
Sign up to save your podcasts
Or


Kita ini manusia yang banyak mau. Terlalu banyak, sampai-sampai kita punya daftar kriteria. Tapi pertanyaannya: sudahkah kita benar-benar yakin, bahwa diri kita ini pantas atau layak mendapatkannya?
Usaha yang tak putus, adalah kata kunci. Bukan seberapa banyak prestasi atau seberapa banyak diakui. Mudah-mudahan, di hidup yang penuh perjuangan, kita senantiasa ingat hal ini.
Jika terlalu dekat, kita bisa-bisa hanya melihat naik atau turunnya saja. Maka untuk dapat memaknai hidup sebagai seorang manusia tumbuh, ambil jarak. Lihat hidup lebih jauh. Semua yang kita lalui, membawa kita naik. Terus dan terus.
Berlari, bukan untuk menghindari masalah, melainkan untuk mencari siapa diri kita, menemukan lagi kekuatan kita yang hilang entah ke mana. Untuk kemudian kembali lebih siap, menyikapi masalah dengan hati lapang dan jiwa yang rela.
Ketimbang memikirkan kematian yang jauh, lebih baik memikirkan kehidupan yang dekat. Apa yang bisa saya lakukan kini, perubahan yang saya buat kini, kebaikan yang saya tabur kini, untuk bekal saya menghadapi kematian nanti?
Ingatan, bukan kenyataan. Tak peduli sepahit apa dulu, sekarang belum tentu sama. Hati-hati agar tidak terbawa perasaan. Pada akhirnya, hidup haruslah selalu berjalan ke depan, bukan ke belakang.
Sering kali dalam hidup, manusia itu berkegiatan tanpa sadar. Ibarat otak, hati, dan ototnya sudah terbiasa, sampai-sampai tidak ada pertimbangan lain lagi dalam melakukan, selain bahwa karena ia sudah terbiasa saja. Padahal jika ditelaah lagi, banyak yang masih bisa diperbaiki.
Zona nyaman tidak selalu yang baik-baik saja. Zona nyaman bisa berarti kesedihan dan duka yang terasa pasti. Padahal dalam hidup, satu-satunya yang pasti hanyalah ketidakpastian itu sendiri, bukan?
Ada kalanya, segala pengakuan dan prestasi kita tidak lagi menggembirakan. Ia justru terasa kecil dan tak signifikan. Mungkin inilah jawabannya: sebab untuk siapapun yang berdiri di puncak, pada akhirnya harus pulang. Tapi tak semua orang tahu di mana rumahnya itu.
Kita sering kali mengglorifikasi betapa menyenangkannya dicintai, tapi menganggap sepele mencintai. Padahal, ia adalah seni yang butuh keterampilan. Pengulangan. Gairah. Butuh kesabaran dan komitmenmu melakukannya.
From the publisher's feed