(Taiwan, ROC) --- Kebijakan Baru ke Arah Selatan (NSP) yang tengah digalakkan Taiwan saat ini tengah merambah ke sektor kesehatan dan perawatan medis. Melalui kebijakan NSP, Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan (MOHW) akan membudidayakan dan meningkatkan pelatihan bagi tenaga medis di negara sasaran. Selain itu, pemerintah juga tengah menggalakkan penjualan alat medis Taiwan. Analisa Kantor Divisi Kebijakan NSP MOHW mengemukakan pangsa pasar ekspor peralatan medis Taiwan di negara sasaran Kebijakan NSP, saat ini hanya berkisar 2%. Ini berarti peluang yang dimiliki Taiwan masih sangat besar. Tidak sedikit pengusaha lokal yang menyerukan pemerintah Taiwan untuk lebih tanggap dalam menganalisa permintaan pasar.
Program “1 Pusat Medis di Setiap 1 Negara” di Negara Sasaran Kebijakan NSP
Tahun 2018, MOHW menugaskan Chung-Hua Institution for Economic Research (CIER) membentuk kantor khusus untuk menangani proyek Kebijakan NSP, serta mempromosikan rancangan “1 Pusat Medis di Setiap 1 Negara”. Institusi kedokteran Taiwan dijadwalkan akan mendirikan pusat kesehatan mereka di 6 negara sasaran Kebijakan NSP. Ini menjadi salah satu langkah nyata dalam mengimplementasikan konsistensi dari niat pemerintah. Di antaranya. Untuk kawasan Indonesia sendiri akan diwakilkan oleh National Taiwan University Hospital.
Wakil Menteri MOHW, Ho Chi-kung (何啟功) mengemukakan tahun ini akan menambahkan negara ketujuh, yakni Myanmar.
Ho Chi-kung mengatakan, “Setelah melalui masa percobaan 1 tahun, kebijakan ‘1 Pusat Medis di Setiap 1 Negara’ telah mendatangkan nilai yang cukup positif. Oleh karena itu, pada tahun ini, kami akan menambahkan jumlah daftar negara, dari yang semula 6 menjadi 7 negara. Pencapaian yang berhasil kami raih, menjadi bukti nyata bahwa proyek ini mendapat dukungan dan tanggapan yang positif.”
Salah seorang anggota dewan, Deng Chen-chung (鄧振中), mengemukakan bahwa dirinya berharap seluruh sektor industri yang berkaitan dengan perawatan medis dapat memetik keberuntungan dari implementasi kebijakan NSP. Selain mendapatkan keuntungan ekonomi, mereka juga dapat merawat para warga yang membutuhkan pertolongan. Namun demikian, dirinya mengingatkan roda bisnis di negara sasaran, haruslah disesuaikan dengan kebijakan negara setempat.
Deng Chen-chung mengatakan, “Perawatan medis ini, pertama-tama haruslah mendapatkan izin, kemudian berikutnya adalah harus ada instansi yang mampu menangani dengan baik. Jadi bisa dikatakan, ini semua adalah tantangan yang baru.”
Peluang Pasar Medis Taiwan Masih Terbuka Lebar
Menurut data statistik, sebagian besar negara tujuan ekspor untuk produk perawatan medis Taiwan dipasarkan di Amerika Serikat, Daratan Tiongkok, Eropa dan Jepang. Nilai ekspor ke 4 negara tersebut, menyumbang angka 72% dari total ekspor di tahun 2015 hingga 2017. Rasio ekspor di kawasan Asia Tenggara, hanya berjumlah 10%, dengan negara tujuan Malaysia, Vietnam dan Thailand.
Salah satu pemimpin proyek kebijakan NSP, Yan Hui-xin (顏慧欣) mengemukakan produk perawatan medis Taiwan telah menjadi salah satu yang terdepan di pangsa pasar negara sasaran; misal dengan alat bantu gerak, media terapi, kacamata, pelindung mata dan lain-lain. Namun demikian, jika dilihat secara keseluruhan, daya ekspor Taiwan di enam negara, termasuk Indonesia, India, Malaysia, Filipina, Thailand dan Vietnam, hanya berkisar 1,31%.
Yan Hui-xin menyebutkan saat ini Taiwan tengah giat mempromosikan teknologi industri medisnya, meliputi perawatan gigi, tulang, bedah invasif dan obat-obatan.
Yan Hui-xin mengatakan, “Untuk pasar Indonesia akan difokuskan pada permintaan Sfigmomanometer (alat pengukur tekanan darah), kawasan Malaysia mengedepankan sektor ortopedi dan material perawatan gigi. Untuk Thailand, kami akan fokus pada peralatan medis implan, namun saat ini Thailand lebih memilih produk buatan Eropa dan Amerika, sehingga kami harus lebih giat lagi. Vietnam sendiri lebih mengutamakan peralatan diagnosa medis. Dan untuk Filipina, permintaan pasar akan perawatan gigi, anestasi dan pernapasan tengah meningkat. Masih ada India, yang tengah menggalakkan peralatan medis modern.”
Pasar Myanmar dan Vietnam Lebih Menjanjikan
Francis Hong (洪盛隆), yang merupakan Ketua Asosiasi Medis dan Bioteknologi Taiwan, telah menjalankan bisnis peralatan medis selama 30 tahun. Ia menganalisa Myanmar merupakan negara yang sangat cocok bagi Taiwan untuk mengembangkan pasar medisnya. Vietnam juga menjadi salah satu negara yang ramah terhadap produk Taiwan. Warga Vietnam diketahui sangat yakin dan percaya akan kualitas dari komposisi yang terdapat dalam peralatan medis Taiwan.
Francis Hong mengatakan, “(Vietnam) sangat mengakui produk medis asal Taiwan. Namun demikian, Vietnam memiliki gaya unik tersendiri. Mereka sangat mengutamakan hubungan relasi. Jika Anda ingin berbisnis dengan mereka, maka Anda harus menciptakan hubungan relasi yang akrab terlebih dahulu.”
Untuk pasar Indonesia, saat ini dinilai tidak begitu mudah, dikarenakan Indonesia kini tengah menggalakkan penggunaan produk dalam negeri mereka. Sedangkan untuk Malaysia, Taiwan masih memiliki segudang peluang bisnis, mengingat masyarakat Malaysia lebih bergantung kepada produk kelas menengah buatan warga Tionghoa.
Francis Hong mengatakan, “Polarisasi masyarakat Malaysia terbilang sangat kontras. Kelas menegah ke atas, akan mengutamakan produk buatan Eropa dan Amerika. Sedangkan untuk kelas menengah ke bawah, mereka akan lebih berkiblat pada Daratan Tiongkok. Untuk ranah ini , saya rasa Taiwan memiliki peluang yang cukup baik, dikarenakan kami memiliki relasi yang cukup baik dengan warga Tionghoa lokal. Warga Tionghoa disana diketahui memiliki daya pengaruh yang kuat.”
Yan Hui-xin menambahkan, sebelumnya kerja sama Taiwan dengan negara sasaran kebijakan NSP, lebih mengutamakan pelatihan tenaga medis. Guna untuk meningkatkan peluang bisnis, Taiwan diharapkan lebih aktif mengembangkan sayapnya pada sektor penyediaan peralatan medis.