Ammy Reads

Ammy Reads

By Ammy ChenArtsBooks
Download on the App Store

Ammy Reads episodes

  • (Short Story) Hole In The Wall - Etgar Keret
    Ada sebuah lubang di suatu tembok di Jalan Bernadotte. Lubang itu adalah bekas mesin ATM yang sudah dicopot. Kata orang jika kita berteriak memohon ke dalam lubang itu, doa kita akan terkabul. Udi tidak terlalu percaya, sebab ia pernah meminta agar Dafne Rimalt jatuh cinta padanya tapi doanya tidak terkabul. Suatu saat Udi merasa sangat kesepian lalu ia berteriak pada lubang itu dan meminta seorang malaikat untuk menjadi temannya. Doanya pun dikabulkan. Namun, malaikat itu tidaklah seperti bayangannya, tidak sesuai dengan inginnya. Malaikat itu bertubuh kurus dan selalu memakai mantel kemana-mana demi menyembunyikan sayapnya. Hanya Udi yang boleh tahu kalau ia adalah seorang malaikat. Sang malaikat sama sekali tidak berguna, alih-alih membantu, ia justru sering merepotkan Udi. Malaikat itu suka berbohong dan bercerita yang aneh-aneh, meminjam uang dan sebagainya. Ketika Udi sangat membutuhkannya, ia malah menghilang selama dua bulan penuh dan kembali dalam keadaan kacau. Suatu hari saat keduanya sedang duduk di atas atap bersama, memandangi langit, Udi meminta sang malaikat untuk terbang. Sebab seumur-umur ia mengenal malaikat itu, Udi belum pernah melihatnya sekalipun terbang. Malaikat itu menolak dengan alasan takut ada yang melihatnya. Udi pun menuduhnya tidak bisa terbang, tapi malaikat itu menyanggahnya. Karena iseng, Udi lalu mendorong malaikat itu sehingga ia kehilangan keseimbangan dan terjun bebas dari lantai lima. Udi hanya ingin melihatnya terbang. Tapi alih-alih terbang, sang malaikat malah jatuh menghantam aspal kemudian mati. Sadarlah Udi kalau selama ini, ia bukan seorang malaikat. Melainkan hanya seorang pembohong yang bersayap. Sebuah cerpen kontemporer yang unik, surealis dan filosofis. Ditulis oleh seorang penulis asal Israel yang sedang naik daun, Etgar Keret. Cerpen berbahasa asli Ibrani ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dalam buku berjudul The Story of A Bus Driver Who Wanted To Be God. Ada belasan cerita pendek lainnya karya Etgar yang unik, menarik dan filosofis. Saya akan membacakan sedikitnya tiga cerpen dari buku kumpulan cerpen ini. Stay tuned.
    6 min
  • (Cerpen) Anak Ini Mau Mengencingi Jakarta - Ahmad Tohari
    Ahmad Tohari memang lebih dikenal sebagai novelis. Karyanya yang paling terkenal adalah Novel Ronggeng Dukuh Paruk yang terbit sebagai trilogi. Novel ini telah diangkat ke layar lebar dengan judul Sang Penari yang diperankan secara apik oleh Priscilla Nasution dan Oka Antara. Meski begitu, karya-karya cerpennya sebenarnya lebih banyak dan tentu saja keren-keren. Cerpen Anak Ini Mau Mengencingi Jakarta bahkan telah berhasil menjadi salah satu cerpen terbaik pilihan Kompas tahun 2015. Mengisahkan sepotong adegan kehidupan orang-orang pinggiran di sekitar Stasiun Pasar Senen, Jakarta. Foto milik Tirto.id
    20 min
  • (Cerpen) Bersiap Kecewa Bersedih Tanpa Kata-kata - Putu Wijaya
    Putu Wijaya memang lebih dikenal sebagai orang teater, tapi sesungguhnya beliau adalah seniman dan sastrawan yang serba bisa. Saya selalu menyukai cerpen-cerpen Pak Putu. Kalimatnya sederhana namun mendalam. Tidak berbahasa meliuk-liuk, jarang pula menggunakan diksi yang asing apalagi sulit. Kekuatan cerpen-cerpen beliau justru ada dalam dialog-dialognya yang banal dan jenaka, tetapi dapat menggambarkan dengan jelas karakter tokoh-tokohnya. Sekalipun begitu, tak sedikit pun mengurangi kekritisannya. Selalu ada pesan yang ingin disampaikan, selalu ada kesan yang ditinggalkan. Kebanyakan tokoh utama cerpen-cerpennya adalah seorang lelaki tua, karakter yang sebenarnya menggambarkan dirinya sendiri. Seringkali karakter itu bernama Pak Amat. Lantas ada juga istrinya, Bu Amat, dan anak mereka Ami. Sesekali Pak Putu juga menjadikan putranya, Taksu sebagai karakter dalam cerpennya.
    11 min
  • (Short Story) Symbols and Signs - Vladimir Nabokov
    Nabokov mungkin lebih dikenal sebagai penulis novel Lolita yang kontroversial itu. Tapi selain menulis novel, penulis Rusia-Amerika ini juga menulis banyak sekali cerpen. Symbols and Signs menceritakan tentang sepasang suami istri tua, imigran dari Rusia yang tinggal di Amerika yang memiliki seorang anak laki-laki yang sakit secara kejiwaan dan dirawat di sebuah sanatarium. Pemuda yang divonis mengidap Referential Mania itu telah berulang kali mencoba bunuh diri. Bahkan, saat kedua orang tuanya datang berkunjung pada hari ulang tahunnya, ia baru saja melakukan percobaan bunuh diri. Sehingga, dokter melarang kedua orang tuanya untuk menjenguk, padahal perjuangan keduanya dalam perjalanan ke sanatarium cukup payah. Dokter juga mengatakan bahwa intensitas percobaan bunuh diri yang dilakukan putra mereka semakin hari semakin meningkat, membuat hati keduanya semakin gelisah. Keduanya lalu pulang sambil memendam kekecewaan dan kekhawatiran. Akhirnya, mereka memutuskan akan datang lagi ke sana besok pagi untuk membawa pulang saja putra mereka. Mereka akan menjaga dan mengawasi sendiri sang putra di apartemen kecil mereka sebelum segala sesuatunya menjadi terlambat. Mereka menilai jumlah staf di sana sangat sedikit sehingga putra mereka kurang terawasi. Malam semakin larut, keduanya tak dapat tidur. Ditambah dering telepon di tengah malam, perasaan mereka semakin resah. Dering pertama, salah sambung. Dering kedua, masih salah sambung. Dering ketiga? Nabokov membuat pembaca ikut merasa cemas.
    16 min
  • (Cerpen) Tiga Cerita Ringkas - Sapardi Djoko Damono
    Sebab masih berkabung, saya kembali membacakan cerpen-cerpen singkat karya Eyang Sapardi yang pernah dimuat di Kompas. Judulnya adalah Arak-arakan, Arak-arakan Kertas dan Menghardik Gerimis. Ketiga cerpen ini juga merupakan bagian dari buku berjudul Arak-arakan Kertas karya beliau. Foto adalah milik Komunitas Salihara.
    13 min
  • (Puisi) Pada Suatu Hari Nanti, Yang Fana Adalah Waktu, dan Aku Ingin - Sapardi Djoko Damono
    Episode ini sebenarnya tidaklah direncanakan sebelumnya. Dibuat dan dipublish mendadak setelah saya mendengar kabar duka kepergian maestro Sapardi pada hari ini, 19 Juli 2020. Sungguh sedih yang teramat sangat sebab belum sempat bertemu dengan seorang Living Legend dalam dunia kesusasteraan. Now that he's gone, saya merasa amat sangat menyesal. Farewell, Maestro. Pergilah ke tempat terindah di sisiNya. Ini adalah tiga puisi paling mahsyur karya Eyang Sapardi setelah Hujan Bulan Juni. Foto diambil dari laman instagram pribadi almarhum.
    3 min
  • (Puisi) Misalkan Kita Di Sarajevo - Goenawan Mohamad
    Puisi ini saya pilih karena beberapa hari lalu adalah tepat 25 tahun peringatan Pembantaian Kaum Muslim di Srebrenica. Puisi ini memang bukan tentang peristiwa tersebut, tetapi cukup menggambarkan bagaimana keadaan sebelumnya di negeri itu yang memang telah terbelah-belah, luluh lantak oleh peperangan dan perpecahan. Perpecahan yang masih berlanjut hingga sekarang sebenarnya. Puisi ini sendiri ditulis tahun 1994, setahun sebelum Tragedi Srebrenica, sebagai kritik sosial atas peristiwa yang tengah terjadi di ibukota Bosnia Herzegovina, Sarajevo pada waktu itu.
    4 min

About Ammy Reads

From the publisher's feed

I love reading and I love doing it loudly. Yep, I'm a loud reader. That's why I made this podcast. Dedicated to people who claim that they do love reading, only too busy (and lazy) to do it themselves. So, I'm reading it for you, Pals. You're welcome 😜

More shows like Ammy Reads

Profile by BBC Radio 4

Profile

110 Listeners

Storyological by E.G. Cosh & Chris Kammerud

Storyological

16 Listeners

Gemischtes Hack by Felix Lobrecht & Tommi Schmitt

Gemischtes Hack

93 Listeners

Mordlust by Paulina Krasa & Laura Wohlers

Mordlust

192 Listeners

Die Nervigen by Julia Beautx & Joey's Jungle

Die Nervigen

37 Listeners

Clare on Air by Yana Clare & arc.studio

Clare on Air

3 Listeners