
Sign up to save your podcasts
Or


Format yang layu sebelum mekar, MiniDisc Sony ( Part 1 )
Bagi mayoritas generasi Z mungkin tidak akan pernah mendengarkan barang ini ataupun punya kesempatan untuk bertemu dengan perangkat yang sempat menggegerkan dunia, pada dasarnya format penyimpanan data digital yang dikenal oleh publik saat ini cukup beragam. antara lain : Compact Disc, Blu-Ray, Vinyl atau piringan hitam, dan Kaset. namun di tahun 90-an terdapat satu perangkat unik yang sempat booming dalam kurun waktu yang sangat singkat, uniknya tidak banyak orang yang tahu terkait barang yang satu ini. perangkat ini dikenal sebagai MiniDisc, sebuah format penyimpanan data digital yang dapat ditulis ulang dengan menggunakan teknologi magnet optikal, teknologi yang dibesut oleh Sony ini dirilis untuk menciptakan pasar baru yang niscaya dipercaya untuk menggantikan pita kaset yang sudah menjamur dan menguasai pasar format penyimpanan data pada saat itu. dipercaya bahwa perangkat ini mampu memberikan keleluasaan dengan mobilitas tinggi dengan jejak yang lebih kecil dan kapasitas data yang lebih besar ketimbang kaset.
Saat Sony meluncurkan MiniDisc pada tahun 1992, pasar punya mainan baru, yaitu sebuah perangkat yang lebih kecil dari kaset dan sekelas CD, rasanya seperti melihat masa depan, jejak yang lebih kecil daripada CD, lebih tangguh dari kaset dan tidak mudah kusut atau rusak serta mampu merekam lagu favorit anda dalam format digital memang tampaknya dirancang untuk memecahkan masalah setiap pecinta musik pada saat itu. Sony juga tidak ragu untuk mempromosikannya, ada iklan yang cukup mencolok di mana-mana, demo perangkat pemutar MD di dalam mall dan toko, maka tidak butuh waktu lama untuk benda ini menjadi bibir omongan orang banyak pada saat itu. namun dengan segala upaya, MiniDisc tidak pernah mendapatkan predikat tinggi dari publik ataupun membuat Sony bahagia akan rilisan produksi mutakhirnya.
Inovatif dan baru untuk pasar, lalu mengapa tidak populer atau setidaknya tidak banyak orang yang mengetahui terkait benda ini ?
Pada akhir tahun 1980-an, pita kaset memang menjadi format yang sangat populer dan dicintai oleh publik, kaset portabel dengan berbagai iklan perangkat pemutar kaset yang selalu menjadi laman utama di berbagai majalah sempat menjadi tren penting, berbagai merek produsen perangkat ternama dunia pun turut naik ke dalam kereta tren terkini demi mendapatkan sebuah potongan kecil dalam industri yang tengah cuan. mengapa kaset menjadi booming ? gamblangnya adalah pasar yang sangat besar terkait kaset, penjual dan kultur pemakaian akan sebuah kaset menjamur di seluruh dunia, portabel dan mudah dibawa kemana-mana menjadi pilihan utama bagi seseorang yang menikmati lagunya ketika sedang beraktivitas. akan tetapi kaset memiliki kapasitas yang terbatas, maka kualitas suaranya tidak begitu ideal dan tidak dapat bertahan lama apabila dibandingkan dengan format digital seperti CD. belum lagi faktor cuaca sangat mempengaruhi umur dari pita kaset, negara dengan tingkat kelembaban tinggi memiliki prestasi penjualan kaset terbanyak, karena lembab maka pita kaset mudah kusut atau bahkan putus.
Di Sisi lainnya, Compact Disc atau CD menjadi pilihan yang lebih ideal dan kualitas suara yang lebih fantastis ketimbang kaset, namun sayangnya teknologi rekam ulang atau copy sebuah data di dalam CD pada saat itu membutuhkan tenaga lebih dan kocek yang dalam untuk dapat merekam musik atau data pada sebuah CD, karena dibutuhkan CD burner atau perangkat yang dapat meng-copy satu keping CD ke CD yang lain.
Melihat kondisi pasar yang butuh sebuah perangkat yang dapat merekam tanpa belibet, upaya Sony untuk menjembatani kesenjangan ini adalah merilis sebuah Digital Audio Tape ( DAT ) di tahun 1987. namun pada saat itu sangat mahal belum lagi kondisi ekonomi dunia yang tengah terpuruk akibat pertumbuhan ekonomi yang tengah melambat di seluruh dunia, membuat banyak ketidakpastian dan prospek negatif dalam sektor finansial dunia. akibatnya nilai Yen sebagai mata uang Jepang naik secara tiba-tiba. jadi bagi kebanyakan orang, DAT adalah sebuah perangkat yang dijual hanya untuk orang tajir, tidak perlu dipertimbangkan. sementara itu, pada saat yang bersamaan, Philips tengah menggarap sebuah teknologi baru yang dapat mengganti teknologi kaset. Digital Compact Cassette ( DCC ) sebagai sebuah perangkat yang dapat memutar kaset digital dan analog.
Bersambung di pekan depan, pantau terus yows..
Penyanyi dan penulis lagu kondang asal hongkong Khalil Fong meninggal pada usia 41 tahun.
Artis dan pemenang penghargaan, multi-instrumentalis, produser serta penulis buku anak-anak ini telah berperang melawan penyakit di tubuhnya semenjak satu dekade yang lalu. penyanyi yang dikenal dengan suara yang unik dan selalu memadukan aransemen RnB dan soul dalam menuliskan lagu Mandapop yang cukup digemari oleh pendengar setianya. dimulai dari album pertamanya Khalil Fong yang sering dipanggil Soulboy oleh fansnya memulai debutnya pada awal tahun 2005, meliputi lagu-lagu hits seperti Love Song, Special Person, Spring Breeze dan Love Love Love.
Lahir pada tanggal 14 Juli 1983 di Kauai - Hawaii, dalam karir bermusiknya selama 20 tahun 方大同 adalah seorang multi instrumentalis yang cukup lihai dengan gitar, keyboard, drum, dan berbagai perangkat perkusi. awal karirnya dirinya bekerjasama dengan Warner Music dari tahun 2005 hingga 2013, namun kemudian perjanjian kerjasama dimulai lagi dengan Gold Typhoon hanya dalam kurun waktu 1 tahun saja 2013 ~ 2014. setelah itu dirinya mendirikan perusahaan musiknya sendiri yang berbasis di Hongkong dengan nama FU Music dari tahun 2016 hingga saat ini.
Fong lahir di Hawaii pada tahun 1983 dan pindah ke Hong Kong pada akhir tahun 1990-an setelah tinggal di Shanghai dan Guangzhou. Ayahnya adalah seorang yang berdarah AS-Tiongkok yang kebetulan juga adalah seorang drummer ulung, ibu kandungnya adalah seorang tenaga pengajar bahasa Inggris di Amerika serikat. Fong pindah ke Shanghai pada usia 5 tahun, kemudian ke Guangzhou untuk waktu yang sangat singkat sebelum dirinya pindah dan menetap di Hongkong, karena keluarganya sering berpindah dari satu kota ke kota yang lain, awalnya Fong hanya belajar di Sekolah Dasar Shanghai selama lima tahun, sebelum disekolahkan di rumah oleh kedua orang tuanya hingga jenjang SMA.
Sebelum dirinya menulis dan menjadi penyanyi, saat Fong berusia 12 tahun, keluarganya pindah ke Guangzhou dan dirinya sering menemani ayahnya bernyanyi dan memainkan drum di berbagai bar yang tersebar di beberapa tempat di kota tersebut. dirinya perlahan telah menuliskan beberapa hasil karya yang hanya ditulis namun belum memiliki kesempatan untuk memproduksi. 100 lagu yang ditulis hanya ditujukan untuk perusahaan pendidikan bahasa inggris milik ibu kandungnya. disaat inilah dirinya memiliki kesempatan untuk mempelajari berbagai ilmu teknis terkait rekaman, setelah dirinya berumur 15 tahun dan mulai fasih bermain gitar, dirinya mengambil keputusan untuk mengirimkan tulisannya ke berbagai perusahaan rekaman, namun gegara usianya yang masih sangat muda dan berbagai kebijakan perusahaan rekaman yang masih menunda untuk bekerjasama dengan Fong, walhasil pada tahun 2005 saat dirinya genap berusia 22 tahun Warner Records memutuskan untuk bekerjasama dengan dirinya serta merilis berbagai lagu-lagu besutan yang mendapatkan banyak respon positif dari publik. Bahkan dirinya sering dikenal untuk menuliskan lagu bagi artis-artis kondang lainnya, nama seperti Andy Lau dan Jacky Cheung adalah salah satu dari artis Mandopop yang telah berkolaborasi dengan Fong.
Fong juga merilis berbagai seri novel grafis dwibahasa untuk anak-anak yang disebut Emi The Dream Catcher pada tahun 2018. Namun karirnya terganggu oleh masalah kesehatan dimulai pada tahun 1010, dirinya harus kembali ke rumah sakit beberapa kali karena penyakit Pneumothorax atau yang sering disebut paru-paru kolaps, dilansir dari CNA yang menyebutkan bahwa ini adalah alasan utama dan juga diyakini oleh para dokter akibat dari kerja yang berlebihan.
Dirinya mulai menarik diri dari publik pada akhir tahun 2016 setelah merilis albumnya Journey to The West, berkat album ini juga dirinya berhasil memenangkan penghargaan sebagai Penyanyi Pria Mandarin Terbaik untuk Golden Melody Awards ( GMA ) pada tahun 2017, dirinya juga sekaligus memborong penghargaan Produser Terbaik untuk lagunya Noodles dihari yang sama.
Pada tahun 2024, dirinya kembali merilis sebuah album yang berjudul The Dreamer, dalam sebuah unggahan media sosial miliknya yang juga sekaligus menyebutkan bahwa album ini “ Direkam bertahap kala masa penyembuhan “, “ dengan kondisi saya saat ini, ini adalah sebuah tantangan sekaligus kelegaan dari dalam hati atas kondisi yang cukup melelahkan belakangan ini”. tulis Fong.
Dalam album ini, Fong memiliki banyak ide dan catatan, struktur lagu dan lirik yang ditulis dan kapan pun siap untuk dirilis, saya akan mengerjakan lagu ini secara bertahap. album ini adalah album yang organik, dengan kurva EQ minimalis yang dipercaya dapat menenangkan telinga pendengar. meskipun kondisi saya telah membaik secara signifikan, masih akan butuh waktu sampai saya pulih sepenuhnya. dalam hidup, kita masing-masing dihadapkan dengan berbagai tantangan, tetapi melalui semua ujian itu jangan lupa untuk tetap menjadi seorang pemimpi. Beberapa hari menjelang kematiannya, Fong mengunggah sebuah postingan yang mengucapkan Selamat Tahun Baru Imlek kepada para penggemar dan menyertakan ucapan terima kasih atas video musik terbarunya.
Sebagai penghormatan antar musisi, penyanyi asal Singapura JJ Lin terkejut atas berita ini via Instagram : “ anda mengatakan kepada saya bahwa anda baik-baik saja dan siap untuk melakukan pekerjaan berikutnya, namun mengapa anda tiba-tiba pergi ? saya benar-benar tidak percaya ini”. JJ Lin mengakhiri penghormatannya dengan “ anak yang baik, pergi terlalu cepat, anda akan sangat dirindukan, sampai juga di sisi yang lain, sahabat terkasih”.
Dilansir dari WIKI, Fong memiliki kepercayaan Baha’i atau Baha’iyyah. adalah sebuah agama monoteistik yang menekankan pada kesatuan spiritual bagi seluruh umat manusia. Agama ini lahir di Persia ( Sekarang Iran ) pada tahun 1863, agama ini awalnya berkembang secara terbatas di Persia dan beberapa daerah lain di Timur Tengah yang pada saat itu merupakan wilayah kekuasaan Turki Usmani. penganutnya mencapai lima hingga delapan juta jiwa yang berdiam di lebih dari dua ratus negara di seluruh dunia.
Fong juga menjalin persahabatan dekat dengan artis satu perusahaan rekamannya yaitu Fiona Sit. semenjak Fiona memulai debutnya dan berkolaborasi dengan dirinya, Fong sering menulis lagu untuk dinyanyikan fiona sepanjang karirnya, mengakui fakta tersebut dalam sebuah pernyataan di sebuah upacara penghargaan bahwa lagu-lagu tersebut ditulis untuknya terlebih dahulu, beberapa karyanya telah menjadi hits terbaiknya. Fong menjadi salah satu pilar kekuatannya saat dirinya mengalami depresi pada tahun 2008.
Musisi dan Bitcoin ? pendapatan musisi via satoshi
Belakangan ini banyak artis dan musisi telah mendapatkan sebuah metode baru dalam memperoleh lebih banyak keuntungan dalam bentuk bitcoin dengan membagikan lagu-lagu mereka via platform seperti Wavlake dan Fountain daripada dalam bentuk mata uang konvensional untuk mendapatkan kucuran pendapatan ketimbang dari platform Streaming Digital ( DSP ) seperti Apple Music dan Spotify.
Dilansir dari Forbes.com dalam sebuah pernyataan yang disampaikan oleh seorang artis pop rock Amerika Ainsley Costello dalam sebuah email yang mengatakan bahwa dalam kurun waktu lima tahun di DSP tradisional, dirinya hanya memperoleh 750 USD dalam royalti streaming dengan jumlah total streaming diatas dari 500.000 kali. ketimbang dengan menggunakan selama satu tahun pendistribusian ke ValueVerse, dirinya menerima lebih dari 21 juta keping Satoshi yang setara dengan 13.278 USD per tanggal 23 September 2024.
Valueverse yang juga disebut sebagai ruang Value for Value ( V4V ) yang disebutkan oleh Costello adalah sebuah rangkaian platform, termasuk juga Wavlake dan Fountain yang dapat memungkinkan para pendengar di seluruh dunia memberikan tip atau imbalan berupa uang digital secara langsung kepada para musisi, podcaster, kreator, dan lain-lain atas karyanya mereka. semakin banyak musisi di seluruh dunia yang mulai merasakan manfaat finansial yang didapat apabila membagikan lagu-lagu mereka di ruang V4V.
Seorang penyanyi yang juga sekaligus menjadi seorang penulis lagu asal Inggris, Joe Martin telah memperoleh pendapatan senilai 1280 USD dari layanan streaming musik di Wavlake dan Fountain sejak merilis lagu pertamanya di platform tersebut pada akhir tahun 2022, sementara dirinya hanya memperoleh 240 USD dari DSP yang telah dirinya gunakan semenjak tahun 2017.
Artis Hip Hop asal Tanzania Kweks yang juga telah memperoleh total 25.68 USD dari United Masters, sebuah perusahaan distribusi yang ia gunakan untuk penyebaran DSP ( dimana biaya tahunan untuk menggunakan jasa ini sebesar 60 USD per tahun ) dimana dirinya dengan menggunakan platform V4V hingga saat ini telah mendapatkan pendapatan sebanyak 2.3 juta Satoshi atau setara dengan 1500 USD pada saat perilisan lagu pertama. Selain itu Kweks juga telah memberikan beberapa konteks dan informasi mengenai nilai satoshi di negara asalnya. Kweks berdomisili di Tanzania, dimana 1000 Satoshi bernilai 1.731 TSH, untuk makan di sebuah restoran, satu paket makanan beserta soda dibanderol dengan harga 1000 TSH, makanan seharga 3000 TSH, tiket bus seharga 600 TSH dan sebotol air mineral seharga 500 TSH. jadi ketika dirinya mendapatkan 10.000 Satoshi untuk hasil karyanya, yang pada saat ini bernilai sebanyak 17.310 TSH maka pendapatan itu akan sangat berarti dan membantu banyak sekali pengeluaran yang dapat menopang kehidupannya.
Zap atau juga yang disebut sebagai Boost pada platform seperti Fountain, V4V adalah sebuah bahasa gaul untuk memberikan sebuah tips dalam bentuk mata uang digital Satoshi, transaksi ini dibantu dengan menggunakan Lightning Network, adalah sebuah metode yang hampir mirip dengan Bitcoin namun dengan metode transaksi yang lebih cepat dan murah. istilah ini juga dipopulerkan oleh pengguna jaringan desentralisasi lokal yang bernama Nostr, dimana ini adalah sebuah ruang bagi para pengguna untuk dapat saling mengirimkan tips sebagai bentuk dukungan terhadap seorang musisi dan artis untuk konten yang mereka rilis. maka tidak heran apabila para musisi seperti Kweks, Ainsley, dan Costello kerap merasakan manfaat dari Nostr untuk berbagi musik mereka.
~Nostr +V4V
Meskipun Martin saat ini memperoleh lebih banyak keping Satoshi melalui platform seperti Wavlake daripada melalui Nostr, dirinya optimis bahwa Nostr akan memainkan peran yang lebih besar dalam karir seorang musisi di masa mendatang. Saat ini Zaps yang dirinya terima di Nostr tidak menjadi bagian yang cukup besar dari pendapatan hariannya, tetapi dirinya juga dapat membayangkan apabila di masa mendatang dirinya dapat merilis sebuah potongan pendek hasil karyanya atau sebuah potongan video dimana pertunjukkan live yang sedang berlangsung, dari beberapa ratus pengikutnya akan mengirimkan Zaps yang bernilai satu dollar maka angka ini tentu akan menjadi sangat penting.
Kweks yang lebih aktif di Nostr daripada di platform media sosial tradisional seperti X, juga mengomentari betapa pentingnya protokol tersebut bagi hasil karyanya sebagai seorang seniman. Nostr sangat penting untuk terlibat dengan komunitas, disanalah dirinya dapat berinteraksi lebih lanjut dengan para pengikutnya, berkolaborasi dengan artis lain atau hanya sebagai sebuah wadah untuk mengunggah sebuah karya baru.
Costello percaya bahwa Nostr memudahkan para penggemar menunjukkan bentuk dukungan kepada artis favorit mereka. Zaps dan Boost juga dapat memberikan hubungan yang lebih dari penggemar secara instan, bahkan akan terasa lebih intim lagi ketimbang tombol like dan love. meskipun jumlahnya tidak begitu penting ketimbang dari interaksinya, niat dari para penggemar hasil karyanya itu lebih berarti dan dapat dianggap sebagai dukungan yang sangat tinggi dari para pendengar.
Wavlake adalah sebuah platform yang dibangun oleh seorang veteran di industri musik yang ingin memudahkan artis untuk berbagi dan mendapatkan bayaran atas musik mereka secara langsung, tanpa tedeng aling-aling ataupun potongan yang tidak jelas dari pihak ketiga misal perusahaan penyedia platform ini, secara gamblang ini adalah sebuah cara untuk mendapatkan pembayaran atas musik mereka yang lebih mudah ketimbang platform lainnya.
Pengguna dapat saja memulai untuk membuat akun dan dapat langsung menggungah lagu mereka via platform tersebut, platform ini juga memungkinkan pembagian pemasukan, misal rekaman/hasil karya yang dapat dibagikan kepada semua pendengar atau grup tertentu dari musik grup ataupun produser dalam proses pengunggahan lagu atau sebuah album.
Opsi kedua adalah pengguna perlu mempersiapkan umpan RSS terlebih dahulu, RSS Blue memungkinkan artis untuk membuat umpan RSS mereka dan mengunggah hingga 10 lagu per bulan. biaya layanan adalah 5 USD per bulan dan Fountain akan mengenakan biaya tambahan sebesar 2% untuk setiap pembayaran yang diterima oleh kreator. setelah umpan RSS aktif, pengguna dapat membuat akun di Fountain dan mengklaim umpan mereka.
Nostr menggunakan cara yang cukup berbeda, pengguna harus terlebih dahulu memilih klien, dimana aplikasi yang berfungsi sebagai interface ke protokol sistem, Primal dan Damus adalah klien media sosial populer untuk Nostr, aplikasi Wavlake juga tersedia untuk perangkat iOS dan Android yang juga merupakan klien dari Nostr.
Maka tidak heran apabila banyak sekali para musisi yang sudah mulai beralih haluan dalam membagikan karya mereka, setidaknya platform yang disebutkan diatas juga dapat memberikan manfaat langsung kepada sang musisi, setidaknya kekuasaan dan kebebasan dalam berkarya dapat disetir oleh tangan musisi sendiri tanpa harus ada campur tangan dari industri musik yang lebih mementingkan cuan ketimbang integritas musik itu sendiri. karena sejatinya, revolusi harus datang dari bawah ke atas, dari para seniman yang menuntut perubahan dalam industri musik.
Pantau terus yows..
AI kini dapat menciptakan sebuah lagu yang sesuai dengan permintaan pasar, apa artinya musik bagi manusia di zaman sekarang ? ( Part 3 )
Fenomena yang telah lama diamati dalam teknologi kreatif adalah bahwa ketika sesuatu menjadi lebih mudah dan murah untuk digunakan serta diproduksi akan semakin ditinggal oleh pasar. hal ini digunakan untuk ekspresi yang lebih kasual, akibatnya media berubah dari bentuk seni tinggi yang eksklusif menjadi lebih seperti bahasa sehari-hari, ambil contoh seperti dunia Fotografi, banyak perangkat DSLR atau bisnis cuci-cetak foto yang perlahan sudah mulai ditinggalkan oleh para fotographer semenjak ponsel yang sudah dilengkapi dengan aplikasi foto.
Jadi bayangkan apabila ada seorang teman yang sedang merayakan hari ulang tahunnya, sebagai kado kita dapat memproduksi secara profesional terkait dirinya dan berbagai hal unik yang dituangkan ke dalam bentuk lagu. sesuai dengan genre yang disukai oleh dirinya. sebuah kado ultah yang cukup unik dan modern. hal ini di zaman sekarang menjadi mudah sekali untuk dilakukan.
Mampukah kita berkreasi tanpa kontrol ?
Apapun yang telah dicapai oleh sistem dalam waktu dekat ini memiliki sebuah persamaan dari satu aplikasi dengan yang lain, yaitu kurangnya kendali. Dalam musik, terkadang menggambarkan sebuah suara ataupun sebuah bagan yang sudah kita bayangkan dengan menggunakan kata-kata seringkali tidak akurat atau bahkan meleset. jadi perintah teks seringkali tidak akan seakurat memainkan sebuah alat musik maupun instruksi yang tepat, jadi alat-alat ini cocok untuk pencarian atau semacam penjelajahan melalui ruang kemungkinan. dan berkat pencarian tanpa arah pasti seperti inilah yang terkadang membuat AI dapat menjadi kekuatan kreatif yang cukup kuat, bahkan dapat menemukan sebuah genre yang baru yang tidak pernah dipikirkan oleh manusia sebelumnya.
Melihat aplikasi ini dari sisi produser musik dan praktiknya, semuanya akan tampak berbeda dengan seorang produser musik manusia. meskipun dari laman Udio mengatakan bagi siapapun yang memiliki ide sebuah lagu, lirik ataupun ide lucu kini dapat mengekspresikan diri mereka dalam musik. bagi kebanyakan orang yang tidak pernah bermain musik ataupun coba untuk memproduksi sebuah lagu akan sangat membantu, dimana kendali inilah yang dapat dikontrol sebagai alat pembantu dalam membuat sebuah lagu yang dimaksud. namun di lain sisi, apabila seorang penggiat karya/musisi mencoba untuk menggunakan aplikasi ini dalam membuat sebuah karya maka perangkat ini dirasa tidak akan dapat memenuhi dari permintaan dari pengguna.
Hingga saat ini, banyak pihak terkait dan yurisdiksi yang telah menyatakan bahwa anda sebagai pengguna aplikasi AI tidak akan diberikan hak cipta untuk sesuatu yang anda ciptakan dengan menggunakan perangkat AI.
~ ranah abu-abu yang tak bertuan antara produksi dan konsumsi musik dengan bantuan AI
Jadi pernyataan Udio yang menyatakan bahwa siapapun dapat mengekspresikan diri mereka dalam musik merupakan provokasi yang cukup menarik, orang-orang yang menggunakan alat seperti Suno dan Udio mungkin akan dianggap lebih sebagai konsumen yang lebih berpengalaman dalam musik AI ketimbang kreator karya AI dalam bidang musik, atau seperti banyak dampak teknologi lainnya yang perlu untuk memunculkan sebuah konsep baru terkait apa yang sedang mereka kerjakan.
Pergeseran ke musik generatif dapat mengalihkan perhatian dari bentuk-bentuk budaya musik saat ini, seperti halnya era musik rekaman yang melihat berkurangnya ( tetap ada peminatnya, namun nampaknya belum berkembang menjadi lebih populer ) misal musik orkestra yang dulunya merupakan satu-satunya cara untuk menyuguhkan musik dan mendengarkan musik yang cukup kompleks. maka apabila musik AI dapat menjadi populer dan mulai digemari oleh para pendengar, maka dalam kurun waktu yang cukup singkat kita akan melihat konsumsi musik tradisional dari para artis, band, radio dan daftar putar arustama lainnya akan segera tergantikan dengan lagu-lagu yang sepenuhnya dihasilkan oleh AI.
Meskipun masih terlalu dini untuk mengatakan atau berasumsi terkait dampak dari perubahan ini, namun kita sebagai penikmat dan konsumer musik seharusnya dapat lebih waspada. upaya untuk mempertahankan perlindungan kekayaan intelektual para kreator yang ada pada saat ini, ini adalah masalah hal moral sebagai seorang pencipta sebuah hasil karya yang merupakan perkara sensitif dan krusial.
Apabila di suatu saat di masa mendatang, musik AI akan menjadi populer, Blitz Musik percaya bahwa pergeseran terkait trend ini akan digandrungi oleh para penikmatnya secara bertahap, kualitas dan penyebaran musik AI juga dirasa tidak akan berkontribusi banyak dalam menghentikan budaya musik secara historis, seperti misalnya Jazz ataupun Funk yang perlu sebuah momen yang tepat untuk menjadikan genre ini terkenal dan dikenal di seluruh dunia, dan semua genre yang ada di dunia saat ini perlu sentuhan manusia, dan manusia lah yang mengerjakan serta melahirkan beberapa hasil karya yang tidak akan tersiram oleh arus waktu, karena sejatinya musik adalah dari dan untuk manusia. pemerintah mungkin perlu melihat sejauh mana AI ini akan mempengaruhi kultur musik di sebuah tempat bahkan lebih jauh lagi meneliti sejauh apa dampak yang akan dibawa oleh perkembangan musik seperti ini, bagaimana musik itu bekerja dalam mendukung pergerakan sebuah industri musik, sosial, dan bahkan kultur yang ada di sekitar lingkungan musik ini. agar semua aset dan pelaku di industri ini mendapatkan porsi kredit yang tepat, berkelanjutan, sekaligus dapat memperkaya perbendaharaan yang bermakna bagi individu dan masyarakat.
Pantau terus yows..
Durasi lagu semakin pendek ? ( part 1 )
Dalam dunia musik yang terus berubah dengan cepat, salah satu fenomena paling menarik yang cukup mencolok adalah kecenderungan lagu-lagu di zaman modern yang semakin pendek, hal ini tentu disebabkan oleh berbagai faktor, dari berbagai faktor ini tentu akan saling beririsan dan memiliki pengaruh yang cukup besar. salah satunya adalah seiring perkembangan teknologi yang semakin canggih dan cara manusia modern mengakses musik, dari kedua faktor ini sudah menciptakan sebuah lanskap baru dalam industri musik yang penuh dengan tantangan dan peluang baru, secara dimana ada tantangan dan perubahan disitu juga terdapat sebuah peluang serta pasar yang baru.
Cara manusia mengonsumsi musik menjadi salah satu pendorong utama, dengan kehadiran platform streaming seperti Spotify dan YouTube, pendengar kini memiliki akses ke jutaan lagu hanya dengan satu klik saja dan dengan perangkat tentu sudah melekat ke setiap orang. dalam konteks ini, terkadang perhatian dari pendengar menjadi sangat berharga dimana semua orang memiliki data yang begitu besar untuk didengarkan. bandingkan dengan dua dekade yang lalu dimana untuk memiliki akses data lagu yang begitu besar dibutuhkan perangkat yang mahal, koleksi kaset ataupun Compact Disc yang cukup banyak agar dapat mendengarkan varian lagu yang lebih banyak, belum ditambah dengan berbagai perangkat pendukung untuk mendengarkan sebuah lagu seperti alat pemutar seperti Tape Deck, Amplifier pengeras suara, hingga ke seperangkat pengeras suara yang tentu harus memadai agar dapat menikmati kualitas suara idaman. tentunya zaman semakin canggih yang merangsang kualitas headphone/earphone yang memadai untuk dikonsumsi dan digunakan oleh manusia.
Maka dari itu perhatian pendengar menjadi lebih berharga, lagu-lagu yang lebih pendek dan tepat sasaran dalam artian bahwa lagu ini tidak bertele-tele misal dengan intro lagu dengan durasi selama satu menit, mengapa lagu dengan intro yang panjang akan jarang didengar oleh pendengar ? alasannya adalah pendengar di zaman sekarang yang mudah bosan, susah untuk berkonsentrasi. lagu-lagu yang lebih pendek memungkinkan pendengar untuk melintasi lebih banyak pilihan lagu dalam waktu yang relatif singkat, membuat pengalaman mendengarkan sebuah lagu menjadi lebih dinamis.
Selanjutnya, aksi viralitas di media sosial, khususnya di aplikasi seperti TikTok telah menciptakan sebuah fenomena “ kebutuhan “ akan momen-momen yang singkat agar mudah untuk dibagikan dan dinikmati oleh para pengguna medsos. banyak lagu yang mendapatkan popularitas melalui tantangan dan tren di platform tersebut sehingga menciptakan daya tarik bagi artis untuk memproduksi lagu dengan bagian yang langsung dapat menarik perhatian, maka dari itu lagu yang terdengar cukup “Catchy“, unik dan tidak biasa akan dapat menarik lebih banyak pendengar ketimbang sebuah aransemen yang terdengar “ biasa-biasa saja “.
Disamping itu, perubahan dalam pola pendengar yang juga turut berperan dalam fenomena ini, generasi muda kini lebih menyukai hiburan yang cepat dan efisien, mari kita buat sebuah skenario pendek dimana gaya hidup dan aktivitas manusia di zaman sekarang yang cukup sibuk. kerja 8-10 jam perhari itu sudah jadi hal yang sangat lumrah bahkan di Taiwan rata-rata aktivitas warganya di luar rumah 12 jam perhari sudah menjadi angka standar. terlebih bagi yang memiliki profesi misal pekerja kantoran, jam 9 pagi tiba di kantor dan beraktivitas, jam 12 istirahat makan siang selama satu jam, kemudian dilanjutkan dengan sesi sore yang tentu akan dipenuhi dengan berbagai rutinitas perkantoran yang menyibukkan. jam 6 adalah jadwal mayoritas warga untuk beralih pulang ke rumah setelah kesibukan di kantor, dengan durasi dan jarak tempuh perjalanan menuju ke tempat kediaman masing-masing satu hingga dua jam, disaat-saat seperti inilah setiap orang akan mencoba untuk menikmati beberapa lagu idaman atau mencoba untuk mencari genre/lagu baru untuk dinikmati sebelum pulang ke rumah.
Dengan penjabaran diatas, mayoritas warga hanya memiliki waktu 2 jam saja perhari untuk dapat menikmati sebuah lagu, maka dari itu pola konsumsi sebuah lagu tentu berubah di zaman sekarang, generasi muda kini lebih menyukai hiburan yang cepat dan efisien, dengan waktu perhatian yang semakin pendek, lagu-lagu yang memiliki tempo yang relatif cepat dan langsung kepada inti pesan yang disampaikan tanpa tedeng aling-aling akan semakin mudah untuk mencapai hati para pendengar dan semakin diminati oleh pendengar.
Dilansir dari Musictofeel.com yang menyatakan bahwa fakta berkata lagu-lagu papan atas terpopuler di zaman sekarang lebih pendek dibandingkan lagu-lagu papan atas populer satu dekade yang lalu, jarang sekali kita melihat daftar tangga lagu yang memiliki durasi lebih dari 3 menit, sangat jarang apabila kita akan mendengarkan sebuah lagu yang berdurasi 5 atau bahkan 7 menit. apabila ada, maka lagu itu akan menjadi sebuah lagu yang cukup langka di zaman 2025.
Bersambung di pekan depan, pantau terus yows..
Apakah Radio akan punah ? ( Part 1 )
Zaman yang semakin maju akan membawa sebuah warna dan angin segar bagi generasi baru, disaat yang bersamaan tentu ada hal yang baru dan ada pula yang turut hilang akibat dari kemajuan zaman. tak bisa dipungkiri bahwa eksistensi radio dan berbagai media konvensional yang sudah tergerus seiring perkembangan pesat platform media informasi berbasis digital, khususnya semenjak akhir dari dekade 2000-an. Dilansir dari hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional ( Susenas ) dari Badan Pusat Statistik ( BPS ) di tahun 2003 yang menyatakan bahwa persentase penduduk yang mendengarkan radio kala itu masih berada di angka 50.3%, di tahun 2021 data yang sama telah menunjukkan pengurangan di 10.3%.Di Tengah pergeseran yang terjadi, menarik untuk meninjau sejauh mana tingkat preferensi penggunaan radio di zaman sekarang, khususnya di kalangan anak muda sebagai generasi yang tumbuh di era yang masif dan tidak asing lagi dengan lingkup digital. Dilansir dari Goodstats.id yang menyatakan melalui survei “ Preferensi Penggunaan Radio Anak Muda Indonesia 2024 “ yang dilaksanakan secara daring pada tanggal 16 Oktober 2024 menggunakan panel responden Premium Goodstats sebanyak 500 responden yang tersegmentasi di seluruh Indonesia. Profil responden didominasi kelompok usia 18-25 tahun sebesar 88%, lalu sisanya di bawah usia 18 tahun sebesar 12%. survei ini kita tujukan khusus untuk menangkap pola preferensi di kalangan anak muda. Berdasarkan hasil survei diatas, 52% responden nyatanya masih mendengarkan radio setidaknya dalam kurun waktu 1 bulan terakhir. dengan frekuensi terbanyak yakni 2~4 kali per hari ( 14.6% ) dan 1 bulan sekali ( 12%). tak sedikit pula di antara mereka yang mengaku mendengarkan radio setiap hari ( 10.8% ), mengindikasikan bahwa penetrasi radio masih cukup tinggi di kalangan anak muda Indonesia.
~ Dengar Radio untuk usir kebosanan
~ Musik, Konten siaran radio paling favorit
Pantau terus yows, bersambung di pekan depan..
From the publisher's feed
Hidup tanpa musik itu bosan!
Betul banget kawula muda, acara ini sarat akan musik sekaligus lika-liku seputar Taiwan dan juga dunia. buat teman-teman yang suka dengan Kelap Kelip Dunia Musik baik Indie maupun Branded, langsung aja di simak.
dari Live House di Kota Taipei, Spring Scream Festival di Kenting, maupun Jump music Festival dan masih banyak lagi rentetan berita, cerita, kisah unik yang ngga akan ketinggalan untuk Di-Cas" di setiap pekan
salam E=F♭