
Sign up to save your podcasts
Or


Sering kali, kita menjaga rumah kita terlalu saksama, sampai lupa mengizinkan orang lain untuk datang berkunjung dan menjadi bagian dari kesenangan dan kehangatan rumah kita itu.
Hal-hal yang kita nanti terkadang tidak sesuai ekspektasi. Lantas bagaimana? Mau bertahan atau meninggalkan? Tapi bahkan pada keduanya sama: hidup itu berjalan, bukan berlarut.
Ada kalanya, apiku menyalakan sumbumu. Lain waktu kau, menyalakan aku.
Meski tahu akan selangkah lebih baik dari babak hidup sebelumnya, tak jarang kita sedih manakala harus berpisah dengan hal-hal atau kebiasaan lama. Biar bagaimanapun, di sana lah kita tumbuh dan jadi seperti sekarang, bukan?
Untuk kita yang melalui masa-masa berat dengan bantuan seorang sahabat, tentu sulit rasanya menerima kenyataan ini. Tapi coba, yuk, dengarkan episode ini, agar kita bisa ambil sikap paling netral jika harus 'berbagi' sahabat kita itu, khususnya pada orang-orang yang tidak kita suka.
Lain kali, kalau ditanya "apa kabar?" dan jawabanmu hanya "biasa-biasa saja", bersyukurlah. Sebab itu berarti segalanya sudah cukup, apa adanya.
Namanya bahagia itu tidak mungkin abadi. Pada prinsipnya, ia disebut bahagia justru karena tidak dinikmati sering-sering. Maka, daripada mencari terus kebahagiaan yang baru, ada baiknya untuk setiap kebahagiaan yang kita rasa, kita menikmatinya pelan-pelan. Perlahan, tak tergesa.
Jika kamu punya satu teman itu, tolong bagikan tautan episode ini padanya, dan ucapkan terima kasih.
Hidup manusia tidak lepas dari setiap musibah yang datang. Jika kita mau melihat sisi baik dari musibah itu, kita naik kelas jadi manusia yang lebih baik. Tapi tentu ini bukan perkara mudah. Maka apa yang bisa kita perbuat dan usahakan untuk bisa demikian?
Dalam diri setiap manusia, ada cinta yang cukup untuk mencintai dirinya sendiri. Jika pada orang lain bisa, berarti pada diri sendiri juga sama, bukan?
From the publisher's feed