
Sign up to save your podcasts
Or


Dikisahkan, seorang lelaki shaleh bernama Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah (Irak). Sedang asik berjalan, tiba-tiba dia melihat sebuah apel jatuh. Melihat apel merah yang tergeletak di tanah, Tsabit pun bermaksud mengambil dan memakannya, terlebih hari itu adalah hari yang panas dan ia pun tengah kehausan.
Tanpa berpikir panjang, diambil dan dimakannya apel tersebut. Akan tetapi, baru setengah apel tersebut masuk ke kerongkongannya, dia teringat bahwa buah itu bukan miliknya dan dia belum mendapat izin dari pemilik apel tersebut. Dengan segera, ia pun ke kebun apel dengan niat hendak menemui pemilik apel tersebut dan memintanya menghalalkan buah yang telah dimakannya.
Wawasannya begitu luas dan pemikirannya sungguh tajam. Begitulah sejarah peradaban Islam melukiskan Muslimah sahabat Nabi SAW, Ummu Hakim binti al-Harits bin Hisyam bin Mughirah al-Makhzumiyah. Setelah memeluk Islam, ia berupaya sekuat tenaga untuk menyadarkan suaminya dari kubangan kekufuran.
Thalhah bin Ubaidillah. Lahir pada tahun ke-28 sebelum hijriah di Mekkah dengan nama lengkap Thalhah bin Ubaidillah bin Usman bin Amru bin Ka'ab bin Sa'ad bin Ta'im bin Murrah bin Ka'ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhr bin Kinanah Al-Quraisy At-Ta'imi Al-Makki Al-Madani.
Tsa'labah bin Abdurrahman dikenal sebagai sahabat Nabi setia dan memiliki keimanan yang kuat kepada Allah SWT. Karena keimanannya itu, ia selalu berusaha untuk tidak berbuat dosa.
Suatu ketika, dikisahkan ia melakukan dosa namun secara tidak sengaja. Sehingga ia sangat menyesal dan di hantui oleh rasa takut kepada Allah SWT yakni akan ada azab yang diterimanya nanti. Karena ketakutan tersebut, Tsa'labah kemudian jatuh sakit hingga akhirnya meninggal dunia.
Wanita pertama yang mengangkat senjata di medan jihad adalah Safiyyah. Dilahirkan pada tahun 569 Masihi. Ibu Safiyyah sebenarnya kakak kepada ibu Nabi Muhammad S.A.W, Aminah binti Wahab.
Hasil daripada perkahwinan kedua Safiyyah dengan Al-Awwam bin Khuwaylid, beliau mendapat tiga orang anak. Salah satunya adalah seorang pahlawan pertama angkatan tentera berkuda kaum Muslimin iaitu Saidina Zubair bin al-Awwam. Keberanian Safiyyah di medan perang turut mengalir dalam darah anaknya.
Safiyyah juga di antara yang terawal memeluk agama Islam. Pada tahun 625 Masihi, tercetusnya Perang Uhud dan ketika itu Safiyyah sudah berumur 56 tahun.
Rabi’ bin Hutsaim, seorang tabiin yang terkenal memiliki sikap selalumembersihkan jiwa mengatakan, “Seandainya manusia itu tahu tentang aibnya sendiri niscaya tak ada orang yang akan mencela diri orang lain.”
Suatu ketika ia pernah ditanya seorang sahabatnya, “Wahai Abu Yazid –panggilan Rabi’- mengapa engkau tidak pernah mencela orang lain?” Ia menjawab, “Demi Allah, jiwaku saja belum tentu diridhai Allah lalu untuk apa aku mencela orang lain? Sesungguhnya banyak manusia yang takut kepada Allah karena melihat dosa-dosa yang dilakukan oleh orang lain. Tetapi tidak sedikit di antara mereka yang seperti tidak merasakan hal itu dengan dosa yang ia lakukan sendiri.
Tak ada satu orang pun di Makkah yang tidak mengenal Mush’ab bin Umair. Wajahnya yang tampan, pakaiannya yang mahal, dan badannya yang wangi, membuat Mus’ab selalu menjadi perbincangan. Banyak gadis yang bermimpi menjadi istrinya. Terlahir dari keluarga terpandang, Mush’ab sudah biasa hidup dalam kemewahan.
Segala kehidupan itu dilakoninya sebelum Mush’ab mengenal Islam. Berita tentang Nabi Muhammad dan Islam di Makkah sampai juga di telinga Mush’ab. Ia pun penasaran. Akhirnya, Mush’ab menemui Nabi Muhammad di rumah seorang lelaki bernama Arqam. Di sana, Mush’ab banyak bertanya tentang Islam. Ia mulai tersentuh agama yang dibawa Nabi Muhammad ini.
Rabi’ah al Adawiyah adalah seorang penyair, dan salah satu sufi yang terkenal dengan konsep mahabbahnya. Konsep tersebut yakni bertutur perihal cinta seorang hamba kepada Tuhannya tanpa syarat, yakni tanpa takut atas api siksa neraka maupun harapan ihwal kenikmatan surga, cinta yang murni tanpa balasan.
Rabi’ah al Adawiya lahir sekitar 95-99 Hijriah di Bashrah, Irak. Rabi’ah tumbuh di keluarga yang miskin dengan rumah gelap gulita, tanpa penerangan sama sekali. Ia yang menjadi yatim piatu kelak melewati masa kelaparan serta dijual sebagai budak.
Setelah tuannya membebaskannya karena setia pada Tuhan, dia hidup dalam kesendirian di luar Basra, di Irak modern. Pengalaman cinta ilahi menginspirasi Rabi'ah, dia dianggap sebagai salah satu wanita sufi pertama dalam Islam, dan yang pertama dalam barisan panjang mistik sufi wanita.
Islam mengajarkan umatnya untuk memuliakan para janda perang. Asma binti Umais merupakan satu di antara banyaknya janda korban peperangan pada masa Rasulullah SAW.
Ia mendapatkan kemuliaan dengan dinikahi dua dari empat Khulafaur Rasyidin, yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq RA dan Ali bin Abi Thalib RA.
Hakim Bin Hizam memiliki masa kecil yang unik. Dia dilahirkan di dalam Ka'bah, rumah Allah yang disucikan, tidak seperti bayi pada umumnya yang dilahirkan di rumah. Dialah Hakim, sahabat yang sejak kecil dikenal Rasulullah namun baru mendapatkan hidayah setelah 20 tahun Rasulullah berdakwah.
From the publisher's feed