Sains Sekitar Kita

Sains Sekitar Kita

By The Conversation
Download on the App Store

Sains Sekitar Kita episodes

  • Laut dalam di Indonesia timur kaya bakteri, tapi belum banyak dipelajari
    Organisme di laut dalam seperti jelly dan organ bersel satu. Fona/Shutterstock

    Perairan Indonesia Timur punya banyak harta karun berupa organisme yang unik dan menarik tapi tidak banyak diketahui oleh peneliti dalam negeri. Di Ambon, banyak ekspedisi ilmiah sejak 1800, tapi yang melakukannya mayoritas dari luar negeri: Denmark, Belanda, Perancis, dan Amerika.

    Para ilmuwan Barat itu “mengeduk-eduk” kekayaan alam laut Indonesia untuk riset ilmiah. Yosmina Tapilatu, peneliti dari Pusat Penelitian Laut Dalam Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, menjelaskan kekayaan laut dalam di Indonesia timur yang belum banyak ditelusuri oleh peneliti dalam negeri.

    Lima tahun pasca Perang Dunia Kedua, sebuah kapal bernama Galathea bergerak dari pelabuhan di Copenhagen, Denmark, bersama 120 orang awak kapal. Setelah berbulan-bulan berlayar, mereka tiba di Laut Banda. Ekspedisi Galathea bersejarah bagi penelitian bakteri laut dalam. Para ilmuwan yang ikut ekspedisi ini berhasil mengungkap keberadaan fauna misterius penghuni ribuan meter laut dalam. Ahli mikrobiologi laut Profesor Claude Zobbel dari University of California jadi ilmuwan pertama yang meneliti bakteri laut dalam Indonesia.

    Sama seperti Zobbel, Yosmina Tapilatu juga tergila-gila dengan bakteri laut dalam, khususnya di perairan Indonesia Timur yang terbentang dari Selat Makassar, Laut Banda, Laut Sulawesi, dan sebagian Samudera Pasifik.

    Kesenjangan riset memang terjadi. Untuk setiap satu publikasi yang terbit mengenai bakteri laut dari Indonesia timur, ada tujuh sampai delapan yang diterbitkan mengenai tema serupa dari Indonesia barat. Perbandingannya 1:7-1:8. Itu membuktikan bahwa eksplorasi bakteri laut di kawasan Indonesia timur belum ada apa-apanya dibandingkan dengan bagian barat.

    Untuk eksplorasi laut dalam, para ilmuwan seperti Yosmina perlu dukungan negara. Mereka butuh kapal riset, laboratorium mikrobiologi, tenaga peneliti, dan tentu saja dana riset yang besar.

    Edisi ke-43 Sains Sekitar Kita ini disiapkan oleh Ihsan Raharjo dan narator Malika. Selamat mendengarkan!

    6 min
  • Pembelajaran sains, mengapa begitu dogmatis?
    Kwanchai.c/Shutterstock

    Indonesia mengalami darurat kualitas pembelajaran sains.

    Sebagian besar lulusan sekolah menengah atas, belum menguasai matematika sederhana (penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian angka sederhana), kemampuan yang semestinya telah dikuasai saat sekolah dasar.

    Apa yang salah dengan pendidikan sains di Indonesia?

    Intan Suci Nurhati, peneliti iklim dan kelautan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), punya kenangan kurang baik terhadap pelajaran sains di SMA. Walau dia belajar ilmu pengetahuan alam, gurunya tidak pernah mengajarkan tentang El Niño–Osilasi Selatan (ENSO). Padahal, menurut dia, ENSO merupakan siklus alam dan fenomena iklim terbesar abad ke-21.

    Fisikawan LIPI Suharyo Sumowidagdo mengkritik pengajaran sains di Indonesia yang dogmatis. Sangat sedikit diterangkan atau bahkan tidak pernah dijelaskan bagaimana asal usul suatu konsep dasar ilmu pengetahuan. Bertahun-tahun siswa mendengarkan penjelasan guru tentang rumus-rumus fisika, kimia, dan matematika. Apa itu belum cukup? Menurut Suharyo, dampak pelajaran sains akan lebih terasa jika siswa banyak bereksperimen sederhana.

    Karena itu, metode pembelajaran pendidikan sains di sekolah harus segera dibenahi.

    Edisi ke-42 Sains Sekitar Kita ini disiapkan oleh Ihsan Raharjo dan narator Malika. Selamat mendengarkan!

    6 min
  • Kisah Djoko Iskandar, pionir peneliti katak dari ITB, tak mengekor ke Barat
    Djoko Tjahjono Iskandar, peneliti kodok dari Institut Teknologi Bandung. ITB

    Sekitar 30 tahun lalu, Djoko Tjahjono Iskandar kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan studi doktor di Université Montpellier 2 Prancis. Awalnya dosen Institut Teknologi Bandung itu akan meneliti tikus, tapi rupanya untuk peralatan untuk riset tikus terlalu mahal untuk ukuran Indonesia.

    Maka dia ganti objek penelitian ke kodok.

    Iskandar ingat betul waktu itu hanya ada tiga makalah tentang kodok yang ditulis orang Indonesia pasca Perang Dunia Kedua. Sangat timpang dengan penelitian dari luar negeri yang seabrek-abrek. Tapi itu justru bikin semangat dia berlipat-lipat. Justru karena tidak banyak orang meneliti kodok, dia makin tertarik mendalami riset katak.

    Dia kemudian masuk keluar hutan di Kalimatan untuk mencari sampel kodok. Salah satu temuan yang penting adalah katak kepala-pipih Kalimantan (Barbourula kalimantanensis), jenis katak langka yang tidak punya paru-paru. Temuan itulah yang membuat namanya mulai dikenal sebagai ahli katak di dunia.

    Sampai hari ini, sudah sekitar 200-an spesies kodok baru yang ditemukan oleh Iskandar. Misalnya, kodok terkecil di dunia dan kodok yang bisa melahirkan kecebong. Ada enam jenis reptil dan amphibi temuan baru yang diberi nama sama seperti Djoko Iskandar: katak Polypedates iskandari, katak Fejervarya iskandari, ular Djokoiskandarus annulatus, kadal Draco iskandari, tokek Luperosaurus iskandari, dan Collocasiomya iskandari.

    Hampir semua hutan di Indonesia sudah dia masuki. Lokasi favoritnya adalah hutan di Kalimantan dan Papua yang relatif bagus meski terancam deforestasi. Di belantara, dia harus bertahan hidup sebulan sampai tiga bulan untuk mencari kodok jenis baru.

    Selama puluhan tahun Profesor Iskandar menghabiskan waktunya untuk meneliti kodok, yang mayoritas menggunakan uang pribadi. Guru Besar ITB ini mengkritik iklim penelitian Indonesia yang terlalu mengekor pada penelitian negara Barat. Misalnya, kini hampir semua arah penelitian biodiversitas diarahkan pada riset DNA, bidang yang dikuasai oleh para peneliti Barat dan harga alatnya miliaran rupiah dan bahan kimianya ratusan juta. Alat ini sulit dijangkau oleh peneliti Indonesia.

    Di satu sisi, Indonesia adalah gudangnya keanekaragaman hidup, yang datanya masih kosong. Seharusnya, kata dia, peneliti Indonesia fokus pada kekuatan sumber keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia dan belum banyak dieksplorasi.

    Edisi ke-41 Sains Sekitar Kita ini disiapkan oleh Ihsan Raharjo dan narator Malika. Selamat mendengarkan!

    6 min
  • Jalan panjang melawan malaria, siapa yang menang?
    Sel darah merah terinfeksi malaria.
    Chadsikan Tawanthaisong/Shutterstock

    Musim hujan telah tiba dan banyak air tergenang di sekitar rumah. Lingkungan kotor seperti itu yang menjadi tempat favorit nyamuk untuk berkembangbiak. Nyamuk malaria menggigit tubuh manusia mulai magrib sampai pagi. Malaria merupakan penyakit yang menyebar melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi parasit Plasmodium. Satu gigitan saja bisa menyebabkan parasit masuk ke aliran darah.

    Dan kini malaria sudah muncul di lebih dari seratus negara. Separuh populasi manusia di seluruh dunia berada dalam risiko tertular penyakit malaria. Gejala umum terserang malaria: pusing, panas, mual, hilang kesadaran kalau yang sudah ekstrim. Jika sel darah merah dalam tubuh sangat berkurang bisa menyebabkan malaria otak.

    Malaria merupakan musuh bebuyutan umat manusia. Perang panjang manusia versus penyakit malaria sudah berlangsung ratusan tahun. Tapi mengapa perang itu belum berakhir?

    Malaria telah membunuh banyak manusia sejak 4000 tahun terakhir. Di Cina, para tabib sudah mencatat kasus gejala malaria malaria sejak 2700 tahun sebelum Masehi. Begitu pun catatan dari Yunani dan Romawi kuno.

    Hingga pada akhir abad ke-19, Charles Laveran, dokter dari Prancis, menemukan biang keladi malaria yaitu Parasit Plasmodium. Temuan ini membuat Laveran menerima Hadiah Nobel Kedokteran pada 1907 dan membawa perang malaria ke babak baru.

    Tidak mudah mengontrol malaria, karena penyakit ini punya sifat biologi yang unik. Gen parasit dari satu spesies banyak sekali dan masing-masing gen mempunyai fungsi masing-masing. Ada gen yang bisa berubah, misalnya, saat kena obat atau sistem imunnya manusia bagus. Gen berubah sehingga parasit juga berubah.

    Rintis Noviyanti, peneliti malaria dari Lembaga Eijkman di Jakarta ikut berperang melawan malaria di tanah air. Para ilmuwan telah menemukan lima jenis parasit penyebab penyakit malaria pada manusia. Deteksi dini yang cepat dan akurat mampu mengurangi tingkat kematian akibat malaria.

    Edisi ke-40 Sains Sekitar Kita ini disiapkan oleh Ikhsan Raharjo dan narator Malika. Selamat mendengarkan!

    6 min
  • Tiga skenario kiamat menurut astronom ITB
    Gehrke/Shutterstock

    Kitab suci dan para agamawan memiliki cerita sendiri mengenai kiamat yang mengakhiri kehidupan dunia fana. Film-film Hollywood dan berbagai komik mengeksploitasi narasi kiamat sebagai hiburan sekaligus mencetak keuntungan.

    Ilmuwan astronomi juga punya penjelasan ilmiah bagaimana dan kapan sebuah planet, termasuk Bumi, akan hancur lebur sebagai pertanda kiamat.

    Premana Premadi, astronom dan dosen senior Program Studi Astronomi Institut Teknologi Bandung, mengatakan astronomi punya tawaran cerita tapi tidak memutuskan apa-apa. Ini tiga skenario kiamat dari kaca mata astronomi.

    Pertama, masih ingat film Armageddon? Satu tim yang beranggotakan banyak ahli dikirim ke luar angkasa untuk menghancurkan asteroid sebelum menumbuk Bumi. Nah skenario itu cukup masuk akal, menurut astronomi, walau tidak diketahui secara pasti kapan asteroid menumbuk Bumi.

    Kedua, seperti prediksi suku Maya bahwa kiamat datang pada 2012. Skenario ini menyebut inti bumi yang selama ini stabil, secara berlahan memuai. Perubahan ini membuat lautan bergejolak dan wajah Bumi yang kita kenal berantakan.

    Skenario terakhir, kiamat kita datang dari sumber energi kehidupan kita di Bumi: Matahari. Seperti bintang lain, Matahari berevolusi: memuai hingga mencapai dan “menelan” Bumi dan seisi galaksi Bima Sakti. Kiamat ini hanya terjadi pada Bumi dan planet di galaksi Bima Sakti.

    Tapi tenang saja. Peristiwa kiamat tersebut mungkin terjadi tujuh miliar tahun lagi. Kiamat tak terjadi pada masa kehidupan kita atau anak dan cucu dan cicit kita.

    Edisi ke-39 Sains Sekitar Kita ini disiapkan oleh Hilman Handoni dan narator Aisha Rachmansyah. Selamat mendengarkan!

    6 min
  • Cintailah kecebong dan kodok, mereka indikator kualitas lingkungan
    Kecebong dan kodok merupakan penentu kualitas lingkungan. Mereka sangat sensitif.
    Krisana Yindeeclub/Shutterstock

    Katak merupakan organisme yang paling sensitif di dunia. Karena itu, mulailah mencintai kecebong, katak, dan kodok, karena mereka indikator kualitas lingkungan. Mereka bisa digunakan sebagai penanda kerusakan lingkungan dan perubahan cuaca.

    Nenek moyang kodok diketahui hidup bersama dinosaurus pada 180 juta tahun lalu. Mereka mendominasi area rawa di hutan dengan kemampuan hidupnya yang sangat canggih. Katak termasuk salah satu kelompok pertama yang naik ke darat. Namun mereka bukan organisme yang paling primitif. Hewan ini hidup di dunia dunia: darat dan air.

    Pakar katak dan kodok dari Institut Teknologi Bandung Djoko Tjahjono Iskandar sudah bolak balik masuk hutan menemukan ratusan spesies katak baru, termasuk menemukan satu-satunya katak istimewa di dunia: katak yang bisa melahirkan kecebong di Sulawesi.

    Menurut Djoko, kemampuan katak bertelur tidak bisa menandingi kecepatan manusia merusak hutan tempat tinggal mereka. Sekitar 200 spesies katak sudah dinyatakan punah. Yang mengkhawatirkan, para ilmuwan memprediksi 7% populasi katak bisa lenyap dalam seabad ke depan.

    Ilmu berkembang dengan cepat, tapi mungkin katak di seluruh dunia akan mengalami kepunahan besar-besaran. Katak di Pulau Jawa tinggal sedikit spesiesnya. Pada zaman Belanda sudah banyak sekali kepunahan sebelum diteliti. Sekarang katak di Sumatra terancam. Mungkin yang tersisa terakhir adalah Papua dan Kalimantan, karena akses ke sana masih susah. Kerja keras pemerintahan Jokowi membangun infrastruktur akan memudahkan akses dan dengan demikian potensi kepunahan katak juga makin besar.

    Edisi ke-38 Sains Sekitar Kita ini disiapkan oleh Ihsan Raharjo dan narator Eka July. Selamat mendengarkan!

    6 min
  • Kenali beberapa tanda keracunan makanan
    Ilustrasi tiga dimens bakteri Salmonella, yang kerap menginfeksi makanan. Kateryna Kon/Shutterstock

    Makan banyak harusnya bikin tenaga Anda berlipat. Tapi kalau setelah makan Anda justru demam, perut melilit, dan mual-muntah, awas! Jangan-jangan Anda keracunan makanan!

    Menurut Puspita Listiyanti, peneliti bakteri dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), makanan yang terkontaminasi bakteri itu akan terlihat berlendir dan bau, serta teksturnya hilang jadi lembek.

    Apa yang sebenarnya terjadi ketika kita keracunan makanan? Keracunan makanan terjadi karena mengonsumsi makanan basi, makanan yang tidak dimasak dengan baik, atau makanan yang terlalu lama di udara luar. Udara banyak bakterinya, seperti salmonela, yang menyebar melalui kotoran. Ini bakteri yang bisa menyebar melalui makanan terkontaminasi dan juga udara yang menjadi penyebab diare.

    Daging dan susu sangat disukai oleh mikroba. Walau hanya satu sel menempel di situ, dengan cepat dia akan berkembang biak. Bakteri-bakteri itu dalam waktu 1 x 24 jam bisa berkembang biak dari satu sel jadi miliaran sel yang bisa menyebabkan manusia sakit.

    Kontaminasi bakteri mematikan pernah terjadi di beberapa negara. Awal 2017, produk daging asal Afrika Selatan tercemar bakteri jenis Listeria. Sekitar 1000 orang terinfeksi dan 216 orang tewas karena bakteri ini. Gara-gara itu lembaga kesehatan dunia WHO mencatat kasus tersebut sebagai wabah Listeria terparah sepanjang sejarah.

    Bakteri hidup dan berkembangbiak di mana-mana termasuk di air, panci, piring, sendok, gelas, dan semua peranti dapur. Pemanasan adalah salah satu sterilisasi untuk membunuh bakteri. Atau juga bisa memasukkan ke dalam kulkas, supaya bakteri tidak bisa berkembang biak. Bakteri hidup pada suhu 30 derajat.

    Yang mesti digarisbawahi, bakteri bukan pelaku tunggal keracunan makanan. Singkong, bayam, tomat juga bisa bikin kita keracunan karena di dalamnya ada racun alami untuk menghalau predator, jamur, dan serangga. Puspita Listiyanti menjelaskan bakteri yang kerap menyerang manusia.

    Edisi ke-37 Sains Sekitar Kita ini disiapkan oleh Ihsan Raharjo dan narator Malika. Selamat mendengarkan!

    7 min
  • Bakteri baik untuk manusia, bagaimana mereka bekerja
    Sevka Abdullah/Flickr, CC BY-SA

    Reputasi bakteri memang terlanjur jelek. Orang awam lebih mengenal bakteri sebagai biang keladi penyakit diare, TBC alias tubercolosis, atau tifus.

    Padahal, sebenarnya semua makhluk hidup itu punya dua sisi, jahat dan baik. Begitu juga mikro organisme. Ada yang jahat dan baik.

    Mikroba tugasnya adalah mengurai. Di tubuh manusia, misalnya, bakteri mengurai kulit dengan cara memakannya. Lendir-lendir juga mereka dimakan. Mereka mengurainya menjadi zat yang lebih sederhana sehingga bisa dimakan oleh mikroba yang lain. Di dalam tubuh kita banyak sekali bakteri baik dan jahat. Tugasnya menguraikan senyawa-senyawa, apa pun senyawa itu.

    Tanpa bantuan mikroskop, jangan harap bisa lihat wujudnya. Bentuknya sangat kecil. Namun, bakteri makhluk super kuat, karena bisa hidup di kondisi paling ekstrem. Dia juga makhluk yang kompleks. Sebagian bakteri dalam tubuh manusia bikin manusia sakit, sebagian lainnya justru bikin kita sehat.

    Ada bakteri sahabat bapak-ibu petani dan industri makanan. Namanya asam laktat dan asetat. Di Eropa, duet bakteri ini dipakai untuk membuat cuka. Di sini, bisa dibuat masker dan minuman maknyus dari fermentasi kelapa, nata de coco.

    Puspita Lisdiyanti, peneliti mikrobiologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), menjelaskan bakteri baik dan berguna bagi manusia. Dia dan ilmuwan-ilmuwan lain sedang mendalami potensi manfaat bakteri yang berasal dari tubuh hewan. Dari sana, bisa muncul vaksin dan obat berguna untuk melawan seabrek penyakit.

    Di tangan para ilmuwan, bakteri baik bisa bikin sehat. Tapi di tangan kita, bakteri jahat bisa bikin mules-mules.

    Edisi ke-36 Sains Sekitar Kita ini disiapkan oleh Ihsan Raharjo dan narator Aisha Rachmansyah. Selamat mendengarkan!

    7 min
  • Kisah petualangan Premana Premadi dari ITB menguak ruang angkasa
    Premana Wardayanti Premadi Hilman Handoni/KBR

    Melayang-layang di antara planet Jupiter dan Mars, bersama hampir dua juta asteroid lainnya, ada Asteroid 12937 Premadi. Nama asteroid ini diambil dari nama Premana Premadi, perempuan astronom pertama dari Indonesia, yang aktif mengajar di Program Studi Astronomi Institut Teknologi Bandung dan Direktur Observatorium Bosscha.

    Dia juga menggerakkan pendidikan astronomi ke anak-anak melalui organisasi nirlaba Universe Awareness for Children (UNAWE) Indonesia. Pada Maret 2017, Minor Planet Center (MPC) di bawah International Astronomical Union (IAU) menyematkan nama Asteroid 12937 Premadi, sebelumnya bernama asteroid 3024 P-L, ditemukan pada 1960 oleh Cornelis Johannes van Houten dan Ingrid van Houten-Groeneveld menganalisis plat fotografi yang direkam oleh Tom Gehrels dengan teleskop Schmidt di Observatorium Palomar.

    Memang, dia bukan orang Indonesia pertama yang diabadikan jadi nama asteroid. Tapi dialah perempuan astronom yang pertama. Sebelumnya, empat nama mantan Direktur Observatorium Bosscha juga diabadikan oleh Minor Planet Center (MPC) sebagai nama asteroid.

    Bagi Premana, penyematan nama orang Indonesia di ruang angkasa itu merupakan bentuk dukungan internasional kepada Indonesia untuk memajukan astronomi di tanah air.

    Inilah kisah Premana Premadi, yang begitu cinta dengan penjelajahan ruang angkasa. Walau dia hidup dengan amyotrophic lateral sclerosis (ALS) - penyakit ini juga menyerang Stephen Hawking, ahli fisika teori dari Inggris - penyakit yang menyerang saraf motorik, aktifitasnya segudang: mengajar, meneliti, mengisi diskusi, kampanye pendidikan astronomi untuk anak-anak, dan menyemangati para penderita ALS.

    Edisi ke-35 Sains Sekitar Kita ini disiapkan oleh Hilman Handoni dan narator Aisha Rachmansyah. Selamat mendengarkan!

    7 min
  • Astronomi dan relevansinya dengan kehidupan sehari-hari
    Sergey Nivens/Shutterstock.com

    Astronomi merupakan ilmu paling tua. Ilmu ini setua nenek moyang kita yang menoleh ke angkasa dan bertanya: mengapa kita ada, mengapa ada hujan, siang, malam, dan bintang gemerlapan. Juga pertanyaan yang selalu relevan sepanjang masa: misalnya apakah alam semesta itu ada dari dulu? Apakah mereka ada untuk selamanya? Alam semesta itu sampai mana batasnya? Umurnya berapa? Berapa jarak Bumi dan Matahari?

    Pertanyaan-pertanyaan itu membantu para ilmuwan menemukan rotasi, revolusi planet-planet, gravitasi, hukum fisika, reaksi kimia, dan pertumbuhan biologi. Juga menciptakan teknologi. Penemuan inilah yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari.

    Banyak teknologi yang awalnya dirancang untuk keperluan astronomi tapi aplikasinya sangat luas. Misalnya detektor sinar X yang dipakai di bandara-bandara. Itu teknologi yang sama yang dikembangkan untuk pengamatan sinar X. Tomografi, pengolahan citra yang tadinya dipakai di astronomi sekarang dipakai di dunia medis.

    Kodak film awalnya diciptakan astonom untuk mempelajari matahari. Tapi kini alat digunakan di industri medis dan fotografi. Lalu ada satelit yang menyambungkan siaran televisi dan telepon genggam. Juga ada GPS alias global positioning system yang dipakai di Google Maps dan membantu pesawat menemukan tujuan.

    Premana Premadi, astronom dan pengajar Program Studi Astronomi Institut Teknologi Bandung, menceritakan seluk beluk penggunaan astronomi dalam kehidupan sehari-hari.

    Menurut dia, astronomi membantu memupuk hasrat ingin tahu, memberikan patokan, ukuran, dan aturan-aturan. Juga menunjukkan penanda perubahan waktu, siang-malam, musim dan iklim, termasuk menentukan hilal dan awal Ramadhan awal syawal.

    Ya astronomi ilmu yang menarik dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.

    Edisi ke-34 Sains Sekitar Kita ini disiapkan oleh Hilman Handoni dan narator Prodita Sabarini. Selamat mendengarkan!

    7 min

About Sains Sekitar Kita

From the publisher's feed

Sains punya peranan—dan penjelasan—dalam hampir setiap hal di hidup kita. Dengarkan Sains Sekitar Kita dan tambah wawasan Anda mengenai sains, mulai dari soal perubahan iklim hingga apa yang terjadi saat kita jatuh cinta.

More shows like Sains Sekitar Kita

The Conversation Documentaries by The Conversation

The Conversation Documentaries

41 Listeners

Politics with Michelle Grattan by The Conversation

Politics with Michelle Grattan

13 Listeners

Trust Me, I'm An Expert by The Conversation

Trust Me, I'm An Expert

2 Listeners

In Depth, Out Loud by The Conversation

In Depth, Out Loud

8 Listeners

Pasha - from The Conversation Africa by The Conversation

Pasha - from The Conversation Africa

0 Listeners

To the moon and beyond by The Conversation

To the moon and beyond

5 Listeners

La preuve par trois by The Conversation France

La preuve par trois

0 Listeners

Les mots de la science by The Conversation France

Les mots de la science

0 Listeners

Les couleurs du racisme by The Conversation France

Les couleurs du racisme

0 Listeners

Don’t Call Me Resilient by The Conversation, Vinita Srivastava, Dannielle Piper, Krish Dineshkumar, Jennifer Moroz, Rehmatullah Sheikh, Kikachi Memeh, Ateqah Khaki, Scott White

Don’t Call Me Resilient

12 Listeners

The Conversation Weekly by The Conversation

The Conversation Weekly

63 Listeners

Retour sur... by The Conversation France

Retour sur...

0 Listeners

In Extenso by The Conversation France

In Extenso

0 Listeners

SuarAkademia by The Conversation

SuarAkademia

0 Listeners

Secrets de Terrain by The Conversation France

Secrets de Terrain

0 Listeners

Great Mysteries of Physics by The Conversation

Great Mysteries of Physics

51 Listeners

Fear and Wonder by The Conversation

Fear and Wonder

5 Listeners

The Conversation's Curious Kids by The Conversation

The Conversation's Curious Kids

3 Listeners

Below the Line by The Conversation

Below the Line

0 Listeners