
Sign up to save your podcasts
Or


Tubuh, kesehatan, kenyamanan yang selama ini kita punya, sering kali kita lupakan. Nanti sakit, barulah kita tahu betapa berharganya. Padahal tanpanya, dengan apa kita mau bergerak menuju mimpi-mimpi kita?
Kita terlalu takut waktu kita yang terbatas jadi terbuang sia-sia saat kita menggunakannya untuk sekadar hadir dan mengalir. Padahal, bukankah meluangkan waktu untuk berdialog dengan diri sendiri adalah yang sejatinya paling esensi?
Manusia, dalam perjalanannya hidup berdampingan dengan orang lain, tak pernah jauh dari ekspektasi. Kebaikan, jadi simbol transaksi yang rasanya harus dikembalikan. Padahal, berbuat baik tak pernah soal dapat balasan. Kita baik, karena itulah kita.
Bukan hanya kekalahan saja yang butuh perjuangan untuk bangkit, tapi juga kemenangan. Sebab pikirmu, dengan apa manusia mempertahankan hal-hal besar yang ia terima?
Ibu. Tempat pulang terbaik. Manusia terhebat. Cinta paling tanpa syarat. Di waktu-waktu sulit, sejatinya hanya satu yang bisa buat kita tenang: mengingatnya, duduk berdua dengannya, dan menjadi lemah dalam naungannya.
Semakin dewasa, lingkar sosial kita semakin mengerucut. Meski ini wajar dan terjadi pada banyak orang, tapi sesekali muncul ketakutan: bagaimana jika lingkaran ini semakin kecil dan semakin kecil, hingga hanya kita saja sendiri yang tersisa? Episode ini adalah tentang itu.
Jika kita meminta sesuatu, berharap menerima sesuatu, kita juga harus tahu konsekuensinya: untuk mempertahankan atau melipatgandakannya demi kebaikan diri sendiri dan orang banyak. Berarti pertanyaannya sekarang, sudahkah kita siap?
Siapa bilang mengeluh tidak ada gunanya? Dalam episode ini, kamu akan tahu bahwa segala emosi negatif itu perlu dan harus dikeluarkan, sebelum jadi bom waktu yang siap meledak kapan saja.
Temukan jawaban pertanyaan di atas dalam episode ini. Selamat mendengarkan dan merenungkan neracamu. Di titik mana kamu berada sekarang, dan bagaimana cara terbaik menyikapinya?
Jika ingin memulai sesuatu, berharaplah sesuatu itu panjang usianya dan berkelanjutan. Biar dalam mengarungi naik-turun dan pasang-surutnya, kita tidak berkecil hati. Sebab tahu, yang penting adalah terus.
From the publisher's feed