
Sign up to save your podcasts
Or


Jumlah tunggakan pinjol di Indonesia mencapai puluhan triliun rupiah. Orang-orang di sekeliling kita pun jadi korban. Kenapa pinjol yang sejak awal mula kehadirannya dikenal dengan bunga yang begitu tinggi dan nggak masuk akal itu bisa menjerat sebegitu banyak orang? Kita bahas dari perspective applied behavioral science
tiering brand yang paling jadi idaman brand owner adalah cult brand. Pada level ini consumer akan "pasang badan" ketika brand yang mereka anut dihujat. Sayangnya hanya kurang dari 1% dari brand yang ada di publik yang bisa mencapai level ini. Pertanyaannya, gimana caranya?
bangun brand bukan hanya soal awareness. tapi juga brand love. justru ini yang bikin konsumen punya dorongan untuk beli, karena awareness saja nggak jamin brand kita dipilih
Pondasi brand building adalah familiarity, tapi bahkan familiarity juga tidak sekedar awareness biasa.
Banyak brand owner berpikir bahwa adalah penawaran produk yang bikin orang nggak sabar beli produk kita. Walaupun tidak sepenuhnya salah, tapi ternyata ada hal lain yang benar-benar nge-drive pembelian kita. Dan ini terkadang lepas dari penawaran produk kita.
Jika ada satu ilmu yang jadi idaman para sales dan marketer, itu adalah ilmu untuk membangun motivasi belanja. Tanpa motivasi, maka sebagus apapun produk yang dibuat tidak akan dibeli konsumen. Permasalahannya motivasi pun ada dua jenis, ada yg mudah luntur dan conditional dan ada motivasi yang unconditional. Apa bedanya dan gimana bangunnya?
Dalam banyak kesempatan brand owner berusaha untuk mencari tau dan mengerti apa yang menjadi influence dalam keputusan pembelian. Sayangnya keputusan pembelian tidak melulu di pengaruhi oleh hal-hal yang bisa diukur dan diketahui oleh otak sadar kita. Sebaliknya justru banyak proses berjalan di bawah radar sadar kita secara subliminal
Flexing mulai jadi tren. Tumbuhnya social media yang juga menjadi lahan tumbuh subur flexing membuat flexing ikutan mendapat angka pertumbuhan yang signifikan. Bagaimana dampaknya pada pemilik brand?
Ketika brand memasuki sebuah market, seringkali sudah ada stereotyping yg dilakukan oleh market setempat yang ternyata bisa conflicting dengan brand yang ada. Namun beberapa brand secara pintar mengakalinya dan bahkan bisa melawan stereotype negative yang sudah ada dengan stereotype positive yang diciptakannya
Semua brand owner pastinya punya keinginan untuk produknya digunakan terus menerus. Sayangnya ada beberapa produk yg secara kategori tidak masuk ke dalam habitual buying. Namun begitu, mereka yang masuk ke habitual buying pun tidak semua menguasai bagaimana supaya produknya dikonsumsi secara habitual.
From the publisher's feed