
Sign up to save your podcasts
Or


Bahagia kita subjektif dan tidak mutlak, dan sangat manusiawi. Bahagiamu bisa saja kamu nikmati dengan mendekam di kamar sepanjang hari, saat bahagia temanmu itu berjalan-jalan menikmati pagi.
Aku lelah menghitung berapa kali dalam seminggu aku berusaha memenangkan badai sementara aku bukanlah pelaut andal.
Rasanya lelah menyaksikan manusia yang berambisi dengan eksistensi. Dengan kesenangan sesaat yang tak habis dimanipulasi, keharusan untuk tampil dengan citra baik walau hati lupa dirawat.
Mereka bilang tak apa berhenti barang sejenak, katanya tak apa kalau aku lelah, istirahat saja. Tapi setiap aku melambat, mereka tetap pada kecepatannya yang kadang membuatku kebingungan harus diam atau kembali menyamakan langkah.
Sayang, waktu tidak sedang mengejarmu. Maka dari itu, melangkahlah sesuai dengan irama kakimu.
Terkadang mereka seperti pasukan perang yang saling melindungi. Ketika salah seorang melemah, yang lain maju sebagai garda terdepan untuk melibas lawan. Namun pada akhirnya, tak semuanya bertahan.
From the publisher's feed

358 Listeners

3 Listeners

16 Listeners

1 Listeners

19 Listeners

4 Listeners

1 Listeners

3 Listeners

0 Listeners

0 Listeners

1 Listeners

1 Listeners

1 Listeners

0 Listeners

25 Listeners