
Sign up to save your podcasts
Or


Spesial menyambut Literature and Ideas Festival (LIFEs) 2021: "Arab Asyiq", di edisi podcast kali ini kita mendengarkan percakapan seputar Hamka dan karya-karyanya bersama Deddy Arsya (penyair & sejarawan) dan Hamzah Muhammad (kurator tamu LIFEs 2021). Bagaimana Hamka menyerap kepustakaan sastra Arab ke dalam kepenulisan sastra berbahasa Indonesia? Simak juga pembacaan petikan novel "Di Bawah Lindungan Kaabah" (1938) karya Hamka oleh Aziz Azthar (Kelas Akting Salihara).
Kebudayaan menjadi strategi yang dipilih Jepang untuk menguasai Hindia Belanda. Ada seniman-seniman Indonesia yang bergabung dalam propaganda Jepang tersebut, tapi ada pula yang tidak. Podcast kali ini, bersama Hasan Aspahani (penyair) dan Ayu Utami (sastrawan), kita membahas situasi kesusastraan Indonesia pada masa pendudukan Jepang (1942-1945). Sebelum itu mari kita simak pembacaan puisi Chairil Anwar dan Nursjamsu serta cerpen Idrus oleh Eugenia Elina (Kelas Akting Salihara).
Pada paruh kedua 1930-an, penulis-penulis kita berdebat pendapat dalam menentukan orientasi kebudayaan Indonesia. Sutan Takdir Alisjahbana memilih Barat sebagai acuan kebudayaan, sementara Sanoesi Pane dan sastrawan lainnya memilih Timur. Kenapa polemik ini bisa terjadi? Ikuti perbincangan Zen Hae (sastrawan) dan Wicaksono Adi (kritikus seni) mengenai salah satu polemik penting dalam sejarah pemikiran di Indonesia. Simak juga petikan esai karya Sutan Takdir Alisjahbana dan Sanoesi Pane yang dibacakan oleh Eugenia Elina (Kelas Akting Salihara).
Di tengah dominasi laki-laki di lingkungan kesusastraan, Soewarsih Djojopoespito tampil sebagai satu-satunya perempuan yang menulis roman dalam bahasa Belanda. Kehadirannya menjadi harapan tak hanya bagi perempuan penulis, tapi juga kaum pergerakan pada dekade akhir zaman kolonial. Dalam rangka memperingati Hari Kartini, ‘podcast’ kali ini berisi bincang-bincang antara Aquarini Priyatna (peneliti) dan Ayu Utami (sastrawan) yang membahas kiprah dan pengaruh karya Soewarsih dalam sastra Indonesia. Sebelum itu kita juga bisa mendengar petikan roman "Manusia Bebas" karya Soewarsih Djojopoespito oleh Anton Effendi Girgis (Kelas Akting Salihara).
Roman "Belenggu" (1940) karya Armijn Pane terbit pada masa pergerakan di mana ketika itu karya sastra kerap digunakan untuk alat pembentukan kesadaran nasionalisme. Tapi roman tersebut bukan hadir sebagai alat perjuangan, melainkan hasil ekspresi pengarang yang bebas. Bersama Sudibyo (akademisi sastra) dan Zen Hae (sastrawan), episode kali ini membahas roman "Belenggu" dan situasi kesusastraan Indonesia pada masa itu. Simak juga pembacaan petikan roman "Belenggu" oleh Anton Effendi (Kelas Akting Salihara).
Para pengarang Sumatra pada 1920-1930-an memperkenalkan jenis “puisi baru” yang memperbaharui penggunaan bahasa Melayu. Bagaimana prosesnya sastra berbahasa Melayu berubah secara politis menjadi sastra Indonesia? Episode podcast kali ini, bersama Nirwan Dewanto dan Ayu Utami, kita membicarakan puisi generasi Mohammad Yamin (1920-an) sampai Amir Hamzah (1930-an). Podcast ini juga disertai pembacaan sajak-sajak penyair Sumatra pada masa itu oleh Putri Ayudya.
Di tengah derasnya penerbitan karya-karya para pengarang Sumatra oleh Balai Pustaka, muncul pula karya-karya lain yang turut memberikan variasi bacaan di luar radar dan politik penerbitan kolonial. Podcast kali ini berisi diskusi menarik bersama Koko Hendri Lubis (peneliti) dan Zen Hae (sastrawan). Mereka membahas karya-karya sastra “Roman Medan” yang terbit di luar Balai Pustaka. Simak juga pembacaan petikan roman detektif "Elang Emas Ketawa" karya Joesoef Sou'yb oleh Putri Ayudya.
Ketika kesusastraan pada 1920-an berada di bawah kontrol pemerintah kolonial dan rezim Balai Pustaka, kemunculan karya-karya sastrawan Tionghoa Peranakan yang ditulis dengan bahasa Melayu Pasar dianggap sebagai “bacaan liar”. Di episode ini Didi Kwartanada (sejarawan) dan Ayu Utami (sastrawan) membahas serba-serbi karya-karya penulis Tionghoa Peranakan yang juga turut membentuk keindonesiaan. Simak juga pembacaan petikan novel Drama di Boven Digoel karya Kwee Tek Hoay oleh Rizal Iwan (Kelas Akting Salihara).
From the publisher's feed