
Sign up to save your podcasts
Or


Sebuah tulisan yang diadaptasi dari cerita Yunita Dewiyana (podcast Abjad Tersirat), dengan perubahan untuk Suara Puan.
Jangan mulai sesuatu dengan niat untuk membuktikan. Mulailah dengan sebuah ruang kosong, yang nantinya siap untuk kau isi dengan ilmu dan hal-hal baru.
Ada hal-hal yang kita jaga dalam hati saja, sebab takut keterbukaan kita itu membuat kita hancur. Tapi selama kita tahu bahwa manusia adalah lapisan demi lapisan rahasia, kita akan ikhlas jika akhirnya rahasia jadi cerita kita sendiri saja. Jadi sesuatu yang kita bawa sampai kita mati.
Ada hal-hal yang tak perlu kita tahu, seberapa pun kita mau. Baiknya dibiarkan saja berlalu, sampai suatu hari, pengetahuan itu yang membuka jalannya pada kita.
Manusia itu karakternya, kok. Bukan besar-kecil gaji atau gengsi-tidak pekerjaannya.
Dalam hal mengerjakan sesuatu, sering kali kita merasa begitu 'hebat' dan mahir melakukannya, seolah-olah kita memang dilahirkan untuk itu. Tapi pada manusia yang seperti ombak, pasang dan surut itu selalu ada. Membuat kita mempertanyakan lagi, "apakah benar?"
Bosan. Sesuatu yang paling kita takuti. Tapi kenapa? Ada apa di baliknya? Bukankah ia hanyalah periode hening tempat dunia berputar dan kita jadi pemerhati?
Tentang prinsip neraca yag harus selalu kita pegang. Sebab hati manusia, adalah kincir ria raksasa yang bisa berputar hanya jika semuanya bisa kau terima apa adanya.
Sedang rindu aktivitas tersier saya yang lama: bernyanyi dalam paduan suara.
Duka adalah gumpalan awan hitam yang mengintai, dan membuat kita tak bisa melakukan apa-apa selain menerimanya hadir.
From the publisher's feed