
Sign up to save your podcasts
Or


Ketimbang menghitung-hitung: seberapa mujur dan seberapa malang, lebih baik melihat hidup se-apa-adanya. Menjalani sebaik-baiknya, tanpa pertimbangan apakah ini nanti untung atau buntung.
Selamat menikmati episode yang bikin mikir ini, teman-teman. Semoga kita semua semakin bisa menghayati dan menjalani konsep kesetiaan dalam hidup kita masing-masing.
Ada perbedaan yang sangat tipis, antara orang yang rendah diri, dan orang yang merendahkan dirinya sendiri dengan sengaja untuk dipuji. Sebagai manusia yang punya intuisi, tentu kita bisa membedakan mana yang mana. Tapi meski demikian, kadang kita tak punya pilihan selain menyuapi egonya demi basa basi atau karena tak enak hati. Dan itu menjengkelkan sekali.
Untuk siapa saja yang masih belum tahu ke mana harus menuju. Tidak apa-apa, hanya belum terlihat saja ujungnya. Selama kita tidak berhenti, itu bukan berarti tak ada tujuan sama sekali.
Dalam hal berteman, dunia ini terbagi menjadi dua kubu: mereka yang bisa memilih temannya sendiri, dan mereka yang hanya bisa menunggu dipilih untuk bisa jadi teman seseorang.
Setiap orang, tak peduli sebahagia apa pun, sesungguhnya sedang mempersiapkan diri untuk duka terbesarnya. Tapi lebih jauh lagi, pertanyaannya bukan lagi 'bagaimana jika nanti duka itu datang?', melainkan 'duka ini hendak membentukku jadi pribadi yang seperti apa?'.
Mungkin kemampuan untuk bahagia adalah sebuah bakat. Kita tidak serta merta bahagia begitu saja. Butuh kemampuan untuk menghitung berkat, mensyukuri apa yang ada, lalu kemudian jadi bahagia, tak peduli bagaimana situasinya.
Kadang-kadang, kompas hidup yang berubah itu membuat kita jadi kecil hati. Kita malu dan sungkan untuk melangkah, karena merasa terlambat. Padahal, pada kenyataannya semua orang juga begitu. Perlu salah dulu, sebelum tahu mana jalan yang tepat.
Tidak ada orang yang senang mengalami kekalahan. Jika pun bisa menerima, itu berujung pada takut terluka lebih dalam saja. Tapi bukankah tanpa kekalahan, kita tak akan pernah sadar betapa menyenangkannya sebuah kemenangan? Bahkan pada hal yang kita beri stigma negatif itu, ada cara lain untuk melihatnya. Yakni sebagai pelajaran dan pengingat untuk tidak jumawa kalau nanti tiba di titik yang kita inginkan.
Kegelapan adalah rampok yang melucuti seluruh cahaya di rumah kita. Sering kita merasa tidak berdaya, tak sadar bahwa diri kita ini sedang kerampokan. Maka kita tumbuh dewasa dengan gelap. Dan gelap itu memakan kita hidup-hidup.
From the publisher's feed