
Sign up to save your podcasts
Or


Rentang perhatian manusia di zaman sekarang dan TikTok ( Part 3 )
lagu-lagu di zaman sekarang yang ternyata memiliki durasi yang lebih pendek ketimbang dua dekade yang lalu. pengaruh konsentrasi manusia di zaman sekarang ternyata juga sudah merubah cara manusia mendengarkan lagu, para penulis lagu ternama juga sudah mengubah cara mereka untuk menuliskan sebuah lagu. dimana tatanan lagu yang dulunya memiliki sebuah konsep keseluruhan secara utuh, misal : intro, verse, Chorus, Interlude, Ending, DLL. namun ketika para pendengar sudah merasa cepat bosan dan ingin langsung mendengarkan bagian yang lebih hype dan klimaks membuat sebuah tren baru di zaman sekarang.
Ketika bagan lagu sudah tidak lagi memiliki intro yang panjang, bagan yang sudah dihilangkan demi menghilangkan rasa bosan sebelum menuju ke bagian yang lebih klimaks menjadi sebuah kiblat dalam menuliskan lagu-lagu ternama di zaman ini. tidak heran apabila orang di zaman sekarang merasa lagu sepanjang 4 menit menjadi lagu yang sangat panjang dan susah untuk dicerna.
Dilansir dari Statista.com yang menyatakan semakin pendek lagunya, semakin manis pula jumlah streamnya, rata-rata lagu yang dirilis di Spotify pada tahun 2020 dengan durasi 3 menit 17 detik, hanya dua detik lebih lama dibandingkan dengan lagu-lagu dari tahun 1930-an. Menurut data dari UCLA yang mengatakan bahwa hal ini merupakan bukti adanya tren yang berkembang untuk memperpendek durasi lagu mulai dari tahun 1990.
Menganalisa kumpulan data dari 160.000 lagu yang diambil dari Spotify API, para peneliti sampai pada kesimpulan bahwa lagu-lagu yang dirilis pada tahun 1990 memiliki rata-rata durasi sebanyak 4 menit 19 detik, terutama pada lagu terpanjang yang mencapai posisi teratas di dalam tangga lagu arustama seperti Billboard Hot 100 selama beberapa dekade terakhir. peringkat yang dikalahkan oleh lagu Taylor Swift “ All Too Well “ ( Versi 10 menit ) pada tahun 2021.
Analisa umum terkait mengapa lagu menjadi lebih pendek terbukti tidak meyakinkan sejauh ini meski keterbatasan teknis sebelum munculnya solusi perekaman dan pemutaran digital. selain itu juga ketersediaan jumlah kapasitas data pada Vinyl, biaya material untuk rekaman pada pita kaset, DLL. secara gamblang pada paruh pertama abad ke 20 sebagian dapat menjadi penyebab durasi lagu yang agak pendek, namun sebaliknya di era 21 sebetulnya tidak memiliki batasan seperti ini, teknologi perekaman di dalam studio dan cara menikmati musik bagi kebanyakan orang yang sudah mengadopsi teknologi digital akan mempermudah struktur lagu menjadi lebih rumit dan panjang. namun pada fakta di lapangan justru berkata sebaliknya.
Para peneliti di UCLA berspekulasi bahwa rentang perhatian pendengar musik yang telah menurun tahun demi tahun, dengan begitu banyak saluran hiburan yang tersedia untuk dikonsumsi manusia, ketika pengguna lebih banyak melewatkan lagu di layanan streaming pilihan mereka, algoritma yang mendasari justru dapat mempromosikan lagu yang lebih pendek untuk didengarkan secara utuh agar penonton tetap terlibat, merekomendasikannya kepada pendengar yang lebih luas di seluruh dunia. meskipun teori ini masih belum pasti, namun pasar industri musik saat ini sangatlah besar. data di tahun 2020 menunjukkan bahwa pendapatan sebanyak 13.4 miliar USD dan rekor penjualan musik secara fisik hanya sebesar 5.4 miliar USD, angka ini memainkan peran besar dalam perkembangan musik di era 21 dan ini adalah sebuah market yang menjanjikan.
Apa kata Blitz Musik ?
Secara pribadi, susah bagi kita untuk menonton film secara keseluruhan lagi terlebih menonton dengan film yang memiliki tempo penceritaan skenario yang terkesan lambat dan tidak fantastis. mengapa hal ini terjadi ? Reel Instagram dapat memberikan sebuah emosi yang sama dalam jangka waktu yang lebih singkat. dan ini benar-benar dirancang agar dapat menjadi solusi yang cepat lagi sempurna.
Pernahkah anda mendengarkan bahwa orang di zaman sekarang yang sudah mulai menggunakan kecepatan 1.5 kali lipat lebih cepat untuk menonton sebuah film, podcast, dokumenter, DLL. faktanya terdapat 50% pengguna yang disurvei oleh TikTok mengatakan bahwa video yang berdurasi lebih dari satu menit itu “ membuat stress “. sebetulnya bukan durasi sebuah video yang menjadi perkara, lebih tepatnya adalah rentang perhatian kita yang menyusut. inilah yang disebut sebagai TikTok Brain sebagai konsep yang cukup baru, belum ada banyak penelitian ilmiah terkait perkara ini, namun sudah lama diketahui bahwa penggunaan media sosial berdampak negatif terhadap kinerja otak manusia yang pengaruh riilnya adalah defisit perhatian.
Dilansir dari Oxford Blue yang menyatakan bahwa para peneliti dari Technical University of Denmark melakukan sebuah penelitian yang berjudul “ Accelerating Dynamics of Collective Attention “ yang menunjukkan adanya penurunan perhatian yang signifikan, dari waktu ke waktu karena “ peningkatan produksi dan konsumsi konten “. mereka menemukan bahwa hastag pada tahun 2013 bertahan di posisi teratas selama 17.5 jam, namun di tahun 2016 hashtag trend terkini hanya bertahan di posisi teratas selama 11.9 jam saja.
Media berdurasi singkat membuat kita bertindak seperti anak kecil yang sedang berada di dalam toko permen, siapa yang bisa menyalahkan kita ? ini adalah sifat manusia, media yang langsung menerpa perhatian kita akan secara bergiliran untuk menyita lebih banyak perhatian, semakin banyak perhatian yang kita berikan maka akan semakin tinggi juga kadar dopamine di dalam otak yang mampu memberikan rasa kepuasan. model yang digunakan oleh para peneliti di perusahaan media sosial bekerja secara optimal dan sukses, berhasil memangsa cara kerja otak kita. Jebakan yang sangat menghibur.
Pantau terus yows..
Rentang perhatian manusia di zaman sekarang dan TikTok ( Part 2 )
Faktanya, para peneliti menyimpulkan bahwa ini adalah sebuah penguatan positif yang berkelanjutan, pola penghargaan yang paling tidak efektif sementara penguatan rasio variabel adalah metode yang paling ampuh dalam memberikan sebuah sensasi harapan. sebagai manusia, kita juga telah menjadi korban dari fenomena ini.
Coba saja jawab pertanyaan ini, apa faedah dari menonton Reels selain memuaskan obsesi kita dalam berharap akan ada sebuah video pendek yang dapat membuat kita tertawa atau terpukau. Tidak mengherankan jika pengembang teknologi dengan cepat menyadari bahwa cara terbaik untuk membuat kita terobsesi adalah melalui konten dengan durasi pendek yang tampaknya beresiko rendah. dengan media yang lebih panjang, lebih mudah untuk berhenti menonton dan berhenti mencari sesuatu yang lebih menarik. Vines yang berdurasi 6 detik ataupun TikTok dengan durasi 30 detik dapat menyelesaikan masalah di atas dengan usaha yang jauh lebih sedikit, pengguna tidak harus menginvestasikan waktu yang banyak dalam mengkonsumsi suguhan pendek ini.
Namun pada kenyataannya, investasi waktu atau lebih tepatnya adalah pengorbanan waktu yang telah dihabiskan hanya dalam menonton video pendek ternyata jauh lebih mengerikan ketimbang menonton sebuah film Hollywood. Apabila kita mengacu kepada tikus-tikus uji coba diatas, menjadi sangat jelaslah apabila media-media tersebut secara aktif telah mengubah fungsi dan cara otak kita berpikir. ini adalah sebuah lingkaran setan, media berdurasi pendek yang semula hanya memerlukan durasi yang sangat pendek untuk kita tonton, namun dari rasa obsesi dan demi kepuasan penonton terkadang konsumsi berlebihan menjadi jawaban dan rasa ketagihan ini ditambah sedikit demi sedikit setiap harinya.
Kata kuncinya adalah Konsumsi Berlebihan! hal ini akan berdampak pada ketidakmampuan kolektif kita untuk berkonsentrasi pada apapun dalam jangka waktu lama, kita tidak ingin lagi menunggu berita-berita yang bagus atau media lain yang bersifat terlalu panjang, intinya apa yang kita ingin tahu harus langsung pada pokok permasalahannya. manusia menjadi cepat bosan terhadap sesuatu, film, lagu, cerita manusia, ataupun bahkan hal ini dapat menjadi lebih krusial dalam kehidupan keseharian kita.
Ambil contoh cara manusia berkomunikasi, ketika orang di zaman sekarang lebih gemar untuk berbicara langsung ke topiknya tanpa harus membuang waktu untuk menyapa, perkenalan, ataupun sekedar menanyakan kabar. kendati sopan santun dalam berbicara itu menjadi hal yang krusial bagi kita sebagai anggota sosial di dalam sebuah komunitas.
Pantau terus yows, bersambung di pekan depan..
Rentang perhatian manusia di zaman sekarang dan TikTok ( Part 1 )
Masih ingatkah Vine, sebuah aplikasi layanan berbagi video yang cukup viral pada tahun 2012, layanan ini mengizinkan para pengguna untuk merekam dan menyunting video selama 6 detik serta dapat diunggah secara langsung ke situs jejaring sosial, Aplikasi Vine dapat digunakan untuk menjelajahi video yang dibuat oleh pengguna lain dengan beberapa kategori yang tersedia. Setelah Vine mulai viral dan mulai digunakan oleh semua orang di Amerika Serikat dan dunia mulai mengikuti trend tersebut, kemudian berkat kemajuan zaman di bidang teknologi dan kesukaan manusia pun turut bergerak dalam menggunakan berbagai layanan aplikasi media sosial. muncullah Musical.ly yang juga menjadi obrolan cukup hangat pada masanya.
Berdasarkan data di tahun 2022, setelah Musical.ly bergabung dengan TikTok mereka menjadi aplikasi yang paling banyak diunduh di seluruh dunia, padahal kerjasama ini dapat dikatakan sebagai perusahaan yang baru saja bergabung dan bekerja sama pada tahun 2018. berkat inovasi baru TikTok yang memanfaatkan konsep Reels yang kemudian menjadi sebuah patokan baru dalam mengikuti trend medsos dan segera diikuti oleh Youtube Reels, Instagram Reels, dan terakhir Snapchat yang turut ikut dalam konsep video pendek versi mereka sendiri yang disebut sebagai Spotlight.
Satu hal yang sederhana, Seberapa singkat media tersebut ? apakah ini memiliki pengertian khusus ? apakah media yang dapat dikonsumsi telah menyusut agar lebih sesuai dengan kehidupan modern manusia yang semakin sibuk, hektik, kacau, atau memiliki potensi bahaya yang mencekam masa depan manusia ? apakah media berdurasi pendek ini telah mengurangi kemampuan manusia untuk berkonsentrasi lebih dari 6 detik ?
Tidak dapat dipungkiri, bahwa hal ini terjadi kepada semua orang. keinginan yang sangat kuat untuk meninggalkan apapun yang sedang kita kerjakan dan memeriksa Instagram hanya untuk beberapa detik saja. Belasan Reels atau bahkan ribuan Reels yang telah kita tonton tanpa perasaan apapun, dan kembali untuk menuntaskan pekerjaan yang belum kita selesaikan. siklus ini terus berjalan tanpa ikatan batin terhadap sebuah video pendek ataupun intisari yang bisa didapatkan setelah kita melakukan hal tersebut, yaitu menonton berbagai Reels pendek yang mungkin memiliki terlalu banyak informasi, lagipula apa sih dampak buruknya bagi kita dan orang lain.
Jika hal ini terasa familiar untuk anda, maka anda tidak sendirian. ada sesuatu yang lebih menarik dari hiburan yang berlangsung hanya dalam kurun waktu beberapa detik saja, secara psikologis hal ini cukup masuk akal. terlalu mudah untuk menyerah pada pesona Reels yang telah menarik perhatian kita selama beberapa jam, mengapa kita lebih tertarik menonton video Reels ketimbang sebuah film atau serial yang berdurasi panjang. padahal tak jarang dari kita yang menonton reels dalam kurun waktu satu hingga dua jam tanpa henti, durasi itu toh sama panjangnya dengan sebuah film Hollywood.
Media dengan durasi pendek lebih mudah untuk dikonsumsi oleh semua orang, dan itulah letak dari pesona sebuah reels. hampir semua orang dari segala kalangan, baik umur, jenis kelamin, latar belakang, bahasa, DLL dapat mengonsumsi video pendek tanpa harus mengerti bahasa atau budaya sebuah negara. selain itu algoritma aplikasi modern seperti TikTok didasarkan pada prinsip dengan acak. sederhananya adalah meskipun Reel yang baru saja anda tonton mungkin tidak berasa lucu ataupun menarik, tapi anda yakin bahwa reel berikutnya akan mengocok perut anda, dan antisipasi dan harapan manusia inilah yang alasan utama mengapa begitu banyak dari kita yang tidak berpikir panjang dalam menonton Reels, “ Berikutnya pasti seru nih “, ini adalah sebuah jebakan yang sempurna dan memicu sebuah pola perilaku yang membuat para penontonnya ketagihan. apa yang diperlukan dalam menonton Reels ? jawabannya hampir tidak ada, bahkan tidak perlu berpikir dalam menonton ini bukan.
Dilansir dari Oxfordblue.com yang menuliskan bahwa pada tahun 1950-an, B.F Skinner sebagai seorang psikolog dan ahli perilaku asal Amerika Serikat menemukan bahwa ketika tikus menerima pelet makan sebagai hadiah karena menekan sebuah tuas di dalam kandang, tikus-tikus ini menjadi bosan dan tidak tertarik pada aktivitas ini, padahal tuas ini akan memberikan sebuah kepuasan dalam mengkonsumsi sebuah makanan. namun ketika pelet makanan ini diberikan sebagai hadiah di waktu yang tidak tentu, tikus ini menjadi lebih obsesif dan terlihat mulai gusar, susah tidur, makan tidak menentu, bahkan yang lebih parah lagi adalah tikus ini tidak lagi menata dan merawat diri mereka demi menunggu sebuah hadiah makanan mereka tidak tahu kapan akan diberikan.
Pantau terus yows, bersambung di pekan depan..
Betulkah band musik telah menghilang dari pasar ? ( Part 2 )
Zaman sekarang di kamar aja bisa loh. maka tidak heran Band musik adalah sebuah kebutuhan sekunder bagi seorang soloist, masih banyak session player diluar sana yang bisa memenuhi kebutuhan konser dari seorang artis soloist. Dinamika ini berdampak besar bagi band Rock dan Hardcore independen yang seringkali membutuhkan lebih banyak sumber daya serta kolaborasi dengan berbagai artis solo demi mempertahankan proyek mereka di masa ini. Di sisi lain, dalam dunia musik independen serta underground kita harus mengakui bahwa band-band rock dan Hardcore independen tengah menghadapi tantangan yang sangat berbeda apabila dibandingkan dengan band mainstream dengan prinsip yang berbeda.
Alasan kedua mengapa format band musik di zaman sekarang semakin langka adalah pemeliharaan dan administrasi sebuah Band semakin sulit. tanpa melihat perspektif mainstream yang dimulai dari sisi ekonomi hingga ke berbagai dilema kehidupan sehari-hari antarpribadi membuat sebuah band adalah sebuah hal yang cukup sulit di zaman sekarang. Band membutuhkan sebuah koordinasi yang cukup intensif, berbagai perbedaan visi dan misi, konflik kreatif, tantangan logistik perangkat pada saat melakukan sebuah tur, pembagian pendapatan profit sebuah konser, DLL. ini adalah sesuatu hal yang tidak perlu dihadapi oleh seorang artis solo.
Singkat kata, dari kacamata seorang solois yang ingin melakukan sebuah konser semua hal dan koordinasi diatas tidak perlu menjadi sebuah fokus utama, tanpa latihan berhari-hari, gladi resik yang panjang dan lama, susunan isi acara yang lebih mudah untuk di desain, biaya perjalanan yang sangat minim bagi sang solois ketimbang harus membawa 14 orang ke sebuah kota demi menggelar sebuah konser. dimana dari tim kru ini yang tentu berisikan kru panggung, FOH, tim produksi, musisi, road manager, videographer dan dokumentasi, DLL. bayangkan saja semua orang ini memerlukan tiket perjalanan, akomodasi, makan tiga kali sehari, yang tentunya akan menambahkan sebuah budget yang tidak kecil dalam sebuah program tur perjalanan ke luar kota.
Tidak ada yang lebih penting dari DOKAT!, tanpa ada uang semua ini tidak akan berjalan, ekonomi promosi juga berkontribusi untuk memperburuk kondisi ini. label dan promotor merasa jauh lebih murah dan mudah untuk memasarkan satu individu dalam sebuah pertunjukkan ketimbang keseluruhan tim/band dan berbagai kebutuhan pribadi serta perangkat pertunjukkan.
Selain itu, artis solo dapat merekam lagu dengan kualitas tinggi tanpa harus pergi ke sebuah studio komersial yang mahal, cukup hanya di dalam rumah dan mengunggahnya via TikTok. kesempatan untuk menjadi viral dalam sebuah platform sosmed menjadi sebuah kata kunci yang cukup penting dalam sebuah alur promosi konvensional, biaya promosi yang dulunya di dominasi dengan berbagai iklan di radio, majalah, televisi, dan berbagai media lain demi mempromosi sebuah pertunjukkan menjadi semakin mudah dan murah. tanpa investasi promosi yang memakan biaya tinggi menjadikan sosmed adalah ruang yang mudah bagi seorang promotor dalam mempublikasikan sebuah event.
Inilah sebabnya semakin banyak artis yang memiliki 20 juta pendengar setiap bulannya di Spotify berhasil menembus arustama hanya berdasarkan kehadiran dan eksistensi mereka via laman sosmed pribadinya. bagi band musik terutama yang berada dalam ranah independen memerlukan metode yang hampir sama namun berbeda, bahkan jalan mereka dalam sebuah ketenaran dan kesuksesan akan menjadi lebih sulit, dimana investasi dengan dana yang tidak murah dalam sebuah produksi hasil karya, tur, ataupun sebuah promosi.
Bukan hanya faktor ekonomis saja yang membuat sebuah band bisa bertahan, ada juga dampak secara emosional dan kreatif, namanya juga manusia yah maka tidak heran apabila kita harus memperhitungkan semua hal ini terutama dari sisi administrasi dan pemeliharaan sebuah band agar dapat langgeng untuk durasi yang cukup panjang.
Pantau terus yows..
Betulkah band musik telah menghilang dari pasar ? ( Part 1 )
Zaman sudah berubah dan begitupun dengan warganya, dalam dunia musik band adalah sebuah pionir terdepan dalam sebuah industri hiburan, kendati perubahan komposisi dari setiap band musik yang tentu akan berbeda satu dengan yang lain dan seiring dengan perubahan selera dari pendengar yang ada. atensi adalah sebuah parameter penting bagi musisi untuk berinteraksi dengan para pendengar, dimana semakin banyak atensi yang didapatkan oleh sebuah band maka tingkat kepopuleran sebuah band tentu akan semakin tinggi.
Tahun 2024 adalah sebuah tahun yang cukup unik, dalam kurun waktu yang cukup lama selera musik para pendengar di dunia telah berubah apabila dibandingkan dengan satu atau bahkan dua dekade yang lalu. band-band musik telah menghilang dari tangga lagu arustama, ini bukanlah sebuah hal yang baru. mungkin ada yang memperhatikan kondisi ini bahkan hingga harus mencari berbagai informasi via internet demi memastikan apa betul band musik di zaman sekarang sudah semakin berkurang atau bahkan tidak ada lagi band musik.
Jawaban pastinya adalah, tepat! nasib band musik terancam punah. band-band telah menghilang dari tangga lagu arustama. dilansir dari laman Youtube milik Rick Beate ( seorang multi-instrumentalis, producer, audio engineer tenar asal AS ) yang telah melakukan sebuah pengamatan via sebuah vlog yang berjudul “ Mengapa Band-Band Menghilang Secara Misterius ?”, dalam video ini dirinya mengeksplorasi berbagai alasan dibalik dari hilangnya band-band dalam industri musik populer.
Dalam video ini, dirinya membagikan sebuah gambaran yang cukup jelas terkait perubahan selera pendengar musik di seluruh dunia dengan menunjukkan bahwa dalam kurun waktu tiga dekade yang lalu tepat dari tahun 1980-an dimana band pada zaman tersebut telah mendominasi pasar musik arustama selama 146 minggu berturut-turut, dan apabila data yang sama di tarik hingga ke awal tahun 2020-an band yang berhasil naik ke tangga lagu arustama hanya menjadi tiga minggu saja, kehadiran band-band terkenal di tangga lagu dunia menjadi hampir lenyap.
Seorang pengamat musik, Richard Osman dalam sebuah wawancara di Inggris menggarisbawahi beberapa fakta di bawah ini : pada tahun 1980-an dan 1990-an terdapat lebih dari 140 minggu band-band ternama yang menduduki puncak tangga lagu di Inggris, apabila dibandingkan dengan tahun 2020-an yang hanya ada tiga minggu band ternama yang menduduki tangga lagu arustama, dimana nama-nama seperti Rolling Stones dan Nirvana yang pernah mendominasi tangga lagu di kala memasuki era tahun 2020.
Sepertinya kondisi seperti ini bukan lagi sebuah rahasia atau fenomena baru yang dapat kita temui dalam dunia musik, seringkali artis/musisi yang kini hadir via TikTok dan Youtube kini menempati ruang yang dulunya adalah milik band musik. apa betul soloist sudah menjajah dan menggantikan posisi dari Band ?
Mari kita kupas berdasarkan fakta, apabila mengambil data dari Spotify tangga lagu arustama yang paling sering dinikmati oleh para pendengar di zaman sekarang terdapat hanya ada tiga band yang dibentuk dalam satu dekade terakhir : tahun 2022 Grupo Frontera, 2017 Maneskin, dan 2017 Richie Mitch & Coal Miners. fakta mengejutkan ini dapat menyimpulkan sebuah fakta bahwa kurang dari 1% artis-artis yang paling banyak didengar oleh warga adalah sebuah kelompok yang mengatasnamakan mereka sebagai sebuah band atau dengan gamblangnya adalah dibungkus dan di presentasikan sebagai sebuah band dalam satu dekade terakhir. apabila dibandingkan dengan tahun 1980 dan 1990 ini adalah sebuah data yang sangat jauh berbeda, dimana arustama musik yang berpengaruh pada zaman tersebut masih didominasi dengan skema Band. mengapa hal ini bisa terjadi ? apakah ada yang berbeda dari cara manusia mendengarkan musik, atau bahkan membentuk sebuah band semakin sulit di zaman sekarang ? faktanya bahwa dalam sebuah festival musik ataupun konser besar wujud dan metode menghantarkan musik masih menggunakan alat musik/instrumen yang nampaknya tidak asing lagi.
Gitaris, drummer, basis, keyboardis, sequencer, dan berbagai jenis alat musik yang dapat kita lihat di atas panggung pada saat konser berlangsung, namun fokus utamanya biasanya sudah tidak menggunakan sebuah format band lagi apabila dibandingkan dengan zaman dulu. Menurut Blitz Musik, salah satu alasan utamanya ada di pergeseran selera penonton. Ambil contoh musik Rock yang dulu pada masanya sangat berkaitan dengan budaya anak muda dan darah muda, musik rock adalah sebuah gaya hidup dan bagaimana seseorang mempresentasikan hidupnya kepada publik. dengan kata lain musik Rock adalah sebuah esensi hidup bagi darah muda zaman itu yang tidak dapat tergantikan dengan yang lain. namun apabila kita bandingkan anak muda dijaman sekarang yang tentu sudah berbeda dengan dua dekade yang lalu. selain dari kemajuan teknologi yang memudahkan artis solo untuk berkreasi berbagai genre lagu di laptop tanpa memerlukan fungsi dan skema sebuah band secara utuh. maka tidak heran dalam kurun waktu satu dekade ini, berkat kemajuan teknologi di bidang digital dan perangkat baru yang mendukung proses penulisan dan perekaman sebuah lagu dapat diakses dengan sangat mudah menjadikan penulisan dan perekaman sebuah lagu menjadi sangat praktis serta efisien.
Bersambung di pekan depan, pantau terus yows..
Quincy Jones, 1933 ~ 2024 : produser dunia yang telah mendobrak berbagai batasan dalam dunia musik ( part 2 )
Perubahan industri musik yang mulai di jejali dengan esensi Rock n Roll ternyata tidak membuat dirinya kesulitan dalam melahirkan berbagai lagu baru, Quincy juga telah membuktikan sekali lagi dalam industri ini bahwa dirinya punya berbagai ide brilian dalam berbagai genre musik, di tahun 1958 Q pernah mengaransemen lagu “ Somebody Up The Digs Me “ sebagai sebuah upaya dari pionir dalam genre Blues yaitu Louis Jordan untuk ikut dalam gelombang trend Rock n Roll. selain itu juga masih ada lagu dari Little Richard “ The King of Gospel Singers “ yang diproduksi secara megah sekaligus menjadi cikal bakal fondasi dari Rock n Roll untuk tahun 1960. Eklektisme dari Q inilah yang memberikan manfaat bagi dirinya untuk sepanjang karir musiknya di tahun 60-an. dalam dekade tersebut dirinya telah melahirkan 10 lagu top 40 untuk penyanyi seperti Lesley Gore dari tahun 1963 ~ 1965, termasuk juga sebuah lagu klasik “ It’s My Party “ dan “ You Don’t Own Me “ dan telah mencetak sebuah soundtrack untuk film serta acara TV ternama seperti “ In Cold Blood “ di tahun 1966 dan “ The Italian Job “ di tahun 1969.
Hasil karya Q sangat mengesankan dan disukai oleh publik, mengingat pada tahun tersebut jarang sekali musisi kulit hitam punya kesempatan atau ijin untuk mengerjakan sebuah proyek film dan TV, dan lebih jarang lagi apabila proyek yang mengangkat tema Afrika-Amerika. di tahun 2020 Q mengatakan bahwa sebuah energi dan gelombang baru terkait Black Lives Matter yang terjadi setelah pembunuhan keji dari aparat terhadap seorang warga yang berketurunan Afrika yaitu George Floyd dipercaya adalah sebuah akumulasi emosi warga setempat yang merasakan bahwa kejadian serupa sudah terjadi sejak lama, maka dari itu Q sangat mengecam perbuatan tersebut, bagi dirinya misogini, rasisme adalah sebuah racun yang tidak baik dan tidak terjadi dengan sendirinya.
Di awal tahun 1970, Q sangat tertarik dengan musik funk dan disko, ketika dirinya memproduksi materi solo termasuk juga album hit yang pernah di rilis di tahun 1974 “ Body Heat “ dan berkolaborasi dalam lagu-lagu yang tidak terlupakan seperti “ Get The Funk Out Ma Face “ milik Brothers Johnson, ini merupakan batu loncatan sebagai produser masa kini, tidak sampai disitu saja bahkan Q juga sering terlihat berkolaborasi dengan berbagai rilisan dari Motown Production untuk hasil karya musikal Broadway. dari kesempatan inilah dirinya memiliki kesempatan untuk bekerja bersama Michael Jackson yang dipercaya adalah awal dari meledaknya era Pop dan mengubah musik dunia hingga saat ini.
Pertama adalah sebuah hasil kolaborasi antar Q dan Jackson dengan rilisan “ Off The Wall “ di tahun 1979 yang proses produksinya juga telah menimbulkan banyak sekali pertentangan antara tim kreatif dan para eksekutif di Epic Records, dimana banyak yang berpendapat bahwa album ini terlalu “ Jazzy “. Jackson mendesak Q untuk melahirkan sebuah album yang dapat menggabungkan berbagai elemen musik trend pada zaman itu seperti disko, funk, R&B, DLL.
walhasil album ini pun mendapatkan banyak respon positif dari para pendengar, maka tidak heran apabila album ini telah melahirkan empat single yang berhasil menembus daftar top 10 AS, ini adalah sebuah rekor tertinggi dari satu album oleh artis solo pada saat itu dan telah terjual 20 juta kopi. setelah itu mereka terus rajin dalam berkolaborasi serta bertukar pikiran sehingga akhirnya sebuah nama besar yang kita kenal hingga saat ini pun lahir pada zaman tersebut. “ Thriller “ dan “ Bad “ di tahun 1987, duo ini telah membuat trilogi rekaman yang telah berhasil menjual sebanyak 130 juta kopi di seluruh dunia.
Prestasi ini adalah salah satu tanda penting dalam kemitraan dunia musik yang paling simbiosis secara komersial dan kreatif sepanjang masa, penghargaan sebagai inovator terbaik dari semua ini tidak cukup untuk menggambarkan legasi musik dari Q. setelah mendobrak berbagai halangan bahkan dirinya mencoba untuk masuk ke dunia yang lebih menantang yaitu pembuatan soundtrack film dan TV. Q mengambil keputusan untuk membentuk sebuah perusahaan produksi yang cukup sukses di tahun 1990, perusahaan Q bertanggung jawab penuh untuk acara sitkom yang sangat viral di tahun 90-an yaitu The Fresh Prince of Bel Air. banyak penonton percaya bahwa sitkom ini adalah cikal bakal lahirnya seorang Will Smith di dunia perfilman.
Hidup Q bukanlah sebuah perjalanan panjang tanpa gangguan dan halangan, Q mengatakan bahwa dirinya merasa ingin bunuh diri ketika dirinya terjerat hutang sebesar 100.000 USD setelah salah satu tur Eropanya pada tahun 1950-an, sementara Q juga adalah seorang pasien yang selamat dari Aneurisma otak- sebuah pembengkakan dalam saluran pembuluh darah di tahun 1974, dan tidak semua hasil karyanya adalah “ Thriller “, dirinya mengungkapkan penyesalannya pada album yang ia rilis di tahun 2010 Q “ Soul Bossa Nostra “ dimana Q dan berbagai artis Hip-Hop dan R&B berkumpul untuk melahirkan 15 lagu yang berkaitan dengan Q.
Q adalah seorang musisi, produser, komposer, direktur musik, yang telah mencatat mendapatkan lebih dari 28 Grammy Awards dari 80 nominasi yang telah diperoleh dalam 70 tahun dirinya berkarir, selain itu juga masih banyak penghargaan tertinggi dari berbagai instansi dan afiliasi untuk sektor industri musik dan kemanusiaan, dirinya juga pernah dianugerahi Grammy Legend Award di tahun 1992.
Pantau terus yows..
Suka duka Festival Musik di Taiwan, apa kata Hsiao Ta Chien sebagai penyelenggara Festival Ronin ( part 2 )
Lebih banyak merek dagang festival musik yang telah mengkonsepkan festivalnya sendiri sebagai festival musik internasional, sekaligus juga The Ronin yang memutuskan untuk mengundang band-band luar negeri untuk berpartisipasi, ditambah dengan berbagai faktor yang tentunya sudah dapat berkontribusi terhadap biaya pengeluaran yang tinggi, misal perangkat keras, personel, logistik, venue, dll. maka dari itu dirinya telah menghitung secara seksama agar biaya tiket per lembarnya berada di batas kewajaran di tahun ini sebesar 3400 NTD, dimana tahun lalu harga tiket yang sama dijual dengan harga 2800 NTD.
Maka dari itu tidaklah heran apabila harga tiket konser dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir telah melambung tinggi gegara satu dan lain hal, salah satunya adalah inflasi yang telah melambung tinggi yang tentunya akan berdampak kepada biaya yang tinggi serta kelangkaan dari SDM serta perangkat.
sebetulnya tugas menjadi seorang penyelenggara bukan hal yang mudah, pada dasarnya dua minggu menjelang hari H semua urusan baik besar dan kecil akan ditinjau kembali termasuk juga dari segi transportasi, logistik perangkat, akomodasi semua orang yang terlibat atau sebuah perencanaan matang terkait artis yang akan tampil, siapa yang akan mendampingi dan setiap staf yang bertugas harus berkorespondensi dengan baik bagi semua pihak yang terlibat. setiap tahunnya ada proses peninjauan dengan skala masif terkait peraturan acara skala besar yang melibatkan lebih banyak pihak misal : biro layanan sipil, kantor pemadam kebakaran, kantor polis, staf kesehatan termasuk juga petugas medis. selain itu juga sudah bukan hal yang asing apabila dalam sebuah festival musik terkadang akan mengundang juga tokoh politik maupun individu yang bergerak dibidang bisnis untuk hadir dan terlibat dalam festival musik ini.
Hal yang utama adalah memperhatikan semua aspek demi memastikan bahwa tidak akan ada kesalahan dalam konten jadwal, produk visual, presentasi tata letak di tempat, intinya adalah menempatkan diri kita sebagai penyelenggara dalam kacamata para penonton yang akan lebih mementingkan hal lain dengan perspektif yang berbeda.
Pantau terus yows..
From the publisher's feed
Hidup tanpa musik itu bosan!
Betul banget kawula muda, acara ini sarat akan musik sekaligus lika-liku seputar Taiwan dan juga dunia. buat teman-teman yang suka dengan Kelap Kelip Dunia Musik baik Indie maupun Branded, langsung aja di simak.
dari Live House di Kota Taipei, Spring Scream Festival di Kenting, maupun Jump music Festival dan masih banyak lagi rentetan berita, cerita, kisah unik yang ngga akan ketinggalan untuk Di-Cas" di setiap pekan
salam E=F♭