(Taiwan/ROC) --- Amerika Serikat baru saja melewati pemilu paruh waktu 2018. Pemilu ini juga dianggap sebagai penilaian sementara terhadap pemerintahan Donald Trump yang sudah berjalan setengah masa jabatan tersebut. Pemilu ini kembali mempertemukan 2 partai besar, yakni Partai Demokrat dan Partai Republik. Dalam pemilu paruh waktu ini, Partai Republik memenangkan lebih dari 50 kursi di senat, sedangkan Partai Demokrat memenangkan lebih dari 220 kursi di House of Representatives (Dewan Perwakilan AS). Keberhasilan Partai Republik dalam merebut kursi di senat, diyakini Donald Trump sebagai salah satu kemungkinan akan terpilih kembali dalam Pilpres pada tahun 2020 mendatang. Kekuatan politik yang terpecah dalam 2 lembaga besar, yakni Senat dan Dewan Perwakilan AS, menjadikan Donald Trump harus lebih gigih kembali dalam mengumpulkan kepercayaan masyarakat Amerika Serikat.
Interpretasi Kemenangan dari Masing Masing Partai
Pemilu paruh waktu AS berlangsung pada 6 November 2018, menentukan proporsi kursi di Dewan Perwakilian yang notabene berjumlah 435 kursi. Selain itu, pemilu ini juga memilih 35 kursi di Senat Amerika Serikat yang berangotakan 100 orang dan 36 Gubernur di negara bagian. Karena pemilihan ini terkait dengan kontrol kongres dan arah dari Pemerintahan Donald Trump di masa mendatang, membuat tingkat partisipasi mencetak rekor tertinggi semenjak tahun 1970, yakni 45%.
Hasil pemilu kali ini yang dinilai tidak memiliki nilai terobosan baru, Partai Demokrat memenangkan setidaknya 222 kursi di Dewan Perwakilan AS. Angka ini juga telah melewati ambang batas 218 kursi. Dalam 8 tahun terakhir, Partai Demokrat kembali mampu menguasai mayoritas suara di Dewan Perwakilan. Di lain pihak, Partai Republik tidak hanya mampu menguasai kursi di Senat Amerika Serikat, melainkan mampu memperluas kekuatannya. Hal ini terlihat dari naiknya jumlah kursi Partai Republik, dari 51 menjadi 53 kursi.
Dari hasil pemilihan Gubernur, peta kekuatan politik juga mengalami perubahan. Sebelumnya, 33 kursi dikuasai oleh Partai Republik, 16 kursi oleh Partai Demokrat dan 1 kursi milik independen. Dalam pemilu kali ini, 36 Gubernur dipilih kembali dan Partai Demokrat berhasil merebut 7 kursi yang awalnya dipegang oleh Partai Republik. Setelah hasil pemilu keluar, proporsi kursi antar 2 partai mengalami perubahan, Partai Demokrat menguasai 23 negara bagian dan Partai Republik mendominasi 27 negara bagian.
Terkait hasil ini, kedua partai memiliki tafsiran masing-masing. Pejabat Partai Demokrat Nancy Pelosi mengemukakan ini adalah kemenangan bagi Partai Demokrat. Donald Trump sebaliknya merasa bahwa perluasan mayoritas kursi Partai Republik adalah tanda nyata kepercayaan masyarakat Amerika Serikat atas pemerintahan Trump.
Partai Demokrat Kembali Mendominasi Dewan Perwakilan AS, Kebijakan Luar Negeri AS mungkin Berubah
Dominasi Partai Demokrat di Dewan Perwakilan AS, tidak hanya dapat mempengaruhi perumusan kebijakan RUU, namun juga mampu mempengaruhi dana anggaran dan perundang-undangan negara. Partai Demokrat berharap dapat mempengaruhi kebijakan Donald Trump yang sebelumnya tidak dapat diganggu gugat. Yang mana di masa mendatang, dapat meminimalkan tekanan Pemerintahan Donald Trump terhadap Rusia, Arab Saudi dan Korea Utara.
Eloit Angel yang diperkirakan akan menjabat sebagai Ketua Komite Urusan Luar Negeri mengemukakan, Partai Demokrat akan mendorong Kongres untuk mengesahkan pemetaan militer di Irak dan Suriah. Namun perubahan untuk isu di Daratan Tiongkok dan Iran, dirasa tidak akan terlalu signifikan.
Terkait dengan kebijakan untuk Rusia, Partai Demokrat diperkirakan akan segera mengambil tindakan serius, mengingat Rusia pernah dikabarkan turut campur tangan dalam Pilpres AS sebelumnya. Selain itu, Rusia juga diisukan telah mengganggu tatanan perdamaian dunia dengan menyerang Ukraina dan ikut andil dalam perang sipil di Suriah.
Untuk Daratan Tiongkok, dikarenakan kedua partai tidak puas dengan keputusan Beijing, dirasa tidak akan ada perubahan dalam penetapan kebijakan. Pejabat Adam Schiff mengungkapkan bahwa sebelumnya Partai Demokrat juga mendukung kebijakan Partai Republik, untuk mengusung kebijakan ekonomi dalam memerangi ancaman digital Daratan Tiongkok.
Partai Demokrat sebelumnya dikabarkan tidak puas dengan kebijakan Donald Trump untuk keluar dari perjanjian nuklir Iran. Namun kali ini, Demokrat juga akan bertindak lebih hati-hati dalam memperlakukan Iran, dikarenakan mereka juga harus menghindari kemarahan Israel. Para pengamat merasa, hubungan yang solid dengan Israel menjadi prioritas Amerika Serikat dalam menata pemetaan kebijakan luar negeri Negeri Paman Sam.
Kebijakan Presiden Donald Trump Membangkitkan Ekonomi AS?
Meski tingkat dukungan Donald Trump terbilang lamban, namun semasa pemerintahannya laju perekonomian terpantau meningkat. Tingkat pengangguran, lapangan pekerjaan, gaji minimum dan pasar saham memperlihatkan angka yang optimis.
Donald Trump mengemukakan kemenangan Partai Republik kali ini bukanlah tanpa alasan. Keberhasilan Partai Demokrat di Dewan Perwakilan bukanlah hal yang mengejutkan. Sebaliknya, Partai Republik memperlihatkan kemajuan yang signifikan; misal dengan meningkatnya jumlah kursi Senat dan keberhasilan mendominasi suara di Florida dan Ohio.
Para pakar menganalisa, Donald Trump diperkirakan akan menetapkan kebijakan yang lebih ekstrem, mengingat Dewan Perwakilan AS didominasi oleh Partai Demokrat. Selama Donald Trump menjabat, ia dikenal sebagai pribadi yang keras dan kontroversial. Tidak jarang pernyataannya menimbulkan perpecahan di antara masyarakat AS. Tetapi secara tak terduga, hal ini membangkitkan fenomena baru, yakni dengan meningkatnya jumlah pemilih dalam sejarah pemilu AS. Tindakan kontroversial Donald Trump seperti membangunkan masyarakat AS akan pentingnya suara dalam pemilu.