
Sign up to save your podcasts
Or


Musik metal kerap dikaitkan dengan pemberontakan kaum muda sampai dengan pemujaan setan. Tapi betulkah metal penganjur kekerasan dan memicu agresi?
Alih-alih menghasilkan energi buruk, metal malah punya dampak baik. Journal of Psychology of Popular Media dalam satu tulisan menyebut metal membantu orang dalam menghadapi kematian. Peneliti Paula Rowe dan Bernard Guerin dari University of South Australia menyebut musik metal membantu remaja dan orang dewasa menghadapi ketegangan dalam keluarga, bullying, dan kesepian.
Musik metal atau rock secara umum telah dikaitkan dengan macam-macam hal negatif. Misalnya The Beatles pernah mengatakan mereka lebih popular dari Yesus sehingga menerbitkan protes besar-besaran.
Gita Widya Laksmini, Kepala Program Studi Psikologi Universitas Pembangunan Jaya,
Edisi ke-33 Sains Sekitar Kita ini disiapkan oleh Hilman Handoni dan narator Ikram Putra. Selamat mendengarkan!
Indonesia adalah rumah dari sekitar 32 ribu tanaman berkhasiat obat. Banyak buah dan batang tanaman yang bisa diolah menjadi jamu. Mereka diklaim bisa menyembuhkan beragam penyakit seperti masuk angin, pegal-pegal, sampai disfungsi ereksi. Apa benar jamu sesakti itu? Bila begitu sakti, mengapa dokter tidak meresepkan obat jamu kepada pasiennya?
Erni Hernawati Purwaningsih, Guru Besar Ilmu Farmasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, mengatakan para dokter ragu pada khasiat jamu karena jamu mengandung banyak senyawa kimia yang pengujiannya begitu kompleks. Itu belum termasuk efek samping yang diderita oleh pasien setelah minum jamu, yang kerap ditemui oleh para dokter.
Tentu saja bahan yang kerap dipakai bumbu masak seperti kunyit, salam, dan jahe itu aman karena sudah diuji toksisitasnya. Tapi banyak lagi jenis tanaman yang membutuhkan riset mendalam untuk membuktikan manfaatnya secara ilmiah.
Yang mesti digarisbawahi, jamu digunakan untuk meningkatkan daya tahan, bukan menggantikan obat resep dokter. Kalau minum jamu jangan berharap cespleng. Hati-hati. Penelitian membuktikan jamu yang cespleng ternyata mengandung bahan kimia obat yang berbahaya bagi tubuh. Jadi berpikirlah ulang sebelum minum obat jamu yang belum diteliti secara ilmiah.
Edisi ke-32 Sains Sekitar Kita ini disiapkan oleh Ikhsan Raharjo dan narator Malika. Selamat mendengarkan!
Gula merupakan sumber energi bagi tubuh manusia. Tapi mengkonsumsi terlalu banyak zat manis ini bisa juga mendatangkan banyak penyakit yang mematikan.
Gula olahan dari tebu atau jagung adalah sumber karbohidrat, sama seperti kentang, biji, umbi, atau nasi. Zat esensial bagi tubuh manusia ini menghasilkan tenaga, agar berdaya. Bersama lemak dan protein, karbohidrat adalah zat yang banyak dibutuhkan tubuh. Mereka adalah makronutrien. Sampai sini tak ada soal.
Yang jadi masalah adalah gula buatan itu karbohidrat rantai pendek, yang sudah hampir siap untuk diserap. Kalau kita konsumsi dalam bentuk polisakarida seperti nasi, ubi, singkong, jagung, roti, dan mie, gabungan rantai karbohidrat perlu dipecah lebih dahulu, baru masuk ke peredaran darah.
Itulah mengapa mengkonsumsi karbohidrat dalam bentuk gula lebih berbahaya karena masuknya cepat. Karena terlalu cepat diserap tubuh, apalagi dalam jumlah yang berlebihan, maka terjadilah kelebihan. Kelebihan bikin aneka mudarat. Termasuk perut buncit dan kegemukan.
Konsumsi gula dan endapan sisa-sisanya telah terbukti membuat kerja organ tubuh menjadi lebih berat. Dalam jangka panjang endapan ini juga merusak dan berbahaya. Terlalu banyak gula dapat menyebabkan penurunan fungsi hati. Gula juga mempengaruhi kerja hormon insulin menyebabkan diabetes, hipertensi, penyumbatan pembuluh darah, dan kolesterol tinggi.
Diabetes dan hipertensi memang tidak mematikan, tapi dapat memicu penyakit lain yang bisa membunuh: jantung, stroke, dan penyumbatan pembuluh darah.
Steffi Sonia, Ketua Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran FKUI-RSCM Jakarta, menyebut rasa manis itu seperti candu. Gula mampu memberikan perasaan bahagia dan mengusir stres. Karena enak di lidah, banyak orang ketagihan dan tidak menyadari bahaya yang mengintai tubuh sehat.
Gula tetap boleh dinikmati. Tapi jumlah, mesti dibatasi. Ada batasannya dari Badan Kesehatan Dunia (WHO): 10 persen dari asupan energi. Untuk perempuan kira-kira tiga sendok makan atau 35 gram sehari, untuk laki-laki empat sendok makan atau 50 gram sehari. Lebih baik lagi jika bisa setengahnya. Berarti satu setengah sendok makan untuk perempuan dan dua sendok makan untuk laki-laki. Sebagai perbandingan, rata-rata satu kotak minuman manis, misalnya teh dalam kemasan botol atau karton, mengandung 20 gram gula. Jadi kurangi konsumsi gula.
Edisi ke-31 Sains Sekitar Kita ini disiapkan oleh Hilman Handoni dan narator Aisha Rachmansyah. Selamat mendengarkan!
Menjadi ilmuwan berkelas lebih dari bakat. Mereka adalah pekerja keras. Ilmuwan-ilmuwan aneka cabang ilmu ini telah menembus batas-batas baru yang memungkinkan ilmu pengetahuan maju centi demi centi. Apa rahasia produktivitas mereka? Kami menghimpun aneka tip dari para saintis agar hari-hari Anda lebih produktif dan juga sehat!
Selain membaca yang jadi menu wajib mereka, ada yang senang naik gunung, bangun tidur pukul 3 pagi, rajin olahraga, tidur siang sesaat, wisata, hingga menonton film Korea.
Simak tip-tip cara mereka mengelola waktu dan aktivitasnya untuk produktif. Juga silakan tiru yang cocok dengan Anda. Mereka adalah Guru Besar Hukum Teknologi Informasi Universitas Padjadjaran Sinta Dewi Rosadi, Guru Besar Konservasi Biologi Universitas Indonesia Jatna Supriatna, Guru Besar Ilmu Tanah Universitas Andalas Dian Fiantis, ilmuwan muda Universitas Indonesia Roby Muhammad, dosen Biologi Institut Pertanian Bogor Berry Juliandi, dan psikiatri Universitas Kristen Indonesia Dharmawan Adi Purnama.
Edisi ke-30 Sains Sekitar Kita ini disiapkan oleh Hilman Handoni dan narator Aisha Rachmansyah. Selamat mendengarkan!
Angin punya posisi penting bagi sejarah panjang peradaban manusia. Sekitar 7000 tahun lalu, angin tercatat telah memutar baling-baling kapal di sepanjang Sungai Nil di Mesir. Di Cina, 200 tahun sebelum Masehi, hembusan angin telah memutar kincir sederhana dan membantu petani memompa air.
Sejak abad ke-20, angin telah menggerakan turbin dan menghasilkan listrik untuk rumah di Eropa dan Amerika Utara. Selain lebih murah, tenaga angin juga terbukti jauh lebih ramah terhadap lingkungan. Tapi mengapa Indonesia sepertinya sulit melakukan hal yang sama? Apa kita kekurangan angin?
Adi Surjosatyo, Guru Besar Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia, mengatakan potensi Indonesia sangat besar. Tapi, menurut dia, selama ini kita telah keliru dalam memandang tenaga angin.
Di Eropa, daerah kontinental, turbin angin dibuat besar karena angin besar. Tapi di daerah Indonesia, turbin angin harus kecil karena kondisi udara dan kelembapan air laut membuat angin di Indonesia kecil.
Rata-rata kecepatan angin di Indonesia dua kali lebih lemah dari angin di Eropa. Hanya sekitar 2,5 sampai 3 meter per detik. Kecepatan angin rendah, kincirnya pun harus kecil. Itulah yang dilakukan oleh Adi di Kampung Bungin, Muara Gembong, Bekasi. Dia bikin energi terbarukan dari angin untuk mengaliri listrik kampung nelayan tersebut.
Satu kincir angin setinggi 11 meter hanya butuh Rp 50 juta. Setelah memasang beberapa kincir di pinggir pantai, biarkan angin yang bekerja sepanjang waktu.
Edisi ke-29 Sains Sekitar Kita ini disiapkan oleh Ikhsan Raharjo dan narator Malika. Selamat mendengarkan!
Adi Utarini adalah satu dari sedikit sekali ilmuwan yang juga musisi! Memainkan musik klasik dan rock progresif sembari mengajar, meneliti, dan menanggulangi demam berdarah yang mematikan itu.
Guru Besar Kesehatan Masyarakat Universitas Gadjah Mada ini memimpin Eliminate Dengue Project di Yogyakarta. Dari Kota Gudeg, proyek ambisius kelas dunia sedang berlangsung: mencoba menjadikan Demam Berdarah sebagai catatan sejarah.
Utarini dan timnya telah mampu merekayasa dan membiakkan nyamuk Aedes aegypti yang mengandung bakteri Wolbachia. Bakteri ini terbukti membuat nyamuk tidak bisa mentransfer virus demam berdarah ke manusia. Dan itu artinya virus demam berdarah bisa dicegah. Nyamuk berbakteri ini dilepasliarkan, kawin mawin dan akan menghasilkan generasi nyamuk yang jinak.
Inilah kisah Utarini, ilmuwan yang gemar musik dan pada Mei 2018 menggelar konser tunggalnya bertajuk Life, Passion, and Music. Tapi ini bukan acara gaya-gayaan. Seratus persen keuntungan konser masuk ke Yayasan Kanker Indonesia.
Edisi ke-28 Sains Sekitar Kita ini disiapkan oleh Hilman Handoni. Selamat mendengarkan!
Langkah Cambridge Analytica memanen data pribadi secara ilegal lebih dari 50 juta pengguna Facebook untuk kepentingan tim kampanye Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 2016 menunjukkan data digital begitu penting. Dan setiap kita menggunakan Internet akan meninggalkan jejak digital seperti telapak kaki meninggalkan jejak saat melewati tanah basah.
Sinta Dewi Rosadi, Guru Besar Hukum Teknologi Informasi Universitas Padjadjaran Bandung, menyebut ada dua jenis digital footprint: jejak pasif dan aktif. Jejak pasif diambil tanpa kita ketahui saat kita mengunjungi situs belanja online, situs video, dan situs lainnya yang mengumpulkan data. Adapun jejak aktif adalah jejak yang secara sadar kita bagikan seperti updates status di Twitter, Instagram, dan Facebook, tweet yang retweet, data geolokasi, dan foto atau video yang dibagikan melalui media sosial.
Sadar atau tak sadar, semua data tersebar membentuk potret diri, bayangan kita. Itulah jejak digital kita. Sebenarnya, kita diawasi oleh berbagai pihak untuk kepentingan komersial maupun non-komersial.
Data pribadi ini dimanfaatkan oleh hampir semua penyedia jasa Internet semacam Google, Facebook, YouTube, Twitter, dan perusahaan raksasa teknologi untuk menjaring pengiklan dan mengeruk keuntungan. Di Amerika Serikat, lebih dari 60 persen manajer urung mempekerjakan orang karena menjumpai hal yang tak patut di akun media sosial pribadinya. Mereka juga menggunakan mesin pencari buat tahu rekam digital pelamar kerja.
Dengan hampir 70 juta pengguna aktif Facebook, Indonesia adalah pasar besar buat pertumbuhan ekonomi digital berikut ancamannya. Ekonomi digital tanpa perlindungan data pribadi sungguh berbahaya. Karena pilar dari e-commerce adalah kepercayaan. Adapun kepercayaan pilarnya adalah keamanan dan perlindungan data pribadi.
Karena itu, sudah saatnya pemerintah membuat Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi. Sepanjang belum ada undang-undang ini, mulailah berhati-hati dengan data dan aneka hal yang kita pajang di Internet.
Edisi ke-27 Sains Sekitar Kita ini disiapkan oleh Hilman Handoni dan narator Malika. Selamat mendengarkan!
Dian Fiantis adalah ahli tanah dan pemburu abu gunung api. Guru Besar Universitas Andalas Padang Sumatra Barat itu telah mengumpulkan abu vulkanis setelah Gunung Merapi, Kelud, Sinabung, dan Krakatau meletus. Dia dan timnya mengambil abu vulkanis yang belum terkena hujan. Dari penelitiannya tentang abu vulkanis, 6 artikel ilmiah telah diterbitkan jurnal internasional.
Dengan 129 gunung api aktif, Indonesia adalah negeri vulkanis teraktif di dunia. Jutaan orang menggantung pengharapan, pada cuaca, curah hujan, dan tanah subur buat pertanian dan tempat tinggal. Meski menanggung risiko yang amat besar: letusan nan mematikan. Mereka yang bertaruh tahu letusan gunung api adalah cara alam mengembalikan kesuburan tanah.
Abu vulkanis kelak akan melapuk menjadi tanah-tanah subur. Dan dalam proses itulah abu vulkanis menyerap karbon. Ini salah satu unsur yang bertanggung jawab membuat perubahan iklim.
Berdasarkan warna tanah, Dian bisa meramalkan tingkat kesuburannya. Tanah itu hitam berarti kandungan bahan organiknya itu tinggi. Tanah itu akan mudah diolah. Relatif lebih subur dibandingkan tanah yang berwarna cokelat. Apalagi kalau warnanya merah bahan organiknya sangat sedikit. Sayangnya, kebijakan pemupukan di tanah pertanian Indonesia kerap mengabaikan sains sehingga asupan pupuk tidak sesuai dengan kebutuhan tanah.
Edisi ke-26 Sains Sekitar Kita ini disiapkan oleh Hilman Handoni dan narator Malika. Selamat mendengarkan!
Demam berdarah tiba pertama di Surabaya pada 1960-an. Kini, virus yang diperantarai nyamuk Aedes aegypti ini telah menyebar di seluruh kabupaten di Indonesia. Termasuk di Yogyakarta.
Indonesia berada di peringkat kedua di dunia dan pertama di Asia Tenggara dalam kasus demam berdarah. Kerugian akibat demam berdarah, setidaknya mencapai Rp 3,1 triliun per tahun.
Serangga kecil ini adalah ancaman buat dua setengah miliar manusia. Banyak orang kena penyakit demam berdarah berakhir meninggal. Setiap waktu gang-gang di perkampungan diasapi, tapi seolah nyamuk begitu lincah sehingga bisa berpindah tempat. Bagaimana cara efektif menjinakkan nyamuk mematikan ini?
Adi Utarini, Guru Besar Kesehatan Masyarakat Universitas Gajah Mada, punya jawabannya. Sejak 2011 dia memimpin program pemberantasan demam berdarah, Eliminate Dengue Project Yogyakarta yang menggunakan teknik baru. Program ini tidak menebar abate, memberantas sarang nyamuk, apalagi fogging.
Utarini dan timnya menemukan kegunaan Wolbachia, bakteri yang secara alami ada di lalat buah, capung, kupu-kupu, tapi tidak ada di nyamuk. Mereka menemukan cara untuk memasukkan bakteri ini ke dalam tubuh nyamuk. Wolbachia ini di dalam tubuh nyamuk berkompetisi dengan virus demam berdarah dan bisa menghambat perkembangan virus DB. Bakteri wolbachia ini seperti kuda troya.
Bayangkan prajurit-prajurit Wolbachia berebut makanan dengan virus demam dalam pertempuran epik di tubuh nyamuk. Bakteri menang, virus jinak. Lalu bagaimana caranya agar kita tak perlu repot menyuntik satu per satu nyamuk? Mereka mencoba menyuntikkan bakteri itu ke dalam telur nyamuk yang luar biasa kecilnya. Sekecil kalau kita membuat tanda titik di tulisan itu.
Ekpresimen dengan Wolbachia telah dilakukan beratus ribu kali di Australia dan berhasil. Setelah itu baru dikembangbiakkan nyamuk Aedes aegypti yang berbakteri Wolbachia.
Telur-telur ini kemudian dipindahkan, ditetaskan, dan dikembangbiakkan di negara-negara yang menjalankan program ini yakni Meksiko, Brazil, Vietnam, Australia, dan Indonesia. Inilah mungkin cara baru yang akan membuat demam berdarah tinggal sejarah.
Edisi ke-25 Sains Sekitar Kita ini disiapkan oleh Hilman Handoni dan narator Malika. Selamat mendengarkan!
Setiap pemilihan umum, kebanyakan politikus Indonesia masih menggunakan isu agama dan kesukuan sebagai jurus utama. Mengantisipasi untuk pemilu serentak tahun depan, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) sampai harus mewanti-wanti adanya potensi kerawanan sosial. Dikhawatrikan, para kandidat saling lempar retorika politik identitas demi meraih suara pemilih.
Peneliti senior demografi politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Riwanto Tirtosudarmo menyebut fenomena berulang itu sebagai disintegrasi dari dalam. Masyarakat sebenarnya terpecah-pecah. Secara nasional masih satu, tapi dari dalam rasa “kamu orang Madura”, “kamu orang Dayak” menguat.
Karena itu, menurut Riwanto, kita perlu menafsir ulang nasionalisme dan lebih relaks memandangnya.
Reaksi masyarakat terhadap ketimpangan ekonomi dapat mengemuka melalui perbedaan identitas. Agama menjadi satu identitas pembeda yang serius. Ini bukan hanya di Indonesia, tapi juga di Amerika, Eropa dan kawasan lain.
Kecenderungan intoleransi ini merata di hampir setiap tingkatan pendidikan masyarakat. Artinya, tingginya pendidikan tidak lantas membuat seseorang semakin toleran dengan perbedaan. Inilah batu sandungan demokrasi dalam menjaga kemajemukan. Coba lihat survei CSIS pada 2012 yang menunjukkan 33,7% respondennya mengaku enggan memiliki tetangga yang berbeda keyakinan.
Kemajemukan identitas sebenarnya memperkuat bangsa. Maka, perlu usaha bersama supaya Indonesia tidak bubar karena masalah politik primodialisme. Riwanto Tirtosudarmo menjelaskan masalah akut yang kerap melahirkan konflik tersebut.
Edisi ke-24 Sains Sekitar Kita ini disiapkan oleh Ikhsan Raharjo dan narator Malika. Selamat mendengarkan!
From the publisher's feed

41 Listeners

13 Listeners

2 Listeners

8 Listeners

0 Listeners

5 Listeners

0 Listeners

0 Listeners

0 Listeners

12 Listeners

63 Listeners

0 Listeners

0 Listeners

0 Listeners

0 Listeners

51 Listeners

5 Listeners

3 Listeners

0 Listeners