
Sign up to save your podcasts
Or


Semua orang ingin jadi cahaya, tapi banyak yang tak mau bergerak. Padahal cahaya tak ada gunanya kalau ia hanya diam di tempat yang terang. Ia harus mau menyambar sudut-sudut gelap, dan membawa terang.
Beberapa dari kita, adalah nahkoda tanpa awak kapal. Kemandirian begitu leluasa, membuat kita merasa bebas. Padahal, sendiri tak akan pernah membawa kita jauh. Sebab samudra terlalu luas untuk ditaklukkan sendirian.
Ketidakpercayaan kita pada diri sendiri adalah musuh terbesar yang harus kita hadapi. Bukan untuk ditaklukkan dan jadi pribadi yang jumawa, tapi justru untuk diajak berkawan. Agar kehadirannya menjadikan kita tetap membumi, tapi jangan sampai menghalangi langkah kita ke depan.
Seterbuka apapun, manusia pasti sesekali masih bisa merasa tersinggung dengan pendapat orang lain yang seakan menyerang dirinya. Tidak apa-apa, wajar. Tapi jangan sampai berlarut dan jadi keruh, sampai-sampai kita tak lagi bisa bersikap netral terhadap mereka yang pendapatnya berbeda dengan kita.
Jangan sampai dengan keleluasaan kita memberi, kita jadi lupa satu hal yang paling penting: menyisakan cinta untuk diri kita sendiri.
Mengapa begitu? Mengapa tidak melihat keberhasilan sebagai sesuatu yang hanya sesekali dan fana? Pada akhirnya, bukankah hidup yang berhasil adalah sesederhana hidup yang tak membuat kita menyerah?
Sikap protektifmu itu untuk melindungi siapa? Melindungi hak, atau egomu semata?
Semakin dewasa, manusia semakin mengerti: kita tak pernah hidup tenang kalau terus menerus pedulikan gengsi.
Suasana puasa, identik dengan rumah. Berikut ini saya menjabarkan sedikit observasi saya, yang mungkin mirip dengan apa yang kamu rasakan. Kita sama-sama 'pulang', ya.
Memasuki hari ke-tujuh puasa, hari ini saya mau mengajakmu untuk duduk tenang dan bersantai di bawah pohon besar, dan belajar dari mereka.
From the publisher's feed