
Sign up to save your podcasts
Or


Kesetiaan untuk bersama selamanya sukar dicari. Sama macam sajak Syafiq Ghazali. Ditutur jelas, Eylaaqilla beritahu yang semangat menulis boleh lahir hari ini, kemudian mati esok. Tapi, untuk lahir dan membesar sihat selamanya, belum tentu.
Hari jadi bukan lagi cara meniup lilin, tapi cara mendekati kematian. Karl Agan menemukan dua kelingkingnya, kanan dan kiri, dengan harapan hidup akan lebih bererti. Malam dah tak menyala sebab lilin baru saja terpadam dan sebelum hari bertukar, Hafys Rosli sempat membacakan sebuah harapan.
Selepas pertanyaan Lutfi Ishak kepadanya tidak dijawab, Amirul Hisyam bertanya pula kepada kita; tentang pintu yang sebenarnya sebuah puisi. Mengapa dalam banyak-banyak alat, pahat?
Selepas T. Alias Taib menanam sekuntum bunga kertas di halaman rumahnya, Adawiah Kamis terharu. Merah bunga yang memberikan makna baru tentang kedinginan, membuatkan dia tercari-cari, apakah yang telah ditabur, yang telah dijampi?
Keraguan asas keimanan, sementara cinta penuh keraguan. Matari akan terus keliru dengan tindak hujan. Hujan akan terus keliru dengan tindak matari. Namun siapa menyangka, Meor Izzat memberitahu yang, saat ia bersilangan, terciptalah tujuh warna lengkung pelangi? Sesudah segala, akhirnya mereka mengerti, memang tak ada yang pasti. Namun cinta, cinta akan tetap selalu menumbuhkan, mencipta keindahan dan bacaan Bungamerah telah menumbuhkan, mencipta keindahan.
Duka selalu buatkan kita menjadi penakut, tergaru-garu mencari cara untuk bersenandung, melepaskan diri–dari dunia, segalanya. Bacaan puisi Anwar Ridhwan oleh saudara Lee Hao Jie menyenandungkan, betapa duka sering mengkabutkan dan akhirnya, kita terpinga-pinga untuk terus keliru ragu-ragu antara dua kemungkinan.
"Saya kerap bermimpi seolah saya sebagai pencari... Tak tahu apa yang dicari..." balas Qurratul 'Ain kepada pertanyaan pengarang dan kritikus, Wan Nor Azriq, lewat kiriman blog, "Perbualan Bersama Qurratul 'Ain". Dalam catatan pertama buku Dua Rahsia Berjabat, 'Ain menyatakan: "Tak ada yang lebih meresahkan daripada memasuki diri sendiri dan menemui ribuan dirimu."
Barangkali, apa yang kita cari, sebenarnya ada di dalam diri. Kita cuma perlu masuk sementara mereka keluar. Sementara ribuan diri kita berangkat pergi entah ke mana, kita menunggu tren tiba dan apabila pintu terbuka, Azielahaneem Idris mengungkapkan "Percakapan Kecil" Qurratul 'Ain kepada kita.
“Suaramu tertinggal di gagang
Suara siapakah selalu mencuri tidur malammu, atau, masih adakah suara-suara mengganggumu lagi? Saat tak tersisa lagi suara, masih tetap ada suaramu sendiri, tersekat di kerongkong, tersepit di celahan gigi. Mengadun kemahirannya dalam melafazkan dialog, SaifulWazien memilih untuk membunuh sunyi dan mengungkapkan rindunya terhadap kita via pesanan suara di gagang telefon.
Seperti apakah hujan bagi Latiff, selain bunyi "tin-tin kosong berguling guling gu ling" (Wayang Pak Dalang, 1977) yang ditulis kemudiannya? Lebih awal, dalam kumpuisi Sungai Mekong (1972), Latiff memisalkan hujan kepada lagu – mengalir satu-satu di muka kaca pintu. Antara kelantangan ini ada jua keheningan, kaku seekor kupu-kupu antara batu-batu. Dan Latiff soal kita, ketika nada lagu makin lantang, kenapa kita tak berdansa? Memahami gusar dan soal-soal yang Pak Latiff timbulkan, Fajar memilih untuk memandang "Hujan" sebagai sebuah percakapan dengan diri sendiri yang sunyi, ketika melihat ia mengalir di kaca tingkap.
From the publisher's feed