Ruang Publik

Ruang Publik

By KBR PrimeNews
Download on the App Store

Ruang Publik episodes

  • Dukung Komitmen Berhenti Merokok Melalui Kebijakan Kenaikan Harga Rokok

    Sebagai kesepakatan pembangunan global, PBB mengesahkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Salah satu target SDGs yang ingin dicapai pada tahun 2030 adalah mengurangi sepertiga kematian dini yang disebabkan oleh penyakit tidak menular seperti kanker, penyakit jantung dan pembuluh darah serta penyakit paru kronis yang mana rokok menjadi salah satu penyebab utama dari penyakit-penyakit tersebut. Mengingat data WHO yang menyebutkan Indonesia menjadi pasar rokok tertinggi ketiga di dunia setelah China dan India, dan angka prevalensi perokok laki-laki dewasa di Indonesia disebut paling tinggi di dunia (68,8%), untuk itu, bertepatan dengan menyambut Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) pada 31 Mei 2021, dengan tema "Commit to Quit" sekaligus sebagai kampanye mendukung para pengguna tembakau untuk berhenti merokok. Penting bagi pemerintah Indonesia mendorong program ini melalui kebijakan yang berdampak konkret, seperti misalnya menaikkan cukai hasil tembakau (CHT) yang dibarengi dengan kenaikan harga rokok yang signifikan.

    Bagaimana peran kebijakan pemerintah dalam mendorong masyarakat untuk berhenti merokok melalui kenaikan harga rokok? Dan bagaimana cara ampuh untuk menghentikan kebiasaan merokok? Kita akan perbincangkan lebih dalam soal ini di Ruang Publik KBR bersama narasumber: Nurul Hidayatul Ummah - Ketua Umum IPPNU (Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama) dan Fuad Baradja -Aktivis Pengendalian Tembakau.

    *Kami ingin mendengar saran dan komentar kamu terkait podcast yang baru saja kamu simak, melalui surel ke [email protected]

    50 min
  • Mengupas Penyediaan Hunian dan Solusinya

    Rumah adalah salah satu kebutuhan pokok bagi masyarakat. Untuk itu Pemerintah memulai Program Satu Juta Rumah untuk menyediakan hunian dan membantu masyarakat berpenghasilan rendah agar bisa memiliki rumah layak huni. Pada rentang 2015 hingga 2019 Pemerintah telah mewujudkan sebanyak 4,8 juta unit rumah dan sampai 2024 akan terus membangun 50 ribu unit rumah susun, 25 ribu unit rumah khusus, dan 1,5 juta unit rumah swadaya.

    Namun kenyataannya belum semua orang dapat memiliki rumah. Minimnya kemampuan daya beli dan masih rendahnya tingkat pendapatan yang dimiliki sebagian masyarakat menjadi salah satu penyebabnya, dimana terdapat kesenjangan antara kenaikan harga rumah yang tinggi dengan kenaikan gaji yang lebih rendah.

    Lalu apa saja permasalahan lainnya dalam penyediaan hunian? Dan bagaimana solusi agar semakin banyak masyarakat, terutama generasi milenial untuk dapat memiliki rumah? Kita akan perbincangkan lebih dalam soal ini di Ruang Publik KBR bersama Wendy Haryanto - Direktur Eksekutif Jakarta Property Institute (JPI).

    *Kami ingin mendengar saran dan komentar kamu terkait podcast yang baru saja kamu simak, melalui surel ke [email protected]

    51 min
  • Kesiapan Dalam Pembelajaran Tatap Muka

    Pemerintah menyatakan bahwa tahun ajaran baru sudah dapat dimulai dengan pembelajaran tatap muka (PTM) secara terbatas pada Juli 2021. Aktivitas pembelajaran tatap muka secara terbatas ini akan dilakukan setelah pemerintah melaksanakan vaksinasi terhadap pendidik dan tenaga pendidikan. Namun sejumlah pihak masih khawatir karena melihat situasi dan penyebaran kasus Covid-19 saat ini yang masih tinggi.

    Apakah Indonesia bisa dikatakan siap melakukan sekolah tatap muka tahun ini? Dan apa yang perlu dipersiapkan jika sekolah tatap muka tetap dilakukan? Kita akan perbincangkan lebih dalam soal ini di Ruang Publik KBR bersama narasumber: Jamjam Muzaki, M.KP - Tenaga Ahli Seknas Satuan Pendidikan Aman Bencana dan Ainun Najib, S. Pd. I - Guru pembina , sekaligus fasilitator dan koordinator forel provinsi Jawa Tengah.

    *Kami ingin mendengar saran dan komentar kamu terkait podcast yang baru saja kamu simak, melalui surel ke [email protected]

    49 min
  • Yuk Stop Jadi Netizen Paling Nggak Sopan!

    Halo mumpung habis lebaran, saatnya bersih-bersih yuk. Termasuk bersih-bersih dari kebiasaan bekomentar tak sopan. Pasti ingat kan beberapa waktu lalu ada riset Microsoft yang mengukur tingkat kesopanan pengguna internet sepanjang 2020. Hasilnya, Indonesia berada di urutan ke-29 dari 32 negara yang disurvei. Dengan hasil tersebut, Indonesia menjadi negara dengan tingkat kesopanan yang paling rendah di Asia Tenggara. Kok bisa sih? Hmm banyak yang suka menghujat sih. Misalnya, ada warganet asal Indonesia yang tiba-tiba menghujat pasangan gay asal Thailand.

    Menjadi seorang yang kritis itu penting. Tapi kritik itu bukan nyinyir.

    Menjadi pengguna medsos tanpa perlu menjadi hatter bagi siapapun. Nah coba cek-cek medsosmu, apakah isinya makian atau masukan? Dukungan atau celaan? Gimana sih kritis tapi sopan itu? Kita obrolin yuk bareng Nenden Sekar Arum, Kepala Divisi Kebebasan Berekspresi SAFEnet dan Enda Surya Nasution, Aktivis Media Sosial.

    *Kami ingin mendengar saran dan komentar kamu terkait podcast yang baru saja kamu simak, melalui surel ke [email protected]

    46 min
  • Mengarusutamakan Inklusi pada Gerakan Perempuan di Indonesia

    Selamat memperingati Hari Kebangkitan Nasional di tanggal 20 Mei ini. Hari ini jadi peringatan buat kita semua untuk terus memelihara persatuan dan bangkit untuk kemajuan negeri. Bagi kaum perempuan, Hari Kebangkitan Nasional juga menjadi peringatan untuk merayakan pencapaian yang dilakukan oleh perempuan di Indonesia. Namun dibalik pencapaian itu, ada kelompok minoritas yang masih sering terlupakan seperti perempuan adat, perempuan disabilitas, dan perempuan nelayan. Mengarustamakan inklusi menjadi sangat penting pada setiap gerakan perempuan dalam memperjuangkan kesamaan kesempatan diberbagai bidang, sehingga dapat mempromosikan kesejahteraan bersama dan meningkatkan kualitas masa depan bangsa.

    Lalu apa yang perlu dilakukan agar perempuan tidak tertinggal dalam berbagai hal? Dan apa yang terjadi jika tidak satu pun perempuan yang haknya terabaikan? Kita akan perbincangkan lebih dalam soal ini di Ruang Publik KBR bersama narasumber: Dra. Hj. Ariani Soekanwo - Ketua Pusat Pemilihan Umum Akses (PPUA) Disabilitas dan Ketua Dewan Pertimbangan HWDI, dr. Rumaisah Hasan, Sp. KFR - Koordinator Maju Perempuan Indonesia (MPI), dan Mike Verawati - Sekretaris Jenderal Koalisi Perempuan Indonesia (KPI).

    *Kami ingin mendengar saran dan komentar kamu terkait podcast yang baru saja kamu simak, melalui surel ke [email protected]

    51 min
  • Polemik Bukanya Tempat Wisata saat Pandemi

    Dalam beberapa hari ini, di media sosial banyak beredar foto dan video tempat-tempat wisata yang penuh sesak dikunjungi masyarakat yang ingin mengisi libur lebarannya. Dari foto dan video tersebut, terlihat banyak pengunjung yang tampak mengabaikan protokel kesehatan seperti tidak memakai masker dan menjaga jarak. Tentunya ini berpotensi menjadi sumber penyebaran Covid-19 yang masih terus coba ditekan angka kasusnya.

    Ini membuat beberapa daerah yang sebelumnya membuka tempat wisatanya kemudian menerapkan aturan untuk menutup semua tempat wisata di daerahnya seperti yang terjadi di Indramayu Jawa Barat dan Banten juga DKI Jakarta. Tujuannya agar tidak muncul klaster pariwisata.

    Sebenarnya seperti apa pengelolaan tempat wisata yang bisa diterapkan bila ingin dibuka saat pandemi Covid-19 masih berlangsung di Indonesia? Untuk membincangkan soal ini telah bersama kita di Ruang Publik KBR pagi ini ada Bapak Ary Suhandi, Executive Director Indonesian Ecotourism Network (INDECON).

    *Kami ingin mendengar saran dan komentar kamu terkait podcast yang baru saja kamu simak, melalui surel ke [email protected]

    49 min
  • Hak Kependudukan Kelompok Minoritas Gender

    Kementerian Dalam Negeri mengatakan akan memudahkan kelompok transgender untuk mendapatkan dokumen kependudukan, seperti KTP elektronik.

    Pernyataan ini mendapatkan respon positif dari sejumlah pihak termasuk aktivis LGBTQ.

    KTP elektronik disebut dapat membantu warga transgender memperoleh akses terhadap beragam layanan pemerintah, seperti kesehatan dan pendidikan.

    Lantas apa yang perlu diperhatikan pemerintah agar hak kependudukan ini bisa dilakukan secara penuh tanpa muncul diskriminasi? Untuk mengetahui penjelasannya, kami obrolin ini bersama Aktivis Perkumpulan Suara Kita, Audi Manaf dan Ketua Sanggar Swara, Kanza Vina di #RuangPublikKBR.

    *Kami ingin mendengar saran dan komentar kamu terkait podcast yang baru saja kamu simak, melalui surel ke [email protected]

    51 min
  • Berdaya Lewat Gerakan Literasi dan Pendidikan

    Memajukan negeri bisa lewat apa saja. Termasuk mengajak membaca dan belajar tentang hal baru. Hal ini dilakukan dua komunitas. Yang satu terus menyerukan pentingnya membaca dan komunitas lainnya mengajak anak desa untuk bisa lebih mandiri dan berdaya lewat sekolah alam. Dialah Komunitas Literasi Baca Bareng dan Sekolah Pagesangan.

    Bagaimana kedua komunitas ini mengajak masyarakat agar bisa lebih berdaya dan menambah wawasan? Untuk mengetahui penjelasannya kita akan simak penjelasan Hestia Istiviani, Inisiator Komunitas Baca Bareng dan Diah Widuretno, Inisiator Sekolah Pagesangan.

    *Kami ingin mendengar saran dan komentar kamu terkait podcast yang baru saja kamu simak, melalui surel ke [email protected]

    51 min
  • Bunuh Kebosanan dengan Kegiatan Kreatif

    Pandemi Covid-19 merupakan situasi luar biasa yang membuat orang merasa terganggu atau tertekan. Namun, kondisi yang ditimbulkan pandemi ternyata dapat memicu kreativitas.

    Penerapan pembatasan sosial, protokol kesehatan, serta adaptasi kebiasaan baru mendorong kreativitas masyarakat. Kreativitas ini juga disebut dapat membunuh kebosanan.

    Lantas, seperti apa memunculkan kreativitas di tengah pembatasan kegiatan ini? untuk mengetahui penjelasannya, kami akan hadirkan penjelasan Pendiri Weekend Workshop (Wewo), Randu Rini dan Psikolog, Adriana Amalia.

    *Kami ingin mendengar saran dan komentar kamu terkait podcast yang baru saja kamu simak, melalui surel ke [email protected]

    51 min
  • Silaturahmi Online di Tengah Larangan Mudik

    Wabah Covid-19 mengubah pola hidup masyarakat. Ada nilai-nilai baru yang harus diikuti sebagai bentuk penyesuaian terhadap wabah penyakit yang melanda dunia ini.

    Masyarakat Indonesia tengah dihadapkan dengan pertarungan kultural antara new normal dengan kebiasaan yang sudah melekat selama ini. Dua kali Idulfitri di tengah pandemi membuat masyarakat harus mengganti cara bersilaturahmi. Jika sebelumnya dilakukan tatap muka, sekarang harus dilakukan via daring.

    Lantas bagaimana pemaknaan silaturahmi ne normal ini? Apakah bisa tetap menjaga kedekatan meski dilakukan secara daring?

    Kami bahas di #RuangPublikKBR bersama dengan Redaktur Islami.Co, Hengki Ferdiansyah dan Pengamat Sosial, Devie Rahmawati.

    *Kami ingin mendengar saran dan komentar kamu terkait podcast yang baru saja kamu simak, melalui surel ke [email protected]

    50 min

About Ruang Publik

From the publisher's feed

Perbincangan khas KBR. Mengangkat hal-hal yang penting diketahui demi kemaslahatan masyarakat. Hadir juga di 100 radio jaringan KBR se-Indonesia.

More shows like Ruang Publik

Apa Kata Tempo by Podcast Tempo Media

Apa Kata Tempo

3 Listeners

Dongeng Paman Gery by Dongeng Paman Gery

Dongeng Paman Gery

1 Listeners