang presiden. Sebab, presiden punya instrumen negara yang bisa dengan mudah melayani kepentingan emosinya...........
    9 min
  • Menjawab Narasi Negatif Netizen tentang Pengungsi Rohingya
    “Tajuk Rasil”
    Kamis, 1 Jumadil Akhir 1445 H/ 14 Desember 2023
    *Menjawab Narasi Negatif Netizen tentang Pengungsi Rohingya*
    _Artikel Hidayatullah.com, Oleh: Ali Mustofa Akbar_
    “Sudah jatuh tertimpa tangga,” begitu kira-kira menggambarkan nestapa saudara Muslim Rohingya saat ini. Sudah terusir dan teraniaya dari negerinya, sekarang dibuly dengan narasi-narasi kejam oleh netizen Indonesia. Etnis Rohingya, sering digambarkan sebagai orang-orang yang paling sering mengalami persekusi di dunia. Mereka ditolak di negara sendiri, tidak diterima oleh beberapa negara, hidup miskin, tak punya kewarganegaraan, serta dipaksa meninggalkan negerinya.
    Padahal sebelumnya mereka merupakan komunitas Muslim yang sudah tinggal berabad-abad lamanya di sana, mereka absah dan diakui sebagai warga negara bahkan juga ketika Inggris berkuasa di Burma, Rohingya menjadi bagian tak terpisahkan dari negara itu. Hingga ikut andil dalam kemerdekaan Burma tahun 1948. Sekarang bernama Myanmar. Keadaan berbanding terbalik sejak kudeta militer oleh Jenderal Ne Win dari Partai Sosialis Burma pada 1962. Komunitas Muslim di Myanmar terutama Rohingya mendapat perlakuan diskriminatif, mereka tidak dianggap sebagai warga asli Myanmar. Puncaknya di tahun 2017 ribuan Muslim myanmar terbunuh oleh tentara Myanmar. Dunia mengutuk peristiwa ini dengan menyebutnya sebagai genosida.
    Dalam kurun waktu akhir November 2023 ini, ada 1.084 pengungsi Rohingya yang datang ke Sabang, Aceh. Mereka datang dengan menumpangi kapal milik warga Bangladesh. Menurut UNHCR, bahwa per 31 Oktober 2023, lebih dari sejuta pengungsi Rohingya pergi ke berbagai negara untuk mencari perlindungan. Beberapa negara menjadi labuhan mereka adalah Arab Saudi, Malaysia, Bangladesh, Indonesia, dan lainnya. Derita saudara Muslim Rohingya menambah pelik kisah umat Islam di penjuru dunia yang saat ini dalam kondisi yang memprihatinkan. Menjadi manusia perahu serta “mengemis” ke negara lain tentu bukan keinginan terbaik meraka, siapapun, ingin hidup tenteram di negerinya sendiri.
    Kedatangan Muslim Rohingya di negeri ini kini makin menghangat kembali. Permasalahan bertambah runyam karena muncul narasi-narasi negatif terhadap Muslim Rohingya distigmakan sebagai pelaku aktivitas kriminal seperti pencurian, pemerkosaan, dan seterusnya. Menanggapi hal ini Ketua MPU Aceh, Abu Faisal Ali, menyampaikan: “Jangan sampai, karena banyaknya pemberitaan negatif yang menggambarkan kekurangan-kekurangan mereka, seolah menepis dan menihilkan kewajiban kita sesama Muslim ataupun sekadar selaku manusia,” katanya. Sementara cendikiawan Muslim Aceh, Adli Abdullah mengatkan, “Saya kira kita tetap membangun simpati terhadap masyarakat Rohingya yang terzalimi dan memang kalau ada yang terlibat human traficking harus ditindak. Jangan mencari keuntungan di atas penderitaan orang Rohingya. Semoga etnis Rohingya segera merdeka dunia akhirat,” tegas dosen Universitas Syah Kuala ini.........
    10 min
  • Memahami Makna Rasionalitas dalam Memilih Pemimpin

    “Tajuk Rasil”

    Rabu, 29 Jumadil Awwal 1445 H/ 13 Desember 2023


    Memahami Makna Rasionalitas dalam Memilih Pemimpin

    Oleh: Utteng Al-Kajangi ( Imaam Shamsi Ali)


    Sekitar dua bulanan lagi bangsa Indonesia akan kembali melangsungkan perhelatan akbar demokrasi. Bangsa yang besar nan hebat ini akan melangsungkan pemilu untuk memilih calon-calon pemimpin mereka, baik legislatif maupun eksekutif. Pemilu kali ini akan memiliki magnitude yang sangat besar. Hal itu karena pemilu kali ini secara serentak dilangsungkan dalam pemilihan Presiden, anggota DPR dan DPD RI. Tentu harapan dan doa kita semoga tidak mengakibatkan hal yang tidak diinginkan. Sebagaimana kita semua ingat begitu besar jumlah korban nyawa pada pilpres yang lalu.


    Selain pentingnya mengantisipasi hal-hal negatif seperti di atas, tentu tidak kalah pentingnya juga adalah urgensi mengantisipasi terjadinya ketidak becusan dalam pelaksanaan pemilu. Ketidak becusan itu salah satunya adalah ketika para wasit (pelaksana pemilu) memihak, bahkan ikut bermain. Tapi tidak kalah pentingnya adalah wawasan, mindset dan karakter para pemain (calon pemilih) yang perlu dibenahi. Adalah sangat penting untuk para pemain pemilih itu bermain dengan penuh kesadaran, kemurnian hati (tidak dipaksa atau diiming-imingi), dan profesional. Sadar bahwa memilih adalah hak Konstitusional yang sangat penting. Lalu memutuskan pilihan dengan pertimbangan nurani dan akal sehat.


    Namun yang terpenting dari semua itu adalah pentingnya “profesionalitas” para pemain dalam bermain. Pemain yang profesional itu artinya pemain yang mampu bermain dengan modal keilmuan dan skill permainan. Saya optimis dengan terbukanya media, termasuk media sosial, para pemain itu semakin memilki perangkap profesionalitas. Dalam hal pilihan ini pengetahuan dan pemahaman para pemilih tentang “calon” yang akan dipilih menjadi sangat menentukan. Sehingga keputusan pilihan bukan sekedar karena dorongan emosional dan pragmatis semata. Tapi didasari oleh pengetahuan bahwa calon yang akan dipilih itu memang sesuai dengan idealisme dan nilai yang dijunjungnya.


    Dengan pengetahuan tentang calon, para pemilik akan rasional dalam menentukan pilihan. Berdasarkan pengetahuan tentang calon itu para pemilih akan melakukan penilaian jujur tentang para calon. Mana yang terbaik dan paling sesuai dengan idealisme, nilai dan tentunya kebutuhan bangsa dan negara. Kata “rasionalitas” itu memang berasal dari kata “rasio” (ratio) yang bermakna “ukuran”. Jadi memilih secara rasional itu artinya menentukan pilihan dengan melakukan kalkulasi secara cermat dan jujur terhadap calon-calon yang ada. Dalam mengukur atau menilai para calon ada beberapa dasar yang dapat dipakai. Dimulai dari aspek pribadi, keluarga, dan juga tentunya rekam jejak dalam kehidupan publiknya. Semua itu akan direlevansikan dengan keadaan idealisme dan nilai serta keperluan negara, bangsa, bahkan dunia global.


    Selain itu, gagasan atau ide-ide para calon yang tertuang dalam visi misi yang ditawarkan juga menjadi dasar penting dalam menilai para calon. Para pemilik akan menilai mana gagasan yang lebih ideal, berkarakter kemajuan, inovatif, imbang, komprehensif, dan realistis. Gagasan atau ide yang tertuang dalam visi misi atau rencana kerja para calon itu akan lebih banyak terekspos pada saat acara debat calon atau di acara-acara kampanye. Di acara debat dan kampanye ini akan terekspos jika visi misi itu memang terlahir dari gagasan dan ide “genuine” para calon. Bukan sekedar karangan dan titipan para ahli yang mendampinginya.


    9 min
  • Gagasan No ! Pasang Baliho Yes !

    “Tajuk Rasil”

    Selasa, 28 Jumadil Awwal 1445 H/ 12 Desember 2023


    Gagasan No ! Pasang Baliho Yes !

    Oleh: Tony Rosyid, pengamat politik dan pemerhati bangsa


    Indonesia negara besar. Luas daratan 1,91 juta km2. Luas lautan 6.32 juta km2. Jumlah penduduknya 270 juta. 78 tahun merdeka dengan menyisakan ribuan masalah yang tidak kunjung terselesaikan. Di sektor pendidikan, hanya 6% yang lulusan sarjana. 21% lulusan SLTA. 34% lulusan SMP. Sisanya lulusan SD ke bawah. Ini menunjukkan jumlah SDM kita masih jauh dari negara-negara tetangga. Nasib dosen, guru dan tenaga pengajar honorer sangat mengenaskan. Gaji 300 ribu sebulan hanya buat beli beras. Minyak dan lauk tidak terbeli. Belum kebutuhan pokok dan pendidikan anak-anaknya.


    Lihat sektor korupsi. Index angkanya 34. Terus turun. Ini raport merah. KPK lumpuh setelah UU-nya direvisi. Ketua KPK jadi tersangka pemerasan terhadap pasiennya. Apa hanya ketua KPK aja yang melakukan pemerasan? Pihak kepolisian bisa menelusurinya lebih jauh. Belum soal hukum. Tajam ke bawah, tumpul ke atas. Rakyat miskin dipaksa selalu mengalah ketika berhadapan dengan orang kaya atau pejabat. Semakin kemari, semakin parah. Hukum dipaksa harus melayani kemauan elit yang berkuasa. Apa yang penguasa mau, aturan bisa diubah. Kapan saja. Negara tidak punya kepastian lagi.


    Di sektor pertanian, pupuk selalu langka setiap dibutuhkan oleh petani. Masa panen, harga murah. Petani terus merugi. Mafia impor holtikultura merajalela. Merekalah yang memainkan harga semaunya. Pengelola negara ikut terlibat. Petani terus tertekan dan semakin sulit hidupnya. Sisi moneter, rupiah gak ada harganya. Murah sekali dibanding uang asing. Pertumbuhan ekonomi gak lebih dari 5%. Jika mengacu pada standar world bank, separo orang Indonesia itu miskin. Penghasilan perharinya kurang dari $ 3,2. Income perkapita rakyat Indonesia $ 4.580. Bandingkan dengan Malaysia, negara tetangga. Income perkapitanya $ 12.000 lebih. Singapora $ 67.000 lebih. jauh lebih tinggi dari Indonesia. Brunai $ 31.000 lebih.


    Indonesia memiliki wiilayah seluas Amerika. 70% lautan. Kekayaan laut berlimpah. Tapi, lalu lalang kapal asing mencuri ikan di laut kita begitu bebas. Transaksi ilegal leluasa dilakukan di wilayah perairan. Kapal patroli jauh dari cukup untuk bisa memantau luasan laut. Anggaran kecil, banyak yang korupsi. Belum lagi para oknum di laut yang jumlahnya tak terhitung. Laut menjadi dunia gelap bagi para mafia. Mulai dari norkoba hingga BBM ilegal

    ...................

    9 min
  • Opsi (Tersisa) bagi Bangsa Palestina

    “Tajuk Rasil”

    Senin, 27 Jumadil Awwal 1445 H/ 11 Desember 2023


    Opsi (Tersisa) bagi Bangsa Palestina

    Oleh: Yasmi Adriansyah, Ketua Bidang Multilateral Lembaga Hubungan dan Kerjasama Internasional, PP Muhammadiyah


    Zionis Israel sampai detik ini terus menumpahkan darah di Gaza, Palestina. Ribuan nyawa sudah menjadi syuhada. Hampir separuhnya anak-anak tak berdosa. Potret-potret penuh kengerian menjadi tontonan keseharian. Darah, tumpukan jenazah, reruntuhan bangunan, dan wajah-wajah penuh tangis seolah tak berkesudahan. Tahun ajaran pendidikan anak-anak sudah terhenti. Gaza terancam hilang satu generasi. Sampai kapan derita bangsa Palestina akan berakhir? Jawabannya sangatlah tidak pasti. Kepastian bagi mereka sepertinya hanya pada akhir kehidupan dunia. Kematian.


    Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sudah menyatakan bahwa operasi perang tentara Israel di Gaza akan berlangsung lama. “Tidak ada gencatan senjata. Karena jika itu terjadi, berarti kami menyerah,” tegas PM yang juga mantan kapten di Sayeret Matkal, pasukan khusus Zionis Israel. Ironisnya, organisasi internasional seperti PBB seolah tak berdaya. Resolusi Dewan Keamanan, sekalipun hanya meminta jeda kemanusiaan, seketika ‘mati’ usai diveto Amerika Serikat, sekutu utama Zionis Israel. Majelis Umum PBB sempat memberikan harapan dengan resolusi yang menekankan pada perlindungan rakyat sipil dan gencatan senjata, sudah disepakati mayoritas negara anggota. Namun kecil kemungkinan Zionis Israel akan mematuhinya.


    Zionis Israel memang jarang patuh, apalagi peduli, dengan hukum internasional. Dalam prinsip mereka, silahkan dunia nyatakan keinginan, tapi Israel tetap lakukan yang harus mereka lakukan. Apakah masih ada secercah optimisme bagi bangsa Palestina? Apakah opsi yang tersisa hanyalah penderitaan, kematian, atau bahkan kepunahan akibat genosida? Bangsa Palestina yang mayoritas Muslim tidak akan menyerah pada keadaan. Setidaknya masih ada, walau hanya sedikit, opsi yang tersisa. Opsi tersebut adalah, pertama, kesabaran. Kedua, opsi perlawanan. Semuanya, secara spiritual, memiliki dimensi pahala di mata Allah azza wa jalla.


    Untuk opsi kesabaran, masih ada upaya masyarakat antarbangsa, baik melalui lembaga internasional maupun masyarakat sipil dunia memberikan bantuan kemanusiaan. Sekalipun proses penyaluran tidak mudah karena pintu masuk ke Gaza melalui perbatasan Rafah tidak sepenuhnya dibuka. Namun belakangan, berbagai jenis bantuan khususnya dalam bentuk makanan, air, dan obat-obatan perlahan mulai mengalir. Bantuan kemanusiaan ini seyogianya akan terus menjadi dukungan, baik terhadap kekuatan fisik maupun moril bagi bangsa Palestina. Setidaknya, di antara desingan peluru dan bahkan bom fosfor, mereka masih mendapatkan perhatian.


    Bagaimana dengan opsi perlawanan? Jika opsi kesabaran bersifat pasif, opsi perlawanan bersifat aktif. Artinya, jika bangsa Palestina ingin merdeka, hanya ini opsi yang tersisa. Sejarah menunjukkan, kemerdekaan suatu bangsa umumnya diraih dengan perlawanan senjata. Negosiasi perdamaian lebih sebagai penyerta. Secara politik, lembaga internasional seperti PBB sudah tidak dapat berbuat banyak dalam mewujudkan Palestina merdeka. Meminjam bahasa Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, PBB seperti “impoten”. Dalam banyak kasus, hak veto Amerika Serikat di Dewan Keamanan adalah penyebab utamanya. ...................

    10 min

About Radio Seila FM

From the publisher's feed

Menyajikan sederetan program unggulan on air