
Sign up to save your podcasts
Or


Siti Rukiah atau S. Rukiah aktif menulis pada masa Kemerdekaan hingga 1965. Ia menulis puisi, cerpen, novel dan cerita anak-anak. Di luar pekerjaannya sebagai seorang penulis, Rukiah adalah seorang guru, redaktur dan aktivis politik, ia juga bergabung dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) dan menjadi salah satu elite pemimpinnya. Prosa-prosanya menampilkan kembali korban revolusi di kalangan rakyat jelata yang tidak berdosa, sebagaimana ditampilkan dalam Tandus (1952). Seperti apa kiprah dan karya-karya S. Rukiah? Ibrahim Soetomo bersama Dewi Kharisma Michellia akan mengurainya dalam “Ngomong-Ngomong Soal Rukiah: Yang Menuai di Ladang Tandus”.
Musim ketiga Siniar Salihara hadir dengan topik "Perempuan Penulis". Episode terbaru hadir setiap Senin. Musik oleh Sri Hanuraga.
Saadah Alim adalah salah satu penulis perempuan yang menyuarakan penentangannya pada tradisi poligami dan kawin karena perjodohan dalam budaya Minangkabau. Ia mengajukan pemikiran tentang perlunya kebebasan bagi perempuan dalam menentukan hidupnya, baik dalam rumah tangga maupun dunia kerja. Melalui lakon "Pembalasannya" (1940) dan kumpulan cerita pendek "Taman Penghibur Hati" (1941), Saadah menyajikan cerita-cerita psikologis yang memberikan perspektif baru dalam budaya Minangkabau saat itu. Ikuti perbincangan tentang Saadah Alim dan karya-karyanya bersama Ibrahim Soetomo dan narasumber Aura Asmarandana dalam “Ngomong-Ngomong Soal Saadah Alim: Perlawanan Dan Kepatuhan”.
Musim ketiga Siniar Salihara hadir dengan topik "Perempuan Penulis". Episode terbaru hadir setiap Senin.
Soewarsih Djojopuspito menulis roman pertama dalam bahasa Belanda berjudul “Buiten het Garrel” yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi “Manusia Bebas”. Pada masa 1930-an, Soewarsih tak hanya aktif dalam aktivitas sebagai penulis, ia juga aktif dalam pergerakan. Roman “Manusia Bebas” disebut sebagai “dokumentasi zaman pergerakan” yang memberikan kita semacam potret tajam tentang bagaimana kaum pergerakan nasional bertumbuh. Bersama Ibrahim Soetomo dan narasumber Dhianita Kusuma Pertiwi, Siniar Salihara musim ketiga hadir dengan “Ngomong-ngomong soal: Soewarsih Dan Dilema Kaum Pergerakan”.
Episode terbaru Siniar Salihara musim ketiga hadir setiap Senin. Musik oleh Sri Hanuraga.
Chairil Anwar kerap menulis puisi dengan judul yang berhubungan dengan laut, di antaranya puisi “Senja di Pelabuhan Kecil”, “Cintaku Jauh di Pulau”, dan “Kabar dari Laut”. Chairil seperti sedang menggambarkan bagaimana pengalamannya terhadap suasana laut. Apakah Chairil menuangkan pengalamannya terhadap laut pada puisinya? Dan bagaimana motif laut dari sisi Chairil? Ibrahim Soetomo bersama Dewi Anggraeni akan membahas puisi Chairil dan laut dalam “Ngomong-ngomong Soal: Aku dan Chairil Anwar”.
Siniar ini adalah bagian dari acara “Seratus Tahun Chairil Anwar” yang akan dilaksanakan pada 27-30 Oktober 2022 di Komunitas Salihara. Informasi tentang acara ini, kunjungi www.salihara.org.
Musik oleh Sri Hanuraga.
..Puisi Chairil Anwar menuliskan bagaimana suasana urban yang ditulis pada zamannya, namun rasanya justru sangat relevan dengan kondisi sekarang. Chairil mengelaborasi hal-hal sehari-hari ke dalam puisinya dan memberikan gambaran hidup yang nyata bagi pembacanya. Lantas kenapa Chairil memilih untuk menuliskannya menjadi puisi? Ikuti perbincangan Ibrahim Soetomo dan Hamzah Muhammad dalam “Ngomong-ngomong Soal: Aku dan Chairil Anwar”.
Siniar ini adalah bagian dari acara “Seratus Tahun Chairil Anwar” yang akan dilaksanakan pada 27-30 Oktober 2022 di Komunitas Salihara. Informasi selengkapnya kunjungi www.salihara.org
Musik oleh Sri Hanuraga.
Dominasi Jakarta sebagai pusat produksi dan distribusi karya sastra Indonesia bisa ditelusuri hingga masa awal abad ke-20—atau lebih awal dari itu. Muncul hiruk-pikuk perlawanan terhadap dominasi Jakarta dalam sastra Indonesia. Misalnya pada 1990-an muncul gerakan “Revitalisasi Sastra Pedalaman” (RSP) yang berpusat di Ngawi, Jawa Timur. Namun baik pula jika kita menilai secara kritis perlawanan tersebut. Apakah dominasi Jakarta sebagai pusat akan tetap menyala? Ikuti perbincangan Ibrahim Soetomo dan Melani Budianta dalam "Ngomong-ngomong Soal: Jakarta yang Bikin Keki".
Musik oleh Sri Hanuraga.
Perdebatan tentang pascamodernisme di Indonesia baru berlangsung sepanjang tahun 1993-1994, namun situasi yang melatarinya bisa kita lacak dari tahun 1980-an ketika Orde Baru begitu kuat. Ada banyak reaksi atas munculnya paham pascamodernisme, mulai dari yang mendukung sampai yang menolak. Lantas apa dan bagaimana sesungguhnya pascamodernisme ini, terutama di Indonesia? Apa kaitan pemikiran pascamodernisme dengan situasi sosial-politik Orde Baru saat itu? Ikuti perbincangan Ibrahim Soetomo dan Akhmad Sahal dalam "Ngomong-ngomong Soal: Demam Pascamodernisme Dan Senjakala Orde Baru".
Musik oleh Sri Hanuraga.
Dalam sebuah acara bertajuk “Sarasehan Kesenian 1984” yang digelar di Solo, 28-29 Oktober 1984, Arief Budiman dan Ariel Heryanto mencetuskan pemikiran seputar “Sastra Kontekstual” yang kemudian menimbulkan beragam tanggapan. Mereka mengusung pemikiran sastra yang lebih terlibat, lebih kontekstual, terkait situasi dan lingkungan masyarakat Indonesia. Seperti apa keterlibatan sastra Indonesia dalam persoalan-persoalan masyarakat? Ikuti perbincangan Ibrahim Soetomo dan Manneke Budiman dalam "Ngomong-ngomong Soal: Kenapa Sastra Harus Kontekstual?"
Musik oleh Sri Hanuraga.
Beberapa wacana dalam penulisan kritik ramai dibicarakan di kalangan sastrawan. Pada akhir tahun 1960-an hingga awal 1980, dua wacana penting tentang pandangan kritik pun muncul, dari “Aliran Ganzheit” dan “Aliran Rawamangun”. Seperti apa wacana dalam kritik menurut Ganzheit maupun Rawamangun? Apa pengaruh dari keduanya bagi lapangan penelitian sastra maupun kreativitas sastra? Ikuti perbincangan Ibrahim Soetomo dan Arif Bagus Prasetyo tentang salah satu polemik penting dalam perkembangan sastra Indonesia.
Musik oleh Sri Hanuraga
From the publisher's feed