
Sign up to save your podcasts
Or


Pada 570 Masehi daerah yang saat ini bernama Yaman berada di bawah kekuasaan Abyssinia (Etiopia sekarang). Seorang Abyssinia bernama Abrahah diutus untuk menjadi gubernur di sana. Ia membangun sebuah katedral megah di Shan’a untuk Raja Negus dengan harapan dapat menyaingi Kakbah di Makkah sebagai tempat penyembahan bagi seluruh bangsa Arab. Abrahah membangun katedral itu dengan pualam yang diambil dari bekas istana Ratu Saba serta menghiasinya dengan emas dan perak.
Abrahah tidak merahasiakan sedikit pun niat menyaingi Makkah dan itu tentu mengundang kemarahan suku-suku yang tersebar di seluruh Hijaz dan Najd. Akhirnya, seseorang dari suku Kinanah, yang memiliki hubungan nasab dengan Quraisy, pergi ke Shan’a dengan maksud meruntuhkan gereja itu. Konon, berdasarkan riwayat yang dituturkan secara turun-temurun, ia melakukan itu hanya dalam satu malam dan kembali ke rumahnya dengan selamat.
Saad bin Rabi adalah salah seorang sahabat Nabi yang berani, teguh imannya, dan sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya, dengan semangat yang berkobar, ia berperang di medan Perang Badar dan Perang Uhud.
Haritsah bin Suraqah adalah seorang pemuda dari kalangan sahabat Anshar. Suatu pagi ia bertemu dengan Rasulullah SAW dan beliau bersabda, “Wahai Haritsah, bagaimana keadaanmu pagi ini?”
“Perhatikanlah perkataanmu, wahai Haritsah,” kata Rasulullah SAW, “Setiap kata yang engkau ucapkan itu harus ada bukti sebenarnya…!!”
Maka Haritsah berkata menjelaskan, “Wahai Rasulullah, jiwaku jemu dengan dunia, sehingga saya bangun di malam hari (untuk ibadah) dan puasa di siang harinya. Sekarang ini saya seolah-olah berhadapan dengan Arsy Allah, dan saya melihat ahli surga saling kunjung-mengunjungi satu sama lainnya, dan juga ahli neraka sedang menjerit-jerit di dalamnya…!!”
Halimah as-Sa’diyah adalah salah satu wujud nyata ‘bidadari’ yang ada di bumi. Ia berasal dari Thaif, kabilah bani Sa’ad yang bertempat di kampung.
Orang-orang Arab mempunyai tradisi untuk menyusukan anaknya kepada para perempuan kampung. Selain perempuan kampung dapat menjamin gizi yang bagus, nilai sastra dan bahasa orang perkampungan Arab juga tinggi.
Di masa kenabian Nabi Muhammad saw, dulu ada seorang lelaki bernama Alqomah. Dia seorang yang rajin dalam masalah ibadah shalat, puasa dan sedekah. Namun suatu waktu dia jatuh sakit yang teramat parah—tepatnya dalam keadaan sakaratul maut. Namun entah kenapa Alqomah yang taat itu kesulitan untuk melafalkan kalimah “La ilaaha illallah”. Hingga sang istri meminta tolong pada seseorang untuk menemui Rasulullah saw, untuk menyampaikan pesan tentang keadaan suaminya pada Rasulullah saw.
Nabi pun mengutus Bilal, Ali, Salman dan Ammar r.a untuk datang ke rumah Alqomah. Di sana mereka menyaksikan betapa Alqomah dalam keadaan yang memprihatikan. Mereka bertanya-tanya bagaimana mungkin seorang yang taat pada Allah dan Rasulnya itu kesulitan dalam melafalkan kalimat “La ilaaha illallah”. Lidah Al-Qomah seperti terkunci ketika akan melafalkan kalimat itu.
Ammar bin Yasir atau dikenal juga sebagai Abul Yaqzan merupakan golongan pertama yang memeluk agama Islam. Ia adalah sahabat nabi yang setia dan dicintai Nabi Muhammad SAW berkat pengabdian dan dedikasinya dalam memperjuangkan agama Islam.
Nama lengkapnya adalah Hind binti Abu Umayyah bin al-Mughirah bin Abdullah bin Amr bin Makhzum. Ia merupakan salah satu istri Rasulullah SAW yang pertama kali masuk ke Madinah. Ummu Salamah adalah teladan bagi para istri, karena kemuliaan akhlak dan kesalehannya. Dia digambarkan sebagai sosok yang cantik parasnya, tinggi kedudukannya, dan cerdas.
Suhaib ar-Rumi radhiallahu ‘anhu adalah salah seorang di antara sahabat senior Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mungkin tidak dikenal oleh banyak kaum muslimin. Ia merupakan as-sabiquna-l awwalun (orang-orang yang pertama memeluk Islam).
Saat jumlah kaum muslimin masih sekitar 30-an orang, Suhaib telah menyatakan keislamannya di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan takut akan ancaman kafir Quraisy Mekah.
Masa dakwah Rasulullah, Kala itu Rasulullah sangat gencar diburu oleh Kaum Kafir Quraisy, karena kebencian yang sangat mendalam kepada Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam dan ajaran yang disampaikannya. Namun banyaknya cacian dan makian yang diterima, tidak membuat Rasulullah lantas menyerah.
Karena pada masa itu, Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam paham. Bahwasanya disepanjang perjalanannya dalam berdakwah, akan ada para sahabat-sahabat yang terus mendukung dan melindunginya. Seperti yang tertuang dalam kisah Amir bin Fuhairah ini. Amir Bin Fuhairah, merupakan budak (hamba sahaya) milik Abu Bakar. Karena Abu Bakar kala itu memutuskan untuk mengikuti Rasulullah dan memeluk agama Islam, Amir Bin Fuhairah pun juga ikut mendapat pengetahuan lebih banyak perihal keislaman.
Hingga pada akhirnya, Amir bin Fuhairah menjadi salah satu sahabat Nabi yang membantu dalam mengajarkan ajaran Islam. Betapa Allah yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana. Hidup Amir Bin Fuhairah dinaikkan derajatnya dari seorang budak menjadi seorang Hafidz
Al-Mughirah bin Syu'bah bin Abi Amir ats-Tsaqafi juga berjuluk Mughirah ar-Ra'yi (Mughirah yang cerdik), adalah salah seorang Sahabat Nabi yang berasal dari Bani Tsaqif di Thaif. Pada masa jahiliyah ia pernah menjadi perampok, namun ia menemui Nabi Muhammad SAW untuk masuk Islam dan berhijrah pada saat Perang Khandaq.
Mughirah menyertai Nabi Muhammad SAW dalam beberapa peristiwa, antara lain Baiat Ridwan dan Hudaibiyah, serta penaklukkan Bani Tsaqif. Ia juga menjadi salah seorang juru tulis Nabi Muhammad, dan periwayat beberapa hadits.
From the publisher's feed