
Sign up to save your podcasts
Or


Jika diibaratkan sebagai rumah, hendaknya diri kita ini kita siapkan jadi tempat yang nyaman. Bukan demi kemewahan di mata orang, tapi kenyamanan di hati kita sebagai penghuni tetapnya.
Kesempatan kedua. Sesuatu yang begitu sakral, untuk diberi pada orang lain maupun diri sendiri. Pada akhirnya, mungkin bukan itu yang kita cari. Bukan kesempatan kedua, melainkan pengampunan yang rela.
Ada baiknya juga bahwa tidak segala hal bisa kita miliki dengan segera. Biar dengan demikian, kita belajar untuk menghargai usaha, dan fokus hanya pada hal-hal paling esensi,
Tugas besar manusia di dunia ialah menciptakan sesuatu yang bisa terus mengalir, bahkan saat nanti ia tak ada lagi di dunia. Mungkin dengan demikianlah manusia bisa menjalani hari-hari dengan rela. Sebab tahu, segala yang ia lakukan, cukup.
Jarak adalah sesuatu yang menakutkan. Ia bermain peran begitu besar dalam hubungan antarmanusia. Cara menyikapinya? Berusaha. Menjalani. Tapi jika akhirnya harus berakhir, ya tidak apa-apa juga. Jangan-jangan memang harus begitu, pada akhirnya.
Satu saja prinsipnya: satu hal besar, disusun dari ribuan hal kecil. Maka untuk dapat melaluinya, yang kita bisa ialah satu: membedahnya jadi satuan yang lebih sederhana untuk dikerjakan.
Bahagia itu milik siapa saja. Bukan hanya orang-orang yang kebunnya 'besar'.
Kadang, kedewasaan tampak seperti perlambatan. Pergerakan mundur. Tapi di satu titik, semua akan bergerak ke sana, kok. Perahumu dan perahu mereka, akan bertemu.
Hukum tabur-tuai itu benar adanya. Dan prinsip ini penting untuk diingat agar kita benar-benar mampu menyikapi langkah selanjutnya, dalam untung maupun malang.
From the publisher's feed