
Sign up to save your podcasts
Or


Meski berbeda-beda peran dan tanggung jawabnya, ternyata pekerjaan hanyalah pekerjaan. Inti di balik semuanya, integritas yang kita miliki, adalah sama. Ibarat lautnya berubah bentuk, tapi jangkarnya tetap.
Dalam episode ini, semoga kamu memetik buah yang saya tanam: kita semua sudah sukses dengan cara kita masing-masing.
Terkadang kita malu mengakui bahwa kita patah hati. Kita sebut imbasnya: kecewa, marah, sedih. Padahal sumbernya satu: patah hati yang sama.
Tubuh selalu punya cara untuk beri sinyal-sinyal tertentu yang perlu dengan peka kita dengarkan dan perhatikan. Agar apa? Agar kita dapat menjalani hidup yang layak, produktif, dan bahagia, seimbang raga, hati, dan pikirannya.
Wajar, jika masa depan membuatmu takut dan gelisah. Tapi jangan sampai kau terlalu lama terjebak di sana, sampai-sampai lupa bahwa hidupmu yang sebenarnya, adalah hari ini.
Sesuatu yang kita simpan dalam diri punya masa kadaluwarsanya. Maka sempatkan diri unntuk terus bebenah, menanyakan lagi apa yang perlu dijaga, dan apa yang perlu dilepaskan. Biar dalam diri kita ada ruang baru untuk hal baru tumbuh.
Kitalah yang berdiri di antaranya: pilihan-pilihan dan setiap jalan yang ada di hadapan kita.
Memberi adalah cara terbaik untuk masuk ke ruang hati. Dengan memberi, kita berbagi syukur dan melipatgandakan syukur. Meruntuhkan tembok, dan merangkul jadi satu.
Orang baik sering ditipu orang, katanya. Siapa bilang? Rasanya sepanjang jalan hidup manusia yang sementara ini, hidupnya diberkati justru dengan buah-buah kebaikannya.
Menanggapi sebuah pertanyaan di akun Instagram Kata Puan: Mengapa harus ada perpisahan? Mengapa perpisahan itu harus kita terima?
From the publisher's feed