
Sign up to save your podcasts
Or


Mencintai diri sendiri tidak berarti kita berpikir bahwa kita adalah orang yang paling cerdas, paling berbakat ataupun paling cantik di dunia. Sebaliknya, ketika kita mencintai diri sendiri, kita menerima apa saja kelemahan dalam diri masing-masing dan menghargai apa yang disebut kekurangan. Namun, apakah cukup hanya dengan mencintai diri sendiri apa adanya? Atau, makna mencintai diri sendiri tidak berhenti di situ, melainkan juga perlu menerima diri, merawat diri, dan memaksimalkan potensi yang ada pada diri?
Narrator: Ayoe Sutomo
--
Instagram: @stylo.indonesia
Kasus bullying dengan mengejek fisik oleh beberapa orang dianggap sudah biasa. Mengejek fisik kerap kali dilakukan oleh sebagian orang sebagai bentuk ejekan verbal dengan menyinggung warna kulit, berat badan, tinggi badan, bentuk hidung, atau bentuk rambut seseorang. Gaby, salah satu korban body shaming, fisiknya dijadikan bercandaan oleh orang-orang yang ia kenal. Hingga akhirnya, ia memiliki perspektif baru dalam berpikir dan bertindak. Yuk, simak kisah Gaby dalam menerima, merawat diri, dan memaksimalkan potensi diri selengkapnya di episode ini!
(03:00) Candaan fisik datang dari laki-laki
(06:32) Masa SMA jadi hal paling buruk dalam diri
(07:50) Mengubah diri merupakan bagian dari sayang dengan diri sendiri
(09:28) Perlu menyadari karakter orang berbeda-beda
(11:20) Perempuan yang hebat diluar penampilan adalah pola pikir, kecerdasan & prestasi
(12:48) Pahami, kenali dan fokus pada diri sendiri
--
Host: Cery Stylo
Narasumber: Gaby Nainggolan
Produser: Ristiana D Putri
Co-Producer: Miletresia
Audio Editor: Elya Amanda
--
Instagram: @stylo.indonesia
Saat ini banyak kampanye mengenai self love yang mendorong seseorang untuk lebih menerima dan lebih mencintai diri sendiri. Namun, tanpa disadari banyak orang yang tidak mengetahui batasan antara self love, selfish dengan toxic positivity. Bagaimana sebuah sifat positif dapat menjadi sebuah toxic yang justru berdampak sebaliknya? Simak selengkapnya di episode ini!
Saat ini standar kecantikan kerap direpresentasikan dengan perempuan cantik dengan tubuh yang langsing, rambut lurus, wajah mulus, dah berkulit putih. Padahal, tidak ada yang salah dengan kulit berwaran sawo matang atau gelap, atau memiliki tubuh curvy. Seperti yang dialami oleh Sri, ia mencoba menerima warna kulit sawo matangnya.
Komentar fisik bernada body shaming seringkali datang dari keluarga, bahkan orangtua sendiri. Seringkali, anggota keluarga terutama yang lebih tua belum memahami bahwa komentar fisik tersebut bisa menyakiti hati. Hal ini terutama karena adanya perbedaan nilai antargenerasi, di mana generasi orangtua mungkin belum begitu aware mengenai kesehatan mental. Lalu, bagaimana ya caranya agar kita bisa mengkomunikasikan perbedaan nilai ini dengan generasi yang lebih tua?
Memiliki tubuh curvy membuat Purnia mengalami perundungan, tetapi karena itu ia belajar untuk lebih menghargai dan mencintai diri sendiri dari pengalamannya menghadapi perilaku bullying. Salah satunya adalah berani berbicara atau speak up. Dengan speak up ia mampu mengatakan ketidaknyamannya pada orang lain. Yuk, simak kisah inspiratif Purnia selengkapnya di episode ini!
(04:03) Menumbuhkan rasa percaya diri untuk Speak Up
(06:00) Ketidaknyamanan itu perlu dilepaskan dengan Speak Up
(09:36) Pentingnya passion untuk masa depan
Insecurity bagaikan ulat di dalam buah yang seringkali membuat kita jadi meragukan diri sendiri dan sulit untuk memaksimalkan potensi diri. Yang sering tidak disadari, insecurity merupakan masalah yang dialami oleh banyak orang, bahkan termasuk orang-orang yang selalu kita anggap lebih baik atau lebih sukses dibanding diri kita sendiri. Lalu, bagaimana caranya agar kita dapat mengetahui self-worth dan menjadi individu yang lebih percaya diri?
Beauty shaming tidak hanya terjadi pada perempuan yang dianggap tidak memenuhi standar kecantikan masyarakat. Namun, juga kerap dirasakan oleh perempuan oleh mereka yang memiliki paras cantik pun. Seperti yang dialami oleh Gaby Lesnussa, yang mendapat perundungan karena penampilannya. Perundungan yang didapat pun di luar dari hinaan fisik. Bagaimana Gaby menghadapi itu semua? Simak kisah selengkapnya hanya di episode ini!
(03:20) Beauty Shaming: Cantik tapi tidak cerdas
(05:35) Perempuan cantik dianggap tidak berbakat
(10:11) Pentingnya mental support saat menghadapi beauty shaming
(11:00) Menjaga perkataan untuk menghindari body shaming
(13:30) Beauty shaming datang dari sesama perempuan
---
Instagram: @stylo.indonesia
Youtube: Stylo Indonesia
Body shaming seringkali datang dari orang terdekat yang kita pikir tidak akan mungkin sengaja menyakiti perasaan kita. Hal ini terkadang membuat korban body shaming kerap second-guessing perasaan yang mereka rasakan setelah mengalami body shaming. Belum lagi jika korban mengalami gaslight dari pelaku yang kerap bersembunyi di balik kalimat “Ah, kamu baperan, aku cuma bercanda!”. Lalu, bagaimana korban body shaming dapat memvalidasi bahwa yang mereka rasakan adalah normal dan mengelola reaksi tersebut?
Body shaming dapat memengaruhi rasa percaya diri dan menimbulkan frustasi. Selain itu, korbannya juga akan mencoba untuk menjadikan tubuh ideal yang justru berbahaya bagi dirinya sendiri. Namun, support system dari orang-orang terdekat dapat membantu korban body shaming menerima dan mencintai diri mereka. Hal ini dirasakan oleh Vallen Patricia. Berkat dukungan keluarga dan orang-orang terdekat dia dapat mencintai dan tampil lebih percaya diri. Simak kisah selengkapnya hanya di podcast Semua Bisa Cantik!
(03:33) Setiap orang memiliki kecantikan dan keunikan masing-masing
(04:56) Menerima dan mencintai diri sendiri
(08:20) Support system utama dimulai dari diri sendiri
(11:49) Kecantikan dalam diri
--
Instagram: @stylo.indonesia
Youtube: Stylo Indonesia
From the publisher's feed