Sinode Gereja Kristus Yesus

Sinode Gereja Kristus Yesus

By Sinode Gereja Kristus YesusReligion & SpiritualityChristianity
Download on the App Store

Sinode Gereja Kristus Yesus episodes

  • 十一月十一日 - 美善的合作

    在今天阅读的经文中,我们可以看到重建耶路撒冷城墙的美善合作。城门、城墙、城楼等都被重建。上帝的子民,无论男女(3:12),祭司或平民(3:1,22),管理者或百姓(3:9,12),银匠,做香的(3:8),等等都同心合力。无论他们从事何种职业,他们都团结一致地为了大家的益处而工作,即建设他们所居住的城市。


    除了这些人愿意辞去各自的工作,共同建设耶路撒冷城,他们能够合作也是因为有一位能干的领导人在指导他们。前一章解释说,尼希米被国王赐予特权(2:8-9),可以命令他们进行建设的工作。尼希米所做的初步是进行调查,仔细研究耶路撒冷城的情况(2:12-15),以便他能够了解现有的情况并能很好地解释必须解决的问题(2:17)。然而,更重要的是,尼希米作见证关于上帝怎样帮助他解决了事工所出现的一切问题(2:18)。这表明重建的工程不是仅出于人的主动,上帝也将主动与他们同在,进行这项工作。

    每个人的生活中都免不了会出问题,无论是工作上、家庭、教育,还是个人的问题。能准确地了解真正的问题是非常重要的一件事,通过合作解决问题也很重要。但是,在众多重要的事情中,最重要的一点是我们必须从上帝的视角来看问题。上帝希望我们与祂一起来解决问题,即是以祂的方式来解决的,而不是靠着自己的权力或能力。

    作为任何领域的领导者,包括在家庭、工作、组织、团体等领域,你是依靠自己的聪明才智和权力,还是将权力视为见证上帝带领的机会呢?[Benny Wijaya传道∕陈永珍]

    6 min
  • 10 November 2022 - “KELUAR DARI ZONA NYAMAN”

    Walaupun peristiwa yang dikisahkan dalam bacaan Alkitab hari ini seolah-olah mengalir begitu saja, sebenarnya peritiwa itu penuh pergumulan. Sebagai juru minuman raja, Nehemia harus melayani raja dalam kondisi yang optimal. Akan tetapi, kesedihan hatinya tidak bisa ia tutupi, padahal ekspresi sedih itu membuat ia bisa dicurigai sebagai memiliki niat yang negatif dan berisiko diganjar dengan hukuman. Saat ekspresi sedih itu diketahui raja, Nehemia menjadi sangat takut (2:2). Saat ditanya, Nehemia tidak boleh sembarangan menjawab. Bila tidak berkenan terhadap jawaban Nehemia, sang raja bisa saja menganggap dia ingin memberontak sehingga dia bisa dipenjara, bahkan ia bisa dihukum mati. Apa lagi, saat itu, kota Yerusalem pernah diisukan sebagai kota yang sering memberontak, sehingga Raja Artahsasta pernah memerintahkan penghentian pembangunan kota itu (Ezra 4:11-21). Oleh karena itu, permintaan untuk membangun kembali kota Yerusalem bertentangan dengan perintah yang pernah dikeluarkan oleh sang raja.


    Di tengah ketakutan, Nehemia berdoa dan menyerahkan semua ketakutannya kepada TUHAN (2:4). Selanjutnya, ia menceritakan pergumulannya kepada raja. Setelah mendapat tanggapan positif, ia mengungkapkan harapan yang seolah-olah tampak mengalir begitu saja. Nehemia menjawab dengan detail apa yang diperlukannya. Tentunya jawaban ini bukanlah jawaban spontan mengingat bahwa Nehemia adalah juru minuman, bukan politikus atau pejabat yang memahami perkembangan situasi. Sangat mungkin bahwa Nehemia sudah membuat perencanaan secara mendetail. Perhatikan bahwa Nehemia mendengar berita tentang Yerusalem pada bulan Kislew atau bulan kesembilan (1:1) dan kegelisahan Nehemia diketahui oleh raja pada bulan Nisan atau bulan pertama (2:1). Empat bulan untuk bergumul bukanlah jangka waktu yang pendek. Jadi, Nehemia bukan sekadar berdoa, namun ia juga merencanakan semuanya dengan detail berdasarkan keyakinan bahwa Allah akan menggenapi janji-Nya. Dia bersabar menunggu waktu TUHAN. Selain berdoa dan merencanakan, Nehemia juga bersedia diutus untuk mengambil risiko. Ia rela meninggalkan zona nyaman untuk melakukan tugas pelayanan yang penuh risiko.

    Apakah Anda sedang menggumuli pelayanan untuk Tuhan? Apakah Anda setia menanti penggenapan janji Tuhan? Apakah Anda bersedia meninggalkan zona nyaman untuk menaati kehendak Tuhan ? [GI Benny Wijaya]

    9 min
  • 十一月十日 - 走出你的舒适区

    今天读经所叙述的事件,虽看似水到渠成,但其实充满了挣扎。作为国王的酒政,尼希米应在最佳的状况下侍奉王,然而他却无法掩饰心中的忧愁。尽管他那愁容,能使他被怀疑存有恶意,甚至被惩罚的风险。当王发现他面带愁容时,尼希米甚觉惧怕(2:2)。当被问及时,尼希米不能随随便便地回答。若他的答复使王不喜悦,可能会被认为他想造反,因而受罚监禁,甚至被处死。 更何况,当时的耶路撒冷城曾被传言为是一个经常造反的城市,所以亚达薛西王曾下令过停止建造该城(《以斯拉记》4:11-21)。因此,重建耶路撒冷城的请求似乎违背国王先前所发出的指令。


    在恐惧中,尼希米祈祷并将他所有的恐惧交托给上帝(2:4)。接着他将自己的挣扎告诉了国王。在得到积极的回应后,他很从容地表达了他的愿望。尼希米详细地告知他所需要的。鉴于尼希米是一位酒政,而不是了解事态发展的政治家或官员,他的回答当然不是一个自发的回答。尼希米有可能已详细地规划过。请细看,尼希米得知关于耶路撒冷的消息是在基斯流月,即是九月(1:1),而尼希米的忧愁是在尼散月或正月被国王发现的(2:1)。四个月的挣扎不是一个短时间。可见,尼希米不只是祷告,而基于坚信上帝会实现祂的应许,也详细地规划了一切。他耐心地等待上帝的时机。除了祈祷和规划,尼希米也愿意被派出去冒险。他愿意走出他的舒适区去执行满有风险的侍奉任务。

    你在为侍奉上帝的事而苦苦挣扎吗?你是否忠心地等待上帝的应许实现呢?你愿意走出你的舒适区去顺服上帝的旨意吗?[Benny Wijaya传道∕陈永珍]

    9 min
  • 09 November 2022 - “KEPEDULIAN TERHADAP UMAT ALLAH”

    Nehemia adalah seorang Yahudi yang berada di pembuangan. Saat itu, yang berkuasa adalah Raja Artahsasta dari kerajaan Persia (2:1). Nehemia dipercaya menjadi juru minuman raja (1:11) yang bertugas menyediakan dan mencicipi minuman yang hendak disajikan kepada raja. Kedudukan ini sangat penting karena sebagai pelayan pribadi raja, ia memiliki kedekatan dengan sang raja. Jelas bahwa kedudukan tersebut membuat kondisinya nyaman. Nehemia mencatat bahwa ia sedang bertugas pada tahun kedua puluh pemerintahan raja Artashasta (1:1) yang diperkirakan tahun 446 BC atau 140 tahun setelah Yerusalem runtuh. Sangat mungkin bahwa Nehemia lahir pada masa pembuangan.


    Walaupun kondisinya nyaman, Nehemia yang belum pernah tinggal di Yerusalem itu tetap peduli terhadap kondisi bangsanya yang tinggal di Yerusalem. Hal ini jelas terlihat saat salah seorang saudaranya datang dari Yerusalem. Dia tidak memfokuskan diri untuk menceritakan kenyamanan yang ia nikmati di Kerajaan Persia. Sebaliknya, Nehemia menanyakan kondisi bangsanya yang berada di Yerusalem (1:2). Saat Nehemia mendengar berita bahwa saudara-saudaranya mengalami kesukaran besar dan mereka tercela karena tembok Yerusalem masih porakporanda, sukacita karena kenyamanannya lenyap dan diganti dengan dukacita karena kepeduliannya terhadap bangsanya. Nehemia menangis dan berkabung selama beberapa hari. Yang mengesankan, kepedulian Nehemia terhadap bangsanya itu ia ungkapkan kepada Allah melalui doa dan puasa (1:4). Walaupun ia hidup dalam pembuangan, ia tetap mempertahankan iman yang didasarkan pada firman Allah (1:8). Dia tahu bahwa hanya Allah yang mampu menjawab kepeduliaannya. Dalam doanya, dia tidak mengkambinghitamkan nenek moyangnya yang telah berdosa kepada Allah, tetapi dia menempatkan diri sebagai bagian dari umat yang telah berbuat dosa kepada Allah (1:6). Sikap Nehemia ini mengingatkan kita kepada perkataan Rasul Paulus bahwa seluruh umat Allah merupakan satu tubuh, yaitu tubuh Kristus, dan setiap orang percaya merupakan anggota tubuh. Bila satu anggota menderita, seluruh anggota akan turut menderita. Sebaliknya, bila satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita (1 Korintus 12:26).

    Sejauh mana kepedulian Anda terhadap sesama anggota umat Allah? Apakah kepedulian Anda membuat Anda menempatkan diri pada posisi sesama anggota umat Allah yang sedang menderita? [Pdt. Hendro Lim]

    9 min
  • 十一月九日 - 关心上帝的子民

    尼希米是个在流放地的犹太人。当时的统治者是波斯帝国的亚达薛西王(2:1)。尼希米被信任任职为国王的酒政(1:11),他负责预备和品尝将要供应给王的饮料。这位置很重要,因为作为国王的贴身仆人,他与国王较为亲近。 很显明,这职位让他过得很舒适。尼希米记载他在亚达薛西王在位的第20年服侍(1:1),约公元前446年或耶路撒冷败落后的140年。尼希米很有可能是在流放地时期出生的。


    尽管他的情况很舒适,但从未在耶路撒冷生活过的尼希米,仍然关心他族人在耶路撒冷的近况。当他的一个弟兄从耶路撒冷来时,就清楚地看到了这一点。他没有专注于讲述他在波斯帝国所享受的舒适。反而向他的弟兄问起他们族人在耶路撒冷的光景(1:2)。当尼希米听到他的同胞们遭大难,受凌辱;因耶路撒冷的城墙拆毁四散,他的喜乐因安逸舒适的生活随即消失,取而代之的是因关心他们的遭遇而哀恸。尼希米哭泣,悲哀几日。感人的是,尼希米以祈祷和禁食向上帝表达了对他族人的关心(1:4)。即使他生活在流放地,他仍然保持着忠于上帝话语的信仰(1:8)。 他知道只有上帝才能安抚他的忧虑。在他的祷告中,他没有归罪于他的列祖得罪了上帝,而是将自己也视为得罪了上帝的以色列人(1:6)。尼希米的态度让我们想起使徒保罗的话,指上帝的子民都成了一个身体,就是基督的身体,每个信徒都是基督的肢体。当一个肢体受苦,所有的肢体就一同受苦。相反地,当一个肢体得荣耀,所有的肢体就一同快乐(《哥林多前书》12:26)。

    你对上帝子民的关心已到什么程度呢?你的关心是否让你对主里受难的弟兄有种感同身受吗?[Benny Wijaya传道∕陈永珍]

    9 min
  • 十一月八日 - 与非信徒结婚?

    所罗门与异族女子通婚不仅毁了自己,还把以色列人卷入了拜偶像的罪恶之中,这种罪恶延续了十几代,最后以色列民被掳到异国,王国就此而结束。以色列的北国被掳到亚述,而南国或犹大国则被掳到巴比伦。不幸的是,《以斯拉记》第10章告诉我们,尽管从巴比伦归回不久,其中的一些人民又重蹈覆辙陷入了同样的罪中。


    这种情况让以斯拉非常悲伤。禁食祷告后,以斯拉召集民众,谴责那些娶异族女子的以色列民。根据以斯拉的建议和众领袖的议定,那些与外邦人通婚的,必须将其异族之妻和儿女驱逐。这个事实表明,虽然以斯拉的属灵更新确实有结果,但并不完善。仍然必须提防自我的不完美和始终潜伏的罪恶。

    作为被耶稣基督救赎的信徒,我们也不完美,尽管我们已经与战胜那恶者的基督同死同复活(《罗马书》6:5-8)。上帝的国度是一个事实,但尚未完全。我们仍然要面对各种挣扎与罪对抗,同时也要对我们四周的各种诱惑保持警惕,其中包括与非信徒结婚的问题。

    《以斯拉记》第10章中关于驱逐不信的妻子的记载不应作为现今信徒与不信主的配偶离婚的依据。使徒保罗劝勉信徒不要立即与不信的配偶离婚,因为不信的丈夫可以被信的妻子成为圣洁,而不信的妻子也可以被信的丈夫成为圣结(《哥林多前书》7:12-14)。 我们可以确信在我们的软弱中总是有上帝的恩典。如果您的配偶不信主耶稣,您是否已恳切地祷告让您的配偶敞开心门相信主耶稣? 请谨记,在我们死之前,在主耶稣第二次再来之前,世人还有悔改的机会![林俊俊牧师/林贞兰]

    8 min
  • 08 November 2022 - “MENIKAH DENGAN ORANG TIDAK SEIMAN?”

    Perkawinan campur Salomo tidak hanya menghancurkan dirinya sendiri, tetapi juga membawa orang Israel ke dalam dosa penyembahan berhala yang terus berkembang dalam belasan generasi, lalu berakhir dengan pembuangan ke Asyur bagi Kerajaan Israel Utara dan pembuangan ke Babel bagi Kerajaan Israel Selatan atau Kerajaan Yehuda. Sayangnya, Ezra 10 memberitahu kita bahwa walaupun belum lama kembali dari pembuangan di Babel, sebagian bangsa itu telah kembali jatuh ke dosa yang sama.


    Keadaan itu membuat Ezra amat berduka. Setelah berpuasa dan berdoa, Ezra menghimpun bangsa itu dan menggugat para pelaku kawin campur. Berdasarkan nasihat Ezra dan sidang para kepala kaum keluarga, para pelaku kawin campur diwajibkan untuk mengusir para perempuan asing itu bersama dengan anak-anak mereka. Kenyataan ini menunjukkan bahwa walaupun pembaruan spiritual yang dilakukan Ezra memang ada hasilnya, tetapi belum sempurna. Ketidaksempurnaan diri dan dosa yang selalu mengintai tetap harus diwaspadai.

    Sebagai orang percaya yang telah ditebus oleh Yesus Kristus, kita juga belum sempurna. Sekalipun kita sudah mati dan bangkit bersama dengan Kristus (Roma 6:5-8) yang sudah memenangkan peperangan melawan si Jahat, Kerajaan Allah merupakan sebuah realita tetapi belum sepenuhnya. Kita masih harus menghadapi berbagai pergumulan melawan dosa dan harus tetap mewaspadai berbagai godaan di sekitar kita, termasuk masalah perkawinan campur dengan orang yang tidak seiman.

    Kisah pengusiran istri yang tidak seiman dalam Ezra 10 tidak boleh dijadikan dasar bagi orang percaya yang sudah telanjur kawin campur dengan orang yang tidak seiman untuk menceraikan pasangannya. Rasul Paulus menasihati agar orang percaya tidak serta merta menceraikan pasangan yang tidak seiman karena seorang suami yang tidak beriman bisa dikuduskan oleh isterinya yang beriman dan isteri yang tidak beriman bisa dikuduskan oleh suaminya yang beriman (1 Korintus 7:12-14). Kita bisa meyakini bahwa selalu ada anugerah Allah di dalam kelemahan kita. Bila pasangan Anda belum percaya kepada Tuhan Yesus, apakah Anda sudah tekun berdoa agar pasangan Anda bisa membuka hati untuk percaya kepada Tuhan Yesus? Ingatlah bahwa sebelum kita meninggal dan sebelum Tuhan Yesus datang kembali untuk kedua kali, masih ada kesempatan bagi manusia untuk bertobat! [Pdt. Hendro Lim]

    12 min
  • 07 November 2022 - “KATAKAN "TIDAK!" PADA RASISME!”

    Kondisi masyarakat Indonesia yang terdiri dari ratusan suku dan hidup di tengah global village—masyarakat di seluruh dunia bisa saling berkomunikasi seperti dalam sebuah desa—membuat perkawinan antar etnis atau antar ras menjadi sebuah realitas di tengah pluralitas.


    Ezra 9 merupakan peringatan keras terhadap perkawinan campur antara umat Allah dengan orang tidak seiman. Perkawinan campur dapat menyebabkan berpalingnya hati umat TUHAN. Semenjak masa para bapa leluhur, bangsa Israel telah berulang kali jatuh ke dalam penyembahan berhala karena kawin campur dengan orang yang tidak seiman. Itulah sebabnya, TUHAN memberi perintah agar mereka tidak melakukan kawin campur dengan orang yang tidak percaya (Keluaran 34:16; Ulangan 7:3-4, bandingkan dengan 2 Korintus 6:14).

    Perhatikan kehidupan Salomo: Karena mencintai banyak perempuan asing, dia turut menyembah dewa-dewi asing sembahan para perempuan asing tersebut. Salomo berlaku jahat di mata TUHAN dan tidak sepenuh hati mengikuti TUHAN (1 Raja-raja 11:1-8). Ia membuka pintu bagi praktik penyembahan berhala di Israel, sehingga TUHAN menghukum dengan memecah Kerajaan Israel menjadi Kerajaan Israel Selatan atau Kerajaan Yehuda dan Kerajaan Israel Utara atau Kerajaan Israel. Praktik penyembahan berhala itu mempengaruhi rakyat serta raja-raja berikutnya di Kerajaan Israel maupun Kerajaan Yehuda,  sehingga akhirnya mereka dihukum dengan dibuang ke negeri asing.

    Kasus kawin campur dalam Ezra 9 adalah masalah perbedaan keyakinan, bukan masalah kawin campur antar ras atau antar etnis. Dalam silsilah Tuhan Yesus pun, ada tiga perempuan asing yang disebut, yaitu Tamar, Rahab, Rut (Matius 1:3,5). Atas anugerah Allah, ketiga perempuan asing itu meninggalkan keyakinan mereka dan bergabung dengan umat Allah, sehingga mereka bisa masuk dalam silsilah Yesus Kristus. Saat ini, orang beriman telah mencakup hampir semua suku dan etnis. Jadi, perkawinan seorang laki-laki dengan seorang perempuan seiman tidak boleh digagalkan oleh sekadar perbedaan etnis atau ras.

    Hari ini, barangkali masih terdapat orang tua Kristen yang menghalangi anak mereka melangsungkan perkawinan dengan orang percaya yang berbeda etnis atau ras. Sebagai umat Allah yang percaya bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, rasisme tidak boleh mempunyai tempat dalam kehidupan kita. [Pdt. Hendro Lim]

    9 min
  • 十一月七日 - 对种族歧视说 不

    印度尼西亚社会由数百个民族组成,生活在一个地球村——世界各地的人可以相互交流像在一个村庄里一样——使得跨种族的婚姻在多元化的社会中成为一个不争的事实。


    《以斯拉记》9章是对上帝的子民与外邦人通婚的一个强烈警告。与异族结亲会使上帝子民的心转离祂。自族长时代以来,以色列国因与外邦人通婚而屡次陷入偶像的崇拜。这就是为何耶和华命令他们不可与不信的人通婚(《出埃及记》34:16;《申命记》 7:3-4,对照《哥林多后书》6:14)。

    请留意所罗门的生平:因为他爱许多外邦女子,他就跟着她们崇拜外邦的诸神。所罗门行耶和华眼中看为恶的事,并没有专心跟随耶和华(《列王纪上》11:1-8)。他为以色列打开拜偶像的大门,导致耶和华降下刑罚,将以色列王国分裂为南国或犹大国和北国或以色列国。拜偶像的行径影响了以色列国和犹大国的人民和后来的国王,以致他们最终受到了惩罚,被掳到异国他乡。

    《以斯拉记》9章的通婚案例是在于不同信仰的问题上,而不是跨民族或跨种族的婚姻问题。即使在主耶稣的家谱中,也有三位外邦女子的名字,分别是他玛、喇合和路得(《马太福音》1:3,5)。靠着上帝的恩典,这三个外邦女子离开了她们的信仰,成为上帝的子民,使她们能被列入耶稣基督的家谱中。今天,信徒几乎覆盖了所有的民族和种族。因此,一个男子和同信仰的女子的结合不应仅仅因为种族或民族差异而受阻。

    今天,也许仍然有些基督徒的父母阻止他们的儿女与不同种族或种族的信徒结婚。身为上帝的子民,我们相信人类是按照上帝的形象和样式创造的,所以种族歧视不应该在我们的生活中有立足之地。[林俊俊牧师/林贞兰]

    11 min
  • 06 November 2022 - “ASAL BICARA?”

    Komedian Charlie Chaplin pernah berkata, "Words are cheap. The biggest thing you can say is ‘elephant’." Maksud Chaplin adalah bahwa berkata-kata itu mudah, dan kita bisa saja bicara besar tanpa bersungguh-sungguh bermaksud seperti apa yang kita ucapkan.


    Ketika Ezra berkata, "Tangan Allah kami melindungi semua orang yang mencari Dia demi keselamatan mereka, tetapi kuasa murka-Nya menimpa semua orang yang meninggalkan Dia" (8:22b), dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Kata-kata tersebut bukan sekadar cheap words (asal bicara). Ezra membuktikannya dengan tidak meminta bantuan tentara atau orang-orang berkuda kepada raja untuk mengawal mereka terhadap musuh di jalan. Ezra memaklumkan puasa dan memohon kepada Tuhan agar Tuhan sendiri yang memelihara mereka dan harta benda mereka.

    Mungkin, kita termasuk orang yang sering mengaku bahwa Allah itu baik, Allah itu Mahakasih, Allah itu Mahakuasa, dan berbagai pengakuan lainnya. Kita mungkin cukup sering berkata, "Tuhan memberkati" atau "Tuhan menyertaimu". Ada orang-orang yang sering dengan mudah berkata, "Haleluya! Puji Tuhan!" Pertanyaannya, apakah kata-kata tersebut sungguh-sungguh kita aminkan atau sekadar asal bicara? Dalam Matius 12:36-37, Tuhan Yesus mengingatkan bahwa kita harus mempertanggungjawabkan setiap perkataan yang kita ucapkan.

    Dalam pengalaman Ezra, ketika mereka berani berkata, mereka akan berani juga mengambil langkah iman untuk memercayakan diri kepada Tuhan, dan Tuhan tidak akan mengecewakan mereka. Mereka mengalami bahwa Tuhan akan menjawab doa mereka secara langsung. Bagaimana dengan Anda? Saat Anda berkata, "Tuhan akan menolong", beranikah Anda mengambil langkah iman, bersandar penuh kepada-Nya, dan menantikan Dia berkarya?

    Bagaimana pula ketika Anda berurusan dengan sesama manusia: Apakah kata-kata yang terlontar dari mulut Anda hanya sekadar asal bicara atau Anda mengucapkan dengan penuh kesadaran bahwa Anda akan mempertanggungjawabkan kata-kata tersebut? Janji untuk menolong harus ditunaikan dengan melaksanakan pertolongan yang nyata. Komitmen untuk melayani harus diwujudkan dengan pelayanan yang bertanggung jawab! [Pdt. Hendro Lim]

    10 min

About Sinode Gereja Kristus Yesus

From the publisher's feed

Akun Spotify resmi Sinode Gereja Kristus Yesus (GKY) yang menyajikan Renungan GEMA dalam Bahasa Indonesia dan Mandarin. Temukan kekuatan firman Allah dan pertumbuhan iman setiap hari bersama kami…